Friday, 26 May 2017

Aku Tahu


Bahwa setiap manusia diciptakan berpasangan, aku tahu.
Bahwa setiap jiwa memiliki belahannya, aku tahu.
Bahwa setiap hati memiliki pengisinya, aku tahu.
Bahwa musik memiliki nadanya sendiri, aku juga tahu.

Karena itu kubiarkan hatiku melantunkan nada.
Hingga ia menemukan sendiri musik yang akan mengisi seluruh relungnya.
Hingga jiwa menemukan sendiri belahan yang akan melengkapinya.
Aku tahu ....


Saturday, 20 May 2017

Secangkir 'rasa' kopi...

Entah kenapa, rasanya beberapa hari ini seperti tidak berpijak pada kenyataan. Antara merasa dan tidak. Serasa terjebak di antara dua tempat yang sama sekali berbeda.

Ada saat ketika rasanya ingin membekukan waktu dan membiarkanku terjebak di dalamnya. Those moments are too sweet. Tapi ada juga saat ketika rasanya ingin mempercepat putaran waktu agar tidak mesti melalui those misserable moments dan kembali ke saat yang menyenangkan.
Sayangnya memang hidup tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah menikmatinya dan melakukan hal terbaik yang mungkin dilakukan.

Kata orang, hidup seperti menyeduh kopi. Biji kopi sebaik apapun jika diolah dengan cara yang salah, maka hasilnya hanya berupa cairan pekat yang beraroma kopi. Tidak lebih. Tapi jika diseduh dengan cara, suhu, dan komposisi yang tepat, maka aroma dan rasanya akan meruap sempurna.

So, sepertinya memang ini saat yang tepat untuk membiarkan rasa ini menuntunku. Secangkir kopi yang nikmat tentu tidak bisa dihasilkan dengan cara instan.



Thursday, 4 May 2017

Eventually, the one you keep taking for granted is the one who leave

Seringkali ketika orang merasa sudah sangat dekat, yang terjadi adalah taken for granted. Tidak ada apresiasi. Jika melakukan hal yang benar maka itu dianggap wajar dan biasa saja karena itu sudah jadi keharusan. Tapi, ketika membuat kesalahan, apapun alasannya, kesalahan itu akan dianggap sedemikian besar sehingga semua kebaikan dan berbagai hal yang sudah dilakukan dengan benar tidak terlihat, hingga merasa perlu untuk menjatuhkan bahkan mempermalukan pihak yang dianggap salah.
Apakah memang harus begitu, bahkan dengan alasan supaya ada pembelajaran? 
Jika semua pembelajaran dilakukan seperti itu, maka saya bayangkan hasilnya adalah robot, yang akan bergerak hanya saat tombolnya ditekan. Atau dalam kondisi ekstrim, yang dihasilkan dari pembelajaran seperti itu  adalah pemberontak yang tidak memiliki rasa percaya diri. Bagaimana mungkin ingin menangkap ikan di kolam yang sudah diubek-ubek?? Bagaimana mungkin mengharapkan hasil yang baik dari orang harga dirinya sudah luka? 

Saya selalu percaya bahwa  reward and punishment itu seharusnya sejalan. Saya selalu percaya bahwa penghargaan atau hukuman yang layak dan sepatutnya akan membuahkan hasil yang lebih baik. Semua yang diletakkan pada porsi yang seharusnya tentu akan lebih baik. Seharusnya jika ingin menang, menanglah tanpa harus menjatuhkan. Wibawa itu akan muncul tanpa perlu memamerkan kekuatan. 

Image result for taken for granted quotes


Thursday, 27 April 2017

Feel like woke up at the wrong side of the bed

Pernah mengalami satu hari yang rasanya semuanya salah? Saya baru saja mengalaminya. Enggak semuanya salah, tapi sebagian besar yang terjadi hari itu jadi salah.
Dimulai pagi-pagi. Sudah terlambat untuk mandi, karena Titan yang hari ini libur sulit sekali dibangunkan. Begitu mau mandi baru sadar kalau kunci rumah tertinggal di mobil (saya baru nyadar saat akan menyalakan pompa pendorong di luar). Stupid bener mengingat kunci yang saya pegang enggak lengkap, hanya kunci kamar dan pagar, tanpa kunci pintu utama. Saya baru ingat semalam yang membuka dan menutup pintu si emba jadi kunci tidak saya ambil dari mobil. Buru-buru saya lari menuju pintu belakang, untunglah kunci pintu yang menuju garasi ada di situ. Terpaksa saya memutar untuk mengambil kunci.

