Tuesday, 1 January 2019

EXPLORING BANYUWANGI Part I

Banyuwangi? Ngapain ke Banyuwangi dan bukan ke Bali? Itu pertanyaan yang saya terima ketika saya memutuskan akan liburan akhir tahun di Banyuwangi.
Ya, kenapa Banyuwangi?
Here is the story.

Menjelang akhir tahun ini perasaan saya sangat enggak enak, kind of sad feeling actually. Rasanya saya kehilangan sesuatu yang selama beberapa waktu belakangan ini membuat hati saya terasa hangat. I need some times off. I need something untuk mengalihkan kesedihan saya. So, setelah browsing ke beberapa tempat, plus ada satu staf yang asli Banyuwangi cerita tentang asiknya di Banyuwangi saya putuskan beli tiket.

First thing, saya cek alternatif perjalanan ke sana. Ada beberapa pilihan rute dari Bandung menuju Banyuwangi: bisa jalur udara, darat, atau keduanya. Banyuwangi sudah memiliki bandara. Jadi sudah ada penerbangan ke sana, transit di Surabaya. Ada beberapa pilihan penerbangan dari Bandung menuju Banyuwangi. Penerbangan yang langsung ke sana: Citilink, Lion, Garuda. Citilink saya enggak cek jadualnya (karena baru tahu pas di Banyuwangi). Lion dari Bandung terbang pagi, transit di Surabaya lalu lanjut ke Banyuwangi, the same day. Garuda, terbang sore dari Bandung, transit semalam di Surabaya lalu lanjut ke Banyuwangi dengan penerbangan pukul 05.30 pagi. Berhubung Titan enggak mau pakai Lion, maka pilihan saya hanya Garuda atau lewat darat. Perjalanan lewat darat bisa ditempuh dengan kereta api. Tapi lamanya 30 jam. Wah, repot!!!

Akhirnya saya putuskan akan terbang dengan NAM Air ke Surabaya pukul 06. 00 pagi lalu dilanjutkan dengan kereta Mutiara Timur Siang (ada 2 perjalanan kereta ke Banyuwangi yang melalui Sidoarjo: Mutiara TImur Siang dan Mutiara Timur Malam) dari stasiun Sidoarjo. Saya memesan tiket ke Banyuwangi (tepatnya ke Kaliasem), mengingat itu stasiun terdekat dengan kota.
Tiket done, tinggal penginapan. Banyuwangi sedang bebenah untuk menjadi destinasi wisata utama, bukan sekedar lokasi transit buat pelancong domestik yang menuju Bali melalui perjalanan darat. Karena itu ada banyak pilihan penginapan di Banyuwangi. Namun, kali ini saya ingin sesuatu yang beda dan menenangkan. So I choose this one instead: Java Sunrise Homestay dan coba tebak, letaknya hanya sekitar 10 menit jalan kaki dari Stasiun Kaliasem. Harganya? Sangat amat murah, only 1350k for 5 nights! Perfect. Let’s packing!!

Day #1

Pukul 03.45 saya sudah terbangun dan langsung mandi serta bersiap menuju Bandara. Kami sudah siap berangkat, namun yang janji akan antar kami ke bandara enggak ada kabar dan enggak bisa dihubungi sama sekali, sementara waktu sudah hampir jam 05.00. Rasanya saya jantungan. Penerbangan NAM Air (btw, NAM Air yang dulu ada di bawah Sriwijaya Grup sekarang diakusisi Garuda, saya baru tahu ketika web check in ditanya apakah sudah jadi member GFF. This is cool, bisa nambah poin GFF dari Garuda, Citilink, dan NAM Air!) pagi selalu ontime. Pengalaman saya jam 5.30 paling telat kami sudah harus boarding sementara antri masuk di Bandara Husein itu selalu nyebelin. Lambat!

Buru-buru saya pesan taksi online, lucky us ada yang abis ronda masih kelayapan dan bersedia ngebut ke Bandara. Jam 05.15 kami berhasil tiba di Bandara, dan antrian masuk juga pendek, rupanya sekarang masuk enggak pakai cek x ray lagi (lagian aneh, kenapa juga harus 2x, mana lambat pula). Proses check in lumayan cepat, karena sebenarnya tinggal ngedrop bagasi. Pukul 05.25 akhirnya ada kabar: ketiduran. I don’t know apakah harus marah, sedih atau kecewa. Tapi, sudahlah, enggak ada waktu mikirin ini karena sudah dipanggil boarding. We run straight to the plane, karena sudah dipanggil boarding. Fiuhhh…let’s the trip begin, Ran.

