Friday, 30 January 2026

A Trip to China



Disclaimer: Dituliskan setahun kemudian jadi udah banyak yang lupa nama tempat dan urutannya). Makanya rajin nulis lagi, Ran!

Sudah lama banget enggak pergi liburan jauh-jauh. Setelah pandemi (kebetulan paspor saya expired setelah Umrah tepat sebelum pandemi) saya agak ogah-ogahan urus paspor belum kepengen ke mana-mana juga, belum ada budget juga, liburan lebih banyak ke destinasi lokal dan singkat-singkat aja. Akhirnya saya biarkan sekalian nunggu paspornya Titan juga expired. Desember 2024 lalu kami barengan perbarui paspor (ternyata skrg apps-nya lebih bagus dari sebelumnya walau waktu tunggunya gak jelas kudu sering cek update) dan paspor saya udah buat 10 tahun, horee! Rencana saya libur lebaran mau jalan walau belum tahu ke mana.

Menjelang ramadhan mulai larak lirik destinasi. Setelah menimbang-nimbang kami berencana ke Uzbekistan. Setelah cek beberapa halal tour saya mulai kontak cs-nya. Namun saya masih belum booking. Saya pikir awal puasa saja baru booking. Eh tahunya, ada perubahan jadwal tour. Yang saya rencanakan book untuk berangkat di H2 Idulfitri ternyata diganti jadi tanggal 4 April. Wah, ini mah bakalan kacau urusan cuti dan sekolah Titan, mengingat kami libur sampai tanggal 7 April doang. Akhirnya saya cari-cari lagi mau ke mana, sampai akhirnya kepikiran kenapa enggak ke China aja. Saya cek itinerary dan destinasinya masih okelah, kudu nambah cuti 2 hari. Jadilah langsung saya book tour ke China selama 8 hari. Kata Titan, ibu itu luar biasa random, ujug-ujug mau liburan ke China hahaha.

Persiapan serius baru saya lakukan seminggu menjelang idulfitri. Selain karena masih harus ngantor sampai H-1, Titan juga sedang PTS. Mulai beli-beli beberapa barang terutama bidet. Saya baru nuker uang di hari terakhir semua kantor buka. Untunglah masih dapat yuan. Agak ketar ketir sebenernya ke negara ini mengingat bahasa yang beda dan urusan kebersihan yang konon katanya mengenaskan.

Tiba hari H akhirnnya semua ready juga, koper-koper sudah dipacking dengan aman dan semua underweight. Perlengkapan buat di perjalanan juga sudah siap. Bismillah.
Speaking about koper, ternyata koper kami ini paling mungil. Koper2 lain big size semua, kami berdua buat 8 hari cuman bawa 2 koper size 20" plus satu koper kabin hahaha.

Karena jam 7 pagi sudah harus di bandara, kami berangkat dari rumah jam 3 pagi. Mampir di rest area KM19 untuk menunggu shalat Subuh. Kami tiba di bandara pukul 6 pagi jadi sempat mutar-mutar dulu bahkan Titan sempat sarapan makan fish burger.
Ini cover passpor dari travelnya ya. Passpor Indonesia mah tetep ijo.


Dipotoin mas guide sebelum masuk check in

Beginilah karena datang kepagian, peserta lain belum pada datang cuyyy


Pukul 10 pagi kami masuk waiting room, gak lama kami sudah dipanggil boarding. Bismillah, heading for Shanghai. Kami terbang dengan SQ salah satu maskapai yang enakeun sih. Awal penerbangan pendek menuju transit di Singapura bener-benar hectic, kami dapat sarapan yang dimakan dengan sangat terburu-buru karena penerbangan yang singkat. Transit di Changi selama 3 jam, tapi ya gak sempat ngapa2in juga. Selain kami harus pindah terminal dari 1 ke 2, kami juga sempatkan shalat dulu. Alhamdulillah ada praying room yang walaupun buat semua agama tapi sangat bersih, tenang, dan fasilitasnya lengkap. Penerbangan ke Shanghai ontime. Saya dan Titan menikmati hidangan nasi dengan rendang. Abis makan pramugara nanya:"How is your randang?" Kami bilang delicious, kata dia: Singapore randang is the best. Haisssh mau protes, rendang di mana-mana dari Padang, tapi ya sudahlah biar dia hepi haha).


