Tuesday, 31 March 2026

VIETNAM LEBARAN GETAWAY (HANOI-SAPA-HA LONG BAY)

Liburan kali ini bener-bener banyak dramanya, dari mau berangkat sampe tiba di rumah lagi.

Let the drama begin....

Januari mulai mikir-mikir mau kabur kemana pas libur lebaran. Pokoknya pengen healing pengen jalan-jalan. Awalnya mengincar Uzbekistan atau Jepang, tapi mengingat menjelang akhir tahun lalu kehilangan uang dalam jumlah lumayan, buat trip lebaran ini harganya ampun—ampunan dan enggak ada tanggal yang sesuai. Jadi diskip.

Jadi muter-muter pengen ke mana sampe liat di timeline koq banyak muncul tentang Hanoi. Beberapa waktu sebelumnya emang sempat terpikir pengen liat Hanoi.

Akhirnya mulailah nyari trip ke Hanoi. Dapat beberapa cuman tanggalnya 2-3 hari setelah lebaran, sementara cuti lebaran itu mepet banget dan Titan juga masuk sekolah nanti langsung disambut PSTS. Mau jalan sendiri, setelah baca-baca mesti banyak hati-hati sama scam, urusan makanan halal juga jadi pertimbangan. Plus si Titan bilang kalau jalan berdua tuh sepi. Opsi ini juga kita coret.

Setelah hunting ke berbagai travel agent dapatlah satu travel agent kecil yang ternyata ada jadwal keberangkatan 23 Maret. Liat itinerary sesuai harapan, harga juga masih on budget. Cuman satu aja masalahnya: csnya jutek banget. Kalau ditanya jawabnya singkat-singkat dan responnya sering kali pakai lama (kecuali pas bayar, cepet). Sempet sebel sih tapi yasudahlah diabaikan. Awal Feb, kami booking dan bayar 50%.

Eh, awal februari ini juga tetiba otot panggul bikin ulah. Ini drama pertama.

Dari sebelum Ramadhan memang sudah nyeri tapi masih bisa diabaikan, jadi saya abaikan (ini catatan, jangan mengabaikan sakit sekecil apapun). Lama-lama sakitnya mengganggu. Saya mulai kesulitan jalan, solat harus pakai kursi, dan sakitnya menjadi-jadi menjalar di sepanjang kaki kiri. Akhirnya persis sebelum awal puasa saya ke dokter di Klinik Rehab Nyeri, dicek, possibly kata dokternya overuse. Awalnya masih dicoba fisioterapi dan obat. Setelah 3x masih belum ada efeknya, malah tambah sakit. Selain susah berjalan, saya juga jadi sulit istirahat karena sakitnya. Otot paha seperti terkunci. Akhirnya minggu pertama puasa dicek menggunakan USG dan untuk meredakan segera saya dikasih obat suntik otot dengan cara IPM untuk otot paha depan. Harganya? Nyaris seharga tour ke Vietnam ini. Mau nangis antara sakit otot dan sakit isi dompet. Abis suntik agak lumayan berkurang nyeri yang di otot paha depan, dan kaki mulai bisa diluruskan. Tapi, otot paha samping dan piriformis masih sakit. Masih dibantu obat, seminggu kemudian sekalian kontrol saya suntik IPM kedua di paha samping. Harganya? Ya kalau digabung biaya treatmen seminggu ini sudah cukup buat bayar trip saya dan Titan ke Vietnam. Tambah mau nangis rasanya. THR belum cair dompet saya udah bobol duluan. Abis 2x suntik sakitnya lumayan berkurang (isi dompet saya juga berkurang banyak bangeet) dan atas saran teman saya coba urut di tempat urut yang biasa urut atlet. Dia tidak urut di tempat yang sakit tapi mulai dari ujung2nya. 2x urut perubahannya hanya sedikit, sudah mulai frustasi sebenernya. Akhirnya saya pindah ke satu klinik yang dokternya lagi viral di IG selain tetap saya lanjutkan fisioterapi di rumah (saya baru tahu ada layanan fisioterapi yang dipanggil ke rumah). Di klinik ini saya dapat treatment lain (akupuntur dan fisio). Hasilnya memang terasa lebih baik (mungkin ini juga dampak treatmen2 sebelumnya), walau saya tetap gak yakin ini mau liburan sanggup apa enggak? Fisio terakhir dilakukan hanya 3 hari sebelum Idulfitri. Saran dokter, saya masih harus rontgent tulang belakang (kuatir ada saraf terjepit di lumbal) dan masih ada utang fisio 3x lagi. Ntar lah, sekarang mikir liburan dulu.

