Beberapa waktu yang lalu tiba-tiba Titan tanya tentang percakapan saya dengan beberapa sahabat saat kami berjalan-jalan bareng. Rupanya dia nguping obrolan kami tentang teman-teman dan pengalaman saat kuliah dulu. Setengah memaksa dia minta saya bercerita siapa sih yang dimaksud, apa sih ceritanya Ibu. Dia bilang untuk kenang-kenangan. Saya mau tertawa campur jengkel karena dia maksa. Saya bilang buat apaan nanya yang begitu. Mending tanya yang lain aja...dan dia sempat ngambek. Dia bilang ibu payah nggak mau cerita nih...
Gara-gara pertanyaan itu saya jadi keingat-ingat lagi masa-masa kuliah dulu. Masa ketika hal yang paling sulit adalah menyelesaikan persamaan dengan integral lipat tiga. Bahkan, begadang bikin peta stratigrafi geologi fisik aja masih lumayan mudah mengingat ada mas asisten yang baik hati yang ada maunya, yang selalu rajin kasih bocoran peta (walhasil yang bahagia adalah teman-teman saya, sementara saya masih sombong banget mau bikin sendiri aja hahaha).
Saya ingat awal-awal kuliah di institut yang banyak cowoknya itu sebenarnya bukan pilihan utama saya. Sejak kecil saya sudah jatuh cinta pada laut, jadi ketika cita-cita saya sebagai polwan (serius, dulu saya gagah dan mantap kalau ditanya nanti mau jadi apa. Jawaban saya hanya satu dan konsisten: Polwan!) kandas gara-gara saya harus pakai kacamata sejak kelas 2 SMP, mendadak saya bercita-cita jadi ahli kelautan. Saya bayangkan keren banget kalau saya bisa menjelajahi laut di manapun. Ketika menjelang akhir SMA saya ditanya mau kuliah di mana, gagah sekali saya jawab Teknik kelautan di ITS. Langsung saja almarhum om saya protes keras, ngapain kamu ke sana? Di ITB juga ada! Duarrr...saya? Yang kalo belajar malesnya enggak ada dua? Yang kupernya minta ampun, disuruh daftar ke sana? Bayangin aja enggak pernah. Tapi, walau demikian dengan segala keterbatasan saya masuk juga di situ. Dan tentu saja jumpalitan lah saya, terutama di masa awal-awal kuliah. Terkaget-kaget saya bertemu cacing-cacing integral itu. Tahun kedua saya sempat menyesali pilihan saya dan pengen pindah jurusan atau pindah kuliah aja. Saya sukanya sama biologi atau kimia, kenapa saya malah ketemu sama fisika melulu? Begitu selalu yang ada di kepala saya.
Masa kuliah yang dijalani lumayan panjang (saya baru lulus 5.5 tahun gara2 nunda-nunda tugas akhir) ternyata adalah masa paling menyenangkan dalam periode masa sekolah saya. Kesenangan itu dimulai di hari pertama penataran P4. Bukan P4-nya yang bikin saya seneng, tapi seseorang yang selalu duduk di sebelah saya selama masa penataran bahkan sampai awal-awal masa kuliah. Lebay? Pastinya, judulnya juga suka hahaha.
Jadi, walaupun sempat pengen pindah, saya mulai suka dengan apa yang saya pelajari (tapi saya tetap gak suka ngurusin integral), terutama ketika mulai kuliah jurusan. Alhasil, tahun demi tahun walaupun pas-pasan bisa juga koq selesai.
Di kampus inilah, saya yang sangat kuper (bahkan saking kupernya, saya pernah tanya teman saya harus naik angkot yang mana untuk pulang. Keterlaluan sekali, bukan?) berubah jadi manusia yang suka keluyuran. Enggak ke mana-mana, enggak juga ke tempat yang aneh. Sebagian besar hidup saya dihabiskan di kampus, kalau enggak ada kuliah saya nangkring di unit atau di himpunan atau ngeluyur berenang atau sekedar muter-muter ke Lembang (minum susu doang padahal). Di antara kesintingan itu, saya nyambi jadi asisten praktikum plus jadi guru les privat, plus nyambi tukang terjemahin bahan paper teman-teman, atau nulisin jurnal kakak kelas yang males nyatet. Imbalannya, dari uang sampai cokelat seabrek-abrek! Lumayan juga, selama kuliah saya jarang sekali minta uang jajan sama orang tua.
Kalau sudah terlalu penat, kesenangan saya adalah ngendon di kamar nyokap sambil curhat, ngejugruk depan komputer maen games sampe jam 2 pagi, atau bersepeda keluyuran sampe gempor, atau jalan kaki hiking ke tempat adem.
Libur kuliah adalah saat paling enggak asik. Sebagian besar teman-teman mudik. Biasanya yang tersisa di Bandung suka mendadak bikin acara. Bisa saja tiba-tiba kami putuskan pergi ke Yogya atau Pangandaran dengan modal seadanya (saya pernah ke Yogya hanya membawa uang 50 ribu saja) rame-rame naik mobil pinjaman dari salah satu orang tua teman saya. Sumpel-sumpelan satu mobil diisi 10 orang nggak masalah. Nginep di emperan mushala ya nggak masalah juga, jalan-jalan dari rumah bude yang satu ke bude yang lain (budenya teman tentunya, bukan budenya saya) buat minta makan enggak masalah juga. Tapi, semuanya dijalani dengan senang hati. Mungkin, itulah suasana yang cocok dengan lagunya Koes Plus "..hati senang walaupun tak punya uang...".
Kuliah selesai, masuklah ke dunia nyata. Ketika saya lulus bertepatan dengan masa resesi. Cari kerja luar biasa susah, Beruntung saya diajak untuk melanjutkan tugas akhir saya jadi penelitian, sehingga saya enggak jadi pengangguran 100% plus ada uang jajan sendiri. Tambahan lagi saya dapat order menuliskan 5 jurnal tentang perikanan dan kelautan. Untuk ukuran saat itu, bayaran yang saya terima lumayan. Apalagi tak lama setelah itu saya mendapatkan pekerjaan. Walau jauh dari apa yang saya pelajari saya jalani dulu. Maka ketika ada kesempatan sebagai editor, saya coba, dan ternyata saya bertahan hingga saat ini.
Kesempatan kuliah lagi datang di tahun 2006, setelah berbagai tes di beberapa PT untuk melanjutkan S2 (termasuk salah satu di LN) saya ikuti (dan lolos), akhirnya saya ambil di UPH, kecemplung di dunia pendidikan, bukan di laut, membuat saya yakin untuk memperdalam kompetensi saya. Walau tidak semenyenangkan waktu kuliah S1, saya jalani masa kuliah S2 dengan bahagia dan tentu saja saya lulus pakai embel-embel: dengan pujian!
Pertanyaan Titan, mengingatkan saya akan keinginan untuk sekolah lagi. Mengambil bidang yang akan memperkaya kompetensi saya. Tentu saya bayangkan kalau sekarang kuliah lagi, tidak akan semenyenangkan masa kuliah S1 dulu. Akan ada banyak beban yang harus saya sandang, termasuk protes Titan, kalau ibu kuliah lagi siapa yang nemenin Titan belajar? Tapi, saya juga yakin pasti akan ada solusinya...yang pasti saat ini perasaan saya seketika merindu..merindu masa-masa menyenangkan saat kuliah dulu....
No comments:
Post a Comment