Berangkat kantor terburu-buru karena baru ingat uang cash sudah mepet, bensin sudah mepet, dan Titan mau sarapan bubur!!! Hasilnya, saya ngebut ke pom bensin, lari ke atm ambil uang baru isi bensin, dan cari tukang bubur. Solved, tapi napsu makan saya sudah lenyap entah ke mana. Si bubur pun saya singkirkan.

Masalah belum selesai, pagi-pagi saya mendapati ada beberapa kesalahan fatal yang disebabkan kekurangtelitian koreksi anak-anak. Sebenarnya itu sudah diingatkan dan sudah diberi catatan sebelum semua kusetujui, tapi ternyata itu enggak dilakukan sehingga kesalahan bodoh itu terjadi. Sialnya lagi, baru ketahuan saat sudah berjalan jauh.  I have to take all the blame. Mau marah? Bukan hanya marah, rasanya mau meledak tapi masih coba ditahan. Kami masih punya pekerjaan besar sampai akhir minggu ini. Hang on!!

Saat lagi rusuh begitu, ada satu mitra kerja yang ternyata punya urusan dengan bank dan entah bagaimana ceritanya si debt kolektor menelepon ke kantor. Awalnya dihandle adm, namun karena sang penagih ngotot, aku bantu jawab telp. Hasilnya, pagi-pagi saya kebagian dibentak-bentak debt collector. Astagfirullah... kenapa sih pagi ini?

Belum selesai masalah itu, datang lagi masalah lain. Ada beda persepsi antara Permen yang kita gunakan sebagai acuan dengan referensi Permen lainnya. Bedanya hanya satu huruf tapi maknanya bisa beda jauh. Dan, hasil kerja berhari-hari itu terpaksa dikoreksi lagi. Hanya 3 halaman yang memuat kata itu, tapi seluruh pekerjaan terkait terpaksa dihentikan dulu. Gimana sih orang nyusun Permen yang digunakan oleh banyak pihak koq bisa salah? Arrrrggghhh...

Hingga sore mood saya benar-benar rusak. Rasanya hari ini semesta berseberangan denganku. Semua terasa memusuhiku. Pengen rasannya hari ini melarikan diri dari sini, lenyap saja ke dalam bumi. Terasa sekali, aku sendiri! I feel like wake up at the wrong side of the bed.

Saturday, 8 April 2017

Sail away, Rani! Sail away!

Bahtera sudah siap untuk berlayar, layar yang dulu terkoyak pun telah kembali terkembang. Yang harus kulakukan adalah mengatur arah perjalanan menuju pulau harapan, karena aku tidak mungkin mengubah arah angin. Dan aku tidak mungkin menggulung kembali layar yang sudah terkembang.

Mungkin yang akan kuhadapi adalah laut tenang dengan keindahan matahari saat terbit dan tenggelam. Mungkin juga yang akan kuhadapi adalah laut ganas yang menelan apa pun yang ada di permukaannya. Bagaimana pun, itu semua harus kuhadapi. Koyakan di layarku akan mengingatkanku bahwa aku pernah sanggup menerpa badai, walau ia menorehkan bekas luka yang cukup dalam.

Aku tahu ini sama sekali tak akan mudah, tak ada seorangpun yang pernah mengajari aku berlayar. Tak ada seorang pun yang pernah mengajari aku memperbaiki layar yang koyak. Tapi, aku tahu bahwa akan selalu ada bintang yang menuntun arah bahtera. Akan selalu ada purnama yang menerangi di gelap malam. Akan selalu ada mentari yang mengingatkanku bahwa pagi akan datang. Dan aku tahu bahwa Tuhan akan selalu ada, menuntunku kala aku kehilangan asa.

Dan saatnya tiba, bahtera dengan layar yang sempat terkoyak akan kembali membelah samudera. Samudera baru yang penuh dengan segala kemungkinan. Jadilah pelaut yang tangguh, Rani! Jangan pernah menggulung kembali layar yang sudah terkembang! Jangan takutkan badai yang mungkin akan terjadi, karena seorang pelaut yang tangguh tidak akan pernah terlahir dari laut yang tenang!

Life is either a great adventure or nothing. Hello adventure, hello new beginning!!

Monday, 3 April 2017

Hujan sore ini


Memandangi hujan dari balik jendela ruang kantor sore ini koq rasanya mengharu biru. Seakan ada perasaan yang ikut terbawa sama derasnya curahan hujan di luar sana.
Melihat tarian daun yang ditimpa derai hujan yang diiringi desau sang angin seakan membuat hatiku ikut berdesir ... melenting...mengayun.