Drama kedua muncul dari travel agent-nya. Saya sudah bayar lunas untuk trip di H-30. Janjinya H-7 akan ada konfirmasi. Sampai H-5 gak ada kabar sama sekali. Kata Titan jangan-jangan kita kena tipu. Akhirnya saya kontak via wa, dan dengan jawaban juteknya (kesel banget ini cs apa gak belajar komunikasi yang baik apa ya?), dapat konfirmasi halper untuk trip 23 Maret, forward dari TL dan pertanyaan saya berikutnya enggak dijawab. Katanya H-3 baru ada wag. Sampe H-3 masih belum ada kabar. Saya wa dibaca doang. Udah mulai pasrah aja jangan2 gak beres nih. Alhamdulillah, besoknya H-2 barulah ada link wag dan konfirmasi buat trip langsung dengan TL-nya. Setelah dapat konfirmasi wag ini barulah saya packing dan siapkan semua dokumen, perlengkapan, pesan travel untuk ke bandara which is besok malam! Untunglah hanya 5 hari dan gak ada perlengkapan khusus yang mesti disiapkan. Kami harus berangkat H-1 mengingat penerbangan kami yang jam 04.30 pagi dan harus sudah tiba di bandara jam 01 pagi.

 

Day #1

Drama ketiga. 

Tiba di bandara ontime (sempat deg degan soalnya driver travel istirahatnya lama banget di rest area). Ngantuknya enggak kira-kira, kami bertemu rombongan sesaat menuju jam 1 pagi. Di sana kami ketemu TL, Koh Alfons dari konsorsium travel agent (jadi peserta dari travel agent yang kecil-kecil ini dkumpulin, dibawa oleh konsorsium). Ternyata ini TL juga baru abisan balik, back to back dari China ke Vietnam. Kami juga kenalan sama peserta lain (yang kemudian beberapa jadi seperti keluarga selama kami di perjalanan). Beres check in baru ketahuan kalau tiket kami ngacak dan saya dapat seat 2 row dari belakang. Aiiih penjaga toilet iniii hahaha. Sudahlah gak apa2. Kami terbang ke KL dulu, transit sekitar 1.5 jam pindah gate dan terbang lanjut ke Noi Bai Intl Airport di Hanoi. Penerbangan relatif lancar despite of sedikit chaos karena nomor kursi ngacak, jadi keluarga pada pencar-pencar.

Kami tiba di Hanoi jam 12 siang. Proses klaim bagasi dan imigrasi gak terlalu lama jadi kami bisa segera ke bis tour. Selama di tour ada TL lokal, Cece Eni (saya gak yakin nulis namanya bener), orang Vietnam yang cukup lancar Bahasa Indonesia. Destinasi pertama adalah Mega Grand World Hanoi. Katanya sih ini tempat wisata bergaya Eropa yang terbesar di Hanoi. Lokasinya gak jauh dari bandara. Di sana semua pada turun buat foto-foto. Karena kaki saya sakit dan saya sangat ngantuk jadinya saya milih nangkring di café aja, nyicip Vietnam Salt Coffee yang terkenal itu. Dan  kopi seharga 40rb dong ini emang enak. Masalah utama yang saya alami di sini adalah, saya gak bawa Vietnam Dong! Waktu tukar di money changer langganan enggak ada, jadi saya tukar ke USD (dari yang saya baca kalau rupiah langsung ke VND nilainya enggak banget). Saya nukar USD juga karena gak ada kejelasan dari travel agent sementara money changer udah mau libur. Tadinya saya mau tukar di bandara, tapi dikasih tahu nanti saja di kota. Nah, saya pengen jajan gak punya duit. Jadi hari pertama baru aja landing udah minjam duit salah satu peserta, bah!











Dari Mega Grand World, kami menuju hotel. Di Hanoi ini ada aturan baru. Bis wisata berukuran besar enggak bisa keluar/masuk kota di jam sibuk (jam berangkat dan pulang sekolah/kerja). Akibatnya kami baru bisa masuk di atas jam 7 malam dan keluar sebelum jam 7 pagi! Wheww!

Drama duit terselesaikan saat masuk hotel ada peserta yang sudah nukar USD ke VND dan nawarin mau dibagi setengah2 gak? Tentu saya sambut dengan baik dong, weslah kagak usah mikir rate, nukernya juga gak seberapa. Jadilah dapat VND buat jajan malam ini, makasih Kakak Cory! Mata uang Vietnam ini nilainya sekitaran 0.65 Rp atau 100 USD setara dengan 2,6juta VND. Katanya negara ini mengalami inflasi besar-besaran (kek di Indonesia juga sih).