Penerbangan pagi ini cukup nyaman, sekalipun udara agak mendung tapi enggak terlalu bumpy. Pukul 07.30 kami sudah landing. Selesai urusan bagasi kami menuju ke luar cari taksi buat ke stasiun. Nah, ini kesalahan pertama hari ini yang agak jengkelin. Saya pesan taksi di counter resmi, rupanya itu taksi carteran, sehingga jatuhnya mahal banget karena dihitung per zona. Udah kadung akhirnya pesan salah satu vendor taksi yang lebih murah (dengan perusahaan taksi biru itu selisih harganya 100k!). Ya sudah kami ke stasiun pakai mobil carteran dengan tarif 150K (padahal kalau pakai taksi konvensional paling 50k). Next time jangan buru-buru, bisa cari info dulu di bandara sebelum mesan taksi!

Kesalahan kedua adalah kami enggak sarapan dan enggak belok dulu ke tempat sarapan padahal ada soto surabaya enak dekat bandara. Sopirnya baru bilang setelah kita mau nyampe (kesal!!). Jadilah kami kepagian sampe stasiun. Udah gitu karena masih lebih dari satu jam menjelang keberangkatan, kami enggak bisa masuk stasiun. Stasiun Sidoarjo ini kecil mungil tapi ramai banget. Jadinya kami duduk menunggu di luar. Enggak terlalu nyaman karena itu selasar dekat pintu kedatangan penumpang, jadi ramai banget serta agak-agak bau got. Mau makan ternyata enggak ada tempat makan yang deket. Bah! Terpaksalah kami makan roti sebelahnya got.

1.5 jam kami menunggu, akhirnya bisa masuk stasiun juga. Di dalam sama ramainya. Ternyata kami satu kereta dengan mas-mas yang duduk sebelah kita di pesawat. Dia juga yang memberikan tempat duduknya di kursi tunggu stasiun karena ruang tunggunya sudah penuh. Alhamdulillah masih ada anak muda yang berbudi pekerti baik. Ketika saya tanya dia mau menuju Jember. Agaknya mahasiswa yang mau mudik liburan.

Tak lama kereta datang. Alhamdulillah, kami berangkat lebih cepat dari perkiraan. Keretanya bersih dan nyaman. Kami beli tiket eksekutif. Nyaman dan lega banget. Jalur di sepanjang perjalanan juga lumayan bagus, jadi enggak terlalu bosan. Dibandingkan dulu, makanan di kereta sekarang juga lebih baik dari segi rasa maupun penampilan. Karena belum sarapan, jadi kami brunch di kereta. Titan mesan nasi goreng dan cokelat panas, saya mesan nasi rames dan air mineral. All for 83K. Tapi itu belum cukup ketika sejam kemudian petugas restorka jalan-jalan menawarkan mie rebus yang hard to resist hahaha.


Menjelang Jember hujan turun. Wahhh awal perjalanan sudah gloomy begini. Tinggal sekitar sejam lagi kami tiba di Banyuwangi. Kiki (staf yang asli Banyuwangi) mengabari kalau sejak hari Minggu Banyuwangi diguyur hujan deras. Hari Minggu malah hujan turun sudah sejak pagi.
Pukul 15.05 kami tiba di Karangasem saat gerimis masih turun. Tak lama kami dijemput dan langsung menuju penginapan. Homestay tempat kami akan tinggal selama di sini hanya berjarak sekitar 700m dari stasiun. Posisinya di dalam gang di tepi sawah. Kamar kami tepat berbatasan dengan sawah di samping dan belakang. Hmmm…kayaknya damai bener nih. Tempat tidur dikelilingi kelambu (hahaha seumur umur kami baru tidur pakai kelambu. Lucu nih kayaknya.




Rencananya sore ini kami akan makan ayam betutu, tapi sudah enggak mungkin nyebrang ke Gilimanuk. Akhirnya Pak Bowo, our driver, bawa kami ke Ayam Betutu Mbak Timah di Klatak. Tempatnya kecil tapi ramai banget. Kami memesan satu ekor ayam betutu goreng. Dan ketika disajikan, ayam betutu dari ayam kampung yang empuk banget dengan bumbu meresap sampe ke dalam dilengkapi lalapan bayam rebus dan kol, plus kacang tanah goreng langsung kami santap. Rasanya? Wahhh, warbyasahhhhh. Pertama makan ayam betutu yang basah di Bali saya enggak suka, sehingga malas lagi makan ayam betutu. Tapi yang ini? Sedap benerr, saya nambah nasi sampai 2x (ini lapar, kalap, apa doyan?). Titan, walau agak kepedesan tapi dia menghabiskan nasi dan ayamnya. Dia bilang enak banget. Could’t agree more, Son!


