Tuesday, 1 January 2019

EXPLORING BANYUWANGI Part II

...


Day#3

Hari ini kami sarapan nasi goreng. Its gonna be a long day. Kami mau menuju Alas Purwo. Sebelum ke sana kami beli makanan untuk makan siang. Pengalaman kemarin cari makan yang proper di tempat wisata agak sulit, jadi lebih baik bawa makanan. Kami beli makanan di warung nasi yang pagi itu sudah buka dengan makanan yang sudah lengkap. Nasi, perkedel ikan (ini ikan kecil-kecil disalut tepung lalu dibentuk kepalan dan digoreng kering), perkedel jagung dan kentang, cumi dimasak pedas, pepes tuna hanya seharga 67k! Saya sampe nanya 2x memastikan kuping saya enggak salah dengar. Wah, ini duit segitu bisa buat makan 4-5 orang!

Oke, lanjut. Perjalanan ke TN Alas Purwo sangat lancar. Jalanan mulus lusss, dengan pemandangan cantik antara kebun buah naga, jeruk, dan hutan jati sangat memanjakan mata. Hanya satu saja yang rada masalah: susah sinyal. Pokoknya begitu meninggalkan area kota, sinyal mulai timbul tenggelam. Untuk menghemat baterai ponsel selalu saya set flight mode. Kalau enggak boros banget, mending buat foto-foto aja.




Jalanan ke Alas Purwo sepi  banget. Saking sepinya bisa foto2 di tengah jalan hahaha. Pemandangan indah di sepanjang jalan bikin kami sering berhenti hanya untuk memandang atau foto-foto.  Sekitar 1.5 jam perjalanan akhirnya kami tiba di gerbang masuk Taman Nasional Alas Purwo (Alas means hutan, Purwo means old). Tiket masuk ke TN Alas Purwo hanya 5k/orang dan tiket masuk mobil 10k. Area seluas 40 ribuan hektar ini adalah habitat utama Banteng, monyet abu-abu, merak, juga rusa. Pantainya menjadi area bertelur bagi beberapa jenis penyu: penyu hijau, penyu abu-abu, penyu belimbing, dan penyu sisik. Sekitar 80 ekor banteng pernah ditemukan ada di area ini. Banteng-banteng ini biasanya berkumpul di Savana Sadengan pada pagi dan sore hari untuk makan. Jadi, hari ini perhentian pertama kami adalah Sadengan. 






Saat tiba di sana kami melihat sekelompok banteng sedang merumput. Berdasarkan keterangan dari petugas, hari ini kami cukup beruntung karena dua hari terakhir ini enggak ada satu ekor bantengpun yang datang ke Sadengan. Senangnya memandangi banteng di savanna yang lumayan luas ini. Pengunjung hanya boleh memandang dari balik pagar pembatas atau dari atas menara pandang. Sadengan cukup luas langsung berbatasan dengan hutan. Selain banteng di Sadengan kami juga melihat rusa serta beberapa ekor merak. Nah, tepat tanggal 27 Desember TN Alas Purwo mengadakan acara pelepasliaran merak ke alam bebas.  Eniwei, fasilitas di TN Alas Purwo ini lumayan lengkap dan terjaga. Toilet relative mudah ditemukan dan bersih (kecuali yang ada di bangunan baru yang belum sempat digunakan di dekat gerbang masuk, enggak recommended banget).

Sadengan Panoramic



Puas memandangi Sadengan yang cantik, kami menuju Pantai Pancur. Konon pantai ini dapat nama dari sungai air tawar yang ada di dekat pantai. Menurut cerita mata air ini dulu sering dikunjungi Presiden pertama RI. 





