Balik dari China tahun lalu koq tetiba pengen ke Penang. Pulau di negara tetangga ini tampak menggoda membuat lupa diri beli tiket pp Jkt-Penang untuk September (sekalian cuti pas ada long weekend terakhir di 2025), kebetulan pas ada promo juga jadi ya sudahlah.
Abis itu baru deh cari tahu ke sana mau ngapain mau ke mana, cari-cari tulisan orang yang pernah ke Penang. Karena kami berangkat tanpa tour hanya berdua saja jadi sekalian uji nyali pergi berdua doang (Beberapa tahun lalu kami pernah sih berdua ke Melbourne, so this is the second time pergi tanpa tour berdua doang).
Bulan Agustus saya booking hotel, alhamdulillah dapat di Armenia Street di Georgetown. Kalau liat maps ini dekat ke mana-mana tapi lumayan jauh ke bandara.
Akhirnya awal September abis Subuh kami berangkat ke bandara. Kami terbang jam 13, jadi gak terlalu buru-buru. Berangkat kami pakai Air Asia (dan saya baru ngeh ternyata saya balik pakai Malaysia Airlines wkwkw). Sampe Soeta masih pagi, jadi abisan check in (kami hanya bawa 1 koper, beli 1 bagasi, sisanya ransel dan tas tangan yang kami bawa ke kabin), kami bisa sarapan dengan santai. Hari itu bandara rame banget, banyak banget yang mau berangkat umrah, tempat makan juga gak kalah rame. Abisan makan kami masuk ruang tunggu. Di sinilah mulai ajaib. Di semua pengumuman penerbangan sama sekali gak ada nomor penerbangan kami, petugas yang juga sulit ditemui bilang benar di sini. Masih ragu soalnya koq tulisannya ini buat ke KL. Sampe akhirnya tanya-tanya sama beberapa penumpang lain yang sama-sama menuju Penang. Alhamdulillah kami duduk di tempat yang bener. Alhamdulillah juga penerbangan tepat waktu dan sangat efisien (maskapai ini kalau yang ke negaranya rapi bener).
Kami tiba di Penang sekitaran jam 15, dan celingukan. Bandaranya kecil ternyata. Rencananya saya di sini mau pesan grab, eh ternyata riweuh, katanya saya harus pakai notel lokal. Karena saya sudah aktivasi roaming dan anak saya pakai digitravel akhirnya kami pesan taksi saja lah. Mahal euy Bandara-Hotel 80RM, yaudahlah. Mestinya kami pakai bis aja sih jauh lebih murah dan ternyata Komtar juga deket banget ke hotel kami, cuman malas banget karena udah lapar, capek, dan ogah riweuh.
Sampe hotel kami langsung check in, hotelnya enak banget deket ke mana-mana. Kamar kami juga bersih dan cukup luas lah. Gak lama kami langsung jalan cari makan sambil liat-liat mural (konon Penang ini terkenal salah satunya karena kotanya banyak mural-mural cantik).
![]() |
| Ini hotel tempat kami nginep di Armenian Street. |
Rencananya mau makan nasi kandar, tapi eh ternyata lebih deket ke Penang Road. Alhamdulillah, malah dapat Famous Laksa itu tanpa antri pula. Sayangnya Oyster Omeletnya keburu habis karena kami datang emang udah sore banget sih. Laksa ini bener-bener laksa paling enak yang pernah kami makan. Kuahnya wangi terasi dan kecombrang dan segar banget. Untuk bayar ternyata bisa pakai QRIS (saya pakai BNI yang begitu kita scan langsung konversi ke rupiah). 2 porsi laksa (1 big 1 reguler) plus 1 char teaw goreng (sumpah ini enak pakai banget), 1 es milo, 1 jus (kayaknya itu jus kedondong) gak sampe 40RM. Fix besok ke sini lagi buat sarapan pagi (kami gak pesan sarapan di hotel)! Pelayanannya cepat orangnya juga ramah-ramah. Eniwei resto ini dapat Michelin star sampe beberapa kali.
Abisan makan kami jalan-jalan lihat-lihat mural, beli ais chendul di Penang Road juga (dibungkus karena masih kenyang), cari minum (saya beli ais kopi) terus balik ke hotel lagi buat ngadem.
Sekitaran maghrib kami keluar cari makan. Depan Kimberly Hotel street food mulai beberes siap-siap. Kami jalan-jalan dan sebelum balik nemu kedai canai dan belok dulu beli canai buat dimakan di hotel.