Abis itu kami jalan-jalan ke Pantai Boom yang ada di kota. Pantai ini salah satu tempat nongkrong warga. Sekalipun pasirnya hitam (katanya di sini khasnya, pantai yang di kota pasirnya hitam), tapi cukup bersih dan cukup nyaman. Di seberang berbatasan dengan Bali, sementara di belakang kami dipagari Gunung Ijen dan Gunung Raung yang menjulang. Cuaca agak mendung tapi tetap terlihat cantik.




Dari sana kami kembali ke homestay, tapi mampir dulu pengen nyicip tahu walik. Tahu walik ini tahu sejenis tahu pong yang sudah digoreng, lalu dibalik dan diisi adonan sejenis isian batagor lalu digoreng hingga kering. Harganya 7k per porsi (saya lupa isinya 10 apa 20), dilengkapi dengan sambal kacang. Rasanya enak banget ternyata, apalagi kalau dinikmati hangat-hangat. Kata Titan maap ya, Titan ngabisin banyak hahahaha.



Kembali ke penginapan kami mandi (tetep ada air panas koq), dan bersiap tidur. Di kamar enggak ada tv jadi yang kami dengarkan sepanjang malam adalah suara nyanyian kodok dan jengkerik. Heaven!!!




Day #2
Bangun pagi karena suara pengajian dari masjid. Ah, di Bandung saya jarang dengar ini karena kebanyakan suara lain. Abis shalat Subuh saya ke luar, ternyata sudah benderang! 
Sunrise kesiangan dari samping kamar

Kami mandi dan bersiap sarapan. Titan pengen mie goreng, ternyata yang disajikan adalah indomie goreng. Waduuuh, kacau. Titan mah senang saya yang pusing, gawat ini. Sarapan enggak kami habiskan karena too greasy dan kayaknya terlalu berat. Tapi secangkir kopi hitam kental cukup bikin mata saya melek. Oke, kita berangkat.
Tujuan pertama pagi ini Djawatan. Lokasinya di Benculuk, Kec. Cluring. Perjalanan kami tempuh sekitar 45 menit dari penginapan. Area milik perhutani yang ditanami dengan pohon trembesi ini awalnya adalah tempat numpuk kayu jati yang sudah ditebang. Dengan penataan, pohon-pohon trembesi yang usianya udah tua ini jadi lokasi yang instagramable banget. Saya membayangkan kalau cuaca cerah, sinar matahari pagi yang menembus celah-celah pohon akan memberikan efek yang keren banget. Berhubung cuaca pagi ini masih sendu, matahari masih malu-malu banget sehingga efek itu enggak kami dapat. But, still, tempat ini keren abis.



Puas foto-foto di sini kami lanjut ke Taman Nasional Meru Betiri yang sebenarnya berada di wilayah Kabupaten Jember, tapi aksesnya bisa dari Banyuwangi. Perjalanan ditempuh sekitar 1.5 jam melalui hamparan kebun buah naga dan jeruk di sepanjang jalan. Banyuwangi memang salah satu produsen utama buah naga dan jeruk di Pulau Jawa. Saya sempat beli 3kg buah naga kualitas supermarket dengan harga hanya 9k/kg! Murah dan rasanya enak. Katanya, yang jenis ini hanya menggunakan pupuk alami, tanpa urea.


