Tuesday, 28 April 2015

Bandung yang makin molek (DIPELIHARA DOOOOONG!)

Bandung itu keren!

Saya adalah keturunan Sunda asli. Walaupun sudah nyaris 15 tahun saya merantau di daerah lain dan udah nggak punya KTP Bandung, saya tetap merasa sebagai bagian dari warga Bandung.

Sudah lama sekali saya nggak menikmati jalan-jalan di Bandung. Bukan apa-apa, males sama macetnya. Belum lagi pengalaman menyebalkan ketika jalan di trotoar Bandung dan disenggol motor yang nekad ambil jalur trotoar padahal jalan di situ aja udah mepet2 sama PKL yang jadi penguasa trotoar. 
Kalaupun bisa ke  Bandung paling pada saat weekend atau liburan. Dan itu pasti barengan dengan ribuan warga DKI dan sekitarnya yang juga sering menyerbu Bandung untuk alasan yang sama: jalan-jalan, makan, atau belanja. Walhasil males ke mana-mana. Kalaupun bukan pada saat weekend paling kalau pas tugas. Judulnya juga tugas, lebih sering dihabiskan di kantor.

Nah, belakangan ini, terlebih sejak walikota dijabat oleh seorang kreatif yang bernama Ridwan Kamil, saya sering melihat berita seputaran kota Bandung. Mulai yang pembenahan taman, trotoar, PKL, sampai hal yang banyak orang bilang remeh temeh kayak Rabu Sunda, Kamis Inggris, Jumat bersepeda. Buat sebagian orang mungkin ini remeh temeh, tapi buat saya ini keren. Bikin saya pengen ada di Bandung terutama hari Rabu dan ikut menikmati Rabu Sunda lengkap dengan bahasa dan pakaian tradisional Sunda. Kuring teh asli Sunda. Dengan segala pemberitaan itu, jujur, mulai penasaran saya dengan apa yang disebut-sebut media ini, tapi apa boleh buat waktunya belum ketemu.

Saya penasaran dengan yang namanya Taman Jomblo, Taman Film, dan aneka taman lainnya. Saya juga penasaran dengan yang namanya Alun-Alun Bandung, yang sejak dibenahi baru saya lihat fotonya dari teman-teman yang posting di FB aja. Terlebih pas KAA kemaren, rasanya darah Bandung saya bergejolak. Pengen pulang dan menjadi bagian keriaan dan kehebatan itu.

Kemarin, tiba-tiba saya dapat tugas yang memungkinkan saya keliling Bandung dan bersenang-senang menikmati suasana Bandung sekarang! Senang? Tentu saja, kalau boleh saya pengen joget-joget saking senengnya. Saking senengnya saya minta izin sama gurunya Titan untuk bolos besok supaya bisa menikmatinya bersama Titan. Dia juga punya darah Bandung, hehe.

Subuh-subuh kami sudah bersiap. Bersama rombongan kecil siap keliling Bandung. Sampai Bandung jam 09 pagi disambut matahari yang gahar. Puanass. Tapi, panasnya matahari nggak bisa ngalahin semangat buat jalan-jalan. Tujuan pertama adalah Alun-Alun Bandung. 

Dulu, tahun 80-an, ketika saya duduk di bangku SD, tempat ini adalah tempat favorit hari Minggu. Setiap minggu pagi bersama adik dan almarhum Papah, kami biasa olahraga ke sini. Lari pagi dari rumah kami di Cibangkong (tepat di belakang TSM sekarang) ke Alun-Alun sementara Papah mengiringi pelan dengan motor vespanya. Kami biasa main di sana sampai puas, sarapan bubur ayam baru pulang ketika mentari sudah benderang. Saat-saat yang menyenangkan. 
Terakhir kali saya menginjakkan kaki di Alun-Alun Bandung adalah ketika ospek kampus. Saat itu para senior 'menculik' kami untuk bermain peran di Alun-Alun. Saat itu banyak kejadian lucu dan tak terduga. Seru! Saat saya ospek, Alun-Alun belum sekeren sekarang, bahkan cenderung kumuh, kotor, dan nggak menyenangkan bahkan untuk sekedar duduk-duduk.

Balik lagi ke Alun-Alun jaman sekarang. Sampai di Alun-Alun kami langsung markir di basement (kereeen, walau tempat parkirnya masih harus dibenahi karena masih semrawut dan kurang berkesan aman). Begitu naik ke atas, wowwww, kereeen. Itu komentar pertama. Hamparan rumput sintetis menyapa mata, hijau dan bersih. Melirik ke kanan ada halteu bis yang dibuat begitu sederhana, tapi keren dan memanjakan mata dengan nama yang ditulis dalam bentuk balok warna merah dan putih. Di belakang halteu bis ada jejeran bangku beton yang rapi. Sebelum masuk hamparan rumput sintetis, mata terpaku pada papan petunjuk dan larangan yang dibuat berwarna merah cerah sewarna dengan tulisan nama halteu yang dibuat merah-putih. Di pojokan Alun-Alun terdapat area anak-anak lengkap dengan mainannya. Sementara di latar belakang Masjid Agung Bandung tampak megah diapit dua menara. Pemandangan yang luar biasa.