Dari Pantai Pancur kami trekking ke Gua Istana. Kalau lihat petunjuk jaraknya sekitar 1.7K. Tapi dari GPS ternyata sekitar 1.95K. Jalur selebar sekitar 2m menuju ke sana cukup baik dan enak dilalui. Hanya beberapa tempat yang agak tergenang air (mengingat hujan turun selama 2 hari berturut-turut). Jalurnya juga cukup landai, hanya nanjak tipis sehingga enggak sulit dilalui. Titan sempat ngomel-ngomel tapi akhirnya dia berhasil juga. Ini latihan buat ke Ijen besok, Tan.
Menjelang mulut gua kami dikejutkan oleh beberapa ekor monyet abu-abu yang mendesis-desis ingin menyerang. Kami langsung melangkah mundur, seram. Beberapa bapak penebang kayu memberi kami potongan bamboo untuk mengusir dan kasih tahu kalau mereka mengincar makanan. Ternyata saya menyimpan potato chips di saku samping tas, dan mereka berusaha merebut itu. Menyebalkan. Saya pindahkan itu potato chips dan problem solved. Tongkat tambahan kami gunakan sebagai senjata pengusir. Banyak monyet abu-abu di mulut gua Istana dan jujur aja menakutkan lihat gigi mereka yang kecil-kecil itu. Kami enggak lama-lama di Gua Istana. Di dalam ada beberapa pengembara yang tidur. Katanya sih ini salah satu dari 3 gua di daerah Alas Purwo yang sering didatangi orang yang mau mencari wangsit.







Perjalanan pulang ke Pantai Pancur relatif lebih mudah karena jalannya lebih turun. Jadi kami jalan cukup cepat sampai dikomentari rombongan pengunjung lokal yang kami lewati di perjalanan. Tiba di parkiran kami langsung makan. Makan siang yang kami beli tadi pagi rasanya cukup enak dan ternyata berlebih banget.
Dari Pantai Pancur sebenarnya kami bisa menuju G Land alias Pantai Plengkung. Sayangnya ke sana enggak boleh pakai kendaraan sendiri, harus sewa trooper seharga 250k atau jalan kaki sejauh 7.5K. Plengkung adalah salah satu pantai dengan ombak terbaik dunia yang banyak digunakan untuk selancar. Kami enggak ke Plengkung karena ternyata di Alas Purwo ada penangkaran Penyu, tepatnya di Ngagelan. Ini lebih menarik. Jadi, selesai makan siang kami menuju Ngagelan. Letaknya seitar 5K dari arah gerbang masuk TN Alas Purwo. Kalau dari arah Pantai Pancur kami belok kiri masuk hutan sejauh 5K. Jalur masuknya relatif besar, cukup untuk 1 mobil dan motor. Jalan ke sana relatif sepi (siapa juga yang mau keluyuran ke sini). Kami melalui jalan tanah yang dipadatkan, jadi bukan jalur berbatu yang bikin badan sakit. Di kiri kanan jalan dinaungi pohon-pohon besar yang bikin suasana jadi teduh. Cahaya matahari menerobos celah-celah dedaunan membuat bagian perjalanan ini  terasa magical.




Sampai di Ngangelan, kami langsung bertemu dengan penjaga penangkaran. Di Pantai Ngangelan ini jadi lokasi bertelur 4 jenis penyu. Dari data yang dikumpulkan penyu yang paling banyak bertelur dan paling banyak survive adalah penyu abu-abu. Petugas penangkaran bercerita bahwa musim penyu bertelur adalah sekitar bulan Juni dan Juli. Begitu musim penyu bertelur petugas akan segera memindahkan telur-telur penyu ke tempat yang lebih aman sebelum dijarah monyet, anjing, atau manusia. Setelah 45 hari telur akan menetas menjadi tukik. Dari petugas juga kami jadi tahu bahwa penyu belimbing tidak  bisa dibiakkan di penangkaran. Begitu jadi tukik harus segera dilepas ke laut bebas.

Kami diajak melihat kolam pemeliharaan tukik. Ada 9 ekor tukik dan sekitar 20 butir telur penyu yang tersisa dari musim sebelumnya. Sengaja disisakan supaya ada yang bisa ditunjukkan saat ada pengunjung ke sini. Petugas menjelaskan bahwa jenis kelamin penyu baru bisa diketahui setelah usianya mencapai dewasa, sekitar 15 tahun. Penyu yang ditetaskan di sini diberi tagging, sehingga bisa diketahui pergerakannya, juga dikenali saat kembali bertelur di tempat ia ditetaskan. Ah, senangnya dapat banyak ilmu. Titan enggak berhenti nanya dan pak petugas menjelaskan dengan sabar. Semoga penyu-penyu ini tetap bertahan dan populasinya enggak semakin berkurang. Jika melihat penjelasan bahwa daya survivenya relatif rendah, sehingga populasi penyu sulit bertambah.