Akses jalan ke Meru Betiri surprisingly cukup mulus. Hanya sedikit jalan yang berlubang. Sampai di gerbang kami beli tiket masuk seharga 7.5k/orang dan tiket mobil seharga 10k. Perhentian pertama adalah Pantai Rajegwesi. Pantai berpasir putih ini adalah salah satu tujuan wisata warga. Dari Rajegwesi kami menuju Teluk Ijo. Ada 3 pilihan rute menuju ke Teluk Ijo: lewat air dengan harga tiket perahu 35k/org pulang pergi, tracking sekitar 2KM lewat jalan setapak, atau pakai ojek motor dengan harga 10k/ trip. Tentu saja kami pilih lewat air. Setelah urusan tiket selesai, kami naik ke perahu yang sudah ditunjuk pengelola (enaknya semua resmi sehingga enggak ada pungli). Perahu segera bergerak membelah pantai yang ternyata ombaknya cukup besar. Pakaian kami basah kuyup terguyur ombak. Sementara Kiki berdoa banyak-banyak (rupanya dia trauma naik perahu karena pernah mati mesin di tengah-tengah laut!). Menjelang Teluk Ijo saya jadi tahu dari mana teluk ini dapat nama, airnya memang hijau tosca gelap. Luar biasa cantik. Sekalipun teluk, namun ombak di sini cukup besar, sehingga pengunjung dilarang berenang. Agak lama kami main-main di sini sambil menunggu antrian perahu kembali ke Rajegwesi. Pantai pasir putihnya lembut untuk diinjak, udah gitu bersih pula.











Kembali ke Rajegwesi kami cari makanan. Alhamdulillah ada satu tempat makan yang menyajikan makanan cukup variatif. Saya mesan 2 ekor ikan goreng, 2 porsi udang, nasi, minuman, 2 porsi capcay hanya habis 96K! Udah gitu rasanya juga enak banget. Puas deh.

Sebenarnya kami ingin lanjut ke Sukamande melihat penangkaran penyu. Jaraknya sekitar 8KM dari Rajegwesi. Namun, akses ke sana enggak boleh dilalui kendaraan pribadi, jadi harus sewa jeep seharga 800k. Mahal banget, akhirnya saya putuskan batal saja
Perut kenyang kami lanjutkan perjalanan ke Pantai Pulau Merah. Pulau Merah ini sebenarnya adalah gundukan tanah yang mengandung mineral tembaga yang karena teroksidasi sehingga tanahnya berwarna merah. Karena musim hujan, tanah merahnya jadi enggak kelihatan, ketutupan tumbuhan jadi hijau. Di area ini juga kabarnya terdapat cadangan emas. Cadangan emas yang luar biasa besar ini letaknya ada di bawah laut.
Oke, kembali ke Pantai Pulau Merah. Pantainya berpasir putih, halus, dan ramai banget. Ombak yang enggak terlalu besar memungkinkan pengunjung untuk berenang, selama tidak melewati batas aman yang sudah ditetapkan. Untuk menjaga pengunjung berenang di lokasi aman, penjaga pantai mengawasi dari menara pengawas dan mengingatkan secara kontinu agar pengunjung berada di zona renang (jangan bayangkan life guard seperti Baywatch ya).


Hari ini saya meminta diantar untuk makan ikan bakar di Blimbingsari. Di sini kami beli 1.5kg ikan seharga 140K. Ikannya lumayan sebenarnya, tapi tempat enggak recommended. Banyak serangga dan agak berbau kutu busuk. Saya jadi enggak tenang dan Titan makan sambil kuatir.  Kami kembali ke Penginapan saat hari sudah sangat gelap. Time to sleep listening to the voice of the singing frog.

To be continued ...

#exploringindonesia #exploringbanyuwangi #wonderfulindonesia #iloveindonesia #momandson #holiday #ilovetravel 

Monday, 15 October 2018

Lari pagi itu mainstream....


Buat banyak orang, event yang satu ini mungkin dianggap gila. Tapi tidak buat sebagian alumni ITB. Ultra Marathon, event lari yang pertama kali diadakan tahun 2017 menyedot banyak perhatian. Jadi, bisa dibayangkan ketika pendaftaran untuk UM2018 dibuka, yang daftar membludak. Buanyak.
Sejak tahun lalu, saya sudah punya cita-cita pengen ikut yang tahun 2018. Jadi, ketika akhirnya bisa ikut rasanya senang banget. Emang kuat? Ya kalau itu gimana nanti aja. Yang penting ikut dulu, begitu pikir saya. Itu juga yang membuat saya cukup rajin lari (walau rasanya enggak ada kemajuan alias segitu-segitu aja) sejak awal tahun.

Sekitar dua bulan menjelang event saya kena cedera LBP. Rasanya sakit luar biasa, membuat saya hampir menyerah. Walhasil selama 3 minggu saya sama sekali libur olah raga. Baru sebulan menjelang UM saya mulai lagi latihan, dari nol.