Ada rindu yang membuat haru.
Ada sakit yang menggigit.
Ada lara yang melanda.

Ah, betapa kuharap hujan membawa pergi resahku.
Betapa kuharap hujan membasuh pedihku.
Dan betapa kuharap hujan akan membawakan pelangi untukku.



Sunday, 26 March 2017

Yogya, a place i could also called home

Selain Bandung, Yogya juga termasuk salah satu kota favorit saya. Berkali-kali datang ke sini, saya merasa seperti berada di Bandung. Feels like home. Kali ini saya ingin berbagi perasaan yang sama dengan putra saya. We're off to Yogya.

Jum'at pagi kami sudah berada di bandara untuk terbang menuju Yogya. Despite untuk persiapan yang serba buru-buru karena saya juga baru kembali dari tugas luar kota, perjalanan ini sangat kami nantikan. Kejenuhan dan kelelahan otak membuat saya ingin melarikan diri sejenak dari keriuhan. I guess Yogya would be the perfect place.



Jam 9.30 kami sudah tiba di Yogya. Segera setelah dapat driver dan mobil kami menuju Upside World di dekat bandara. Tempat ini menarik, seperti melihat dunia dengan persepsi yang lain. Seperti namanya, semua yang ada di tempat ini diletakkan secara terbalik. Awalnya saya bingung gimana bikin fotonya sehingga seolah-olah kita yang jumpalitan. Tapi, asiknya tempat ini adalah setiap tamu akan didampingi pemandu yang akan membantu mengarahkan gaya sekaligus ambil foto kita. Jadinya, hasilnya bagus. Walaupun jasa mereka sudah include dalam tiket (harga tiket masuk usia 10 tahun ke atas 50K, anak2 30K), jangan pelit untuk bagi tips ya.


Dari Upside World, perut yang sudah bernyanyi keroncongan mengajak kami cari makan. Siang ini saya niat banget makan di House of Raminten di Kalibaru. Begitu masuk ke dalam kami disambut mas dan mba pelayan yang pakai jarit dan T shirt plus wangi dupa yang lumayan menyengat. Berhubung siang itu di sana cukup ramai, kami dapat tempat di dekat pintu masuk persis depan tempat sesaji. Menu yang ada di House of Raminten unik2. namanya aneh2. Saya memesan nasi gudeg komplit, monster (lemon sereh), bakwan jagung, es krim bakar buat Titan, dan nasi ayam plus es tape buat driver. Begitu terkejutnya, makan sebanyak itu hanya habis 92K ajah!!! Bayangkan kalau itu di Depok hahaha.


Abis makan tadinya kami pengen ke Taman Sari, tapi sayangnya sudah tutup. Akhirnya karena juga sudah sore kami ke Trick Eye and D' Arca Museum di XT square. Di sana isinya juga foto2. Sayangnya pengaturannya kurang asik karena ada beberapa ruang motret yang terlalu sempit dan petunjuk untuk berfoto hanya mengandalkan foto kecil di setiap lukisan 3D, jadi kudu rada mikir. Ketika suasana ramai jadi susah juga berfoto di sini. Tapi, asik juga sih karena lukisan 3D nya keren2. Mas dan mba yang jaga juga lumayan baik kalau diminta bantuin foto. Ada 2 musium lukisan 3D plus 1 musium patung lilin. Tiketnya lumayan juga, untuk terusan harganya 100K. Musium patung lilinnya model2 Madame Tussaud, tapi ya gak banyak koleksinya dan kalau pendapat saya masih kurang mirip hehe. Yang unik di situ adalah patung Spiderman pakai blangkon.




Dari XT Square kami menuju Tempo Gelato di depan Hotel Pandanaran di Prawirotaman. Gerai es krim yang mungil ini, ramai oleh anak2 muda terutama. Menu utamanya apalagi kalau bukan es krim. Saya mesan small cup (2 flavour) ice cream seharga 20K. Saya pilih yoghurt dan Raspberry. Rasanya? Segarrrr. Titan pilih cornetto vanilla dan nutela flavour. Sedapnya sedap banget deh. Puass banget harga segitu dapat es krim uenakkkkk.