Malemnya, kami jalan bareng sama sekeluarga peserta yang jadi keluarga kami selama tour. Kami ke Old Quarter pakai grabcar (karena kami berangkat di jam macet, harganya 180rb VND), sharing berenam. Tujuan utama: Halal Pho! Alhamdulillah dengan sedikit gerimis meripis kami nemu tempatnya. Pho Muslim di area Old Quarter (gak jauh dari Masjid An Noor). Tempatnya keciiil banget, jadi kami berenam duduk pepet-pepetan. Di dalam udah ada beberapa pengunjung muslim (keliatannya sih Indonesia juga). Kami langsung mesan dan begitu datang wihhhhh porsi pho-nya jumbo banget! Adudududu liat kuah kaldu mengepul ngepul itu gimanaaa gitu. Untuk harga di tempat ini relatif lebih mahal dibandingkan tempat pho biasa, di sini semangkuk 100rb VND, sementara di tempat lain sekitar 50-70rb VND. Kami juga nyoba Vietnam spring rolls dan banh mi original pate (baru tahu ini yang original itu isinya bawang goreng!). Rotinya enak pakai banget.






Abisan makan jalan2 bentar sekitaran Old Quarter. Yang lain pada belanja di Win Mart (sejenis indoaprilnya sini lah). Saya belum pengen beli apa-apa, walau ada toko yang jualan kopi Vietnam. Cuman pengen balik dan tidur. Rencananya besok deh balik lagi beli oleh-oleh di sini. Yang lain belanja saya nambah nukar duit lagi di money changer (lumayan dpt rate bagusan dikiiit dibanding bandaara, halah cuman beda berapa perak doang mah haha). Abis belanja-belanja kami balik ke hotel. Mata saya udah ngantuk tpi masih kudu bongkar koper. Besok kami ke Ha Long Bay seharian.

Day #2 Hanoi-Ha Long Bay-Hanoi

Kami berangkat jam 5.30 pagi. Selain menghindari aturan jam sibuk Hanoi, juga ngejar supaya sampai di Ha Long gak terlalu siang. Menjelang jam 7 pagi saya sempat melihat rombongan anak sekolah pergi pakai sepeda, sementara pekerja pabrik (pakai seragam kerja) pakai motor. Jalanan pagi itu sudah sibuk. Dari infonya cece Eni, anak-anak di Vietnam wajib belajar. Di sana ada sekolah swasta dan negeri, keduanya berbayar. Sekolah negeri biayanya antara 700rb-1,5 juta VND/bulan. Biaya di sekolah swasta bisa 3x lipatnya. Untuk anak2 tidak mampu, homeless diurus oleh negara (enak ya kalau negaranya hadir). Jam sekolah anak-anak dari pagi hingga jam 16. Siang mereka ada waktu makan siang dan istirahat tidur siang (ini wajib).

Perjalanan ditempuh sekitaran 4 jam (sarapan dibawa di bis), namun kami sempat mampir di toko oleh-oleh. Jadi akhirnya di sini saya beli macem-macem (untungnya bisa dibayar pakai debet). Udah kelar kami nunggu yang masih belanja di luar, eh tetiba disamperin sama si yang tadi bujuk2 saya belanja. Ternyata saya kelebihan bayar 100rb VND, laaah. Jadilah saya balik ke dalam lagi dan belanja lagi. Hadeuuh.

Di toko ini selain jualan makanan kecil buatan Vietnam, aneka kopi (bubuk, biji, dan sachet) juga ada aneka souvenir yang dibuat dari benang sutra. Kami juga sempat lihat ulat sutra-kepompong-sampai pengolahan kepompong jadi benang dan dipintal, diwarnai, lalu diolah jadi barang kerajinan. Mirip kayak di China, namun ini skalanya lebih kecil dan lebih tradisional.

Tiba di Ha Long Bay kami nunggu sebentar untuk dibelikan tiket. Acara pertama adalah makan siang sambil cruising di atas boat. Kami dapat 1 boat sendiri. Dan seperti sudah direncanakan, meja kami berisi 6 orang yang sama dengan yang makan semalam. Menyenangkan bersama dengan orang-orang yang baik. Menu makan kami adalah seafood! Aneka seafood, ini enak namun bahaya buat level kolesterol hahaha!



Our Trip "Family"

Kenyang makan kami naik ke atas buat foto-foto dan akhirnya naik perahu kecil buat masuk ke dalam teluk yang dipagari dinding batu kapur. Untuk naik perahu kami membayar 250rb VND/orang. Satu perahu berisi 4 pax. Karena saya cuman bertiga sama satu peserta solo, akhirnya kokoh TL gabung biar berempat. Hayu lah!





Ha Long Bay ini adalah salah satu Unesco Heritage Site. Masuk ke sini dilarang bawa kemasan plastik sekali pakai (walau ketika beli minum sari tebu pas keluar gua kami pakai gelas plastik). Lokasinya berada di Provinsi Quang Ninh, Teluk Tonkin, sekitar 170KM dari Hanoi. Teluk tenang ini ditandai dengan air hijau emerald yang bersih banget dan dipagari oleh sekitar 1.600-2.000an pulau batu kapur yang tertutup vegetasi. Sebagian besar pulau-pulau ini enggak berpenghuni. Wilayah ini mulai terkenal saat digunakan untuk shooting James Bond Tomorrow Never Dies dan Kong: Skull Island. 