Pukul 22.15 waktu Shanghai kami mendarat di Pudong. Bandaranya besar banget dan gak terlalu rame, kayaknya kami termasuk penerbangan terakhir sih, makanya udah agak sepi. Keluar pesawat antri pipis dulu baru kami check in di counter self check in imigrasi untuk scan passport dan dapat print data dan sidik jari. Prosesnya cepet, cuman kalau dapat mesin eror, kami mesti cari mesin yang berfungsi. Dari situ baru kami antri di imigrasi. Antrinya lumayan lama, mengulang kembali proses yang tadi pakai mesin, kali ini di depan petugas imigrasi. Akhirnya mendekat tengah malam kami keluar bandara ketemu tour guide dan menuju hotel. Malam itu kami disambut dengan udara dingin Shanghai.




Huānyíng lái dào Shànghǎi
tolong bagian depannya dibaca dengan sangat lembut yaak


Kami menginap di G'mile hotel Shanghai. Alhamdulillah kamarnya besar, bagus, bersih, dan gak berisik. Mengingat kami tiba di hotel sudah lewat tengah malam, maka untuk pagi kami baru akan mulai kegiatan jam 9. Masuk kamar langsung bongkar koper kabin yang memang sudah disiapkan untuk hari pertama di Shanghai. Keperluan untuk tidur dan kegiatan besok jadi mudah dikeluarkan gak perlu bongkar koper besar. Satu hal yang menarik pas tadi nunggu kunci di Lobby, loby hotelnya dikasih rak berisi buku-buku. Mostly dalam bahasa Mandarin, tapi saya lihat ada juga yang berbahasa Inggris. Keren!



Kami siap2 pukul 8 pagi turun sarapan walau masih sangat mengantuk. Sarapan pagi ini lumayan walau mesti hati-hati karena makanan mostly non halal. Yang (katanya) aman nasi goreng, mie goreng, telur-telur, buah-buahan, yoghurt, dan aneka kukusan. Saya seneng banget menemukan ubi, jagung (jagungnya kek ketan warnanya putih), pau isi kacang, dan labu kukus. Karena rasanya mengantuk sekali, saya ambil kopi yang terlihat kental dan terbayang bakal enak. Saya ambil secangkir dan begitu saya teguk, ya ampuuun itu rasanya kek wedang jahe kebanyakan gula! Kapok dah.

Hari ini kami akan full di Disneyland. Jujur saya bukan penggemar amusement park, jadi rasanya sih biasa saja. Apalagi karena masih lelah karena perjalanan kemarin (kami menempuh hampir 24 jam perjalanan dari Bandung to Shanghai). Masuk Disneyland cukup ketat. Kami harus menunjukkan dan scan pasport, foto, isi tas digeledah. Daan ternyata sejenis tongsis, tripod, gak boleh dibawa masuk. Tripod mini saya disita di pintu masuk dan untunglah tour guide kami ikut masuk menyelamatkan beberapa tongsis dan tripod milik peserta yang bisa diambil nanti saat balik ke hotel. Udara hari ini cerah namun angin berhembus dingin. Aroma spring beneran kerasa, bunga-bunga cantik ada di manapun kami memandang. Luar biasa mereka ini ngurus tanaman bunga-bunganya gak main-main. Awalnya masih bingung mau ngapain. Sebelum trip sudah diingatkan download apps Disneyland Shanghai, akhirnya ngintip di situ mana wahana yang gak banyak antrian. Pertama kami mau coba Pirates of Caribian. Di situ dibilang antrinya 40-50 menit. Gak apa-apalah kayaknya menarik. Dan kami menuju ke sana sambil belok sana sini karena banyak spot cantik buat foto.




Wahananya asik, worth to wait, walau panjang tapi antrian bergerak cepat dan wahananya besar jadi sekali naik banyak orang. Di dalam kami naik kayak perahu tapi bergerak di atas rel, di atas kami ada layar 4D dengan surround sound yang bikin kami berasa di dalam perang antara Captain Hook dan para pirates. Keren asli walau jadi lucu sih karena semua adegan dalam bahasa mandarin hahaha. Di satu bagian penonton beneran dicipratin air lumayan juga kacamata saya basah.