Maghrib kami menuju hotel, hanya check in dan shalat maghrib. Abis itu diantar ke Alun-Alun Lor untuk menikmati bakmi jawa favorit saya, Bakmi Peleh. Saya sangat suka makan di sini karena suasananya. Lesehan depan gedung sekolah, makan bakmi (favorit saya bakmi nyemek), sambil denger trio pengamen yang kalau nyanyi lagunya serius, enggak asal-asalan. Kalau mau kita juga bisa request lagu. Koleksi lagunya lumayan banyak koq. Dari lagu jadul sampe lagu yang baru ada.
Malam itu kami tiba saat di sana belum terlalu ramai, jadi masih bisa dapat tempat duduk. Namun, tetep aja kami menunggu sekitar setengah jam sampai pesanan kami tiba. Dan suasana yang enak membuat saya menyikat 2 porsi bakmi!!!! (lupakan diet).

Setelah kenyang makan, kami kembali ke hotel naik bentor (bukan hanya Medan yang pakai betor ternyata) di tengah rinai hujan. Berdua Titan tertawa-tawa sepanjang jalan merasakan percikan hujan ke wajah kami. Ah, sungguh penutup hari yang seru!

Pagi berikutnya dengan sedikit usaha, Titan dibangunkan. Pagi ini kami akan menuju Borobudur. Rencananya kami berangkat jam 7 pagi. Walau agak terlambat akibat ada pergantian driver, perjalanan menuju Magelang lancar nyaris tanpa kendala. Kami tiba di Borobudur jam 08.30. Kami langsung menuju candi agar tidak terlalu panas.  Sepanjang jalan dari gerbang masuk, Titan tanya banyak hal tentang candi. Saya jelaskan seingat dan yang setahu saya. Semangat, sampai dia lihat bahwa Borobudur itu menjulang tinggi. Mulai mengkeret melihat deretan anak tangga. Akhirnya, dengan janji cerita di setiap level pelataran candi, dia semangat naik ke atas hingga mencapai puncak stupa. Akhirnya sih dia senang banget berhasil naik ke atas, dan takjub ketika tahu bahwa Borobudur dibangun dengan tangan manusia tanpa akat berat seperti alat bangunan masa kini. Dia takjub ketika tahu bahwa setiap pahatan menggambarkan satu cerita tertentu. Dia bilang yang bangun candi ini hebat, dan Allah luar biasa hebat karena menciptakan manusia yang bisa buat candi.



Dari Borobudur kami menuju Blabak. Niatnya mau makan kupat tahu Blabak yang terkenal itu. Sayangnya, dari sekian banyak penjual yang ada di Blabak tujuan kami makan di Dompleng gagal total karena tutup. Akhirnya driver menyarankan di Pak Man. 2 porsi kupat tahu dihidangkan untuk saya dan Titan. Suapan pertama yang luar biasa!! Dengan cepat seporsi itu pindah ke dalam perut. Bahkan Titan yang baru pertama kali makan kupat tahu magelang bilang ini enak sekali.
Pak Man, adalah keluarga penjual kupat tahu magelang yang salah satu saudaranya membuka kupat tahu Pelopor. Itu katanya yang tertua di Magelang. Rasa bumbu yang segar dan pas ditambah dengan tahu goreng yang crunchy di luar tapi lembut di dalam plus kol goreng yang nikmat membuat sendok demi sendok masuk perut dengan sukses. Sempat mengobrol dengan Pak Man dan istrinya. Dua orang tua yang ramah dan tekun menjalankan usaha yang sebelumnya dijalankan di Mertoyudan. Kami beruntung datang saat belum tiba waktu makan siang, jadi sempat mengobrol dengan Pak Man. Semoga usahanya selalu lancar dan berkah ya, Pak.




Dari Blabak kami lanjutkan perjalanan menuju Pakem. Rencananya ingin ikut tour Merapi yang pakai jeep. Kami mendapatkan jeep dari Granata Tour. Wilis hijau buatan tahun 1940 yang udah protolan. Titan sempat seram melihat jeep yang gak ada pengamannya. Tapi, dengan perjalanan dia malah menikmati sangat. Kami dibawa menyusuri Kali Opak, Desa Pethung yang sudah ditinggalkan seluruh penghuninya, melihat sisa-sisa amuk Merapi, hingga naik ke Kaliadem. Jalan yang dilalui adalah jalan batu yang penuh dengan guncangan dahsyat. Yang saya bayangkan adalah wilayah yang dulu penuh dengan penduduk kini hanya berupa lahan kosong berumput. Sisa-sisa letusan Merapi menghasilkan pasir sehingga banyak ditambang.