Puas di Ngangelan kami melanjutkan perjalanan ke hutan mangrove Bedul. Lokasinya 7K dari Ngagelan melalui jalur dalam hutan yang tadi. Jadi total kami menempuh 12K ke dalam hutan. Jalurnya masih sama hanya agak sempit. Agaknya jalur ini jarang dilalui kendaraan, sepanjang jalan kami banyak berhenti dan turun untuk menyingkirkan dahan-dahan yang agak besar karena kuatir membentur bagian bawah mobil. Enggak terlalu lama kami sudah tiba di Pos Penjagaan Hutan Mangrove Bedul. Guess what, rute kami terbalik! Hahahaha.

Mestinya kami masuk dari daratan di seberang, lewat pos pembelian tiket lalu menyeberang pakai perahu ke sini. Tapi sudahlah enggak apa-apa. Berhubung jalan memutar terlalu jauh, akhirnya kami putuskan bahwa mobil akan menunggu di sini sementara kami menyeberang ke hutan mangrove. Kami menyeberang bersama beberapa orang yang menjajakan ikan pakai sepeda. Perahu yang kami tumpangi sebenarnya 2 perahu yang digabungkan. Tarif penyeberangan 7.5k pulang pergi per orang. Sepanjang jalan kami mendengarkan obrolan para bapak dengan yang mengemudikan perahu sekalipun saya hanya mengerti satu dua patah kata saja. But, its peacefull. Suasananya hening sekali. Hanya suara mesin perahu menimpali obrolan mereka. Hutan mangrove Bedul ini masih termasuk kawasan TN Alas Purwo, tepatnya di antara Plengkung dan Grajagan. Bagian daratannya berbatasan dengan wilayah permukiman penduduk. Sepanjang kami jalan kaki banyak terlihat kepiting bakau dan ikan yang hidup di daerah lumpur (katanya ikan yang punya “kaki” ini disebut ikan bedul, itu sebabnya hutan mangrove ini namanya Hutan Mangrove Blok Bedul). Area hutan ini seluas sekitar 2300 ha, membentang sejauh sekitar 16K. Selama di sana saya banyak melihat burung bangau, dan memang burung bangau adalah salah satu jenis burung yang menghuni wilayah ini. Hewan lain yang bisa ditemui di sini antara lain biawak, monyet, elang laut, dan belibis.








Lepas dari sana kami kembali menempuh jalur hutan tadi untuk kembali ke Banyuwangi. Rencananya kami akan mengunjugi Desa Kemiren. Tapi sampai sana hari sudah gelap, jadi kami mampir di warung kemangi menikmati aneka jajanan khas Banyuwangi: serabi, kue kelemben (yang bentuknya kayak kura-kura), kue cucur yang masih hangat, gedang (pisang) goreng ditemani secangkir kopi khas Banyuwangi. Kami juga ngobrol-ngobrol sama Mas Edy, Ketua Pokdarwis Desa Kemiren. Kami janjian besok akan ke sini lagi melihat rumah adat Osing. Dari Kemiren kami makan soto Surabaya yang sedap banget. Setelah kenyang kami kembali ke penginapan.



Day #4
Hari ini agak santai, hanya akan ke Desa Kemiren trus beli oleh-oleh ke Muncar. Jam 8 pagi kami udah nongkrong di Kantor Desa Kemiren janjian sama Mas Edy. Kami langsung ke menuju rumah adat Osing. Suku Osing atau Using ini adalah salah satu suku asli Banyuwangi yang diyakini berasal dari Blambangan yang tersebar di wilayah tengah dan timur, antara lain Kec. Rogojampi, Glagah, dan Banyuwangi Kota. Desa Kemiren sendiri berada di Kecamatan Glagah. Orang Osing menyebut dirinya sebagai Wong Jawa Kulon. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menetapkan Suku Osing ini sebagai desa adat yang harus tetap mempertahankan nilai-nilai adat dan budaya Suku Osing. Dari cerita Mas Edy, kami tahu bahwa Pemkab memang fully support. Setiap tahun ada 5 rumah yang diajukan untuk direnov bagian fasadnya menggunakan fasad rumah adat Osing.