Ibu pendayung perahu


Saat berkeliling pakai perahu dayung (yang dayung ibu-ibu, dia juga motretin kita di beberapa spot), kami ditunjukkan cat stone (ada yang bilang dog stone), ceruk batu yang bentuknya kek kucing. Ketika semua orang sudah berhasil menemukan bentuk itu kucing saya masih sibuk nyari-nyari kucingnya di manaaaa? Ternyata bentuknya tinggi ke atas, saya kira kecil.

Dari main perahu kami balik ke boat dan diajak buat trekking kecil-kecilan masuk ke dalam gua. Tien Cung Cave (Gua Istana Surga). Gua yang berada di Pulau Dau Go ini adalah salah satu gua kapur yang megah dan punya chamber luas yang dipenuhi stalagnit dan stalagtit. Jalur untuk jalan kaki sudah rapi, dan di dalam ada penerangan temaram. Gua ini terkenal dengan legenda perkawinan raja naga. Tadinya saya enggan masuk karena kuatir kaki tambah sakit, tapi sayang juga udah sampe sini kalau enggak jalan. Akhirnya nekad saya masuk. Titan memilih istirahat di boat, katanya dia ngantuk banget. Jalur ke gua awalnya naik dulu lalu turun masuk gua dan naik lagi ke luar gua. Ini mirip sama Gua Jatijajar di Kebumen sebenarnya. Sepanjang jalan saya menikmati kecantikan stalagnit dan stalagtit yang memenuhi dinding gua dengan segala legendanya yang aneh dan rada-rada porno haha. Alhamdulillah kaki saya mau diajak Kerjasama dan baru mulai sakit ketika ketemu jalan datar menuju boat dari gua. 






Di pintu gua jajan lagi sari tebu yang enak banget (minjem lagi dong 20rb VND) karena saya gak bawa tas dan dompet, halaah! Juga minjem duit 20rb perak (eh ada yang masih mau dibayar rupiah buat foto2 pas di dalam gua haha). Makasih ya Kakak Tariii. 

Foto berbayar 20rebu dapat ngutang dulu

Balik ke boat si Titan lagi ke atas, katanya dia sambil ngerjain soal2 limit, wkwkwkw belajar with a view, literally. 

 
Setelah semua peserta balik, kami Kembali ke Pelabuhan Ha long dan Kembali ke Hanoi. Sampai di Hanoi sudah malam, dan kami berencana ke Train Street. Akhirnya sambil menunggu masuk dan menunggu kereta yang jam 21.25 kami makan dulu. Tadinya malam ini mau makan banh mi di Banh Mi Express halal, eh karena belok jadilah kami makan pho lagi. Beda sedikit dengan yang kemarin, pho yang ini kuahnya lebih gurih dan kondimennya lebih lengkap! Puas semangkuk besar pho dan sepotong cakue masuk perut.




Saya baru tahu kalau perokok tradisional di Vietnam pakai pipa ini. Kalau pas dihisap ada bunyinya. Gila emang kebayang itu paru-paru kudu kuat!

Bus yang bawa kami gak bisa masuk area Train Street, jadi kami diturunkan dekat gereja Katedral di French Quarter lalu jalan kaki sekitaran 10 menit ke Train Street. Gereja Kathedral ini salah satu peninggalan Perancis. Bangunannya masih terawatt baik dan masih digunakan untuk misa setiap minggu.


Sampai di Train Street sudah mulai ramai, walau kereta yang akan lewat masih sekitar 40 menit lagi. Kami langsung cari tempat duduk di salah satu café. Karena hari ini saya sudah minum 2 gelas kopi jadi saya hanya pesan yoghurt smothie dan Titan pesan avocado smoothie (@80rb VND, agak mahal karena yang di sini pasti mau nunggu kereta lewat).







Ini turis-turis ceria, sambil nunggu kereta mereka main kereta-keretaan. Ngajakin semua orang buat gabung sih, cuman udah lelaaah 

Pukul 21.25 jalur train street sudah ditutup dan dibersihkan, saya melihat beberapa turis meletakkan tutup botol bir di atas rel. Setahu saya mereka nunggu kereta meratakan tutup botol tersebut saat lewat, dan ini jadi souvenir Train Street. Pukul 21.35 akhirnya kereta datang, jalannya pelan (kalau kencang ngeri juga hembusan anginnya), jarak antara kereta dan meja tempat minuman kayaknya gak sampe 2 jengkal telapak tangan. Jadi orang2 lokal udah pada rebut: watch your hands (karena semua orang nyodorin kamera mau rekam kereta lewat)! 

Kereta yang lewat jadul banget, kek KRD. Katanya ini menuju ke Sapa. Gak sampe 10 menit atraksi nonton kereta lewat kelar. Buru2 kami jalan ke bis. Besok jam 5 pagi kami sudah harus berangkat ke Sapa.

