Monday, 25 June 2018

Beautiful and Colorful Manado: the second time around


Libur telah tiba! Libur telah tiba! Hore! Hore! Walaupun hati masih rada bertanya-tanya dan masih banyak ragu, tapi mestinya liburan tetap disambut gembira kan?
Oke, here we go!

Destinasi liburan kali ini adalah Manado. Ya, setelah kunjungan dinas Oktober lalu, saya jadi ingin menjelajah Manado. Dan setelah sempat ragu, akhirnya tiket Jakarta-Manado dibeli juga, abis itu hotel dibooking juga.
Penerbangan kami pilih tepat pada hari raya Idulfitri. Bukan apa-apa, enggak ada orang tua jadi rasanya lebaran terlalu berbeda, enggak enak, rasanya enggak ada tujuan. Ketimbang sedih di sini, mendingan pergi saja.
Sehari sebelum terbang ke Manado, kami sudah berangkat ke Jakarta. Ini diputuskan melihat kondisi lalulintas arah Jakarta belakangan ini yang makin parah dan enggak bisa diprediksi. Kuatir terlambat ke bandara, akhirnya memilih menginap di hotel yang dekat bandara. Sengaja enggak nginep di hotel bandara mengingat akses ke mana-mana akan sulit. Pilihan kami adalah hotl dekat mal dengan pertimbangan mudah cari makanan untuk buka puasa dan mudah mencari lokasi untuk shalat ied sekitar hotel.  

Day#1

Jelang Shalat Ied di pelataran hotel
Sehabis Shalat Ied, kami langsung sarapan dan segera menuju bandara takut jalan keburu macet sama yang akan berangkat silaturahmi. Alhamdulillah, lalin lancar dan kami segera check in. Masih kepagian, jadinya menunggu agak lama. Tapi enggak apa-apalah ketimbang deg degan takut telat.




Akhirnya jam 11.30 setelah antri mau terbang, kami terbang juga. 3,5 jam penerbangan dilalui setengah mengantuk. Antara tidur dan nonton udah enggak jelas. Titan mah malah asyik nonton Black Panther.
Beautiful sight from above, just before landing 


Pukul 15.30 WITA kami mendarat di Bandara Sam Ratulangi, Manado. Cuaca puanas luar biasa. Driver yang menjemput sudah menunggu dan kami langsung diajak jalan memutar sambil menuju hotel. Sempat kami mampir melihat Monumen Yesus Memberkati. Ini adalah salah satu landmarknya Manado selain Jembatan Sukarno.

Kami tiba di hotel menjelang senja. Kami menginap di Arya Duta di Jalan Tendean. Dari jendela kamar yang menghadap tepat ke arah laut kami lihat matahari mulai merebah. Setelah shalat Ashar (yang udah amat sangat telat), kami langsung ke luar menuju pantai. Dan sore yang cerah membuat sunset sore ini begitu cantik. Hari pertama liburan dimulai.




Sunset dari balik jendela kamar 

 Setelah matahari rebah dengan sempurna, kami menuju ke Wisata Bahari. Resto ini adalah resto yang pertama kami datangi waktu ke Manado tahun lalu. Makanan yang disajikan saat itu cukup berkesan sehingga akhirnya balik lagi ke sini. Tapi, ternyata kunjungan kedua enggak seberkesan kunjungan pertama. Jadi, ya agak mengecewakan. Tapi sudahlah, saatnya kembali ke hotel dan mandi serta istirahat. Besok pagi kami akan menuju Bunaken.

Something came up tonight. It was nice. Wondering what was it.

Day#2
Pagi ini bangun dengan semangat. Tadinya mau lari pagi, tapi kesiangan. Jadinya hanya melihat matahari yang udah tinggi di dak lantai 7 dekat kamar kami. Daknya ini sebenarnya seperti teras di lantai 7. Pemandangan dari sini lumayan juga karena langsung menghadap kota juga menghadap pantai di sisi kanan.



Kami segera bersiap, pakaian renang plus sandal jepit dan topi lebar. Beach, here we come! Seusai sarapan (senangnya saat sarapan menemukan perkedel ikan nike), kami dijemput sopir Chakraloka Tour yang kami book untuk ke Bunaken. Dari hotel ke Marina sebenarnya dekat sekali. Kalaupun jalan kaki enggak sampai 10 menit. Tapi berhubung sudah ada fasilitasnya ya digunakan saja. Tiba di Marina ramai sekali. Katanya bunaken juga sedang ramai sekali, sampai seperti pasar. Wondering snorkeling nanti akan seperti cendol hahaha.

Di Plaza Marina Manado memang ramai banget. Pelabuhan Manado ini termasuk kecil, tapi pagi itu cukup ramai. Di Plaza Marina yang berupa ceruk teluk kecil yang terlindung, melayani penyebrangan ke arah Bunaken dan beberapa pulau kecil lain (bisa ke Pulau Lembeh atau ke Manado Tua). Kapal yang lebih besar yang biasa digunakan berlayar ke Bitung berlabuh di sisi lain yang lebih luas.
Enggak lama kami menunggu perahu yang akan membawa kami menyeberang ke Pulau Bunaken. Perahu yang kami book datang, dikemudikan oleh pemiliknya sendiri, Pak Thoyib. Kami book private tour, sehingga di perahu memang hanya kami aja. Jadi, ya lumayan juga perahu segede itu isinya hanya kami doang. Perjalanan menuju Pulau Bunaken ditempuh sekitar 45 menit mestinya. Tapi, banyaknya sampah plastik di area pelabuhan sempat membuat propeler perahu terlilit sampah dan kami harus berhenti supaya Pak Thoyib bisa melepaskan propeler dari lilitan sampah. Nyebelin banget deh, laut secantik itu dikotori sampah plastik!
Pak Thoyib, out boat man
Pelabuhan, sesaat sebelum naik perahu



Air kelapa di siang yang panas memang yahuud!!


