Thursday, 12 November 2015

He was not perfect, but he is my father

Pagi tadi seperti biasa berangkat kantor nyetir sambil denger radio. Topik pagi ini adalah hari ayah, tentang  kenangan yang paling menyenangkan dengan ayah.

Ah, jadi keingetan dulu waktu kecil. Papah itu orangnya sangat galak. Di membesarkan saya seperti tentara, terlebih saya anak sulung dan besar harapannya kalau anak sulungnya adalah laki-laki. Sejak kecil saya dididik sebagaimana anak laki-laki, tidak tahu pakai rok, jalan dan lari seperti anak laki-laki. Dia tidak pernah masalahkan saya keluyuran ke mana-mana dengan celana pendek, manjat genteng, manjat pohon, kebut-kebutan naik sepeda di siang bolong. Tapi, kalau saya enggan belajar atau mengerjakan PR, atau keasikan nangkep capung di kebun orang,  atau berani membantah, maka saya harus bersiap berdiri di pojokan ruang tengah dengan kaki sebelah diangkat dengan tangan memegang kedua daun telinga.

Masih jelas teringat kegiatan setiap minggu subuh ketika saya SD dulu. Bandung saat itu masih dingin luar biasa. Namun, setiap minggu subuh, papah sudah membangunkan kami untuk lari pagi ke Alun-Alun Bandung.  Saya dan adik berlari, papah mengiringi pelan dengan motornya. Sebenarnya jaraknya lumayan jauh, tapi karena menyenangkan, capeknya nggak berasa. Sampai di Alun-Alun kami paling duduk-duduk, lempar2an bola, lanjut jajan bubur ayam atau lontong kari. Ketika matahari mulai bersinar benderang kami pulang berboncengan.

Sampai saya SD kelas 3, saya masih suka mandi di bawah kucuran air pompa yang segar. Yang mompa tentu saja papah. Kalau sedang senang main air, saya nyemplung masuk bak mandi sampai akhirnyna diomeli karena air satu bak penuh terpaksa harus dibuang.

Setiap kali papah punya uang lebih, ia suka membelikan kami makanan. Makanan kesukaan kami adalah mie karmino (saya suka mie itu sampai sekarang, walau rasanya sudah nggak seenak dulu).  Kalau beli mie karmino tidak tanggung-tanggung: sebungkus besar (yang bisa dinikmati untuk 4 orang) hanya dibagi berdua. Dia senang kalau anak-anaknya kekenyangan. Nggak cuman mie karmino, saya pernah mabuk durian gara-gara dibelikan durian seorang satu. Karena ada sepupu yang nggak suka, saya makan juga jatahnya dia sehingga berakhir dengan mabuk durian.
Kalau pergi ke luar kota, oleh-olehnya aneh-aneh, kadang semangka sampe 1 mobil (sampai tetangga sepanjang jalan di mana kami tinggal kebagian) atau lutung. Ya, saya dibawakan lutung dari Palembang. Lutung kecil yang saya pelihara dengan sayang. Waktu akhirnya lutungnya mati karena dijatuhkan salah seorang saudara, saya nangis berkepanjangan. Sampai akhirnya dibelikan seekor monyet sebagai gantinya. Walhasil rumah kami berantakan karena si monyet kecil ngacak-ngacak seantero rumah.