 Day #3 Sapa-Cat Cat Village

Kami berangkat dari hotel subuh-subuh banget. Koper besar kami tinggal di Hanoi, kami hanya bawa koper kecil buat baju ganti dan jaket selama di Sapa. Selama 2 hari ini breakfast dibawa di bus. Isinya roti tawar setangkup, selada, butter, yoghurt, pisang, telur rebus, dan satu roti manis. Halah beda banget sama take away breakfast yang di China, enak dan padat. Ujungnya yang saya makan cuman pisang, yoghurt, dan telur rebus. Hari ini kami makan siang di perjalanan menuju Sapa. Makanannya lumayan enak (rata2 makanan Vietnam hambar-hambar), teman makannya aja yang kurang asik. Karena meja2nya diatur bersepuluh, kami gabung sama sesefamily yang selama perjalanan gak pernah nyapa2 haha.

Tiba di Sapa kami langsung menuju Cat Cat Village. Desa ini berada di Lembah Muong Hoa. Tiket masuk ke sini seharga 150rb VND. Kami turun melalui tangga-tangga yang dibangun untuk memudahkan akses. Di sepanjang jalan kiri dan kanan tangga diapit oleh penjual-penjual souvenir aneka rupa, dari aksesoris, pakaian, aneka rempah, aneka dendeng (sapi dan kuda kali ya), sampe aneka makanan camilan (jagung ketan, pao, dll). Tangga turunnya lumayan panjang dan curam, untunglah saya dipinjemin trekking pole sama kokoh Alfons. Lumayan buat bantu numpu kaki kiri. 







Sampai di bawah disambut pemandangan cantik: air terjun, Sungai, rice terrace, dan rumah-rumah kayu. Warga tradisional pakai pakaian kerja (celana panjang hitam, kemeja kek model pangsi, sepatu bot karet, dan penutup kepala) sambil bawa keranjang bambu yang diikat di punggung. Satu hal yang saya lihat jelas banget, kulit wanita Vietnam ini bagus-bagus! Bikin saya jadi ngiri, apa perlu pindah ke sini?








Di Cat Cat Village ini turis bisa sewa baju khas sana, harganya sekitaran 300-400rb VND dengan fotografer. Sebenernya tergoda karena gaunnya lucu dan colorful. Sayang memang kaki sakit ini bikin saya males ngapa2in. Jadi sudahlah setelah puas liat pemandangan saya duduk di café, ngopi sambil nonton pertunjukan seni tradisi Suku Hmong. Saya juga sempat liat pengrajin batik Vietnam (sama-sama pakai canting, tapi bentuknya beda sama canting batik di Jawa) dan pemintal benang sama pembuatan kain jumputan yang diwarnai pakai daun indigo (kainya cuma punya shade warna biru-hitam).

At the end of the day saya ikutan tari rame-rame melompati bambu yang digerakkan oleh penari lain (kejepit bambu sekali, salah injak). It was fun (sebelum harus naik lagi ke atas)! Sampe atas saya naik odong-odong ke tempat bis, Titan jalan kaki.

Balik dari Cat Cat Village kami mampir ke Sapa Square (alun-alun kota). Di sini kami duduk-duduk aja liatin yang jual souvenir sambil liat Sapa Church. Bangunan ini disebut juga Stone Church atau Notre Dame Cathedral, dibangun tahun 1902, terinspirasi dari arsitektur Perancis. Saya gak sempat liat bell towernya, tapi sempat mengintip sedikit ke dalam (gak ada temennya mau masuk takut dimarahi. Padahal nanya penduduk katanya masuk aja).







Sapa Square



Street Seller, sell souvenirs

Malamnya kami janjian berempat sama TL makan di Banana Leaf. Resto halal local yang dimiliki warlok yang menikah dengan warga Malaysia (suaminya). Menu yang disediakan berbentuk set menu. Ada set menu Vietnam dan Malaysia, masing-masing dengan 2 jenis harga 180rb VND atau 250rb VND per pax. Satu meja harus diisi 4 pax. Kami berempat pesan set menu Vietnam seharga @180VND per pax. Lokasi resto gak jauh dari hotel (kami menginap di hotel tua, Namanya Sapa La Cassa).

Sampe di resto kami duduk di balkon, jadi dapat udara segar. Hidangannya spring roll (dibuat sendiri dari bahan yang sudah disediakan), pho, tumisan sawi, ikan goreng, ayam, dan telur dadar. Enak, freshly made dan banyak, jadi enggak abis juga). Nasi di Vietnam saya kurang suka, keras!


