Sudah beberapa hari ini Titan membujuk saya untuk membuatkan makanan yang bisa ia bawa dan jual di kelasnya. Awalnya saya ragu, pertama karena kurang paham apakah ini dibolehkan dilakukan di kelas. Kedua, Titan ini tergolong sering gak pede dalam beberapa hal. Jadi, saya bayangkan dia pasti enggan kalau harus menawarkan dagangan pada teman-temannya. Namun dia gigih sekali membujuk saya. Akhirnya saya tanya mau jualan apa. Setelah berpikir dan bolak balik berubah pikiran dia memutuskan mau jualan macaroni panggang. Dia bilang buatan ibu enak, pasti teman-teman suka. Berikutnya saya tanya, kamu mau jual berapa? Dia berpikir dan mulai nego harga sampai akhirnya ketemu harga yang pas, 2000 rupiah (saya sih nyengir mengingat masak iya harga macaroni panggang hanya 2000 rupiah hahahaha). Pertanyaan berikutnya berapa banyak yang mau dibawa? Dia bilang coba 10 cup.
Akhirnya malam-malam sepulang kerja saya siapkan, sekalian buat cemilannya dia. Saya juga sempat tanya sama wali kelasnya mengenai kebijakan sekolah tentang hal ini. Ternyata, apa yang disampaikan kepala sekolah saat saya interview waktu memilih sekolah adalah benar. Sekolah ini mendorong anak-anak untuk belajar wirausaha sejak dini. Jadi, kegiatan seperti ini sangat didorong selama tidak menganggu kegiatan belajar dan barang atau makanan yang dijual tidak membawa dampak buruk untuk anak-anak. Baiklah, ayo nak belajar berwirausaha...
Pagi-pagi saya panggang agar dia bawa ke sekolah dalam kondisi hangat. Deg-degan seharian saya menunggu ceritanya saat pulang sekolah. Dan sore ketika dia pulang (dia pulang diantarkan jemputannya ke kantor setiap sore), tadaa dia bilang macaroninya habis, teman-teman suka dan besok minta dibuatkan lagi. Wahhh, senangnya. Dia cerita awalnya katanya susah mau jualan. Akhirnya Titan bilang aja di kelas: Titan bawa macaroni panggang, harganya 2000. Ada yang tadinya nggak mau eh ternyata malah jadi mau..begitu ceritanya.
Yang buat saya lebih senang adalah ketika Titan menyampaikan analisis hasil jualan hari ini, bahwa kelihatannya temannya tidak suka saus tomat, jadi coba besok kalau jualan lagi ibu bawakan saus cabe...Ternyata dia belajar mengalisis...
Saya teringat pengalaman saya sendiri. Sejak kecil, ibu saya mengajarkan saya untuk mandiri. Selain karena memang keluarga kami bukan keluarga berada juga supaya saya terbiasa berusaha untuk apapun yang saya inginkan. Ketika sekolah dulu saya sering membawa makanan buatan ibu saya untuk ditawarkan kepada teman-teman. Mulai dari molen, keripik singkong balado, sampai pastel dan keripik bawang. Sore hari terkadang juga saya menjajakan kue ke tetangga. Dengan cara itu saya mendapatkan uang jajan tambahan. Kebiasaan itu terbawa hingga saya kuliah. Saya kuliah sambil nyambi jadi guru privat, juga terkadang membantu teman yang membutuhkan jasa penerjemah bahan makalah, atau bikin kue buat dijual ke teman-teman kuliah. Malah pernah saya membantu menuliskan jurnal praktikum kakak angkatan yang beda jurusan dengan upah cokelat banyak-banyak hahahahaha...
Sekarang saya mulai menularkan ini kepada putra saya. Doa saya, untuk putra saya yang hari ini berhasil menjual spagheti di sekolah sampai akhirnya dia membeli spagheti buat dia sendiri di kantin, adalah agar kelak bisa menjadi pengusaha yang sukses dan berkah serta bisa memberikan kebaikan bagi orang di sekelilingnya. Amiin..
I'm so proud of you, son.
Semangat mba....
ReplyDeleteAmin, insha Allah. Suwun..
DeleteBaru sempet liat2 web nya. Seneng denger titan bisa jualan. Kayak alessi, jualan puding cup di sekolahan hahaha.. naluri
ReplyDeletehehe iyah, Mba. Senang ya kalau anak-anak belajar berusaha sendiri. Mudah-mudahan istiqomah yaa. Alessi sekolah di mana? Kelas berapa?
Delete