Hari ini panasnya luar biasa. Menjelang tiba di Bunaken kami pindah ke perahu katamaran. Di perahu ini kami bisa mengintip ke bawah air melalui jendela kaca yang ada di dasar perahu. Air di bawah sana beningnya luar biasa. Tukang perahu membawa kami mengitar sebentar sehingga kami sempat melihat beberapa diver di bawah perahu. Airnya jernih dan berwarna biru kobalt. Ikan-ikan warna warni seliweran dengan genitnya. Ah, enggak sabar mau bercengkrama dengan mereka.
Sedikit hasil ngintip dari katamaran


Habis ngintip dari katamaran kami menuju Pulau Bunaken. Berhubung sudah diurus sama tour, kami enggak perlu lewat loket tiket di Bunaken, kami bisa langsung ke pulaunya. Sebagai info, ke Bunaken ini bisa saja berangkat sendiri, sewa perahu sendiri. Namun, kalau belum tahu bisa agak merepotkan. Kalau sendiri biayanya bisa jadi lebih murah bisa jadi lebih mahal. Perlengkapan snorkeling bisa sewa (termasuk wetsuit, fin, dan snorkel). Nah, biasanya mereka suka minta guide snorkeling, bayarannya terpisah (biasanya sekitar 100K). Kamera underwater bisa sewa (harganya di kisaran 350K termasuk fotografer). Untuk sewa perahu bisa googling, termasuk Pak Thoyib ini (saya lupa minta nomor teleponnya). Masuk ke kawasan Bunaken ada tiket masuknya. Harga tiket beda untuk turis domestik dan mancanegara. Jadi, kalau mau ke sana sendirian baiknya survey dulu baik-baik supaya niat hemat enggak malah jadi boros. Satu lagi, enaknya ke sana memang pas cuaca cerah. Jadi puas main airnya.

Di pulau kami menuju tempat sewaan perlengkapan snorkeling. Sejujurnya saya ingin introdive. Tapi, saya juga pengen ajak Titan snorkeling bareng. Akhirnya saya hanya snorkeling saja. Setelah memilih fin yang pas, snorkel, dan tukar baju, kami langsung naik perahu lagi. Di perahu sudah disiapkan pisang goreng dabu-dabu dan air kelapa sebagai camilan (ini bagian dari tour). Jadi sambil menuju ke lokasi snorkeling kami bisa nyamil pisang goreng dicocol dabu-dabu yang enak tapi pedesnya ruarrr byasahhh.

Begitu sampai di lokasi snorkeling kami bersiap-siap, pak Thoyib ngajari kami untuk menggunakan snorkelnya. Untuk Titan ini pengalaman pertama. Waktu di Belitung dia enggak mau ikut turun ke air. Waktu di Padang Bai dan di Sabang dia nyemplung tapi hanya berenang. Air laut di area kami snorkeling cukup dangkal dan amat sangat bening. Ikan-ikan berseliweran dengan genitnya seakan ngajak bercanda. Sebelum nyemplung, di tempat sewaan perlengkapan snorkeling si empunya menawari biskuit buat memancing ikan-ikan supaya mendekat. Kami beli 1 pak besar isi 5 bungkus biskuit (akhirnya sebungkus dihabiskan Titan hahahaha). Nah, sambil nyemplung si bungkusan biskuit yang udah dibolongin dikit itu kami pencet dikit-dikit biar isinya keluar daaaan ikan-ikan langsung menyambar. Tukang foto langsung deh jeprat jepret. Looooveeee iiiit!!! I really love the blue of Indonesia.



Playing with fish. Aslinya dia takut banget. Tapi akhirnya berani juga. Way to go, Son!




Titan baru pertama snorkeling, jadi dia antara takut sama excited. Beberapa kali sempat panik walhasil kami berdua sama-sama keselek buanyak sekali air asin. Astaga…tenggorokan rasanya sampai sakit. Tapi senangnya bisa dapat foto berdua saat di bawah air.

Pak Thoyib yang juga jadi guide snorkeling mengajak saya masuk ke perairan dalam. Ternyata di dekat tempat kami snorkeling berbatasan dengan perairan dalam. Kata Pak Thoyib itu palung. Saya diajak berenang ke situ. Dari situ saya melihat batas terumbu karang tempat kami main-main tadi seperti dinding tegak lurus. Di perairan dangkal airnya biru toska, sementara di tempat saya berenang biru kobalt. Cantiknya luar biasa. Agak ketar ketir juga mengingat itu perairan dalam. Ah, kalau melihat bgini, sadar bahwa kami ini keciiiiiiiiil sekali dibandingkan alam semesta ciptaan Tuhan. Allahu Akbar. Luar biasa.



Kami main-main di air cukup lama sampai terasa muka sudah panas dan pedih sekali. Sunblocknya nggak sanggup melawan air asin dan matahari yang garang banget. Mau nimpa sunblock lagi rasanya sudah malas. Untuk pindah lokasi snorkeling juga sudah malas, terlebih Titan udah mulai kecapean. Menjelang tengah hari saat air mulai surut kami naik ke perahu dan kembali ke pulau untuk tukar pakaian dan makan siang.

Menu makan siang kami ada ikan bakar (ikan goropa/kerapu), sambal, sawi rebus, kerupuk, dan bakwan. Semuanya licin tandas. Titan yang biasanya picky aja makan dengan lahap sampe rebutan hahaha. Satu-satunya yang enggak dia sentuh adalah sambalnya. Nikmatnya makan siang di tepi pantai. 

Puas makan kami bersiap kembali ke Manado. Lelah juga rasanya. Di perjalanan Titan malah sempat tidur di perahu saking ngantuknya. Sampai di manado kami langsung ke hotel, mandi dan langsung istirahat.

Menjelang sore niatnya mau lari sore-sore (menuntaskan utang lari 8K Pulang kampung Run yang belum dimulai sama sekali). Jam 5 sore kami turun dan sore itu mendung luar biasa. Benar saja, baru lari 2.3K hujan tiba-tiba turun dengan lebatnya. Tunggang langgang lah kami mencari tempat berteduh. Mana basah kuyup oleh keringat juga hujan. Akhirnya pakai taksi online kami balik ke hotel, tukar pakaian dan langsung ke luar lagi cari bubur tinutuan.


Niat mau makan di Wakeke ternyata tutup, akhirnya kami ke Rumah Kopi K8 (dulu juga pernah kami datangi) dan makan bubur tinutuan di sana. Titan enggak mau makan bubur jadinya makan mie cakalang. Saya sempat mencicip mie cakalangnya dia. Rasanya enak. Kuahnya gurih dengan taburan suwiran ikan cakalang. Akhirnya kenyang juga ini perut, tinggal balik ke hotel dan tiduur.




Capatu putus tepung ini adalah pisang goreng!



Day#3
Semalam Titan muntah-muntah. Sepertinya masuk angin karena kelamaan di air kemarin. Jadi tengah malam dia muntah dan diare. Jadinya tidur kami agak kacau. Subuh-subuh dia terbangun lagi karena sakit perut. Akhirnya pagi-pagi Titan dipaksa sarapan makanan yang plain tanpa saus apapun. sarapan berjalan cukup lancar. Titan bisa makan cukup banyak. Paling enggak perutnya terasa lebih enak mengingat seharian ini kami akan berada di luar.