Di resto itu ada dua dinding yang ditempeli berbagai uang kertas dari berbagai negara (termasuk Indonesia). Di atasnya ditulisin macem-macem. Entah dapat ide dari mana Titan minta duit, gak tanggung-tanggung mintanya 50rb perak (kebanyakan yang ditempel uang receh-receh sih). Katanya dia mau bikin wish. Ibu aminkan dengan semangat wishnya kamu, Tan. Bismillah kita perjuangkan supaya terealisasi yaa. Here it is.

Bismillah tahun depan wish kamu di duit 50 rebu ini terealisasi ya, Nak!

Abisan makan tetiba lagi ngide cari jaket. Titan ini jaketnya cuman wind breaker sementara besok kami akan ke Puncak Fansipan yang dingin dan berangin. Gak yakin kalau bisa nahan dingin. Winter jaketnya dia sudah kekecilan semua jadi dipakai ibunya semua dong. Akhirnya kami jalan balik ke arah Sapa Square, ke toko yang punya bapaknya resepsionis hotel. Di situ banyak jualan macem-macem dari jaket si muka utara kw (tapi bagus eh, kalau gak mikir bakal menuhin koper sempet kepikiran beli) sampe sepatu dan kaos kaki, ransel ada semua dah. Akhirnya Titan beli sweater fleece murah dapat 350rb VND. Barulah kami balik ke hotel, mandi dan coba istirahat.  Gila nih jalan2 capek juga.

 Day #4 Fansipan-Hanoi

Pagi ini again drama lagi. Mestinya jam 9 pagi kami sudah bergerak, namun ada aja yang gak bisa jadi bagian dari tim dan telat tapi selalu pengen dapat duduk enak di depan. Ngeselin pisan. Jadinya yang mestinya kita bisa diantar sampai lokasi jadi masih harus jalan lumayan jauh. Masalah kecil tapi ngeselin buat yang ontime. Antrian pagi itu sudah panjang banget, karena kita telat pagi tadi semua jadi molor, sebel. Mana antrian kita diselak sama segerombolan veteran pula, mau sebel tapi itu veteran.  Dahlah!

Sebelum masuk ke stasiun cable car kami melewati taman sukulen yang cantik banget, jadi foto-foto dulu lah. Di sini juga ada warung kopi bintang dolar itu yang diclaim sebagai highest bintang dolar store in the world. 




Warlok kecil satu ini lucu tapi agak galak, saya motret dari samping sambil takut dilempar (dia bawa-bawa batu mau lempar). Titan yang motret persis di arah tembakannya dia. He is cute!










Area cable car untuk nyebrang ke Fansipan ini berada di Sunwold Fansipan Legend, resort. Lokasinya berada di Sapa, Vietnam Utara. Untuk naik ke Fansipan enggak perlu trekking manjat dari bawah (kalau kelebihan energi boleh lah), kami naik Cable Car dari stasiun di bukit satunya ke arah Fansipan. Cable car ini membentang di Pegunungan Hoang Lien San melewati Lembah Muong Hoa dan pemandangannya cantik banget. Puncak Fansipan sendiri berada di ketinggian 3.143M DPL, naik ke atas bisa dicapai menggunakan Cable Car, lalu lanjut naik tangga ke atas atau naik kereta Funicullar (Fansipan Peak Funicullar) sampe atas baru turun jalan kaki ke stasiun Cable Car lagi (bisa naik funicular juga tapi jadinya gak liat apa2). Harga tiket kereta funicular 170rb VND sekali jalan dan ini gak termasuk dalam tour kami jadi kami bayar di tempat.

Cable Car ini ukurannya cukup besar, muat sekitar 50 penumpang. Tiketnya seharga sekitar 700rb rp bolak balik termasuk makan siang buffet. Perjalanan stasun to stasiun sekitar 20 menit dan asik liat pemandangan di bawah yang cantik walau agak serem kalau pas angin agak kencang, bunyi angin terdengar jelas banget.  





Turun dari Cable Car, kami lanjut antri buat naik fansipan peak funicular. Yang ini kapasitasnya lebih kecil dan relnya nempel di kecuraman dinding Fansipan. Fansipan ini disebut sebagai The Roof of Indochina (Kamboja, Vietnam, Laos). Pegunungan ini berbatasan dengan ketiga landlock country (jadi keingetan Geografi SMP. Ibu Imas guru geografi kami, terima kasih, Bu sampe sekarang saya masih ingat itu). Turun dari funicular mulailah angin berembus kencang walau matahari bersinar cerah banget, jaket yang sedari tadi saya tenteng tenteng akhirnya saya pakai juga. 







Sebelum naik dapat beberapa foto dan akhirnya here we are, kami berdua sampe di atapnya Indochina, Alhamdulillah dengan kondisi kaki yang belum pulih bisa juga sampe sini. Gak lama di atas soalnya ruame banget semua mau foto di tugu dan si Titan nggak mau lama-lama, jadi dia turun duluan dan kami cari-carian sampe menjelang patung Budhha di atas. Jadi saya turun sendiri sambil ngesot takut gelundung. Gila itu tangga setinggi dan securam itu, bagaimana bangunnya coba?