Pagi-pagi kami siap-siap. Hari ini mau ke Kek Lok Sie Temple di Ayer Itam. Kemarin sudah browsing sih pakai bis ke sana. Penang di pagi hari masih sepi banget, aktivitas baru bener-bener mulai setelah jam 9. Jadi akhirnya jam 7.30an kami ke jalan kaki ke Komtar alias terminal bis (dari hotel gak sampe 10 menit), sampe sana tanya-tanya ke warlok bis mana yang menuju Ayer Itam juga berapa fare-nya dan gimana cara bayarnya. Untuk warlok mereka bayar pakai card, tinggal tapping di pintu masuk pas naik dan pintu keluar pas turun. Untunglah buat nonlok kami masih boleh bayar pakai cash. Karena sudah diingatkan jadi saya juga sudah siapkan pecahan 1RM. Pas kami naik ke bisnya (lupa no brp) kami tanya berapa tiketnya, ternyata buat berdua cuman 4RM doang (baliknya malah cuman 3RM). Sepanjang jalan karena gak tahu di mana kudu berhenti kami pakai gmaps, jadi kami tahu kami harus turun di perhentian setelah Pasar Ayer Itam (lihat aneka makanan di gerobak-gerobak nyesel juga sih gak berhenti wkwkw).
Sampai kuil masih sepi, cuman ada 1 turis cewe yang solo travel, jadi kami barengan naik sama dia. Masuk kuil ini gratis, tapi kalau malas jalan, kami bisa naik dengan lift hingga ke puncak dengan biaya 8RM/orang kalau gak salah. Kuil ini sendiri ada 3 bagian, bagian bawah yang jadi lokasi untuk bayar tiket, bagian tengah (ada beberapa tempat ibadah) dan puncak kuil yang ada patung Buddha Dewi Kuan Yin (patung ini setinggi 30 meteran dibikin dari perunggu). Kek Lok Si Temple sendiri adalah kuil Buddha terbesar di Asia Tenggara.
Setelah beli tiket naik kami menunggu mobil jemputan untuk ke bagian tengah. Semestinya dari bawah langsung ke atas pakai sejenis lift yang pakai rel miring, tapi katanya dari bawah ke tengah lift tersebut ada gangguan, jadi kami diantar pakai mobil ke bagian tengah, lalu naik buggy cart ke atasnya sambung pakai lift sampai ke puncak. Gak lama sih, dan baru terlihat pas pakai lift yang dindingnya kaca semua, lift ini bergerak di atas rel yang berada di luar bangunan. Jadi kami bisa lihat pemandangan sekeliling kuil. Sampai puncak kami mau langsung jalan eeeeh tetiba ujan turun deres banget. Berlarian lah kami cari buat neduh. Untunglah hujan hanya sebentar, tapi jadinya meninggalkan banyak genangan air.
Di bagian puncak ini ada beberapa tempat ibadah, toko cendera mata (kami keluar lift langsung masuk toko cendera mata), juga ada patung Dewi Kuan Yin tadi. Suasananya hening banget. Di beberapa bangunan ada yang sedang sembahyang. Sekeliling kuil ada taman yang rapi dan terawat dilengkapi kolam dan air mancur. Melihat pemandangan dari tepi ke arah bawah, wuihh cakep. Lumayan kami di sini muter-muter sambil motret dan berhasil menemukan patung perunggu kecil-kecil yang ada di arah jalan menuju ke luar (konon ada lebih dari 3.000 patung perunggu di kuil ini). Drama kebingungan baru saja dimulai. Di sekitar kuil gak ada orang buat ditanyai, kami pikir keluar kuil itu melalui bagian taman-taman kuil terus turun ke arah bawah. Tapi satu-satunya petunjuk pintu keluar yang kami temui langsung ke arah jalan cor yang curam menuju ke arah bawah. Akhirnya dengan sejuta ragu kami turun sambil gak yakin ini jalan bener apa enggak. Titan sih bilang gini: ini bagian gak asik dari jalan-jalan tanpa tour: nyasar. Saya ketawa-ketawa walau agak ketar ketir, kami jalan di luar kuil jalannya turuuun terus. Lumayan juga mana panas pula, sampe kira-kira 15 menitan kami ketemu mobil-mobil yang mau masuk area parkir. Sepertinya ini adalah bagian kedua kuil. Kami masuk dan alhamdulillah bener. Di bagian ini lebih sempit dan bangunannya mengikuti kontur jadi banyak naik turun tapi...cantik! Suasana hening hanya suara lantunan doa yang terdengar samar, sepertinya banyak yang sedang berdoa. Di bagian ini ada kuil yang besar (sepertinya ini area publik buat berdoa), karena saya lihat banyak pengunjung yang masuk dan berdoa.