Hari ini berencana ke Tomohon. Jam 8 sudah dijemput oleh driver kami. Kami sempatkan mampir apotik dulu buat beli obat dan minyak kayu putih. Beberapa kali kami terpaksa berhenti di jalan karena Titan sakit perut dan mual. Agak kuatir juga. Untunglah setelah di Tomohon sakitnya mereda dan dia bisa segar lagi.

Perhentian pertama adalah Pasar Beriman. Pasar ini adalah pasar tradisional di Tomohon. Yang membuat pasar ini jadi unik karena adanya bagian yang khusus menjual beberapa jenis daging yang enggak biasa. Nah, ke sinilah kami menuju. Lokasinya persis di tengah pasar. Begitu tiba di bagian makanan ekstrim pemandangan sadis langsung terhampar. Aneka hewan yang bukan makanan biasa ada di sini: Babi (ini kedua kalinya saya lihat babi langsung di pasar tradisional. Yang pertama saya lihat di Jayapura), anjing, ular, kelelawar, kucing, tikus, dan monyet (untung saat kami ke sana tiga binatang terakhir enggak kami lihat). Jujur saat melihat di situ rasanya campur aduk antara mual, penasaran, ngeri (abisan darah di mana-mana), enggak enak deh. Tapi, rasa penasaran menang sampai akhirnya berani masuk ke dalam. Enggak lama-lama sih, soalnya serem dan baunya enggak tahan.

Pasar Beriman

Ikan nike







Dari sana kami menuju ke Desa Rurukan. Lokasinya mirip kayak Lembang. Konon katanya tempat ini ya pusatnya bunga di Tomohon. Tapi sayangnya ke sana kami enggak nemu bunga. Kami sempat naik ke Puncak Rurukan yang posisinya nyempil melewati pemakaman kecil. Pemandangan dari sana emang cantik. 360 view lah.


Dari sana kami ke Gardenia Country Inn. Tamannya keren, restonya juga keren. Tapi sayang banget servicenya payah. Karena saat itu belum masuk waktu makan siang, kami mesan camilan: Pisang goreng (agaknya makanan ini jadi favorit kami selama di sana), dan onde-onde (di Manado, yang namanya onde-onde ini adalah kelepon). Untuk memesan itu saja kami harus menunggu 1 jam. Dan setelah kami berkali-kali protes baru makanannya keluar. Minum yang kami pesan juga salah semua. Saya pesan jasmine tea yang dihidangkan entah teh apa. Mesan kopi biasa yang dihidangkan irish coffee *tepokjidat. Untungnya suasana di sana keren jadi masih sedikit terobati. Tapi kalau untuk makan enggak rekomended deh.




Ini yang namanya onde-onde

Dari Rurukan kami menuju Tondano untuk makan siang. Rencananya kami mau makan siang di rumah makan di atas Danau Tondano (saya lupa nama tempatnya apa, tapi bukan Timou Tou). Nah, tempatnya asik dan makanannya lumayan juga. Kami mesan gurame bakar, terong saus telur, sayur daun ubi, ikan nike goreng (ikan nike ini adalah ikan khas dari Danau Tondano), dan goropa asam manis. Antara lapar dan rakus memang tipis sih bedanya hahaha.
Nah, urusan makan ini, di sini agaknya kalau mesan emang kudu pakai lama. Jadi, kami menunggu makanan sampe sekitar 1 jam sampai lapar ini rasanya astagaaa. Untunglah rasanya worthed, suasananya juga enak, jadi ya lumayan juga.



Danau Tondano adalah salah satu danau vulkanik. Danau seluas sekitar 4.200 Ha ini merupakan danau terluas di Sulawesi Utara. Danau Tondano menjadi habitat bagi sejumlah ikan tawar: mujair, gabus, dan ikan nike. Ikan nike ini adalah ikan kecil-kecil seperti ikan teri. Biasanya saya temukan dimasak dalam bentuk perkedel atau rempeyek. Rasanya? Enak banget!



Kalau berdasarkan legenda begini (ini saya ambil dari https://www.pegipegi.com/travel/danau-tondano-tempat-wisata-andalan-sulawesi-utara/): 

Dulu, kawasan Tondano memiliki dua gunung berapi yang menjulang tinggi ketimbang gunung-gunung lainnya. Kedua gunung itu memisahkan kawasan Tondano utara dan selatan. Masing-masing memiliki penguasa sendiri, di kawasan selatan dikuasai oleh seorang Tonaas (sebutan untuk penguasa di sana) yang memiliki putra tunggal bernama Maharimbow. Sedangkan, di kawasan utara dikuasai oleh seorang Tonaas yang memiliki putri tunggal bernama Marimbow. Karena cemas akan pewaris tahta, Marimbow diperintahkan untuk berpakaian seperti laki-laki dan melarangnya menikah sebelum ayahnya meninggal.
Marimbow pun memenuhi permintaan sang ayah dan bersumpah jika permintaan itu tidak dipenuhi, akan terjadi bencana di wilayah tersebut. Kemudian, Maharimbow dan Marimbow nggak sengaja bertemu. Maharimbow sangat terkesan pada Marimbow meskipun Marimbow mengenakan pakaian seperti laki-laki. Karena rasa ingin tahu yang besar, Maharimbow pun mencari tahu tentang Marimbow. Di pertemuan berikutnya mereka bertengkar, sekaligus saling jatuh cinta.
Singkat cerita, mereka memutuskan untuk menikah dan bertekad untuk mempersatukan kawasan utara dan selatan. Meskipun hubungan keduanya tidak direstui, namun mereka tetap nekat untuk menikah dan meninggalkan rumah masing-masing. Keesokan harinya setelah pernikahan mereka, kawasan tersebut dilanda bencana, yaitu gempa dan gunung meletus. Dari meletusnya gunung berapi, terbentuklah kawah luas dan lambat laun tergenang air. Hingga tempat tersebut dinamakan Danau Tandano.
Nah, itu legenda terjadinya Danau Tondano.