Puas di sini kami balik ke arah stasiun, naik cable car dan makan siang di Buffet Syariah. Makanannya buffee gitu dan buanyak jenisnya. Setelah berhari-hari kami makan makanan yang relatively bland (tapi sehat yaa), kami bisa makan makanan berempah wkwkw. Makan sampe kenyang dah. Rombongan yang gak makan halal diajak makan di sebelahnya, yang makanan Vietnam, katanya ada B2 panggang yang terkenal.



Eh ternyata ada sedikit insiden. Ada 2 rombongan tertinggal, ditemani sama kokoh TL. Ternyata pas balik di Cable Car sempat mati Listrik cukup lama, jadi they are stranded in the middle of the air. Panik dan deg degan katanya. Terbayang dah kalau pas gantung gitu ada angin kencang, bunyinya itu berderu oy.






Dari Sapa sudah sore banget jadi sudah dibayangkan sampe Hanoi bisa-bisa Tengah malam. Di sepanjang perjalanan banyakan tidurnya, lelah banget euy. Kami makan malam di satu resto kecil lupa namanya. Menunya lumayan banyak dan lumayan lah rasanya.

Ada drama lagi dari si itu lagi itu lagi. Jadi pas mau masuk bis kami ke toilet. Sudahlah itu toilet hanya satu eh masuklah berdua dan entah apa yang dilakukan di dalam, jadi yang antri beberapa orang gak bergerak. Rese banget ini berdua, cekikikan berdua di dalam. Karena udah kelamaan akhirnya gantian kami pakai toilet cowok dan sampe kami kelar baru mereka berdua muncul berasa gak salah sama sekali. Ampuun ada aja yang kek begini.

 Sampai Hanoi sudah Tengah malam, kami cek in ulang, angkut koper ke atas dan repacking. Besok kami balik dan bisa bangun agak siang. Eh Abisan mandi malah ngegibah berdua si Titan, ujug2 sampe ngomongin Tsar Nicolai II dan Lenin segala hadeeh.

Day #5 Go Home (Hanoi-KL-Soeta-Bandung)

Jam 9 kami berangkat ke Bandara, udah kelar sarapan (akhirnya sarapan proper di Hanoi ini), urusan imigrasi dll lancar lah. Ketiga koper kami yang membesar 2x lipat kami masukan bagasi biar gak riweuh jadi kami bawa tas kecil doang. Tiket kami lagi-lagi ngacak dan kali ini duduk persis di sebelah toilet. Gustii itu sepanjang jalan keknya seisi pesawat pergi ke toilet, gak kelar2 antriannya! Titan duduknya terpisah tapi akhirnya bisa tukeran sama serombongan jadi duduk sebelahan. Perjalanan walau cangkeul tapi aman lah, belum ada drama kecuali sepanjang landing si Titan mimisan ngocor idung kiri kanan gantian. Selama trip bolak balik dia mimisan, dampak kurang tidur dan kurang minum. Jam 17 kami landing di KLIA langsung ke mushalla dan toilet. Abis itu jalan ke terminal sebelah cari makan (lagi). Kami makan di BK bandara, wareg lanjut lagi jalan-jalan sambil larak lirik dan berakhir dengan beli pie durian wkwkw. Sampe di gate masih lama dan akhirnya tergoda bayar kursi pijit sebelahan si Titan kami ketawa-ketawa sambil dipijit (lumayan RM20 dapat 30 menit kalau pakai kartu, Titan pakai cash dapat 20 menit). Halaah, lumayan lah buat sedikit mengurangi pegel. Menjelang boarding tiba-tiba dikasih tahu kalau gatenya pindah, hadeeh jalan lagi kita. Dan drama lagi dah pas boarding. Siapa? Yaitu dia lagi dia lagi. Astaga orang ini kasar, begitu diceritakan sama yang dikasari kaget bener, Saya gak denger yang diomongin karena rame banget di pesawat dan rusuh gara2 keluarga posisinya pencar-pencar, tapi saya ngeliat kejadiannya dan baru diceritakan pas landing.

Kami landing ontime, dan gak asiknya T3 itu imigrasinya jauuuuuuuh banget. Ya ampuun tengah malam buta ngebut ke imigrasi antri baru ambil bagasi yang nunggunya lama.
Pas itu bagasi muncul pembungkusnya ilang semua, belakangan pembungkus koper saya muncul, punya Titan ah sudahlah, mending pembungkusnya doang yang ilang. Kami keluar bandara jam 12.30 harapan dapat travel langsung (saya cek masih ada seat untuk jam 01 pagi). Taunya itu travel langsung full, dicarter orang, jadilah nunggu yang jam 2 tapi belum jelas dan ujug-ujug seatnya penuh. Geser ke Jackal masih ada 3 seat untuk jam 2 jadi sudahlah langsung saya book, abis itu balik ke dalam nunggu di Gate 4. Ngantuk, capek, gerah. Jam 01.45 travel datang dan akhirnya kami bisa menuju Bandung. Perjalanan lancar, si Titan bisa tidur, saya skip tidur, duduk di depan silau euy.