Keluar dari situ kami mau menuju Tomorrowland, pengen nyoba tron sambil mau ambil makan siang. Ada banyak resto di Disneyland, namun untuk makanan halal mereka mengharuskan prebooking hari sebelumnya. Jadi kami booking makanan yang diambil di loket tertentu di Star Terrace Resto yang sebelahan sama wahana Tron. Menuju ke sana penuh perjuangan mengingat jalan utama sedang ditutup untuk carnival. Kami enggak bisa nyebrang karena carnival akan segera dimulai, jadilah kami nonton carnival dulu, melihat semua tokoh Disney diarak dengan sulih suara pakai bahasa mandarin haha.

Begitu jalan dibuka kami segera menyebrang dan menuju resto. Pickup-nya cepat juga, kami langsung ke counter melapor mau ambil. Tinggal sebutkan nama, berapa pax dan bayar. Kami dapat bukti pembayaran dan langsung ke counter sebelahnya untuk ambil makanan (saya sempat nyasar karena gak paham ternyata counternya di sebelahnya doang). Makanan yang kami dapat tanpa minum, dan minuman yang tersedia hanya soda2an dari brand boycott semua. Akhirnya terpaksalah kami beli. Total untuk makanan dan minuman sekitaran RMY400 (Muahaaaalllll hahaha). Makanan yang kami terima dalam kotak mika (kayak katering sekolahnya Titan). Isinya nasi, beef stirfried seimprit, sayuran yang disteam dan kematangan, sama ayam apalah. Rasanya hambar-hambar gitu. Langsung si Titan sih bilang kita makan turkey leg yuk. Hayuk!


Dia menghabiskan 1,5 turkey leg doong!




Dari situ kami cari-cari toilet yang ternyata di sebelahnya dan langsung antri di Tron. Tron ini dari Tron Movie dan satu-satunya wahana yang konon enggak ada di Disneyland lain, hanya di Shanghai ini. Awalnya sih pede mau naik, pas liat wahananya melintas alamak langsung menyerah saja. Wahananya berbentuk motor jadi bener-bener terbuka. Akhirnya Titan sama Niki yang naik. kami para orang tua mundur teratur cari spot buat merekam anak-anak pas lewat. Kami dapat spotnya, tapi anak-anak enggak ada yang bawa HP aktif. Kedua hp yang bisa roaming saya pegang (malamnya langsung digitravelnya diakuisisi si Titan ke HPnya dia). Perkiraan antrian sekitaran 1 jam, kami kira-kira aja. Dan less than one hour kami melihat mereka melesat melintas tepat di atas kami. Wuihhh gila. Langsung kami tunggu anak-anak di pintu keluar. Kata Titan: ini kaki lemasssss. Gila ngebut bener katanya. So, keputusan saya untuk gak ikut2an naik wahana ini adalah tepat hahaha.




Dari sana kami antri naik wahana sebelahnya wahana gagayaan buat nyantai sambil muter2 (lupa namanya apaan). Menjelang sore makin bosan, selain sudah lelah juga malas antri. Akhirnya kami berlima dengan satu keluarga yang selama di sana jadi deket, kami nangkring di cafe. Muahalnya rek, 1 cup americano harganya 40RMY haha. Mana rasanya kagak ada enak2nya pula (dan selama di sana satu2nya kopi yang lumayan itu di starbuck-nya China alias luckin coffee). Akhirnya lewat jam 18 kami berencana balik, masih nunggu yang masih pada mau nongkrong sih. Buat saya dan Titan main ke theme park ini B ajah, kayaknya theme park yang paling asik buat dia cuman Legoland (ketika ke sana usianya masih 6 tahun dan di sana dia menggila liat lego). Buat dia yang paling asik di sini cuman pas bagian makan Turkey Leg (he ended up makan 1,5 turkey leg!) 