Balik lagi ke jaman now!
Dari Tondano kami menuju Danau Linow di daerah Lahendong (dekat dengan PLTU Lahendong). Danau Linow ini lebih kecil dari Tondano tapi pemandangannya lebih cantik. Menurut cerita kala siang hari air di danau ini memiliki 3 warna yang berbeda: biru, hijau, dan kecoklatan. Perbedaan warna ini disebabkan karena kandungan belerang yang tinggi, juga karena pantulan cahaya matahari (mungkin ada bahan lain atau tumbuhan tertentu yang ada di dasar danau yang menyebabkan pantulan warna yang berbeda, IMHO). Walau saya enggak bisa melihat perbedaan warna tersebut saat berkunjung ke sana, saya akui pemandangan di sekitarnya cantik banget. Rasanya damai melihat danau tenang yang muka airnya seperti cermin. Rasanya sih enggak pengen buru-buru beranjak. Saat baru tiba, Titan sempet ngambek karena enggak mau ikut turun. Tapi setelah kita bujuk-bujuk akhirnya dia bisa juga ikut menikmati sore yang cantik di sini.
Anak ngambek jadinya begini deh


Sekarang udah enggak ngambek lagi


Ohya, untuk masuk ke sini dikenakan biaya Rp25K. Selain untuk tiket masuk, tiketnya bisa ditukar dengan segelas kopi susu atau teh susu. Walau rasa kopi susunya menurut saya nanggung, tapi ya cukup sedap untuk menemani duduk-duduk di tepi danau.

Menjelang senja kami bergerak kembali ke arah Manado. Di Minahasa, tepatnya di Desa Lotta, kami diajak berbelok ke makam Tuanku Imam Bonjol. Tuanku Imam Bonjol yang berasal dari Sumatera barat ditawan, wafat, dan dimakamkan di sini. Dari tempat parkir kami lihat bangunan utama makam yang berwarna putih dengan atap khas Minangkabau. Bagian makam di dalam dikelilingi rantai. Di dinding samping makam ada lukisan Tuanku Imam Bonjol. Menurut driver kami, di sini sering digunakan untuk doa bersama (di bagian belakang makam memang ada tempat seperti aula kecil yang cukup luas). Kami juga turun ke mushala yang dulu katanya digunakan untuk beliau bersembahyang. Mushala ini berjarak sekitar 100 m di bawah bagunan utama tepat di samping sungai kecil. Di sebelah bangunan mushala inilah terletak batu besar yang konon digunakan sebagai tempat Tuanku Imam Bonjol untuk sembahyang. Kami juga akhirnya shalat Zuhur dan Ashar di mushalla itu. Alhamdulillah.




Dari sana barulah kami kembali ke hotel. Makan malam kami jalan ke arah pantai dan makan di Tuna House. Lelah hari ini cukup terbayar oleh suasana yang menyenangkan dan malam yang manis.

Day#4
Hari terakhir di Manado. Sore nanti kami sudah harus terbang kembali ke Jakarta. Pagi-pagi kami sudah bangun dan langsung menuju pantai. Saya masih punya utang lari 6K lagi. Akhirnya bisa juga lari pagi sepanjang jalur pantai. Titik finish saya adalah Jembatan Sukarno. Tujuan utama berfoto di sini setelah lari. Jadi lumayan juga pagi ini bisa submit utang lari sebanyak 4.5K. Panasnya enggak tertahan, tapi terbayar oleh pemandangan cantik ke arah Gunung Lokon dan pantai yang cantik.






#pulangkampungrun sisanya diberesin di Bandung

Rencana hari ini hanya mutar-mutar di sekitaran kota sambil cari oleh-oleh. Tentu saja yang mau kami cari adalah klappertart dan cakalang fufu. Naik taksi online kami pergi ke Christine. Sudah 2 kali ke sini dan klappertartnya enak banget terlebih ada yang enggak pakai rhum. Lokasinya persis di seberang toko oleh-oleh Manado di Jalan AA Maramis.




Dari situ kami menuju Sario untuk beli cakalang fufu. Cakalang fufu ini adalah ikan cakalang yang sudah diasap, jadi bisa dibawa ke luar Manado dan diolah jadi makanan lain. Harganya per ekor 75K. Untuk menghilangkan baunya ikan dibungkus dengan kertas koran, lalu masuk kresek dan dilakban. Nah, begitu sampe rumah, ini ikan harus langsung masuk kulkas kalau belum mau diolah.

Ada yang lucu, sepanjang jalan sopir taksi online yang kami tumpangi cerita tentang kuliner ekstrim Manado. Bahwa kuliner ekstrim termahal adalah kucing dan kalau sudah makan kucing dia enggak boleh masuk rumah sama istrinya. Kemudian kuliner-kuliner ekstrim ini biasanya dimasak dengan bumbu rica. Saya mendengarkan omongannya dia sambil mau ketawa campur mual. Rasanya perut saya diaduk-aduk, mual.

Balik ke hotel kami bersiap untuk dijemput. Driver kami akan antar kami makan siang dulu. Menu siang ini adalah nasi kuning khas Manado. Saya penasaran sekali dengan rasanya. Jadi, kami menuju RM Selamat Pagi. Ini adalah salah satu rumah makan nasi kuning di Jalan Sudirman. Menurut cerita ini salah satu pembuat nasi kuning tertua di Manado. Sayangnya di sini nasi kuningnya sudah habis! Haduh lemas. Eh, tapi ternyata masih ada di tempat anaknya katanya. Rupanya ini usaha turun temurun. Ibunya di bagian depan, dan anaknya di bagian belakang. Akhirnya kami makan di sana. Sempat menunggu lama karena dagingnya habis. Tapi kami minta tanpa daging sehingga sepiring nasi kuning dengan abon ikan cakalang segera terhidang di depan saya. Titan enggak pakai ba bi bu langsung menandaskan bagiannya. Saya hanya menyisakan sedikit. Rasanya gurih, enak dengan abon cakalang yang manis gurih dan sambal khas gorontalo yang pedasnya astaga. Katanya itu menggunakan cabai khusus dari sana. Harga per porsinya sama sekali enggak mahal 12K dengan telur rebus! 

Nah, karena ternyata bisa dibungkus, saya minta dibuatkan 2 bungkus untuk dibawa ke Bandung. Sempat terjadi drama akibat kehabisan daun moka (daun lontar). Penjualnya enggak mau bungkuskan kalau enggak dibungkus daun lontar. Katanya itulah kekhasan nasi kuning Manado. Tapi memang Tuhan baik banget. Daun lontar yang lagi susah diperoleh itu bisa diperoleh, jadilah saya pulang menenteng 2 bungkus nasi kuning Manado. Alhamdulillah.




Tuntas sudah liburan kami di Manado. Tidak lama memang. Masih banyak tempat yang bisa dieksplorasi. 

Liburan kali ini meninggalkan kesan yang dalam dan beda. Ada banyak cerita yang terjadi selama liburan, sebagian besar adalah kenangan dan coretan yang manis. Ada banyak pertanyaan yang belum terjawab. Ada banyak keraguan yang masih perlu dihapuskan. Mungkin seiring perjalanan waktu semua akan terjawab juga. Semoga...


#indonesia #wonderfulindonesia #beautifulindonesia

Tuesday, 27 March 2018

My First 10K: Akhirnya Enggak Cuman Lari dari Kenyataan!