Jam 4.40 kami tiba di Bandung, mesen taksol agak lama. Daaaaan sampe rumah jeng jeng jeng, itu rumah gelap gulita!

Waktu berangkat semua lampu garasi dan teras dan belakang kami nyalakan, supaya pas kami balik gak gelap-gelapan. Lah, ini kenapa gelap gulitaaa? Gak mungkin mati lampu juga, orang rumah tetangga pada nyala. Kata Titan jangan-jangan pulsa abis. Dan begitu kami masuk halaman, langsung liat meteran listrik lampunya merah udah gak ada bunyi dan gak kedap kedip. Ya ampun, ini dari kapan? Pas mau berangkat itu mikirnya masih aman, karena rasanya masih banyak. Yang saya lupa adalah kemarin-kemarin kan libur dan abis kuras toren, jadi pompa air bolak balik nyala. Udah gitu selama libur di rumah banyak perlengkapan listrik nyala. Langsung lah saya beli token dan diisikan. Deg deg an soalnya belum pernah kejadian gini seumur umur. Begitu diisi, langsung nyala tapi langsung jepret lagi. Jadi satu-satu dimatiin dulu baru dinyalakan ulang. Begitu masuk rumah ada bau-bau gak enak. Saya otomatis jalan ke arah kulkas daaaaan freezer kulkas persediaan bahan masak (yang isinya 3 pack daging yang sudah dimarinasi sisa Ramadhan sudah lembek mencair tapi masih dingin). Buka kulkas sebelah yang isinya buah-buah beku buat jus, penuh genangan lelehan stroberi dan bit buat jus, mau nangiiiis itu buah2an sengaja dibekuin dan dipak per porsi biar mudah kalau mau ngejus huhuhuhu. Chest freezer mah udah males buka lah, sudahlah nanti kalau mau masak dan udah gak layak isinya langsung buang. Tak ada tenaga buat kesel dan beresin isi kulkas, jadi cuman keringin airnya, buang beberapa makanan di kulkas bawah, terus tutup lagi kulkasnya. So be it!

Urusan kulkas dianggap beres, masalah baru muncul, kamar si Titan gak mau nyala sama sekali, gak ada aliran listrik, jadi dia ambil baju ganti pakai emergency lamp. Udah males urusin ngantuk gak karuan, biarin dulu aja deh, ntar dicari tahu. Hal pertama sebelum mandi adalah bongkar baju kotor dan masukin ke mesin cuci, nyapu-nyapi, mandi, solat subuh terus rencananya mau tidur. Ternyata gatot, baru bisa tidur setelah jemur dan masukin cucian lot kedua. Baru aja merem, eh ada dari kantor nelpon. Sumpah, berasa linglung, masih mikir ini di mana dan sampe setengah jalan percakapan saya masih gak paham  yang nelp siapa dan apa yang diomongin. Argggh! Abis itu sudahlah sekalian bangun dan cari makan, lapar! Sampe sore kamar Titan, ruang tamu masih gelap dan ternyata lampu teras juga sama gak nyala. Cek sana sini ternyata eh ternyata itu saklar MCB yang ke jalur itu masih matiiii. Halaaaah ini drama gak kelar-kelar!

Home Sweet Home walau keos.

Eniwei, beberapa hal yang bikin saya suka pergi-pergi ke tempat baru selain ketemu orang baru (beberapa kali ketemu yang “ajaib”), adalah lihat lingkungan baru, budaya baru, nyicip makanan di tempat aslinya, ketemu temen baru yang beberapa malah jadi kayak sodara sendiri. Sudah beberapa kali bertemu keluarga-keluarga baik yang alhamdulillah masih suka kontak sesekali. Satu hal lagi, perjalanan bikin orang keluar semua sifat aslinya. Capek memang, tapi selalu dapat banyak hal yang gak bisa ditukar pakai uang. 

Perjalanan kali ini emang agak-agak gila, tapi seru. Alhamdulillah dipertemukan dengan orang-orang baik yang menjadikan perjalanan ke manapun lebih mudah dan menyenangkan.

Dramanya? Ah anggap saja pewarna biar lebih colorful.

Orang nyebelin? Ah biarin aja, at the end of the day ada kejadian buat dia yang gak menyenangkan. Karma is bitch, darling!

Tan, nambah satu stamp passport lagi, means nambah pengalaman baru buat kamu. 






📷 Xiaomi 15T, Canon R100 (by Titan)




No comments:

Post a Comment