Langit semakin mendung, dan rinai gerimis memaksa kami buru-buru kembali ke base camp. Tepat di base camp hujan menderas, menghantarkan kami turun ke arah Kaliurang. Cita-cita minum kopi di Klinik Kopi gagal gara2 tempatnya belum buka. Akhirnya kami turun melewati Ringroad dan ngupi di Nox Coffee Boutique di sebelah Natasha Skin Care. Tempatnya juga kopinya enak banget. Secangkir Tropical Coffee (turunan Americano dikasih jahe dan cinnamon) itu cocok dinikmati kala hujan.

Dari coffeeshop kami lanjut mencari gudeg. Cita-cita saya adalah makan gudeg pawon, tapi ternyata tempatnya baru buka jam 10 malem. Rasanya agak berlebihan makan gudeg jam 10 malem itu. Akhirnya melipir ke Wijilan dan makan di Gudeg Hj. Ahmad instead of the famous Yu Djum. Seporsi gudeg lengkap dengan ayam suwir dan telur nggak pakai lama langsung masuk perut. Ya ampuuun, ini rasanya 2 hari di Yogya isinya makan...makan...dan makan!

Menjelang maghrib kami diantar ke hotel. Yogya diguyur hujan lebat. Rencana jalan ke Malioboro terpaksa ditunda menanti hujan mereda. Jam 7an kami jalan ke Malioboro. Tempatnya masih seramai dulu, tapi atmosfernya udah gak sama. Gak lama kami di sana kami balik ke hotel pakai becak karena gerimis kembali mendera. Di depan hotel saya melipir ke satu kedai kopi. Sambil menunggu pesanan tiba saya mengobrol dengan pengelola tempat itu yang lagi asik melukis gunungan di salah satu pintu. Lumayan lama kami bicara tentang wayang dan filosofi gunungan yang dia buat.
Di tengah rinai hujan, duduk di atas bekas peti kemas saya menikmati kopi tarik yang dibuat dari Temanggung Wine. Kagetnya saya pada tegukan pertama terasa sekali aroma fermentasi, a bit winey. Rupanya benar dugaan saya, sang pemilik kedai yang ternyata duduk di luar menjelaskan bahwa Temanggung Wine ini adalah signature product kedai kopinya. Sambil gelap-gelapan karena Earth Hour, kami ngobrol banyak seputar kopi. Hasilnya, balik ke hotel saya memboyong Toraja yang diseduh dengan Cold Brew (saya membayangkan menikmatinya dingin-dingin saat hari panas. Pasti sedap sekali. Saya juga memboyong Golden Jayawijaya yang baru saja digiling, wangi cokelat kopi meruap dari bungkusnya. Hmmm...ini bisa jadi oleh-oleh yang menyenangkan untuk seorang yang suka kopi, harusnya.

Ini hari terakhir di Yogya. Hujan turun deras sejak semalam. Mendera menerpa jendela kamar kami menimbulkan suara riuh yang membuat mata enggan terlelap. Rencana hari ini kami akan ke Prambanan sebelum menuju Solo.
Sebelum ke Prambanan, saya minta diantar ke Pathok dulu, ingin lihat pembuatan bakpia. Jadi, diantarlah saya ke Pathok ke Bakpia 25 melihat pembuatan bakpia. Ah, melihat senyum ramah juga mendengar sapaan hangat pada pekerja pembuat bakpia membuat pagi yang hujan ini terasa hangat.
Hujan masih menderas saat kami lanjutkan perjalanan menuju Prambanan. Menjelang Prambanan hujan agak mereda, hingga saya putuskan tetap ke Prambanan di tengah rinai gerimis. Nggak nyaman sih, becek dan repot.
Entah kenapa tiba-tiba iseng untuk membuat foto dengan baju tradisional Jawa dan berpose depan Prambanan. Nggak pakai pikir panjang kami langsung ambil tiket foto pakai kostum tradisional dan tadaaa....walau pagi gerimis kami tetap tersenyum manis dengan kebaya kutu baru. Lihat gaya Titan megang keris ala megang light saber itu bikin saya ngakak pagi-pagi. Hanya sebentar kami di Prambanan karena hujan ternyata makin deras. Kami segera kembali ke area parkir sambil ambil foto di pintu keluar. Ah, Yogya semakin jauh di belakang kami.



Sore ini kami sudah tiba di Solo. I miss the atmosphere already, hampir sama rasanya seperti kalau baru kembali dari Bandung. We'll come there again someday.