 Sebagaimana anak yang senangnya petakilan, saya senang sekali lari lari ke mana-mana, enggak di sekolah enggak di rumah. Makanya senang banget main kucing-kucingan (enggak tau nama resminya apa), karena memungkinkan banyak lari-lari. Teman main saya punya rumah yang halamannya luas banget. Jadi, setiap hari saya habiskan main di sana: petak umpet, kejar tangkap, galah asin, bentengan, sampe main masak2an (yang ini enggak pakai lari2 karena ngejeprok di tanah hahahaha).

Setiap hari Minggu saya barengan sama adik dan ayah saya biasanya lari pagi ke Alun-Alun. Saya dan adik lari-lari kecil sementara ayah saya mengiringi pakai motor. Bandung tahun 80-an hari Minggu subuh sudah ramai sama yang mau olehraga, walau udara dingin menggigit tulang. Enaknya kalau ke Alun-Alun adalah begitu sampai pasti dapat semangkuk bubur ayam panas.
Tapi acara lari-lari itu kemudian berkurang saat saya menjelang ABG hingga SMA. Rasanya udah enggak pas kalau saya berlarian ke mana. Ketimbang lari-lari ke mana-mana saya lebih suka lari dari kenyataan hihihi.

Saat kuliah, olahraga lari itu wajib. Bahkan selama satu semester tahun pertama kuliah setiap Sabtu jam 14 siang kami pindah-pindah GOR hanya untuk lari 2.4K. Test akhir mata kuliah olah raga adalah lari 2,4K selama 12 menit (saya baru tahu kalau ini adalah test kebugaran standar). Tentu saja, saya mana bisa melampaui target 12 menit. Yang ada saya lari super pelan, dapat 16-17 menit aja udah sukur banget. Itu aja rasanya napas mau putus.

Nah, pada akhir masa kuliah, ketika sudah mulai santai dan Lapangan Sabuga sudah jadi, saya mulai suka lari serius. Setiap seminggu 2x saya akan ke lapangan dan lari. Sendiri pun saya jabani. Ini juga yang buat saya suka, mau lari itu enggak usah nunggu-nunggu teman, enggak mesti rame-rame. Apalagi di Sabuga enak, enggak ada orang-orang yang nongkrong enggak jelas, jadi saya biasanya lari 30-45 menit, terus selesai. Sebelum lari biasanya saya nitip 1 tumbler yang udah berisi air jeruk di tukang es botol. Jadi, abis lari saya bisa nyeruput air jeruk dingin.

Selain lari-lari, saya suka berenang. Biasanya saya suka berenang pagi-pagi. Sabuga adalah tempat pertama saya bisa mencapai 1K. Seminggu sekali saya biasanya nyemplung pagi-pagi mengayuh lengan dan kaki menempuh jarak 1K. Rasanya segar banget kalau abisan berenang.
Sayangnya memang ketika mulai bekerja, kedua kegiatan itu langsung terhenti. Rasanya sulit mencari waktu luang untuk olahraga, apalagi selain karena mencari lokasi yang nyaman itu juga enggak mudah, juga malas untuk bergerak. Rasanya kerja 6 hari seminggu itu udah capek banget. Jadi, kalau ada waktu luang enaknya saya pakai untuk tidur. Akibatnya ya bisa diduga, selain melar naik 3 ukuran juga jadi enggak bugar sama sekali. Bolak balik sakit itu jadi salah satu cirinya.

Nah, dua tahun ini saya kembali lagi menekuni kedua olahraga ini secara rutin, bahkan lumayan serius mengingat saya sering menantang diri saya dengan target. Awalnya, sekitaran 3 tahun lalu, saat masih tinggal di Depok saya diajak beberapa teman untuk lari dan ikut komunitas. Sayang memang jadual latihan atau ketemuannya enggak pernah match. Jadinya saya lebih sering lari sendiri. Selain karena lebih fleksibel, saya juga bisa mengajak Titan sekalian.

Lari serius pertama saya adalah saat Ngabuburit Run dengan Indorunner Bogor. Saya enggak pernah bayangkan lari 5K saat puasa pula. Dan, ternyata walau campur jalan saya bisa selesaikan dalam waktu kurang dari 1 jam sambil tetap puasa. Saya pikir artinya saya bisa lakukan itu. Sejak itulah saya mulai kembali suka lari, apalagi di sebelah rumah ada lapangan. Titan main sepeda, saya lari.
Saya juga kembali menekuni renang, seminggu sekali saya renang sekalian antar Titan les. Dan saya bisa kembali ngejar 1K bahkan bisa sampai 1.5K dalam waktu satu jam.

Nah, saat semangat-semangatnya renang, saya mengalami kecelakaan kecil. Saya terpeleset di ruang ganti kolam renang. Lutut kanan saya terpuntir menyebabkan selama 1 bulan saya terpaksa ikut fisioterapi. Jangankan lari, untuk jalan, berenang, bahkan shalatpun gerakan saya masih sangat kaku. Sampai akhirnya saya bosan ikut terapi. Jadi, ketika sudah bisa berjalan normal, terapi saya hentikan. Akibatnya saya sama sekali enggak berani lari. Paling banter saya jalan cepat saja. Akhirnya demi mengatasi ukuran baju yang kembali melar saya rutin jalan kaki. Minimal dengan stepcounter saya targetkan 8.000 step sehari. Itu enggak terlalu sulit sebenarnya. Saya biasa bangun jam 04.15 pagi dan abisan shalat Subuh saya biasanya langsung jalan kaki muter-muter halaman sambil nunggu Titan bangun jam 5 pagi. Setelah itu biasanya saya lanjut lagi setelah Titan berangkat ke sekolah sebelum saya sendiri bersiap ke kantor.

Pertengahan tahun lalu saya kembali ke Bandung, pindah tugas. Alhamdulillah dekat dengan sarana olahraga, plus banyak trotoar yang bisa dijelajahi untuk lari. Jadi sehabis lebaran saya nekad olahraga lagi. Saya kembali rutin berenang awalnya dan sesekali lari jarak dekat sekali. Awalnya masih ecek-ecek. Belum lagi dampak usia dan tingkat kebugaran yang rendah memang enggak bisa bohong. Lari 1K bisa membuat paru-paru saya terasa mau meledak. Jadi saya memulainya pelan-pelan sekali. Jarak 1K saya bisa berhenti sampai 2 kali. Sayangnya saya masih lebih banyak bolongnya. Hasilpun emang enggak seberapa. Namanya juga enggak serius.