Bahkan rambu petunjuk pun dibuat dengan cara yang kreatif

Nah, udah dikasih peringatan. Tinggal diikuti saja 

Halteu bis yang nyaman dan bersih
Masjid Agung Bandung

Kendati masih cukup pagi, ternyata di Alun-Alun ini sudah ramai. Banyak warga yang memanfaatkan area ini untuk berbincang, reuni, ngasuh anak-anak, dan bahkan kayaknya banyak yang bolos nih (kumaha ieu kalau beneran bolos? hihi). Titan bahagia sekali main di sini. Saking semangatnya, ibunya diajak balapan lari di atas hamparan rumput. Ah, senangnya jadi warga Bandung yang begitu dimanjakan.
Hamparan rumput sintetis yang bersih bikin Titan pun bahagia

Melihat sekeliling, warga duduk-duduk memenuhi bangku di tepi lapangan sambil makan, sarapan, atau hanya sekedar berbincang. Foto-foto? Jangan kuatir, tongsis dan segala jenis kamera bermunculan dari segenap penjuru. Tempat ini memang luar biasa untuk diabadikan. Bersih, terawat! Satu hal lagi, nggak ada PKL yang mangkal sembarangan dan menganggu pemandangan. Awesome!
Warga duduk-duduk di pinggiran Alun-Alun, sekedar sarapan, ngobrol, atau ngasuh anak-anak

Puas menikmati Alun-Alun, kami lanjut berjalan ke arah Jalan Asia Afrika yang minggu lalu menjadi pusat perhatian dunia dengan suasana kemegahan Peringatan KAA ke 60. Sisa-sisa kemegahan dan hasil kerja keras warga Bandung dan Walikotanya masih bisa dinikmati. Trotoar dengan bangku-bangku antiknya yang enak dipakai untuk menikmati pemandangan sekitar Asia Afrika. Batu-batu bulat yang bertuliskan nama-nama negara peserta KAA, tanaman bunga di sepanjang jalan (sayangnya sudah mulai ada yang layu, mungkin kepanasan atau belum disiram) menghias sepanjang trotoar. Warga dari anak sekolah sampai warga lanjut usia banyak yang berjalan-jalan menikmati suasana sepanjang jalan ini. Suasana yang luar biasa.
Duduk di sepanjang jalan ini asik ternyata...

Sepertinya bunganya kepanasan, agak layu. Belum disiram kah?

Sayangnya, masih aja ada warga (semoga warga norak nan kampungan ini bukan warga Bandung. Kalau warga Bandung kepruk aja biar kapok. Kalau bukan warga Bandung jangan bolehin ke Bandung lagi sampai jadi warga yang tahu sopan) yang berbuat norak manjat di atas bangku hanya buat foto-foto (norak, kan) atau buang sampah sembarangan (sumpah, pengen jitak deh rasanya). Nggak ngerti apa ya kalau banyak warga yang sudah kerja keras menjadikan Bandung sekeren ini.

Dari Asia Afrika melewati Museum KAA, menuju Braga. Sayangnya saat itu Museum KAA tutup, jadi nggak bisa masuk. Sepanjang Braga mata masih dimanjakan dengan suasana yang bersih kami menuju titik pusat Braga yang ada penanda berbentuk tulisan BRAGA warna merah menyala. Akhirnya bisa sampe sini juga. Keren!
Gak ada huruf T, A juga jadi deh

Dari situ kami berjalan memutar kembali ke arah Asia Afrika melalui Jalan Cikapundung yang masih ditutup untuk kendaraan. Sepanjang jalan ini, digunakan untuk bazar, panggung hiburan KAA, dan juga dihias dengan blok-blok yang berisi gambar (saya nggak tau namanya apa) tokoh-tokoh KAA lengkap dengan informasinya. Sangat edukatif dan informatif. Sepanjang jalan berjejer tiang bendera, di satu sisi bendera Merah Putih, di sisi lain bendera negara peserta KAA. Di muka jalan Cikapundung yang berdekatan dengan Gedung Merdeka dijajarkan figur-figur tokoh Indonesia juga tokoh Jawa Barat, termasuk Sukarno dan Ridwan Kamil, the major. Banyak warga yang berfoto di sini (nggak sama orangnya sama figurnya nggak apa-apa deh). Di panggung ada sejumlah siswa SD yang sedang memainkan angklung membawakan lagu-lagu daerah dan lagu nasional. Ah, suara alunan angklung itu buat sejuk hati dan kepala. 
The Major, and the major wanna be hehe

Pertunjukkan angklung di Jalan Cikapundung

Berkibarlah benderaku....