Kami dapat kamar di lantai 5. Ada 3 lift berjejer sebelahan di lobby, dari ketiga lift tsb kami ambil yang paling ujung. Di depan lift ada tulisan lift ini tidak bisa digunakan untuk ke lantai 5 dan 6. Tapi, kami berlima (satu keluarga yang isinya bertiga) yang udah ngantuk dan cape nekad masuk apalagi di dalamnya ada tombol angka 5 dan 6 yang berfungsi. Pas naik ke lantai 5 deng deng deng, pintu lift kebuka dan gelaaap! Sambil lirik2an kami ke luar lift dan jalan ke lorong. Begitu jalan baru lampu di atas kami nyala satu2 tak..tak..tak.. Lantai lorong enggak ada karpet dan bagian atasnya langsung dapat pipa2 hvac (ventilasi). Bagitu jalan, lampu di belakang kami mati lagi dan di atas kami nyala satu2. Cukup jauh dari lift kami belok ke lorong sesuai nomor kamar. Nomornya ada tapi gak bisa dibuka. Malah muncul nomor2 kayak passkey. Waduh! Di tengah kepanikan (si koper ditinggal di tengah lorong), ada satu pintu yang kebuka. Kaget setengah mati sambil mikir ini orang apa bukan. Keluarlah satu cewek dan bilang sama keluarga satunya yang bareng kami..salah katanya, ini bukan hotel. Lah!! Buru2 kami balik ke lift dan kali ini masuk lift yang tengah. Posisi kami di lantai 5 (karena tadi tombol yang kami tekan no 5). Kami pencet lagi angka 5. Lift turun sampai basement dan naik lagi. Udah degdegan aja bertanya-tanya akan muncul di mana. Pas kebuka deng ... deng.. lantai 5 dengan tampilan yang berbeda, lorong hotel.

Kami bersyukur sih sampe juga ke kamar. Tapi enggak abis pikir koq bisa? Posisi lift itu sebelahan, nomor yang dipencet sama2 angka 5, kenapa muncul di tempat yang berbeda?

Besoknya kami city tour di Shanghai. Pagi2 ke pabrik sutra (sebelnya ikut china tour ini wajib kunjungan ke umkm-nya mereka. Ini mandatory dari pemerintah katanya). Malas sih, cuman seneng karena akhirnya bisa liat ulat sutra kek apa. Jadi saya sama Titan jalan2 doang terus melipir ke luar sambil foto2. Eniwei, selain ke pabrik sutra ini, kami juga kudu banget mampir di toko giok (dan saya tergoda beli kalung shio seharga RMY1000! Damn, ini jajan termahal saya di sini!), toko kasur (tolong ya gimana ceritanya lagi tour ke pabrik kasur), ke tempat pengolahan teh (beli di sini astagfirullah mahalnya), saya beli we di Beijing di toko teh eh gak semahal di situ, sama ke tempat obat (ended up beli krim apalah itu yang katanya serba guna wkwkw).






Di Shanghai ini pas Jumat, jadi yang cowok-cowok pada Jumatan. Rencananya sih Zuhur doang, tapi ternyata pas banget Jumatan mau mulai akhirnya pada Jumatan. Lamaaa banget. Pas keluar nanya si Titan gimana? Kata dia semua bahasa Mandarin yang ngarti pas doa sama salam doang. Tapi masjid ini besar dan bersih banget. Toiletnya dilengkapi bidet, maybe karena masjid ya jadi mesti ada bidetnya.

Selama nunggu Jumatan saya sibuk keliling taman depan masjid cari bunga sakura, tapi malah nemu bunga cherry sama plum doang.




Shanghai ini kotanya vintage, banyak bangunan lama bergaya eropa. Katanya sih dulu dia salah satu kota terakhir yang diserahkan Inggris ke China. Pantesan aja pas jalan ke SHanghai Bund di sepanjang jalannya mostly bangunan lama bergaya Eropa. To be honest saya suka kotanya, tenang, ramah, dan bersih banget. Apalagi saat itu sedang musim semi jadi banyak bunga2an. Luar biasa emang perbungaan ini, kemarin waktu di Disneyland juga tamannya asli keren2. Di jalan2 juga begitu, gak ada lahan kosong yang gak dikasih vegetasi. Bahkan pohon2 gundul yang menunggu bersemi kembali aja looks estetik.

Di Shanghai ini kami ke Shanghai Bund 2x siang dan malam (view malam gak kalah cakep dari siang, liat kota ini bermandi cahaya), jalan kaki di Nanjing Road (nekad mau cari beef noodle soup yang katanya halal, udah muterin ini jalan sampe ujung gak ketemu juga), beli oleh-oleh di tempat beli souvenir lupa namanya.