Hingga di sekitaran bulan Agustus, teman-teman di grup angkatan heboh mau ikut ITB Ultra Marathon, event lari khusus alumni ITB.  Jujur saja kehebohan event ini membuat saya jadi termotivasi. Bukan apa-apa, semangat teman-teman yang berlari itu menular. Saya mah jelas enggak mungkin lah ikutan UM. Dengernya aja capek hahahaha.

Saya hanya melihat teman-teman yang usianya sama aja berani menempuh jarak 10an K, itu lari-bukan naik andong. Jadi, kalau dia bisa kenapa saya enggak? Saya juga mulai lihat-lihat banyak yang lebih senior yang masih berlari dan nampaknya baik-baik saja. Jadi, kalau saya enggak bisa, pasti ada yang salah dengan saya. Dengan modal itu saya nekad daftar Fun Run 5K yang diadakan untuk menutup ITB UM 2017.  Nekad? Iya, karena selama 2 bulan sebelum event itu, saya wara wiri keliling Indonesia, bahkan persis sehari sebelum event saya masih berada di Manado.

Akhirnya minggu pagi, saat mata masih sepat karena mengantuk mengingat saya baru tiba di rumah saat sudah malam, saya menuju lokasi start bersama beberapa rekan kantor. Ternyata seru! Melihat antusiasme begitu banyak orang, saya jadi bersemangat. Yang tadinya enggak yakin pun jadi yakin. Dan akhirnya sekitar 50 menit setelah start saya dapat medali finisher pertama saya. Senang? Iya dong, resmi sekarang lari beneran bukan lagi hanya lari dari kenyataan hahahaha.

Nah, abisan itu saya jadi lebih rajin lari (walau masih banyak jalannya). Beberapa minggu saya jalani, tapi koq rasanya masih begitu-begitu aja. Akhirnya saya coba nambah jarak setiap kali lari. Demi nambah semangat dan supaya lebih terukur saya beli smart watch (awalnya mah saya pakai untuk berenang, tapi malah lebih banyak saya pakai lari akhirnya). Saya ulangi dari awal, dari jalan kaki, lalu lari pelan-pelan sekali, dan saya tambah jarak, hingga akhirnya saya bisa lari 5K tanpa berhenti sama sekali. Senang? Kalau boleh mah saya pengen jejingkrakan. Nah, berbulan-bulan saya lari begitu-begitu aja enggak naik-naik. Hingga bulan Februari saya nekad daftar Fituno 10K chalenge. Nekad? Iyalah orang baru bisa lari 5K doang koq daftar buat 10K.

Rencananya ada satu bulan buat latihan. Eh, perpaduan antara malas dan cuaca sore yang banyakan ujannya ketimbang cerahnya, bikin saya enggak olahraga sama sekali. Walhasil saya hanya latihan 5x saja. Jarak terjauh saya hanya 7K, itupun baru sekali dan diakhiri dengan lemass tak terkira. Masih 3K lagi menuju 10K. Itupun saya masih tetap nekad menargetkan 1.5 jam finish.

Hari demi hari berlalu dan tahu-tahu tinggal seminggu. Sementara di minggu terakhir hujan turun setiap sore. Makin jauhlah saya dari latihan. Walhasil 2 hari sebelum race saya memaksakan diri lari subuh-subuh dan berhasil menempuh jarak 7K dalam 61 menit, semenit lebih baik dibanding  minggu sebelumnya. Tapi ini sudah 2 hari menjelang race!!! Mana betis sakit dan mungkin karena tegang, telapak kaki ikutan sakit. Halah ini mau race kayak mau ujian Fismat aja. Bikin susah!!!

Sehari sebelum race saya kembali nekad recovery run, 3.7K selama 30 menit. Abis itu saya pasrah. Ah, sudahlah bagaimana besok saja. Rencananya saya mau tidur aja yang banyak biar besok segar.
Namun, lagi-lagi kondisi enggak berpihak. Malam itu hotel sebelah rumah mau GO, jadi semaleman mereka kerja persiapan GO. Mana mungkin bisa tidur sementara bunyi bor mendesing-desing sampai dinihari. Argggghhh rasanya pengen makan orang-orang ini tapi pasti gak enak rasanya. Arrrghhh kesaaaal.

Jam 04.15 akhirnya memaksakan bangun dan bersiap. Titan sejak semalam mengeluh enggak enak badan tapi dia ikut bangun pagi dan masih doakan ibunya supaya finish strong. Ah, anakku yang hebat. Maafkan Ibu ya, pagi ini Ibu tinggal dulu.

Jam 05.15 hanya sarapan pisang sebiji dan sepotong carrot cake akhirnya berangkat ke Balkot, lokasi start. Menjelang Balkot suasana udah ramai banget. Di perempatan Merdeka-Dago saya melihat bapak yang sudah agak sepuh melakukan pemanasan lari ke Balkot. Agaknya beliau berlari dari rumah. Mendadak saya malu dan kaki jadi kaku. Yang sepuh saja bisa, masak saya enggak? Langsung saya turun dari boncengan adik saya dan jalan kaki ke Balkot bersama banyak orang lain.
Nyali saya rasanya ciut melihat para runner yang ceria dan bersemangat. Rasanya saya pengen kembali pulang saja. Apalagi mendengar MC mulai memanggil seluruh peserta ke garis start dan akan melepas para elite runner sebagai peserta yang start awal. Ketika tanda start mulai riuhnya minta ampun. Para elite runner pun melesat meninggalkan garis start.

Pelan-pelan semangat saya naik. Ah, memang semangat itu menular ya. Berada di antara sekumpulan manusia yang semangat saya jadi ikut semangat. Ketika kaki ini akhirnya melewati garis start rasa ciut saya sudah berkurang banyak. Langkah demi langkah saya ayun kaki melewati jalur lari. Ada beberapa kali rasanya saya ingin berhenti, tapi setiap kali ingin melakukannya saya pasti melihat orang yang lebih senior yang masih berlari, saya pun lanjut bergerak. Jadi, ada memang saya berjalan, namun saya enggak berhenti. Move, Rani! Move!

Belokan terakhir menjelang finish adalah rute paling seru. Jalanan yang menurun ditambah teriakan penyemangat dari panitia yang memang menyemangati di sepanjang rute lari membuat saya enggak sabar menuju garis finish. Daaaan walau tanpa teriakan heboh (ya namanya juga lari sendiri, enggak ada teman), saya berhasil menyelesaikan sepuluh kilo pertama saya dalam waktu 1 jam 23 menit 59 detik. 6 menit 1 detik lebih cepat dari target saya!! Rasanya senaaaaang sekali. Now I know that I can do it!