Gak hanya jalannya, sungai Cikapundung juga nggak luput dari pembenahan. Walaupun airnya masih sebutek bajigur, tapi alirannya bersih dari sampah. Di atas jembatan Cikapundung yang berada di Asia Afrika diberi jeruji yang dihias dengan tanaman hijau. Cantik!
Walau sebutek bajibur, tapi bebas sampah

Dipake buat mejeng juga keren koq...

Puas di sekitar Asia Afrika, kami melanjutkan perjalanan ke arah Gedung Sate. Mobil kami parkir di sebelah Taman Lansia, kami jalan kaki menuju Museum Pos. Saya baru tahu kalau ada museum ini. Posisinya persis sebelah Gedung Telkom seberang Taman Lansia. Di depan museum terdapat 2 spot foto yang keren, sejenis foto booth. Gedung ini kayaknya termasuk gedung tua, tapi kondisinya baik dan terawat.
Sejarah dan aneka benda pos ada di sini

Tukang pos jaman baheula...

Di dalam museum dipajang benda-benda pos, termasuk koleksi perangko berbagai zaman dan negara. Keren! Untuk anak sekarang, benda-benda ini termasuk benda aneh. Padahal untuk generasi saya, pos memegang peranan penting untuk komunikasi. Dulu saya suka menyimpan perangko-perangko yang unik (belum bisa dibilang filateli karena hanya sedikit) juga kertas surat yang lucu-lucu. Sekarang mana ada lagi sejak surat digantikan dengan email dan teks message via gadget. Saat kami keluar ada serombongan anak sekolah yang mengunjungi Museum Pos ini.

Dari Museum Pos kami menuju Gedung Sate, untuk motret bagian depannya. Ada yang keren yang baru saya lihat, di trotoar di depan Gedung Sate ternyata dihias dengan motif Batik khas Jawa Barat. Wahh, keren bener. Hanya sebentar di Gedung Sate, mengingat perut sudah keroncongan, kami balik ke parkir melalui Taman Lansia. Ah, rasanya dulu tempat ini nggak menarik untuk dikunjungi. Selain kotor, juga terlalu rimbun nggak jelas. Sekarang? Selain bersih, rapi, juga dilengkapi wi-fi. No wonder di siang yang terik ini banyak warga yang memanfaatkan tempat ini untuk beristirahat. Once again, nggak banyak pedagang yang berkeliaran. Sayangnya memang ada beberapa tempat sampah yang rusak dan hilang. Duh, masih aja tangan jahil ini menganggu apa yang sudah baik. 
Trotoar depan Gedung Sate yang dihias ornamen batik khas Jabar. Seandainya seluruh trotoar di Bandung bisa sekeren ini (minimal cukup buat jalan kaki dan bersih) tentu akan lebih hebat #harapan...

Taman Lansia yang ber wi fi (belum nyoba selancar di sini sih). Tapi taman ini keren dan asri

Nah, tempat sampahnya ke mana?

Makan siang kami di Ciung 11. Warung makan rumahan yang punya sup buntut enak luar biasa. Warung makan ini hanya buka pada hari kerja saja. Dan kalau datang kesiangan jangan harap masih dapat sup buntut. Habis jalan di panas terik semangkuk sup buntut plus es kelapa jeruk sukses masuk perut....ah dunia benderang kembali rasanya.
Sup buntut ala Ciung 11. Rasanya? Sedap abis deeh

Perjalanan kami lanjutkan ke arah Padasuka menuju Saung Angklung Udjo. Setibanya di sana pertunjukkan jam 13 sudah mulai. Kami langsung berbaur dengan pengunjung lain sambil motret. Pertunjukkannya lumayan interaktif. Di bagian akhir seluruh pengunjung diajak memainkan angklung mengikuti aba-aba MC. Walaupun dadakan, tapi keren. Pengunjung antusias memainkan angklungnya sesuai aba-aba. Untuk saya, ini adalah kali pertama saya memegang dan memainkan angklung. Rasanya, jadi pengen belajar main angklung. Titan bilang, Ibu payah. Titan sudah pernah main ini di sekolah (maluuuu).
Dengar musik angklung itu asik. Nggak kebayang 20 ribu angklung! Awesome Angklung!