Ketika mulai pembagian rute dan etape saya sempat minta jangan dikasih jalur menanjak. Saya kuatir bebannya (beban tubuh maksudnya hahaha) terlalu berat sehingga bisa cedera lagi, di samping saya juga belum pernah lari di jalur dengan elevasi lebih dari 50m. Kan enggak lucu kalau saya mogok dan merepotkan anggota team yang lain. Di awal saya dapat Leg 12. Masih oke. Eh, tahu-tahu saya dipindah ke Leg 13. Kaget bener, mengingat tanjakan di situ menyeramkan. Ketar ketir bersiap meratapi tanjakan. Tapi rupanya kapten team yang baik hati membujuk dua teman 1 team agar tukaran, hingga saya dapat Leg 15 dengan jarak tempuh paling pendek dibandingkan yang lain. Elevasi juga enggak terlalu besar.



Angkatan kami mengirimkan 4 team (tadinya malah mau 7!!). Satu team Relay 8, Awug (tepatnya The Mighty Awu92), dan 3 team R16: Batagor, Cireng, Dawegan plus satu team 92eat Support untuk menempuh Jakarta-Bandung sejauh 170K.






Hari H. Sejak Jumat mendadak asam lambung saya naik terus. Saya curiga saya mengalami stress (ini mau lari apa ujian Fismat sih sebenarnya?), takut mengecewakan anggota team yang lain. Hingga menjelang berangkat akhirnya saya minum obat agar asam lambung enggak protes. Jam 5 sore saya janjian dengan running buddy Leg 15 di Pasteur. Kami mau berangkat menuju lokasi start. Perkiraan akan lambat, karena posisi 5 pelari sebelum kami juga belum mulai start. Jam 17.30 kami tiba di Cimahi. Di sini seorang rekan meminjamkan anak buahnya buat bawain mobil mengawal sepanjang etape (ah terima kasih sekali untuk bantuan yang luar biasa ini). 

Agak kuatir dengan cuaca sore itu, angin bertiup kencang sekali, langit juga sangat gelap. Dan benar, gerimis turun, tapi untunglah enggak lama. Jam 18 kami buru-buru menuju lokasi start. Paling enggak kalaupun harus menunggu itu lebih aman ketimbang kejebak macet atau hujan. Kami menunggu tiba saat start sambil memantau keriuhan Tim Awug yang sedang berjuang masuk Finish. Last runner sedang berjuang menyelesaikan tugasnya dan berhasil. Tim Awug berhasil masuk podium 2. Bangga dong, salah satu team kita masuk podium.

1 jam, 2 jam, 3 jam berlalu dan kami masih belum start. Kantuk dan lelah mulai melanda. Perut lapar tapi malah menolak diisi makanan. Sempat makan siomay buat ganjel, enggak habis juga. Akhirnya makan pisang saja. Hingga menjelang tengah malam kami masih belum dapat giliran start, sementara satpam Giant udah ngusir kami dari parkiran hahahaha. Kami pindah parkir di tepi jalan sebelum WS14. Pelari Leg13 baru mulai bergerak lewat jam 22. Jam 23 kami mulai pemanasan ditemani team support yang sudah masuk di WS14.


Uin dan Djeng yang tetep ceriah walau udah tengah malam

Sesaat menjelang tengah malam, yang ditunggu datang juga. Pelari Leg 14 team Cireng, Bajigur dan Dawegan masuk WS. Lega rasanya. Kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan relay. Wawancara, Check (dengan Om Farid sebagai reporter), LED lamp, check (thanks Paheu), we are ready!



Setelah serah terima Buff (Serius, itu buff udah mandi keringat 14 orang!!) dan foto-foto, pukul 00 lewat dikit kami bergerak menuju WS15. 





Lelah, kantuk, lapar, dan saya kebelet pipis (toiletnya parkiran Giant Padalarang yang terdekat dengan tempat kita nunggu sudah digembok) membuat kami ingin segera menyelesaikan etape ini. Tengah malam yang sepi (iyalah, lagian selain kami ini siapa sih yang sesinting ini lari-lari tengah malam hihi). Sesekali terdengar suara napas memburu kami atau suara sepatu yang tersaruk di aspal. Langkah kami terasa sangat lambat sekali. Kami bertiga berlari beriringan sambil sesekali bercanda saling memberi semangat. Team support setia mengiringi kami dengan sepeda dan motor sambil terus menyemangati. Langkah demi langkah perlahan kami tapakkan di jalan yang nanjak halus ini. Belum ada team lain yang menyusul, hingga di KM6 pelari 84 menyusul!!! Arggh sudah lelah tersusul oleh pelari senior itu rasanya gimanaaa gitu.