Ada beberapa hal unik yang kami temui di sini, misalnya dalam hal bahasa. Suku Osing banyak menggunakan diftong “ai”, misalnya: kopi dibaca kopai, bengi jadi bengai. Tradisi lain yang unik adalah tumpeng sewu. Acara ini diadakan sekitar bulan Dzulhijah dengan tujuan untuk menolak bala. Makanan yang disajikan biasanya pecel pithik (ayam panggang yang dibumbui kelapa serut dan bumbu khas Osing). Satu lagi kebiasaan yang masih dilakukan warga Osing adalah nginang. Saya bertemu dengan salah satu penduduk yang usianya sudah sangat sepuh. Berdasarkan hitung-hitungan, usianya lebih dari 90 tahun tapi masih sangat bugar. Pendengaran dan penglihatannya masih baik, juga ingatannya. Namanya Mbah Umi. Menurut keterangan dari beberapa warga, Mbah Umi ini sekarang yang paling sepuh. Sebelumnya ada warga yang paling sepuh meninggal di usia 125 tahun!


Sebagian besar warga Desa Kemiren bermata pencarian sebagai petani. Jadi ketika kami datang desanya relatif sepi. Di Desa Osing kami berkunjung ke rumah Ibu Nur. Ini sudah menjadi tradisi, jika ada pengunjung ke desa Kemiren akan diterima di rumah salah satu warga. Rumah warga Osing punya kekhasan sendiri. Bangunannya terdiri atas 3 bagian: depan (teras), tengah (tempat menerima tamu), bagian dalam untuk kegiatan keluarga (ruang tidur) dan dapur. Setiap bagian dibatasi dinding.
Di rumah Bu Nur, kami dijamu dengan penganan khas Osing: kerupuk sego (kerupuk nasi, gendar), keripik pisang, dan secangkir kopai. Nah, di sinilah saya usaha keras banget supaya enggak ngabisin itu kerupuk sego sampai tandas, rasanya enak banget hahaha.



 


Osing ini punya baju khas, kalau yang cowok pakai baju pangsi warna hitam dan dilengkapi udeng (sejenis ikat kepala), sementara yang wanita mengenakan kain dan kebaya hitam model kutu baru. Mas Edy membawakan kami baju itu untuk kami coba kenakan. Untungnya pas. Nah, waktu mau buat foto pencitraan mukul lesung (dulu sih beneran dipakai buat numbuk beras atau membuat tepung, sekarang digunakan untuk bagian dari hiburan musik lesung), eh ibu-ibu yang lagi pada ngobrol malah ikutan pegang lesung, jadilah kami bareng-bareng mukul lesung. Nah, kalau yang ibu-ibu sih pakemnya bener, kalau saya jelas buat kacau hahaha.






Setelah ngobrol-ngobrol dengan warga, kami pamit menuju ke pengolahan kopi Jaran Goyang. 
Di sini saya menikmati sajian ketiga kopi khas Banyuwangi. Berhubung hari sangat panas, maka pilihan cold brew rasanya sangat tepat. Sambil ngobrol, kami jadi tahu bahwa UMKM sangat disupport oleh pemerintah daerah. Contohnya dalam hal pembuatan logo dan desain kemasan, Pengolahan kopi ini disupport dalam membuat desain kemasannya. Kami melihat perubahan kemasan kopi Jaran Goyang dari masa ke masa.


Ada tiga jenis kopi di sini: arabika, arabika lanang, dan robusta. Untuk oleh-oleh saya membeli kopi arabika. 
Eniwei, cukup lama kami duduk di Kemiren. Menyenangkan lama-lama di sini. Rasanya damai. Terima kasih, Mas Edy yang sudah antar kami ke sini.

Dari Kemiren kami cari makan, diajak makan rujak soto. Jujur awalnya saya worry banget dengar namanya rujak soto. Kayak apaan coba. Rupanya, ini sejenis pecel/lotek pakai petis lalu disiram dengan kuah soto ayam. Rasanya, lumayan sedap, bumbu kacangnya jadi berkuah dan gurih. Titan sih nyaris abis makan ini hahaha.