Sewaktu saya SMA, bandel saya masih banyak. Saat itu, saya kelas 1 SMA,  papah mengajari saya naik motor. Saya sih kesenengan. Nah, malam minggu itu saya pinjam motornya dan bilang kalau yang bawa bukan saya, tapi tetangga. Papah kasih kunci motornya sambil wanti-wanti nggak boleh bawa sendiri, selain belum bisa juga belum cukup usia. Awalnya iya, yang bawa teman saya yang sudah bisa bawa motor dan punya SIM. Tapi, subuh-subuh saya curi-curi ke luar rumah. Motor saya dorong sampai agak jauh baru dinyalakan setelah cukup jauh dari rumah. Awalnya lancar saja, tapi makin lama makin keenakan menekan gas, motor melaju kencang. Saya membonceng sepupu saya. Hingga tiba di perempatan saya belok tanpa menginjak rem. Dengan kecepatan tinggi, tanpa ampun motor saya naik ke trotoar dan berhenti setelah menabrak tembok, menghempaskan saya hingga melayang menimpa motor yang jatuh duluan. Sepupu saya yang lompat begitu motor naik trotoar membuat seorang bapak yang sedang menunggu bis terloncat dan langsung mengangkat saya. Ketika berdiri dan pandangan saya menumbuk motor yang ketiban badan saya, yang terbayang adalah papah akan murka semurka murkanya. Mana papah galaknya minta ampun pula. Belum terasa sakitnya dahi yang sudah membengkak sebesar telur ayam dan sebelah  alis mata yang ternyata sedikit membengkok plus badan yang memar-memar. Yang saya pikir saat itu adalah bagaimana caranya pulang dengan aman.

Kebetulan seorang tetangga lewat membawa gerobak kosong. Ia baru saja mengantarkan tempe buatannya ke pasar. Akhirnya dia menawarkan motornya naik gerobak. Saya serta sepupu pulang pakai angkot. Pesan saya ke dia adalah ketuk pintu pelan-pelan supaya papah nggak bangun. Eh, nasib memang, sampai rumah papah sudah bangun dan mencari saya dan motor yang menghilang. Begitu saya tiba dengan wajah babak belur plus senut2 reaksinya di luar dugaan. Dia tidak marah. Pun ketika melihat pelek depan motor yang berbentuk hati dan body motor yang babak belur. Yang ia lakukan adalah meminta mamah mengantar saya ke dokter termasuk ke dokter mata di Cicendo karena ternyata di mata saya ada pendarahan akibat benturan. Dia sendiri panggil montir untuk memperbaiki motor. Dan ketika motornya kelar, saya sama sekali nggak dilarang untuk kembali mengendarai motor, bahkan dia kembali mengajari saya. Ah….ternyata…..

Belum cukup kebandelan saya, selama satu minggu saya terpaksa seperti bajak laut dengan mata ditutup sebelah, saya pergi hiking walau dilarang. Karena pandangan yang gak normal berkali-kali saya jalan nabrak pohon dan tiang. Ketika saya cerita papah hanya tertawa ngakak. Tapi, ketika tahu saya diam-diam pacaran, murkanya nggak ada dua…

Sampai ketika saya kuliah, sampai tingkat 2 papah masih suka antar saya ke kampus dengan motor kesayangan, binter mercy yang sudah dimodifikasi. Bangga ia mengantarkan anaknya ke ITB. Bangga dia berkata ke teman-temannya kalau kelak dia akan antar anaknya wisuda, bahkan sejak tahun pertama ia sudah menyiapkan satu baju untuk mengantar saya wisuda. Satu cita-cita yang nggak tercapai karena pada tahun terakhir kuliah papah kecelakaan dan meninggal .


Sekarang, 18 tahun sudah papah pergi. Tiba-tiba seluruh kenangan itu menyeruak berlomba keluar. Papah bukan orang yang halus, bukan orang yang sabar, bukan juga orang yang sempurna. Ada banyak saat kami berbantahan, bertengkar, hingga musuhan. Ada banyak saat ketika saya luar biasa benci sama papah. Tapi satu hal yang akhirnya saya sadari sekarang, papah ini sayang sekali dengan anak-anaknya, tapi enggak tahu bagaimana menyampaikannya. Untuk saya, dia adalah papah terbaik. He wasn't perfect, but he is my father. I miss you so much, papah. Semoga Allah mengampuni semua dosamu, menerima seluruh kebaikanmu. Semoga Allah menempatkanmu di tempat yang terbaik. Semoga papah akan bangga pada saya….

No comments:

Post a Comment