We love Indonesia


Dari Saung Angklung kami memburu satu lokasi lagi: Taman di bawah jembatan Pasupati. Ah, tak terbayangkan kalau di bawah jembatan bisa disulap jadi tempat nangkring yang keren. Seringkali daerah bawah jembatan jadi area yang kumuh, menyeramkan, bau, nggak menarik. Tapi di Bandung, di bawah jembatan Pasupati ada 3 taman tematik yang asik: Taman Pasupati alias Taman Jomblo, Taman untuk main skateboard, dan Taman Film. Kerennya lagi taman-taman ini tampak bersih dan terawat. Di Taman Jomblo dihias oleh bangku-bangku beton yang cocok memang buat merenung hihi. Di taman sebelahnya banyak anak-anak muda asik main skateboard. Sementara turun ke bawah ada Taman Film yang memiliki tempat duduk bangku-bangku beton dan hamparan rumput sintetis dengan layar lebar. Kayaknya nobar Piala Dunia di sini bakal seru nih. Banyak warga yang sedang mengaso, diskusi, mengobrol, main di Taman Film. Lokasinya emang enak buat nangkring. Naungan jembatan lumayan meredam panas yang menghentak.




Taman yang ini ada di Jalan Ganesha. Dulu sewaktu masih kuliah di kampus seberangn taman ini, kondisinya mengenaskan. Boro-boro asri, yang ada serem, kotor, geueuman kata orang Sunda mah. Sekarang? Saya sampai kagum lihat ini taman bertransformasi jadi bginih....

Ah, Bandung sekarang keren. Dulu di saat saya tumbuh besar saya sangat suka udara dan suasana Bandung. Sepertinya rasa itu kembali lagi. Terima kasih untuk segenap warga Bandung juga walikotanya yang berhasil menjadikan Bandung kembali keren. Mudah-mudahan apa yang sudah diupayakan bisa bertahan lama, dijaga dengan baik untuk diwariskan ke penerus selanjutnya. Walaupun masih banyak area Bandung yang perlu ditata, tapi perubahan yang sudah dilakukan sudah hebat terlebih kalau bisa dijaga dengan baik.

Semoga kebaikan yang sudah dilakukan bisa menular ke area dan menyentuh aspek kehidupan yang lain, sehingga Bandung tetap menjadi mojang geulis, yang terus layak menyandang gelar sebagai Paris van Java. I really love Bandung.






Thursday, 5 March 2015

TITAN DAN TRAVELLING: INDONESIA ITU INDAH, YA

Indonesia itu indah sekali. Ya, saya sangat menyadari itu ketika mendapat kesempatan travelling ke berbagai tempat di Indonesia dalam rangka tugas. Di sela-sela tugas saya menikmati (sekaligus curi-curi) kesempatan untuk menikmati keindahan Indonesia. Karena itulah saya bertekad ingin mengunjungi kembali tempat-tempat yang sudah pernah saya kunjungi atau tempat-tempat yang sejak dulu saya ingin kunjungi. Namun, kali ini saya ingin menikmatinya bersama putra semata wayang saya, Titan.

Sejak Titan masih bayi, saya menularkan semangat cinta Indonesia saya dan kegemaran travelling saya ke Titan. Dan ternyata, kini dia menikmatinya juga. Sebelum genap berusia 40 hari, Titan saya sudah ajak keluyuran hingga Sukabumi. Tentu saja dia belum mampu menikmatinya. Tapi saya sangat berharap semangat itu dia warisi sejak dini. Ketika dia mulai menapakkan kakinya, saya mulai berani mengajak dia pergi ke tempat yang lebih jauh. Di awali dengan perjalanan ke Anyer dan Pangandaran (itu trip terjauh pertama Titan), lalu Garut, Bandung (this is our hometown), Ambarawa, Cirebon, Bromo, Batu, Surabaya, Belitong, Lampung, Banda Aceh, dan Sabang kami jelajahi bersama. Nggak cuman alamnya, tapi juga kulinernya.

Kami menikmati keindahan alam mulai dari angkasa menjelang pendaratan hingga ke bawah laut. Belum sampai ke laut dalam memang, namun untuk saya dan Titan ini sudah luar biasa. Dari awal terbang Titan takut luar biasa, sekarang dia sudah bisa menikmati indahnya pemandangan dari angkasa saat landing di daerah tujuan dan bilang: "ibu, lihat keren banget yaaa". Dari yang masih takut-takut nyemplung ke air hingga akhirnya harus dibopong paksa instruktur selam agar dia mau keluar dari air dan naik ke speedboat untuk pulang.