Setelah makan kami ke Muncar, pengen beli ikan asin. Pelabuhan Muncar ini adalah salah satu pelabuhan nelayan. Di sini tersedia ikan asin dan ikan segar. Saya beli ikan asin jambal, rebon dan teri. Harganya wahh bikin ngiler. Ikan asin jambal di sini harganya cuman 60K sekilo. Coba kalau beli di Bandung hihihi.



Dari Muncar kami diantar kembali ke penginapan untuk istirahat. Malam nanti kami akan naik ke Ijen. Jadi, berupaya banget buat tidur supaya enggak ngantuk nanti malam.

Still to be continued ...

#exploringindonesia #exploringbanyuwangi #wonderfulindonesia #iloveindonesia #momandson #holiday #ilovetravel 

EXPLORING BANYUWANGI Part I

Banyuwangi? Ngapain ke Banyuwangi dan bukan ke Bali? Itu pertanyaan yang saya terima ketika saya memutuskan akan liburan akhir tahun di Banyuwangi.
Ya, kenapa Banyuwangi?
Here is the story.

Menjelang akhir tahun ini perasaan saya sangat enggak enak, kind of sad feeling actually. Rasanya saya kehilangan sesuatu yang selama beberapa waktu belakangan ini membuat hati saya terasa hangat. I need some times off. I need something untuk mengalihkan kesedihan saya. So, setelah browsing ke beberapa tempat, plus ada satu staf yang asli Banyuwangi cerita tentang asiknya di Banyuwangi saya putuskan beli tiket.

First thing, saya cek alternatif perjalanan ke sana. Ada beberapa pilihan rute dari Bandung menuju Banyuwangi: bisa jalur udara, darat, atau keduanya. Banyuwangi sudah memiliki bandara. Jadi sudah ada penerbangan ke sana, transit di Surabaya. Ada beberapa pilihan penerbangan dari Bandung menuju Banyuwangi. Penerbangan yang langsung ke sana: Citilink, Lion, Garuda. Citilink saya enggak cek jadualnya (karena baru tahu pas di Banyuwangi). Lion dari Bandung terbang pagi, transit di Surabaya lalu lanjut ke Banyuwangi, the same day. Garuda, terbang sore dari Bandung, transit semalam di Surabaya lalu lanjut ke Banyuwangi dengan penerbangan pukul 05.30 pagi. Berhubung Titan enggak mau pakai Lion, maka pilihan saya hanya Garuda atau lewat darat. Perjalanan lewat darat bisa ditempuh dengan kereta api. Tapi lamanya 30 jam. Wah, repot!!!

Akhirnya saya putuskan akan terbang dengan NAM Air ke Surabaya pukul 06. 00 pagi lalu dilanjutkan dengan kereta Mutiara Timur Siang (ada 2 perjalanan kereta ke Banyuwangi yang melalui Sidoarjo: Mutiara TImur Siang dan Mutiara Timur Malam) dari stasiun Sidoarjo. Saya memesan tiket ke Banyuwangi (tepatnya ke Kaliasem), mengingat itu stasiun terdekat dengan kota.
Tiket done, tinggal penginapan. Banyuwangi sedang bebenah untuk menjadi destinasi wisata utama, bukan sekedar lokasi transit buat pelancong domestik yang menuju Bali melalui perjalanan darat. Karena itu ada banyak pilihan penginapan di Banyuwangi. Namun, kali ini saya ingin sesuatu yang beda dan menenangkan. So I choose this one instead: Java Sunrise Homestay dan coba tebak, letaknya hanya sekitar 10 menit jalan kaki dari Stasiun Kaliasem. Harganya? Sangat amat murah, only 1350k for 5 nights! Perfect. Let’s packing!!

Day #1

Pukul 03.45 saya sudah terbangun dan langsung mandi serta bersiap menuju Bandara. Kami sudah siap berangkat, namun yang janji akan antar kami ke bandara enggak ada kabar dan enggak bisa dihubungi sama sekali, sementara waktu sudah hampir jam 05.00. Rasanya saya jantungan. Penerbangan NAM Air (btw, NAM Air yang dulu ada di bawah Sriwijaya Grup sekarang diakusisi Garuda, saya baru tahu ketika web check in ditanya apakah sudah jadi member GFF. This is cool, bisa nambah poin GFF dari Garuda, Citilink, dan NAM Air!) pagi selalu ontime. Pengalaman saya jam 5.30 paling telat kami sudah harus boarding sementara antri masuk di Bandara Husein itu selalu nyebelin. Lambat!