Besok paginya abis sarapan kami berangkat ke Hangzhou. Sempat berhenti di rest area (perjalanan sekitar 4 jam) dan sempat beli jaket wkwkw (ini bela2in banget dianter sama Ibu Rita lari2 gara2 jaket seharga seratus rebu hahaha). Pdahal awalnya saya ke situ juga cuman ke toilet sama beli kopi buat saya dan matcha buat Titan.


Speaking of toilet, ternyata gak seseram yang saya bayangkan (kecuali pas di Beijing terpaksa pipis di public toilet di pinggir jalan karena di Masjid di Beijing lagi direnov jadi gak bisa ke toilet kecuali mau sholat, sementara saya sedang tidak sholat). Selama di China saya ke mana2 bawa bidet (toilet di sana gak ada bidetnya, jadi bawa2 itu benda). Kebanyakan kami ke toilet resto, hotel atau public spaces yang lumayan lah bersih. Kalau yang public toilet yang bentukannya kek kontainer itu makbaaang bau dan joroknya wkwkwkw. Kalau gak kebelet sih enggak banget lah.

Salah satu public toilet yang ada di pinggir jalan (Beijing) yang baunya hihi. Tapi ya apa boleh buat kalo dah kebelet.

Selama di sana kami makan di resto halal, gak banyak jajan kecuali beli minum, kopi/matcha, buah2an, atau beli sate buah2an yang diglazir gula. Kalau beli kue biasanya beli pas makan di resto sekalian. Kebanyakan kami makan hidangan shichuan yang kebanyakan pedes (dan banyak pakai pepper corn) dan oily. Jadi setelah 5 hari saya mulai bosan. Setiap makan pasti banyak daging (kambing terutama), jadi biasanya saya nyendok sayuran yang gak banyak minyaknya banyak2. Hari terakhir kami khusus minta beef noodle soup (pokoknya pengen makan noodle soup kek buatan papahnya si Po itu aja). Ehya, pas menjelang balik saya beli segala macam cemilan yang ditawari sama Yuli the tour guide (sampe akhirnya beli extra bag buat masuk kabin wkwkw). Cemilannya enak2 dan mostly berbahan nabati (kami tanya kata dia halal): kurma isi walnut, kue apalah bentuknya stick dibikin dari wijen, plum, kacang2an, sama ada satu kue manis yang kami suka banget (Titan wanti2 kudu beli).






Di kota ini cuman sehari, jadi sore-sore kami mengunjungi White Lake. Pas hari kami ke sana, bertepatan dengan Festival Qingming. Saat Festival Qingming, warga mendapatkan libur selama 3 hari. Biasanya dipakai untuk mudik, mengunjungi makam keluarga, atau jalan-jalan outdoor. Nah, jadi ketika sampai di White Lake yang pertama keliatan adalah lautan manusia. Buanyak banget. Persis kayak lebaran di Indonesia dah. Keluarga menikmati jalan-jalan, piknik di luar ruangan. Jadinya ya boro2 menikmati, sudahlah tour guidenya berbahasa China, ruame pula manusianya. Tour guide kami sampe heboh ngingetin jangan kelamaan ke toilet karena antriiiii. Di White Lake kami berperahu keliling danau, and thats it.









Sebenernya kalau gak ruame begini danau ini cantik, konon ini adalah lokasi munculnya legenda ular putih yang sempet ngetop juga keknya dramanya.

Di Hangzhou ada 2 masjid yang cukup besar. Katanya komunitas muslim di kota ini lumayan banyak. Masjid yang ada 4 lantai (untuk shalat, aula, lobby) ini sudah cukup lama dari 1940-an. Saya membayangkan di masa itu ada masjid luar biasa. 





Pagi2 sekali kami sudah harus check out. Sarapan kami dibawakan ke kereta. Hari ini kami akan pindah kota ke Beijing naik kereta cepat (sama persis dengan whoosh di sini) dengan lama perjalanan 4 jam. Udah berasa naik whoosh bolak balik Bandung-Jakarta 8x. Sama seperti whoosh perjalanan relatively nyaman, gak berisik. Memang gak sepanjang waktu cepat karena kereta berhenti di beberapa stasiun antara Hangzhou dan Beijing.
Stasiun Kereta Hangzhou ada 2: North and South. Kami berangkat dari South Train Station. Walaupun masih pagi tapi sudah ramai. Namun nyaris gak ada antrian. Karena kami travel in group jadinya bisa check in khusus, lebih cepat.