Sambil berjalan-jalan menikmati keindahan Indonesia (termasuk menjajal nikmatnya makanan khas setiap daerah yang kami kunjungi), tidak lupa saya menyelipkan pengetahuan budaya, sains, dan sejarah. Kini, Titan tahu yang namanya tsunami itu seperti apa dan apa dampaknya. Dia juga tahu kalau lumba-lumba itu suka melompat di air dan punya suara yang unik. Titan juga tahu kalau gajah itu adalah hewan cerdas yang bisa melakukan berbagai hal termasuk membantu manusia (dia melihat atraksi gajah di Way Kambas dan melihat peranan gajah saat membantu membereskan Tanah Rencong yang porak poranda akibat tsunami). Titan tahu kalau dunia bawah laut itu menakjubkan (dan dia sebal sekali melihat foto2 saya sewaktu snorkeling di Pulau Lengkuas dan ikut intro diving di Pulau Rubiah). Dan dia tahu kalau ayam tangkap serta durian dan kupi gayo itu rasanya luar biasa enak (untuk ini saya senang sebab berhasil membuat dia makan durian!)! Dia paham kalau gempa di bawah laut bisa menyebabkan tsunami (tentu saya belum ajarkan magnitude dan kedalaman gempa padanya). Dia tahu kalau dia area gunung berapi ada bau-bau seperti kentut itu disebabkan oleh belerang (tapi setiap kali menciumnya dia lupa lagi namanya). Satu lagi, dia tahu kalau Indonesia itu memiliki beragam bahasa (dialek paling dia suka adalah khas Belitung: nak kemane....).
Yang pasti saya semakin yakin kalau putra saya sangat cinta Indonesia seperti ibunya. Seringkali dia bersenandung lagu Yamko Rambe Yamko atau Cublek-Cublek Suwong atau Ampar-Ampar Pisang. Walaupun saya belum berhasil mengajarkan satupun lagu berbahasa Sunda, tapi saya bangga karena dia nggak cuman suka Kati Peri atau One Direction tapi dia juga suka dengan segala yang berbau Indonesia. I'm proud of you, Son. 
Next destination: Bali. Cita-cita berikutnya: InshaAllah kalau ibu ada rejeki, sebelum ke pulau lain kita jelajahi bagian lain dari Sumatera. Sumatera Utara dan Barat sepertinya menggoda. 
Naik Jukung ke Teluk Kiluan untuk mencari lumba-lumba. Sekalipun hujan dan di tengah laut, Titan tak gentar!


 Museum kereta di Ambarawa
Balohan Hill-Sabang

My Travelmate always, Balohan Hill-Sabang

Tanjung Pandan, before landing

Bersiap menuju Pulau Rubiah-Pantai Iboih, Sabang

Banda Aceh from above, just before landing

Menjelang Kawah Bromo

Bromo, Pananjakan. Just as the sun rise

Selalu bahagia menanti penerbangan

Leles-Garut

Meski pada awalnya takut, akhirnya dia berani juga tunggang gajah di Way Kambas, Lampung

Kampung Sumber Alam, Cipanas, Garut

Kawah Putih, Ciwidey

Membajak kursi nahkoda kapal cepat. Sesaat setelah berlabuh di Banda Aceh dari Sabang

Danau Kaolin, Belitong

Museum Angkut-Jatimpark-Batu, Malang

Biarpun nggak ikut diving yang penting gaya dulu. Pantai Iboih, Sabang.

Sok ikutan snorkeling. Somewhere menuju Pulau Lengkuas, Belitong.

Titan di Kiluan

Di depan Museum Lampung


Dari atas Mercu Suar di Pulau Lengkuas, Belitong. Mercu Suar setinggi 65m (18 lantai) ini dibangun sekitar tahun 1800

Bersiap naik perahu menuju Pulau Burung Mandi di Belitong

Menikmati mie aceh Rajali dan segelas teh tarik

Museum Tsunami, Banda Aceh

Perkenalan pertama dengan laut: Pangandaran Beach

Di atas kapal cepat menuju titik terbarat Indonesia, Sabang.

Masak, yuuuuk. Rumoh Aceh

Bahagianya nyemplung di perairan Pulau Rubiah, Sabang.

Ini pemandangan di bawah air yang buat dia nggak mau beranjak naik dari air. Pulau Rubiah, Sabang

Merhatiin Pak Ami, instruktur diving menyiapkan perlengkapan, ScubaWeh, Pantai Iboih

Melihat pemandangan kota Banda Aceh dari PLTD Apung

Mainan air laut, baru mau dipaksa naik setelah hujan turun dengan lebatnya (Titan: 2yo)

Akhirnya dia berani kasih saweran buat gajah favoritnya di Way Kambas, Si Joni

Pangandaran Beach (2yo)

Sesaat setelah mendarat di Tanjung Pandan, Belitong

Finally we made it. Titik nol Indonesia. Inilah titik yang menjadi salah satu judul lagu nasional Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke.......(doa kami adalah agar suatu saat kami bisa melihat tugu kembarannya di Merauke sana)....