Hal yang menyenangkan lagi adalah setelah melihat statistik hasil, ternyata hasil yang saya dapat enggak jelek-jelek amat, terlebih saya masih bisa berlari bersama dengan anak-anak yang usianya jauh lebih muda. Saya rasa ini personal achievement yang enggak kecil. So, rasanya sih tahun ini saya mau diajak ikutan relay 16 di ITB Ultra Marathon!!








Tuesday, 27 February 2018

My Titan, Si Kinestetik yang Suka Menguping



Sejak bayi, bahkan sejak dalam kandungan, Titan sudah petakilan. Saking petakilannya, Titan janin jumpalitan dalam kandungan dan terlilit umbilical cord hingga dua lilitan. Dokter yang mengkonfirmasikan hal itu berdasarkan hasil USG 4D saat usia kandungan 8 bulan. Dokter bilang, masih mungkin lilitannya terlepas jika dia berputar ke arah sebaliknya. Harapan yang sia-sia agaknya, karena kemudian dia dilahirkan paksa melalui C section dengan masih terlilit umbilical cord.

Sejak bisa bergerak dalam kandungan, Titan janin sudah sangat aktif. Setiap pagi saya mengobrol dengannya saat berkendara ke kantor. Biasanya dia merespon omongan saya dengan tendangan. Titan janin juga merespon saat saya membacakan buku cerita atau membacakan ayat Al Qur'an. Dia akan tenang saat cerita dibacakan dan akan sibuk menendang saat saya berhenti bercerita. Biasanya dia harus mendengarkan 2 kali cerita agar tenang. Terkadang saya usil dengan hanya membacakan satu kali, hanya agar dia menendang-nendang perut saya (it’s kind of amazing melihat gerakan perut saat dia menendang...). Saya langsung menduga dia akan jadi anak tipikal kinestetik, like me.

Setelah lahir, terbukti memang Titan anak kinestetik. Titan luar biasa aktif serta punya tendangan yang sangat kuat. Nah, begitu mulai bisa bergerak dan bersuara, mulai deh keliatan kalau dia bergerak dengan cepat sekali. Meraih mainan, berguling, tengkurap, merangkak semuanya serba cepat, termasuk bicara. Saking cepatnya sampai saya enggak boleh meleng. Biasanya jika hanya berdua di rumah, dan saya harus ke kamar mandi atau shalat saya akan “ikat” Titan di baby chairnya di depan kamar mandi, terus saya kasih buku kain atau mainan favoritnya dia supaya enggak protes karena ditinggal. Saya juga memagari area mainnya dengan paralon yang dibungkus busa dan dilapis pelapis jok agar dia enggak keluyuran masuk dapur.

Pernah suatu kali embaknya Titan kebelet pipis, saat itu saya di kantor dan mereka hanya berdua di rumah. Embaknya pikir enggak akan masalah karena Titan hanya ditinggal sebentar ke kamar mandi dan dia sedang asik main dengan buku-bukunya. Belum sampai si embak sampai ke pintu kamar mandi, sudah terdengar jeritan Titan. Rupanya dia tumpukkan buku-buku ceritanya dan naik ke atasnya. Tanpa ampun dia tersungkur hingga dahinya membiru. Embaknya panik, begitu saya pulang dia langsung melapor. Saya belum ngeh, hingga saat saya lihat jidatnya biru lebam. Untunglah tidak apa-apa, hanya biru tanpa efek samping apapun. Sejak saat itu kami jadi lebih hati-hati. 
Tapi tetap saja saya kecolongan. Saat itu saya berdua di kamar, dan saya sedang shalat. Awalnya dia asik menonton film di Disney Junior. Rupanya ketika ada musik mulailah dia melompat-lompat di atas tempat tidur hingga dia terlempar keluar dari tempat tidur dan mendarat di tepi jendela diiringi suara tangis yang keras. Saya enggak pakai aba-aba dan masih bermukena langsung lompat, sementara embaknya lari dari kamarnya di atas menghambur ke kamar. Ah, Titan, jidatmu jadi bonyok lagi deh....

Energinya yang luar biasa juga enggak ada habisnya, bahkan saat dia tidur. Seringkali kami bercanda hingga akhirnya menimbulkan “korban”. Ada beberapa kali saya ke kantor dengan dahi benjol biru, pelipis memar, atau bibir pecah karena terantuk Titan yang lompat ke sana ke mari. Sering juga saya terbangun dalam kondisi terkejut akibat tendangan atau tonjokkannya saat tidur. Hingga akhirnya saat tidur miring ke arah Titan saya refleks melindungi wajah dengan kedua lengan. Minimal kalau kena tendangan atau tonjokkan mendadak enggak terlalu sakit hahahahaha...

Titan mulai berjalan saat usianya mencapai tepat 1 tahun. Luar biasa takjub melihat saat pertama dia melangkah satu-satu mendekati saya yang baru saja tiba tugas dari luar kota. Dan sejak saat itu dunia rasanya bergerak dengan sangat cepat. Begitu mulai berjalan, saat itulah dia mulai berlari. Tidak ada langkah pelan, Titan suka berlari di manapun. Area mainnya sudah tidak bisa dibatasi, pembatas area mainnya sudah dia bongkar sendiri. Untunglah dia belum bisa buka pintu sendiri sehingga saya masih bisa lega sedikit mengingat rumah kami enggak berpagar.

Awalnya saya duga dia bayi yang quiet, mengingat jarang sekali dia menangis, tapi saat menangis suaranya luar biasa keras, he’s like to scream at the top of his lungs. Saya bisa membedakan tangisannya di antara bayi-bayi di kamar bayi rumah sakit hanya beberapa saat setelah dia lahir. Itu juga yang membuat saya memaksa suster untuk membiarkan Titan rooming in dengan saya.
Saat mulai berjalan, Titan juga mulai berbicara. He is so talkative. Apa saja bisa dia bicarakan dan Titan tidak mengalami masa cadel yang meresahkan. Jika ada yang dia inginkan dia akan sampaikan dengan kalimat sederhana yang mudah dipahami oleh orang yang baru kenal sekalipun. Tidak ada bahasa-bahasa bayi yang hanya dimengerti oleh yang bicara. 