Buru-buru saya pesan taksi online, lucky us ada yang abis ronda masih kelayapan dan bersedia ngebut ke Bandara. Jam 05.15 kami berhasil tiba di Bandara, dan antrian masuk juga pendek, rupanya sekarang masuk enggak pakai cek x ray lagi (lagian aneh, kenapa juga harus 2x, mana lambat pula). Proses check in lumayan cepat, karena sebenarnya tinggal ngedrop bagasi. Pukul 05.25 akhirnya ada kabar: ketiduran. I don’t know apakah harus marah, sedih atau kecewa. Tapi, sudahlah, enggak ada waktu mikirin ini karena sudah dipanggil boarding. We run straight to the plane, karena sudah dipanggil boarding. Fiuhhh…let’s the trip begin, Ran.

Penerbangan pagi ini cukup nyaman, sekalipun udara agak mendung tapi enggak terlalu bumpy. Pukul 07.30 kami sudah landing. Selesai urusan bagasi kami menuju ke luar cari taksi buat ke stasiun. Nah, ini kesalahan pertama hari ini yang agak jengkelin. Saya pesan taksi di counter resmi, rupanya itu taksi carteran, sehingga jatuhnya mahal banget karena dihitung per zona. Udah kadung akhirnya pesan salah satu vendor taksi yang lebih murah (dengan perusahaan taksi biru itu selisih harganya 100k!). Ya sudah kami ke stasiun pakai mobil carteran dengan tarif 150K (padahal kalau pakai taksi konvensional paling 50k). Next time jangan buru-buru, bisa cari info dulu di bandara sebelum mesan taksi!

Kesalahan kedua adalah kami enggak sarapan dan enggak belok dulu ke tempat sarapan padahal ada soto surabaya enak dekat bandara. Sopirnya baru bilang setelah kita mau nyampe (kesal!!). Jadilah kami kepagian sampe stasiun. Udah gitu karena masih lebih dari satu jam menjelang keberangkatan, kami enggak bisa masuk stasiun. Stasiun Sidoarjo ini kecil mungil tapi ramai banget. Jadinya kami duduk menunggu di luar. Enggak terlalu nyaman karena itu selasar dekat pintu kedatangan penumpang, jadi ramai banget serta agak-agak bau got. Mau makan ternyata enggak ada tempat makan yang deket. Bah! Terpaksalah kami makan roti sebelahnya got.

1.5 jam kami menunggu, akhirnya bisa masuk stasiun juga. Di dalam sama ramainya. Ternyata kami satu kereta dengan mas-mas yang duduk sebelah kita di pesawat. Dia juga yang memberikan tempat duduknya di kursi tunggu stasiun karena ruang tunggunya sudah penuh. Alhamdulillah masih ada anak muda yang berbudi pekerti baik. Ketika saya tanya dia mau menuju Jember. Agaknya mahasiswa yang mau mudik liburan.

Tak lama kereta datang. Alhamdulillah, kami berangkat lebih cepat dari perkiraan. Keretanya bersih dan nyaman. Kami beli tiket eksekutif. Nyaman dan lega banget. Jalur di sepanjang perjalanan juga lumayan bagus, jadi enggak terlalu bosan. Dibandingkan dulu, makanan di kereta sekarang juga lebih baik dari segi rasa maupun penampilan. Karena belum sarapan, jadi kami brunch di kereta. Titan mesan nasi goreng dan cokelat panas, saya mesan nasi rames dan air mineral. All for 83K. Tapi itu belum cukup ketika sejam kemudian petugas restorka jalan-jalan menawarkan mie rebus yang hard to resist hahaha.


Menjelang Jember hujan turun. Wahhh awal perjalanan sudah gloomy begini. Tinggal sekitar sejam lagi kami tiba di Banyuwangi. Kiki (staf yang asli Banyuwangi) mengabari kalau sejak hari Minggu Banyuwangi diguyur hujan deras. Hari Minggu malah hujan turun sudah sejak pagi.
Pukul 15.05 kami tiba di Karangasem saat gerimis masih turun. Tak lama kami dijemput dan langsung menuju penginapan. Homestay tempat kami akan tinggal selama di sini hanya berjarak sekitar 700m dari stasiun. Posisinya di dalam gang di tepi sawah. Kamar kami tepat berbatasan dengan sawah di samping dan belakang. Hmmm…kayaknya damai bener nih. Tempat tidur dikelilingi kelambu (hahaha seumur umur kami baru tidur pakai kelambu. Lucu nih kayaknya.