Thursday, 8 January 2015

Just another trip (part 1) #latepost

Lebaran kali ini kami sudah membuat rencana getaway. Tadinya. Tapi, gara-gara masalah paspor-nya Titan yang belum ada, akhirnya lepas sudah tiket dengan tanggal yang sudah dibidik.
Akhirnya terburu-buru mendaftar buat paspor. Untungnya dengan adanya sistem online lumayan membantu. Gak perlu pakai antri, walau tetap harus datang 3x karena Imigrasi Depok belum bisa sehari jadi spt Jaksel, akhirnya Titan punya paspor juga.
Begitu dapat nomor paspor langsung saja buru-buru booking tiket. Hasilnya, dapet agak mahal dengan jam berangkat dan pulang yang nggak enak banget! Kerennya, begitu dapat nomor paspor, ternyata untuk booking tiket, nomor paspor hanya diperlukan untuk penumpang dewasanya saja. Alamaaak, coba waktu dapat tanggal yang pas langsung book kan sudah lumayan dapet tiket harga murah. Tapi, sudahlah, show must go on. Tiket PP untuk tiga orang booking sudah: Tiger Air Bandung-Sing (Bandung pula dapetnya karena dari JKT harganya udah amit2) confirmed. Setelah itu my travelmate menyusul dengan book hotel di Singapore.
Beberapa hari setelah booking tiket, tiba-tiba ada pengumuman kalau Tiger Air Indonesia bangkrut! Astaga...langsung panik kami coba nelpon call center. Nggak berhasil. Akhirnya kirim email ke CS Tiger Air minta konfirmasi plus refund (harap2 cemas karena ternyata masih bisa dapet tiket dari maskapai lain dengan jadual yang jauh lebih enak). Ehhh, ternyata untuk tiket kami nggak masalah karena bukan dikeluarkan oleh Tiger-Mandala, tapi dari Tiger Air yang di Singapore. Antara lega dan kecewa karena niat mau ganti tiket jadi batal hihihi...
Saat yang dinanti datang juga. Permohonan cuti sudah oke, Subuh-subuh sopir sudah datang. Kami bersiap untuk ke Bandung. Setelah rombongan lengkap kami meluncur masuk tol yang lancar jaya. Suasana liburan sudah mulai terasa mengingat minggu ini adalah minggu terakhir kerja sebelum lebaran. Anak sekolah sudah mulai libur.
Setibanya di Bandung masih ada urusan kerja. Begitu kelar kami menuju BTC untuk makan siang (saya sih masih puasa), sekalian cari tukang cukur buat Titan. Rambutnya sudah gondrong. Akhirnya nemu juga itu tukang cukur anak-anak, meskipun pake antri tapi akhirnya Titan berangkat dengan potongan rambut baru.
Sebelum berangkat, cukur duluuuuuu
Jam 14 tepat kami tiba di Bandara. Inilah kali pertama menginjakkan kaki di Bandara Husein Sastranegara. Bentuknya? Astaga seperti terminal di kota kecil. Sangat semrawut #seharusnyabandungpunyabandarayanglebihrepresentatifdeh. Masuk terus bingung mau ke mana, gak jelas. Padahal bandaranya hanya sekuprik.
Kami belum bisa check in. Untuk penerbangan kami, check in baru buka jam 15.00. Alamaaak satu jam kami nangkring di depan counter check in. Mana banyak rombongan mau tour pula. Rame gak karuan. Sepanjang menunggu, Titan yang njleprok di depan conter malah digodain sama embak2 petugas check in dan pemandu tur (halahhh, anakku masih kecil mbaaaa).
Antrian untuk pemeriksaan imigrasi

Siap-siap antri

Lama-lama menggelosor..Pegel ya, Nak?

Akhirnya jam 15 kami kelar check in, dan begitu masuk ruang tunggu langsung disambut ruang tunggu yang penuhhhhh oleh rombongan TKW yang mau berangkat ke Timteng. Ruamenya gak karuan. Sempat mengobrol dengan salah satu TKI  yang masih muda dan berasal dari Bima..Ah, sakit hati, cerai muda, tidak mendapat kesempatan sekolah, dan kemiskinan tetap menjadi alasan mereka mengadu nasib di negeri orang. Goodluck ya para mbak...semoga dapat majikan yang berperikemanusiaan di sana....

Akhirnya jam 17 kami dipanggil boarding. Alhamdulillah. Pengalaman pertama naik Tiger Air. Enak juga pesawatnya besar, ruang antar kursi juga lebar. Crew pesawatnya lumayan ramah dan sigap, tapi bau pesawatnya agak aneh. Penerbangan ke Sg berjalan lancar, walau ada beberapa kali yang bumpy sampe Titan agak takut.

Pukul 19 kami landing di Changi. Titan terkagum-kagum lihat bandara yang segini gede (jangan bandingkan dengan Bandung ya...). Langsung saja dia mau ngabur sana ngabur sini pengen liat segala macam. Urusan imigrasi dan bagasi sangat lancar (bandara sangat sepi, entah karena bukan high season atau karena udah agak malam).

Dari bandara menuju hotel kami memutuskan untuk pakai taksi mengingat sudah agak malam dan kasian Titan. Kami menginap di area Bugis. Sepanjang jalan Titan masih kagum-kagum lihat kota yang rapi dan nggak macet...