 Penumpangnya penuh banget gak abis2, apalagi karena abis liburan panjang jadinya banyak yang mau balik ke Beijing buat kerja/sekolah. Walau penuh, namun saya masih bisa merem ayam atau menikmati pemandangan di luar yang cepat berganti. Toilet di kereta bersih (ada petugas yang kayaknya tiap setengah jam bersihin gerbong).




Sampai Beijing Train Station kami disambut dengan udara kering dan serbuk bunga willow yang berhamburan bikin hidung sakit. Kata guidenya, dulu pohon willow ini ditanam secara massal untuk penghijauan dan untuk peneduh. Tapi belakangan pemerintah mulai mengganti karena pohon ini butuh air banyak banget dan ketika berbunga serbuknya berhamburan ke  mana-mana bikin sakit hidung.



Beijing ini beda sama Shanghai, pas masuk Beijing yang keliatan pertama ini kotanya industrial banget. Pemandangan yang dominan adalah bangunan-bangunan apartemen menjulang berwarna mostly beige-cokelat. Kemudian pas masuk kota, jalannya lebar-lebar banget dan mulus dan banyak simpang susun tapi macetnya samaaa. Bedanya kalau macet di sini berisik, di sana hening. Mostly mobil listrik. Mobil konvensional ada, tapi dibandingkan dengan mobil listrik kalah banyak. Satu lagi yang mencolok adalah mobil2 mewahnya banyak. Sering banget liat mobil sport macam ferari seliweran. Titan mah seneng banget liat mobil sport yang langka diliat di Bandung haha.




Di Beijing kami mengunjungi The Great Wall. Memang luar biasa ya Great Wall ini, bukti kehebatan China dalam membangun konstruksi besar. Di kejauhan kami bisa melihat jalur kereta yang meliuk (suara kereta juga kedengeran), lembah dan bukit yang mengapit benteng. Jadi keingetan film The Great Wall-nya Matt Damon kebayang itu monster-monster yang berlompatan naik ke atas benteng.











Saya coba jalan melewati pos pertama ke pos di atasnya. Gak jauh sih, tapi nanjaknya aduhai. Buat lutut emak-emak lolita ya lumayan laaah. Tapi puas banget sampe atas pemandangannya juara lah. Titan yang tadinya gak mau ikut eh ternyata dia nyusul dong. Way to go, Tan! Dan dari sekian banyak anggota rombongan ternyata hanya 5 peserta yang naik sampe pos 8 itu. 


Sorenya kami jalan-jalan di Beijing Olympic Park yang digunakan untuk Olimpiade musim panas 2008 dan olimpiade paralimpik juga 2008. Stadionnya cantik banget berbentuk sarang burung (makanya disebut bird nest). Bangunan lainnya yang juga gak kalah keren adalah water cube yang berfungsi sebagai aquatic centre. Kedua bangunan ini dikeliling taman yang asik. Ngebayangin jogging di sini asik juga sih.





Kami juga mengunjungi Summer Palace. Kompleks seluas 2,9km2 ini dibangun oleh Dinasti Cixi sebagai tempat peristirahatan musim panas. Di dalamnya mencakup bukit buatan (Bukit Umur Panjang setinggi 60m), Danau Kunming, danau buatan yang merupakan bagian terluas dari kawasan ini, dan jembatan yang dibuat dengan lubang-lubang terowongan sebanyak 17 buah yang dikenal sebagai seventeen hole bridge).








Hari terakhir kami mengunjungi Wangfujing salah satu lokasi belanja ikonik (tapi kami gak belanja dan milih belanja di mal apa lupa namanya) dan Forbidden City. Kami ke Forbidden City kesorean gara2 kelamaan di toko kasur yang nyebelin itu. Kenapa juga sih mesti ke sana?

Untuk masuk area Forbidden City kami mesti jalan kaki agak jauh mengingat bis besar gak bisa masuk ke sana. Masuk ke area tersebut sesuai namanya agak2 riweuh, lebih riweuh dari masuk bandara. Polisi dan tentara di mana-mana, sebelum masuk ada pemeriksaan paspor dan juga body check in. Karena udah kesorean jadinya buru2 banget, cuman foto dikit-dikit. Kompleks Forbidden City ini luas banget, ada istana, ada mausoleum Mao, ada taman-taman. Daan saya menemukan pintu merah iconic di Mulan I dong. Satu hal yang saya sesali di sini adalah gak sewa baju-baju ala-ala China gitu. Kata Titan, gak pantas huhuhu. Pdahal asik jalan-jalan di Forbiden City pakai baju itu, vibenya pas banget. 