Jujur kami gak tahu bis mana yang bawa kita pulang. Jadi kita googling bis nomor berapa saja yang ke arah Komtar, begitu ada bisnya kami naik, dari Komtar nanti kan tinggal jalan kaki dikit. Titan sudah pede sekarang masuk bis tanya fare dan kasihin uang tiket, udah berasa warlok! Eniwei, bis-nya setelan ngebut-ngebut. Kami belum duduk bisnya udah jalan jadilah kami terpontal pontal jalan ke bagian belakang (bagian tengah bis ada kursi memanjang untuk priority seat dan juga untuk penumpang yang mau berdiri).
Menjelang Komtar kami lihat ada nasi kandar Deen Maju. Setelah mikir bentar kami akhirnya turun di perhentian setelah perhentian seberang nasi kandar dan kami jalan balik (ternyata jauuuuh hahaha). Alhamdulillah kami tiba sebelum yang Jumatan bubar, jadi enggak antri. Titan langsung mesan nasi kandar porsi paling lengkap (ada paket-paketnya juga ada yang ala carte). Daan akhirnya kita kesampaian makan nasi kandar yang bumbunya berlimpah ruah sampe luber-luber ini. Enak, apalagi ditemenin es teh tarik yang alamaak!
Abisan makan kami balik hotel dulu mau solat sekalian naruh bawaan terus kami jalan ke Chew Jetty. Ternyata dari hotel cuman jalan menyusuri Armenian Street nyebrang eh udah ketemu itu gang-gang menuju pantai. Jadi ternyata itu adalah kawasan rumah-rumah penduduk yang dibikin rapi dan jadi tempat jualan. Mirip kayak kawasan Kayutangan di Kota Lama Malang (cuman gak pakai pantai aja yang di Malang). Kalau sampai ujung keliatan bangunan-bangunan ini dibuat panggung di atas pantai.
Abis dari sini kami mau cari makan. Pengen ais kacang merah. Jadilah kami mampir satu kedai deket Penang Road. Rasanya lumayan enak (enakan yang es kacang merah manado yak haha). Di Kedai es kacang ini santannya pakai kara, pas saya tanya sama yang jaga katanya ini paling enak dibanding santan instan lainnya.
Dari situ kami belok lagi beli roti canai (lagi) deket pasar Chow Rasta baru balik hotel, kali ini belinya lebih banyak. Cape tapi puas lah!
Hari ini hari terakhir, besok kami balik Bandung lagi. Rencananya pagi-pagi jam 9 (Laksa baru buka jam segitu) mau sarapan di situ. Dari hotel kami balik ke arah Armenian Street biar sempat foto-foto saat jalanan masih sepi. Lumayan lah dapat beberapa spot.
Di Penang ini banyak kedai kopi, tapi saya nyicip kopi O pas sarapan pagi ini. Yaaa enakan kopi di Bandung sih, kopi di kopitiam kebanyakan yang saya coba tipis haha.
Abis sarapan kami jalan kaki ke Penang Peranakan Mansion. Tadinya pengen ke Blue Mansion yang katanya jadi lokasi shooting Crazy Rich Asia, cuman pas liat di webnya sudah fully book. Jadinya kami ke Penang Peranakan Mansion aja. Kami jalan kaki sekitaran 2KM dengan panas pagi yang aduhai. Kami masuk dengan tiket seharga 30RM/org. Lumayan mahal dan buat saya kurang menarik. Mungkin kalau pakai guide lebih enak karena ada yang jelaskan. Isinya rumah khas peranakan chinese melayu. Akhirnya udah kadung masuk kami liat sandiwara yaa, lumayan lah lucu2 gitu. Yang nonton bareng kami ada grup nyonya-nyonya indo pada pakai kebaya peranakan yang heboh banget.