Tiba di hotel yang kamarnya kecil mungil, kami keluar lagi cari makan. Saat itu sudah larut, jadi sudah banyak yang tutup. Akhirnya kami memutuskan makan di sebuah resto kecil yang menyediakan makanan chinesse dan Thai. Salad mangganya alamaaakkkkk segarrrrr.

Pagi kami bangun dengan kepala sedikit pusing. Kurang tidur karena AC kamar yang luar biasa dingin dan somehow susah sekali diubah set temperaturnya. Tapi, walau begitu rencana harus tetap berjalan. Dan ternyata sesuai perkiraan hari ini mulai juga gak puasa (jadual sudah disesuaikan hahahaha). Jam 8 pagi kami sudah menyusuri jalan. Tujuannya Albert Centre tapi pake nyasar jadi kami berjalan berlawanan arah dengan tujuan. Sejam kami baru sampe di tujuan yang seharusnya hanya 10 menit saja jalan kaki dari hotel.
Tapi, akhirnya fishball noodle kesampaian juga, dan Titan berhasil dapat bubur phitan. Segelas besar susu kedelai menutup sarapan pagi itu. Sedaaap. Skarang siap jalan-jalan.

Tujuan pertama: Bugis Junction. Alamaaak salah tempat. Langsung deh beli oleh-oleh. Dari keripik sayuran sampe kitkat rasa greentea sampe tas kain buat oleh2 anak2 kantor. Hahahahaha buanyakkkk seperti mau buka toko di Depok aja. Dari Bugis Junction kami balik ke hotel, hanya melempar belanjaan saja. Abis itu kami lanjut ke Mustafa Centre. Kali ini kami menggunakan MRT.
Awalnya Titan takut sekali pakai MRT. Tapi, lihat suasana di stasiun yang bersih dan menyenangkan akhirnya dia seneng juga. Malah dia bilang pakai MRT asik, cepat, dan enak. Dia malah senang karena boleh masuk pemeriksaan tiket sendiri (abis itu tiket diambil lagi takut ilang).
Sampe di Mustafa Centre langsung pusing, liat segitu banyak barang. Tadinya mau cari sepatu tapi ternyata harganya gak jauh beda dengan di sini. Jadi males ah. Tas juga begitu. Akhirnya ke counter obat dan beli Balsem Tiger dan Minyak Kwan Loong yang terkenal itu, buat nyokap hihihi. Dan akhirnya 2 botol green tea Elizabeth Arden masuk tas belanja...

Dari Mustafa Centre, kami terpaksa balik hotel lagi karena belanjaan yang banyak. Sebelumnya kami makan siang dulu di mal seberang Mustafa Centre. Kelaparan sudah. Titan sudah mulai kelelahan karena jalan lumayan jauh dan panas yang luar biasa menyengat. Tapi,. begitu jalan lagi lupa sudah lelahnya.

Dari hotel kami kembali ke stasiun MRT, untuk ke arah Marina. Tujuan sore itu ke Marina, Titan ingin lihat patung singa yang ada air mancurnya a.k.a Merlion. Sampai sana masih lumayan terang dan belum terlalu ramai. Kami masih bisa foto agak tenang. Abis itu datanglah rombongan berbaju kuning satu bis. Ruameeee!!!

Dari Merlion kami menyusuri jalanan ke arah Marina Bay Sands. Singapore ini hebat, kota kecil tapi semua sudut kotanya ditata rapi dan bisa dijadikan paling enggak untuk sight seeing. Satu hal yang menyenangkan adalah teratur, rapi, dan bersih. Sayangnya biaya hidup di sini mahalnya minta ampun. Kata Titan: Titan suka deh ke sini, bersih, Gimana kalo kita pindah ke sini aja, Bu? Alamaaakkkkkkkkk, mana ibu sanggup...

Senja mulai temaram, tadinya kami mau masuk Garden by the Bay tapi sudah terlalu gelap. Titan sudah merengek capek sampe minta gendong. Lapar dan lelah membuat kami memutuskan cari makan di Marina Bay Sands supaya sekalian dekat dengan stasiun MRT. Akhirnya seporsi bento salmon nyaris habis Titan makan. Kami harus segera pulang. Esok pagi perjalanan kami lanjutkan menuju Johor. Legoland...





Mencari sekolah buat Titan

Tahun depan, Titan akan masuk SD. Rasanya nggak berasa bayi kecil yang 6 taun lalu kutimang-timang sudah beranjak besar. Perjuangan hunting sekolah pun dimulai.
Pencarian diawali dengan searching memanfaatkan embah google plus bertanya kiri kanan termasuk membaca postingan blog-blog para orang tua yang juga mencari SD di seputaran Depok.
Lumayan panjang perjalanan sampai menemukan 2 nama sekolah: SIT Al Haraki dan Sekolah Alam Semut-Semut.