Pernah suatu kali saat berusia 1.5 tahun, Titan lepas dari pengawasan saat kami berada di mal. Saat itu terpaksa saya mampir di mal untuk membeli pakaian ganti karena pakaian saya basah dan kotor saat Titan muntah. Saya luar biasa marah karena yang mengawasi sangat lambat hingga Titan lepas dari pengawasannya. Tuhan memang MahaBaik. Titan yang sudah saya ajari bicara dan menyebutkan namanya serta nama orang tuanya berlari-lari di area kasir. Wajah dan tingkahnya yang lucu membuat beberapa SPG malah mengelilinginya. Saat ditanya siapa namanya dengan lantang dia jawab Titan. Langsung petugas CS menyampaikan pengumuman melalui pengeras suara, hingga dalam waktu singkat saya bisa menemukan dia lagi. Walau marah masih di ubun-ubun saya bisa bernapas lega. Saya selesaikan pembayaran segera, dan akhirnya saya putuskan tukar pakaian di mobil saja supaya dia enggak lari-lari ke mana-mana. Pembelajaran yang keras. Sejak saat itu ke manapun pergi saya bukan hanya bawa baju cadangan buat Titan tapi juga buat saya. Sempat saya terpikir membelikan tali pengikat supaya dia enggak kabur. Tapi rupanya dia malah lebih kreatif. Tali tas saya dia lepas salah satu kaitannya lalu dia kaitkan ke celananya dia (dia suka banget pakai celana kodok). Hasilnya ketika jalan-jalan di mal saya dan dia terbelit-belit tali tas. Saya mangkel dan dia tertawa-tawa senang hahahahaha.

Dalam memahami konsep baru, Titan lebih banyak belajar melalui mainan. Awal dia mengenal warna, posisi, bilangan, dan huruf dilakukan sambil main kereta Thomas favoritnya. Saat dia menyusun rel kereta, dan menabrakan semua keretanya dia mulai mengenal konsep di atas dan di bawah. Saya mengajarkan warna menggunakan kereta Thomas dan teman-temanya saat bermain juga karena kami suka menyanyikan theme songnya Thomas: They’re two they’re four they’re six they’re eight, shounting cars and hauling freights, red and green and brown and blue, they are really useful crew ....

Saat mulai bicara dia panggil semua dengan panggilan yang benar, kecuali saya. Dia mungkin satu-satunya anak yang manggil ibunya dengan sebutan heyyyyy!!!! Saya bingung dari mana asalnya. Usut punya usut, rupanya itu gara-gara setiap kali saya pulang kantor, sapaan pertama saya untuk dia adalah heyyyyyyy (biasanya sambil mengembangkan kedua lengan untuk memeluk), sehingga dia pikir itulah nama saya hahahahaha. Agak lama saya dipanggil Hey, sambil pelan-pelan saya ajari manggil saya, Ibu hingga akhirnya sebelum dua tahun Titan panggil saya Ibu. Dia juga selalu menyebut mobil dengan sebutan bis. Hingga saat dia masuk toddler class dan akhirnya menyebut mobil dengan sebutan mobil, guru kelasnya bercanda akan membuatkan tumpeng.

Makin besar, makin aktif dan makin bawel dia, hingga saya menyadari bahwa Titan bukan hanya tipikal kinestetik (Pernah salah satu pengajar di PAUD dekat rumah menganggap Titan bodoh karena Titan belajar dengan cara yang berbeda dengan teman-temannya. Saya sangat marah hingga saya putuskan saat itu juga dia keluar dan saya pindahkan ke sekolah yang gurunya lebih cerdas. Untuk saya, orang yang ngaku pendidik macam ini layak dilempar ke laut saja, tidak layak dia menyandang sebutan pendidik.), tapi juga  plus auditori.

Ini saya ketahui secara tidak sengaja. Saat itu saya dan beberapa teman sedang mengobrolkan kondisi salah seorang bayi staf kantor yang istrinya baru melahirkan, bermasalah karena kemungkinan menelan ketuban. Saat itu saya lihat Titan asik dengan kertas-kertasnya. Tahu-tahu di perjalanan pulang dia tanya, Ibu air ketuban itu apa? Kenapa berbahaya? Anaknya...itu kenapa? Saya kaget. Haaaa..ternyata anak ini nguping. Akhirnya setelah kami di rumah, saya langsung ajak dia baca ensiklopedi tubuh manusia dan menjelaskan apa itu ketuban (walau abis itu dia protes, dia bilang ini menjijikan hahahaha). Sejak saat itu saya lebih berhati-hati kalau mengobrol terutama topik yang sensitif (walau sering kelepasan akhirnya), mengingat dia dan saya terbiasa dalam satu paket ke manapun. 

Enggak cuman nguping, Titan juga mudah mengenali musik. Kalau dia pernah mendengar nada atau irama tertentu dia akan dengan cepat mengasosiasikannya dengan sesuatu. Paling sering adalah kalau kami nonton film, dia mudah sekali mengingat lagu-lagu yang ada di sana. Salah satu cita-citanya adalah memainkan score-nya Harry Potter pakai piano (seringkali dia lihat film sampai credit tittlenya abis, karena ada musik yang dia suka). Ada bagusnya juga dia masuk ke dalam tipikal auditory, guru pianonya bilang Titan mudah memahami nada, hanya saja malas mengingat.

Ah, cerita tentang Titan emang enggak ada habisnya. Call me emak lebay karena buat saya dialah cowok paling keren sedunia. Dialah anak paling manis sedunia walau kami bertengkar nyaris setiap saat untuk banyak hal. Tapi satu hal yang saya syukuri adalah karena dia mandiri dan bisa bersikap sangat dewasa manakala menghadapi situasi tertentu. Sejak masuk SD, Titan sudah biasa menyiapkan buku sesuai pelajaran yang harus dibawa ke sekolah, dan mengingat beberapa hal yang menjadi tugasnya, walau saya masih harus mengomel panjang pendek melihat baju seragam yang level kotornya melebihi kain pel. Titan juga cukup bertanggung jawab manakala saya hanya bolehkan dia main game saat weekend dan nonton hanya pada jam tertentu. Itu bisa saya pastikan dia lakukan sekalipun saya ada di luar kota karena tugas. Saya tidak pernah mengalami masalah anak tantrum, karena sejak kecil saya sudah ajarkan dia berdiskusi untuk hal apapun yang dia inginkan. Saya biasa libatkan dia dalam pengambilan keputusan, mulai dari hal sederhana seperti mau makan apa atau mau mainan yang mana, memilih sekolah (saat mau masuk SD Titan diterima di 3 sekolah favorit), hingga ketika saat saya diminta pindah tugas. Orang pertama yang saya ajak bicara adalah Titan. Alhamdulillah, di usianya Titan sudah cukup bisa saya andalkan. Dia sangat paham dengan kondisi ibunya, sehingga sejauh ini kami bisa menjalani kehidupan dengan tenang.

You are my sunshine, Titan. I love you with all my heart and soul, to the moon and back, bigger than the universe. Despite of our arguments, I am so proud of you!