Dari situ kami gak lama, terus niat mau cari oleh-oleh. Tadinya mau ke Ban Heang tapi dicari-cari koq enggak ada label halalnya. Akhirnya kami jalan kaki sekitaran 3KM (Titan sampe manyun wkwkwkw) ke salah satu toko (lupa namanya). Abis beli nastar (akhirnya saya beli juga buat sendiri soalnya penasaran) sama teh tarik kami balik dan ternyata di depan tokonya ada halte bis dan ada dong bis buat balik wkwkwkw. Jadi ngapain jalan tadi?
Kami balik ke arah komtar pakai bis, langsung balik hotel karena sudah mendung banget. Begitu sampe hotel hujan lebat banget. Untunglah kami dah balik dan buat ganjel-ganjel kami makan roti. Abisan Ashar kami jalan kaki ke nasi kandar yang kemarin. Menunya agak beda, kali ini kami pesan a ala carte bukan yang paket tapi tetep banyak wkwkw. Abis makan kami jalan-jalan ke Gama Supermarket beli tambahan oleh-oleh: cokelat, teh, teh tarik, sama jajan.
Malam itu kami packing agak riweuh mengingat tas cadangan hanya 1, tas kabin. Jadi itu oleh-oleh semua dipaksa masuk koper sama travel bag cabin size hahaha (sampai rumah baru ngeh sisa manisan mangga itu airnya luber kena ke bungkusan oleh-oleh lainnya, pantesan koq lengket!). Kata Titan pergi sama Ibu itu ajaib, bawaan segimanapun selalu berhasil masuk koper dan gak over weight.
Subuh-subuh kami degdegan takut taksi yang kami pesan gak datang. Semalam Titan mesan via consierge hotel yang udah diwanti-wanti kami harus di bandara jam 4 pagi. Jam setengah 4 kami turun, loby masih gelap eh alhamdulillah gak lama taksi datang dan drivernya juga baik (harganya kalau mesen di luar jam "kerja" nambah 20%an hahaha). Sudahlah yang penting sampe bandara tepat waktu.
Sampe bandara masih sepi karena kami tiba cepet banget, jadi masih sempat nangkring, solat subuh, dan akhirnya beli kue di Ban Heang bandara (di sini logo halalnya guede banget, bah! Tau gitu kemarin gak mesti jauh2 amet jalan beli nastar!). Kami kembali pakai Malaysia Airlines transit di KL. Saya pikir lumayan transitnya lama, jadi bisa lah jajan sarapan di bandara. Taunya, waktu transit mepet, kudu pindah gate jauh pula dan kami lari-lari menuju gate yang antrinya halahhhh. Tapi ya di antara lari-lari itu kami masih sempetnya beli sandwich dan burger (alasannya ngabisin duit RM). Alhamdulillah tepat waktu dan di pesawat kami dapat duduk di kursi row depan persis di belakang kelas bisnis, jadi lega banget. Udah gitu makanannya juga enak, jadi penerbangan ke Jakarta enak lah.
Dari Soeta kami pakai travel ke Bandung. Ada drama lagi di belakang kami sekeluarga yang sibuk makan di travel (nyebelin sumpah) dan protes ke saya ketika saya menurunkan sandaran kursi saya. Saya nurunin sedikit sekali supaya gak terlalu tegak dan saya tahu banget travel ini jarak antara seatnya lumayan lega. Dia bilang mama saya kejepit. Duh rasanya pengen sekalian aja saya turunin sandaran sampe mentok. Emang dia duduk kek mana coba bisa kejepit di travel seat yang kursinya captain seat semua? Mana mereka ini sudahlah pada makan nasbung di travel (itu bau makanan tolong ya) berisik pula! Ternyata ya punya duit gak berarti punya atitude! Tapi sudahlah yang penting siang itu kami sampai Bandung dengan aman walau rasanya pengen nyekek orang.
Eniwei, Penang ini kalau dijelajahi sepertinya menarik. Sayang memang karena niatnya mau travel santai tanpa itinerary jelas ya segitu aja yang kami jabanin. Namun begitu, selalu pergi traveling berdua itu bener-bener quality time. Kami bisa lepas bicara dan ketawa. Di saat itulah saya lihat anak saya sudah jadi laki-laki dewasa yang bisa diandalkan. Kita nyangkul lagi, next time kita ke mana lagi ya, Tan?
























