Rencananya sore ini kami akan makan ayam betutu, tapi sudah enggak mungkin nyebrang ke Gilimanuk. Akhirnya Pak Bowo, our driver, bawa kami ke Ayam Betutu Mbak Timah di Klatak. Tempatnya kecil tapi ramai banget. Kami memesan satu ekor ayam betutu goreng. Dan ketika disajikan, ayam betutu dari ayam kampung yang empuk banget dengan bumbu meresap sampe ke dalam dilengkapi lalapan bayam rebus dan kol, plus kacang tanah goreng langsung kami santap. Rasanya? Wahhh, warbyasahhhhh. Pertama makan ayam betutu yang basah di Bali saya enggak suka, sehingga malas lagi makan ayam betutu. Tapi yang ini? Sedap benerr, saya nambah nasi sampai 2x (ini lapar, kalap, apa doyan?). Titan, walau agak kepedesan tapi dia menghabiskan nasi dan ayamnya. Dia bilang enak banget. Could’t agree more, Son!


Abis itu kami jalan-jalan ke Pantai Boom yang ada di kota. Pantai ini salah satu tempat nongkrong warga. Sekalipun pasirnya hitam (katanya di sini khasnya, pantai yang di kota pasirnya hitam), tapi cukup bersih dan cukup nyaman. Di seberang berbatasan dengan Bali, sementara di belakang kami dipagari Gunung Ijen dan Gunung Raung yang menjulang. Cuaca agak mendung tapi tetap terlihat cantik.




Dari sana kami kembali ke homestay, tapi mampir dulu pengen nyicip tahu walik. Tahu walik ini tahu sejenis tahu pong yang sudah digoreng, lalu dibalik dan diisi adonan sejenis isian batagor lalu digoreng hingga kering. Harganya 7k per porsi (saya lupa isinya 10 apa 20), dilengkapi dengan sambal kacang. Rasanya enak banget ternyata, apalagi kalau dinikmati hangat-hangat. Kata Titan maap ya, Titan ngabisin banyak hahahaha.



Kembali ke penginapan kami mandi (tetep ada air panas koq), dan bersiap tidur. Di kamar enggak ada tv jadi yang kami dengarkan sepanjang malam adalah suara nyanyian kodok dan jengkerik. Heaven!!!




Day #2
Bangun pagi karena suara pengajian dari masjid. Ah, di Bandung saya jarang dengar ini karena kebanyakan suara lain. Abis shalat Subuh saya ke luar, ternyata sudah benderang! 
Sunrise kesiangan dari samping kamar

Kami mandi dan bersiap sarapan. Titan pengen mie goreng, ternyata yang disajikan adalah indomie goreng. Waduuuh, kacau. Titan mah senang saya yang pusing, gawat ini. Sarapan enggak kami habiskan karena too greasy dan kayaknya terlalu berat. Tapi secangkir kopi hitam kental cukup bikin mata saya melek. Oke, kita berangkat.
Tujuan pertama pagi ini Djawatan. Lokasinya di Benculuk, Kec. Cluring. Perjalanan kami tempuh sekitar 45 menit dari penginapan. Area milik perhutani yang ditanami dengan pohon trembesi ini awalnya adalah tempat numpuk kayu jati yang sudah ditebang. Dengan penataan, pohon-pohon trembesi yang usianya udah tua ini jadi lokasi yang instagramable banget. Saya membayangkan kalau cuaca cerah, sinar matahari pagi yang menembus celah-celah pohon akan memberikan efek yang keren banget. Berhubung cuaca pagi ini masih sendu, matahari masih malu-malu banget sehingga efek itu enggak kami dapat. But, still, tempat ini keren abis.