Membaca review mengenai kedua sekolah ini, akhirnya awal bulan Oktober mulai survey. TPas datang ke Semut2 saya jatuh cinta dengan sekolahnya. Suasananya menyenangkan. Saya yakin Titan pasti akan langsung suka. Tapi, ya ampun, ternyata waiting listnya sudah panjang. Titan dapat waiting list nomor 37. Rasanya agak berat.

Dari sana saya langsung menuju SIT Al Haraki. Sekolahnya bagus, dan dari informasi yang saya dapat dari seorang teman suasana belajarnya cukup menyenangkan. Alhamdulillah siang itu saya bisa bertemu dengan kepala sekolahnya, jadi bisa bicara banyak tentang kegiatan pembelajaran di sana termasuk nilai-nilai yang diajarkan ke anak-anak. Saya juga suka dengan visi misi sekolah ini. Tapi, lagi-lagi kuota yang masih available terbatas dan pembukaan pendaftaran baru akan mulai sebulan lagi.

Mulai lah kepala pusing mencari alternatif pengganti. Sampai seminggu kemudian, ketika antar Titan latihan tae kwon do, salah seorang ibu temennya Titan cerita kalau anaknya di SDIT Bina Kheir dan anaknya nyaman di sana. Sekolah ini berafiliasi dengan SDIT Lazuardi, jadi more or less kegiatan dan visi misinya hampir sama. Setelah tanya-tanya macem-macem siang itu juga saya ke sana. Langsung sama Titan. Sekolahnya kecil, tapi suasananya cukup menyenangkan.Titan yang saat itu ikut langsung suka (gara-gara ada mainan sejenis outbond di depan sekolah hihi). Alhamdulillah masih dibuka pendaftaran. Langsung deh beli formulir.

Seminggu kemudian, saya ditelp oleh SDBK, Titan dipanggil observasi dan wawancara. Ini adalah wawancara dan observasi pertama untuk Titan. Alhamdulillah berjalan lancar dan seminggu kemudian, ditelp lagi, Titan diterima, alhamdulillah (dan emaknya harus segera bayar booking fee....). Alternatif sekolah buat Titan udah beres. Sambil harap-harap cemas menunggu 2 sekolah lain.

Awal Desember, ternyata Titan dipanggil Semut-Semut. Akhirnya, Titan juga menjalani observasi dan wawancara di Semut-Semut. Tapi, jujur saya kecewa karena: pertama, waktu observasi dan wawancara di hari kerja. Jujur saja itu membuat saya pontang panting. Terlebih jadual wawancara dan observasi di hari yang berbeda. Demi anak, saya jalani saja. Observasi sepertinya lumayan lancar. Kedua, waktu wawancara. Alangkah sedih, kesal, dan kecewa saya karena yang lebih banyak ditanyakan adalah "status" saya, bukan visi, harapan, atau alasan saya memasukkan Titan ke sekolah ini. Wawancara ini membuat saya benar-benar seperti diadili. Sedih, kalau ternyata penilaiannya agak aneh: anak yang berasal dari keluarga broken home akan susah dididik. Sepertinya koq ya penilaian yang buru-buru dan tidak adil.
Sejak wawancara itu saya sudah agak berubah pendirian, Sekalipun Titan cukup ngotot kalau diterima tiga-tiganya dia pilih sekolah ini.

Selang seminggu, Titan  menjalani observasi dan wawancara di Al Haraki. Saya agak cemas mengingat bentuk observasinya kayaknya ribet dan pesertanya banyak banget. Sekalipun peserta dibagi dalam 2 hari tetap saja ramai sekali. Tapi, Alhamdulillah sepertinya Titan nggak tidak mendapat kesulitan berarti. Tinggal menunggu hasilnya akhir bulan.

Saat pengumuman datang hampir berdekatan: semua diterima. Harus diskusi sepertinya. Saya bicara banyak dengan Titan mengenai wawancara dan semuanya. Sampai akhirnya kami sepakat, Titan memilih sekolah lain. Alhamdulillah, Titan paham alasannya dan alangkah luar biasanya ketika sehabis itu dia membuat resolusi sendiri: akan belajar dengan rajin dan mengurangi main games. Alhamdulillah, siapa yang bilang anak dari keluarga yang tidak utuh tidak bisa jadi hebat?
Setelah yakin dengan pilihan, saya segera mengurus administrasi, semua harus dibayar dimuka (dan hilang sudah uang booking fee.....). Tapi, inshaa Allah kami yakin kami sudah memilih yang terbaik untuk Titan. Mudah-mudahan semuanya berjalan baik dan Titan menikmati pembelajaran di sekolahnya kelak. Selamat jadi siswa SD anakku. Ibu akan selalu mendoakan dan mengusahakan yang terbaik untukmu.