Disemangati oleh runner yang ikut support mengiringi kami dengan gowes pelan akhirnya sampai juga di WS15, di mana pelari selanjutnya sudah menunggu. Tuntas sudah tugas kami tunaikan, selamat tanpa cedera (ini sesuai harapan), walau rasanya enggak maksimal banget. Jarak segitu ditempuh dengan waktu yang lebih lama dibandingkan biasanya.




Sehabis serah terima kami langsung berpisah. Team support melanjutkan tugas mengawal runner, ada yang beranjak pulang, sementara saya dan Katrin langsung masuk mobil menuju Bandung. Suasana yang sudah menjelang dini hari (kami keluar dari WS15 sekitar jam 01.30), ngantuk dan lelah membuat refleks saya juga menurun. Belum jauh dari WS saya dikejutkan seekor kucing yang tetiba menyeberang. Ngerem enggak terkejar dan sepertinya saya menggilas sesuatu! Panik, saya berhenti masih di tengah jalan. Saking kagetnya, mendadak telapak kaki kiri saya mengunci, kram! Mencoba mengintip dari spion saya tidak melihat apapun. Jangan-jangan itu kucing mati tergilas. Bayangan seram kata orang kalau menggilas kucing sampe mati membuat saya sempat ketakutan. Akhirnya kami berhasil menepi. Katrin langsung turun melihat ke lokasi kucing nyebrang tadi. Alhamdulillah agaknya si kucing berhasil selamat. Masih deg-degan kami lanjut lagi. This time enggak berani ngebut. Ngedrop Katrin di kampus, lalu saya langsung pulang. Pagi nanti masih mau nemenin Titan ikut fun run.

Terealisasi sudah keinginan saya sejak awal tahun. Walau hasilnya belum seperti harapan, saya bangga. Di sela-sela keriuhan lari ada banyak cerita epic yang menginspirasi. Ada banyak senior yang ternyata berhasil mengalahkan waktu dan jarak dengan berlari, luar biasa! Ada banyak team yang berlari dengan membawa misi penggalangan dana (juga team kami), dan misi itu berhasil dengan baik. Berlari sambil berbagi, love it! Ketika banyak teman baru yang sebelumnya enggak saling kenal ternyata bisa bahu membahu bekerjasama dengan baik sehingga semua runner terjaga keamanannya. Millions thanks, team support! Ketika menunggu hingga 6 jam itu ternyata tidak melorotkan semangat untuk tetap berlari, thanks Katrin dan Alvin karena bersama kalian menunggu 6 jam tetap seru, lari tengah malam juga seru. Buat saya, event ini lebih keren dari reuni.

Thanks buat Kapten Tante Yulie yang all out mengatur segala hal tentang team dari sebelum pendaftaran hingga event ini selesai. Mamah Pepy yang bersedia direpotin ngurusin ini dan itu. Om Hadi buat desain jersey dan jaketnya yang bikin runners dan support team tampak keceh. Tante Kuch M, yang walaupun enggak ikut lari tapi juara kasih support dan tips-tips termasuk tips oles-oles (berhasil dengan baik, walaupun tetap ada yang lecet gara-gara kelewat dioles hahaha). Team support yang mensupport all out sepanjang etape, love you all so much, kalian batu!! Di Leg 14 ada Dadan, yang sebelumnya udah lari juga, rela gowes pelan-pelan nemenin kami di tengah malam, ada Menmudperamwan Om Farid yang setia ngawal pakai motor, Aa Toea yang udah minjemin anak buahnya buat ngawal kami, Uin dan Djeng yang nemenin kami menjelang start. My running buddies: Katrin dan Alvin, kalian berdua gila! Kapan lagi lari tengah malam sambil ketawa-ketawa walau mata udah sepet dan badan sudah lelah. Awug-Bajigur-Cireng-Dawegan, kalian hebat! Bangga bisa jadi bagian dari kalian, walau kontribusi saya sangat kecil. *Ini blog atau pidato Oscar sih?*

Semoga tahun depan tetap bisa bergabung sebagai tim pelari hore. Eh, tapi denger-denger UM2019 jadi 250K? Aje gileeeeeee!!!

#bniitbultramarathon2018 #bniitbultramarathon170k #i92runners #lumpatkeun
#itb92