Puas foto-foto di sini kami lanjut ke Taman Nasional Meru Betiri yang sebenarnya berada di wilayah Kabupaten Jember, tapi aksesnya bisa dari Banyuwangi. Perjalanan ditempuh sekitar 1.5 jam melalui hamparan kebun buah naga dan jeruk di sepanjang jalan. Banyuwangi memang salah satu produsen utama buah naga dan jeruk di Pulau Jawa. Saya sempat beli 3kg buah naga kualitas supermarket dengan harga hanya 9k/kg! Murah dan rasanya enak. Katanya, yang jenis ini hanya menggunakan pupuk alami, tanpa urea.


Akses jalan ke Meru Betiri surprisingly cukup mulus. Hanya sedikit jalan yang berlubang. Sampai di gerbang kami beli tiket masuk seharga 7.5k/orang dan tiket mobil seharga 10k. Perhentian pertama adalah Pantai Rajegwesi. Pantai berpasir putih ini adalah salah satu tujuan wisata warga. Dari Rajegwesi kami menuju Teluk Ijo. Ada 3 pilihan rute menuju ke Teluk Ijo: lewat air dengan harga tiket perahu 35k/org pulang pergi, tracking sekitar 2KM lewat jalan setapak, atau pakai ojek motor dengan harga 10k/ trip. Tentu saja kami pilih lewat air. Setelah urusan tiket selesai, kami naik ke perahu yang sudah ditunjuk pengelola (enaknya semua resmi sehingga enggak ada pungli). Perahu segera bergerak membelah pantai yang ternyata ombaknya cukup besar. Pakaian kami basah kuyup terguyur ombak. Sementara Kiki berdoa banyak-banyak (rupanya dia trauma naik perahu karena pernah mati mesin di tengah-tengah laut!). Menjelang Teluk Ijo saya jadi tahu dari mana teluk ini dapat nama, airnya memang hijau tosca gelap. Luar biasa cantik. Sekalipun teluk, namun ombak di sini cukup besar, sehingga pengunjung dilarang berenang. Agak lama kami main-main di sini sambil menunggu antrian perahu kembali ke Rajegwesi. Pantai pasir putihnya lembut untuk diinjak, udah gitu bersih pula.











Kembali ke Rajegwesi kami cari makanan. Alhamdulillah ada satu tempat makan yang menyajikan makanan cukup variatif. Saya mesan 2 ekor ikan goreng, 2 porsi udang, nasi, minuman, 2 porsi capcay hanya habis 96K! Udah gitu rasanya juga enak banget. Puas deh.

Sebenarnya kami ingin lanjut ke Sukamande melihat penangkaran penyu. Jaraknya sekitar 8KM dari Rajegwesi. Namun, akses ke sana enggak boleh dilalui kendaraan pribadi, jadi harus sewa jeep seharga 800k. Mahal banget, akhirnya saya putuskan batal saja
Perut kenyang kami lanjutkan perjalanan ke Pantai Pulau Merah. Pulau Merah ini sebenarnya adalah gundukan tanah yang mengandung mineral tembaga yang karena teroksidasi sehingga tanahnya berwarna merah. Karena musim hujan, tanah merahnya jadi enggak kelihatan, ketutupan tumbuhan jadi hijau. Di area ini juga kabarnya terdapat cadangan emas. Cadangan emas yang luar biasa besar ini letaknya ada di bawah laut.
Oke, kembali ke Pantai Pulau Merah. Pantainya berpasir putih, halus, dan ramai banget. Ombak yang enggak terlalu besar memungkinkan pengunjung untuk berenang, selama tidak melewati batas aman yang sudah ditetapkan. Untuk menjaga pengunjung berenang di lokasi aman, penjaga pantai mengawasi dari menara pengawas dan mengingatkan secara kontinu agar pengunjung berada di zona renang (jangan bayangkan life guard seperti Baywatch ya).


Hari ini saya meminta diantar untuk makan ikan bakar di Blimbingsari. Di sini kami beli 1.5kg ikan seharga 140K. Ikannya lumayan sebenarnya, tapi tempat enggak recommended. Banyak serangga dan agak berbau kutu busuk. Saya jadi enggak tenang dan Titan makan sambil kuatir.  Kami kembali ke Penginapan saat hari sudah sangat gelap. Time to sleep listening to the voice of the singing frog.

To be continued ...

#exploringindonesia #exploringbanyuwangi #wonderfulindonesia #iloveindonesia #momandson #holiday #ilovetravel