 



10 menit menjelang tutup penjaga2 sudah berisik nyuruh-nyuruh kita keluar, dan di pintu keluar tadaaaa banyak sakura yang lagi mekar. Akhirnya nemu juga itu bunga sakura (sebenernya udah nemu pas di Great Wall tapi gak banyak)!





Hotel di Beijing ini guede banget. Terbagi 2 bagian yang dipisahkan pintu sorong. Di bagian depan washtafel gede, kamar mandi, dan foyer. Jadi koper2 bisa ditaruh di situ gak di dalam kamar. Di bagian dalam ada 2 ranjang single yang besar, meja kecil, dan kursi. Semua ada wi fi tapi kami gak pake karena terbatas ngaksesnya, saya pakai roaming t-sel dan simcard digitravel aja buat Titan, bisa ngakses semua termasuk googling.

Malam itu setelah balik ke hotel kami rapi-rapi koper. Penerbangan kami pagi banget jadi jam 5 subuh kami sudah harus di bandara apalagi bawaan beranak pinak gara2 kebablasan beli oleh-oleh termasuk snack satu tas penuh wkwkwkw. Tapi setelah packing sambil ngeledekin Titan yang makan beef noodle stir fried seporsi mucung sampe kekenyangan kek dugong, ternyata dua koper masih aman, koper kabin masih aman juga. Semua oleh2 berhasil dipaksa masuk koper wkwkw (pagi2 ada yang takjub liat koper kami yang masih slim, yang menganggu cuman roda kopernya Titan yang pecah pas sampe Shanghai). 


Di Bandara kepagian, counter check in juga belum buka, akhirnya kami jalan2 dikit. Bandaranya besar, dan moderen. Setelah liat denahnya ternyata Bandara Beijing Capital International ini bentuknya kayak pesawat. Bandara ini adalah satu dari dua bandara internasional di Beijing.







Penerbangan ke Singapore tepat waktu dan lebih dari setengah perjalanan bumpy. Acara sarapan kocar kacir karena dihentikan beberapa kali akibat turbulens. Agak deg deg an juga sih, soalnya lumayan kencang. Walhasil sampe Singapore kami telat, padahal mesti pindah ke T2 dari T3. Mana posisi gate lumayan jauh pula dari dan ke sky train-nya. Rombongan saya, Titan, dan beberapa yang lain termasuk yang awal boarding. Lainnya masih menunggu sky train. Untunglah karena satu maskapai dan banyak banget yang mau terbang ke Indonesia dari Beijing jadi kami ditungguin walaupun telat boarding. 
Yang kocak Titan, udah siap mau duduk eh dia baru sadar kalau koper kabin ketinggalan di tempat check in gate. Jadilah dia keluar balik ambil koper tapi lupa bawa boarding pass. Mau ngejar udah telat jadi yasudahlah ditungguin aja. Alhamdulillah dia balik cengar cengir ditemenin salah satu petugas dari check in gate gara2 dia gak bawa boarding pass. Halahhh si Titan.

 Penerbangan ke Indonesia relatif lancar dan akhirnya, Alhamdulillah pukul 7 malam kami mendarat di Soekarno-Hatta. Siap2 mau ke Bandung.

Perjalanan kami, walau ada beberapa bagian menyebalkan ketika harus mandatory tour ke umkm cukup menyenangkan. Banyak orang baik di sepanjang perjalanan, walau ada juga yang aneh yang bikin saya dan Titan ketawa-ketawa sedikit gibah (dua kali ikut tour yang ada "celeb"nya dua kali juga kami ketemu keluarga yang super baik banget). Yang kurangnya adalah kami masih penasaran liat temennya si Po di habitatnya (apa lain kali ke Chengdu aja gitu ya?) dan di China gak nemu kopi yang enak. Setelah 4x coba beli kopi, akhirnya sudahlah, menyerah. Teh saja!

Alhamdulillah, satu wish list dicoret, siap2 nyangkul lagi mencari destinasi berikutnya. 

Zài jiàn, Běijīng!





































No comments:

Post a Comment