Monday, 4 January 2021

Titan ke Gunung Putri

 

Hari terakhir liburan akhir tahun. Sudah tanggal 3 Januari 2021.

Saat kami ke Lembang Park and Zoo tiba-tiba kami punya ide buat nginep di Sapulidi Resort. Jadi sampai rumah saya langsung browsing, masih ada kamar tersisa atau enggak buat tanggal 2. Alhamdulillah dapat kamar terakhir, satu kamar menghadap ke danau buatan.

Tanggal 2 siang kami berangkat ke arah Lembang. Jalanan agak padat tapi enggak macet-macet banget. Satu jam kami sudah tiba di lokasi. Sambil menunggu check ini kami makan siang dulu di restonya. Pas jam 14, kami langsung check in dan semprot-semprot kamar dulu pakai desinfectan (berhubung masih pandemi dan ini pertama kalinya kami nginep di luar, kami juga berbekal seprai dan selimut, plus setrika buat nyetrika handuk hahaha).

Abis bongkar-bongkar isi koper, kami nongkrong di luar. Eh ada bapak-bapak yang bersih-bersih nawarin buat keliling pakai perahu. Si Titan mah kesenengan. Ya sudah kita keliling danau kecil itu pakai perahu. Asik juga, suasananya hening banget. Berasa jauh dari kota.




Abisan keliling-keliling saya dan Titan jalan kaki lihat-lihat sekitar sampe balik kamar lagi dan ada yang teriak lapar. Alamakjaaan. Tadi disuruh makan yang bener katanya kenyang. Jadilah mengandalkan babang gofood kami mesan kebab.

Menjelang malam kami siap2 buat melapisi kasur dengan seprai dari rumah. Dingin sudah mulai berasa, apalagi ditambah hujan. Rencananya sih pengen tidur cepet supaya besok pagi bisa jalan pagi-pagian.

 Bangun pagi-pagi telat dong. Ini bocah susah banget disuruh bangun. Walhasil kami baru keluar hotel jam 7 lewat. Pas masuk jalan raya Lembang macet pula. Akhirnya parkir di pasar buah, nitip mobil ke tukang parkir, trus kami pakai taksol menuju titik jalur naik ke Gunung Putri.

Naik ke G. Putri jalur masuknya bisa dari Jalan Gunung Putri yang ada di seberang gubuk Mang Engking. Kami mulai jalan, jalurnya nanjak gak berenti-berenti, mana udah panas pula. Si Titan pagi ini naik sambil manyun, akhirnya emaknya sambil ceramah pula, udah ngos-ngosan masih pake ceramah.

 


Lagi ngos-ngosan eh tetiba ada yang bilang, punteeen dari atas motor. Halah rupanya salah satu i92 trekker nyusul tapi pakai motor (fyi team awug trekker anggun 1 lagi jalan juga menyusuri Jayagiri ke Benteng Jayagiri baru turun ke G. Putri. Saya memilih rute G. Putri saja karena rute yang dipilih team 1 terlalu jauh buat Titan). Akhirnya kami jadi bertiga (nyonyanya Ntop ikut jalan kaki) naik ke atas dan Titan sempet pasang wajah memelas minta dibonceng sama Ntop, tapi akhirnya dengan penuh ketabahan dia sampe juga ke atas jalan kaki! Way to go, Tan. You made it.

Sebenernya naik ke situ hanya 2,4 K dengan elevasi 244m. Cuman ya lumayan sih mana jalurnya lewat jalan beton berasa banget panasnya. Baru dapat hutan pinus setelah masuk ke area Wana Wisata Geger Bintang Matahari. Di hutan pinus juga sudah dibuatkan trek beton jadi udah relatif mudah.


Akhirnya kami sampai juga di atas. Alhamdulillah, angin kencang menerpa dari segala arah. Tapi view dari atas memang keren. Puncak Tangkubanperahu dan Burangrang terlihat jelas. Menurut legenda, Gunung Putri ini lokasi persembunyian Dayang Sumbi ketika dikejar oleh Sangkuriang. Dari sinilah Sangkuriang yang nekad naksir emaknya menendang perahu buatannya hingga terbalik dan voila … jadilah Gunung Tangkubanperahu.








Di atas sini cukup datar sehingga disukai oleh para camper. Ketika kami naik banyak camper yang turun dengan segara perlengkapannya. Di atas juga masih ada camper yang melanjutkan buaian angin dan udara yang segar. No wonder kalau weekend katanya di atas sini ramai sangat.

Kami enggak lama di atas, selain karena dingin juga karena lapar. Saya dan Titan belum sarapan ketika berangkat tadi. Jadilah kami turun ke gerbang masuk dan minum bandrek plus menikmati pisang goreng hangat. Titan? Dia sih mah bahagia banget dibolehin makan mie rebus. Nuhun ditraktir, Ntop.



Tangkubanperahu tetanggaan sama Burangrang


Akhirnya, setelah kenyang kami turun. Ntop dan Nyonya melanjutkan momotoran, kami nikreuh sampe titik awal tadi. Alhamdulillah langsung dapat angkot. Jadilah berdua Titan naik angkot ke Lembang. Karena males muter, akhirnya kami turun di pertigaan lembang, lalu jalan kaki ke arah pasar buah. Ternyata perkiraan jarak saya meleset jauh, jadilah kami jalan kaki di panas menyengat sejauh 1K hahaha maap ya, Tan (dia enggak tau kalau kudu jalan sejauh itu hihihi)..

Tapi alhamdulillah, akhirnya nemu ATM (horee ada duit lagi), trus bisa belanja sayuran dan ketan bakar di pasar buah. Dari itu kami makan di Rumah Kayu Taiwan. Alhamdulillah lagi, pas kami ke sana rombongan goweser pas ke luar jadinya relatif kosong. Gak pakai ba bi bu cincau lemon, cincau kacang merah, tim tahu bawang putih, dan tekwan plus gorengan kami santap. Kenyaaaang. Abis itu baru kami langsung pulang. Udah gak pengen mampir-mampir lagi. Cita-citanya mandi dan meluruskan kaki (meanwhile team anggun 1 masih entah ada di mana dan baru tiba di Gunung Putri ketika kami tiba di rumah).



Alhamdulillah. Liburan sudah usai. Saatnya kembali mencangkul cari rejeki lagi.Btw, kenapa sih ekspresi wajahmu begitu, Tan?

Negeri di Awan di Kawasan Timur Bandung

 

Setelah sehari sebelumnya menyiksa kaki di Jayagiri, pagi berikutnya saya menyiksa kaki di kaki Manglayang. Janjian sama teman-teman SD buat jalan ke dermaga pandang yang terdapat di Batu Kuda, tepat di kaki Manglayang. Jam 5 pagi saya dan Titan sudah nangkring di Cibiru, menunggu teman lain. Enggak lama pada muncul jadi kami langsung lanjut ke rumah salah satu kenalannya Inu buat nitip mobil.

Urusan parkir mobik kelar, kami lanjut perjalanan pakai motor. Sebenernya mobil kalau berani nyetirnya bisa naik sampai parkiran. Tapi ketimbang kusut mendingan pakai motor aja. Berboncengan 3 motor (Ani yang lagi ultah bawa motor sendiri, saya dibonceng Aris, Titan dibonceng Inu, plus satu anak buahnya Inu) kami naik ke atas. Jalurnya berkelok kelok dan relatif sempit, untung enggak nekad nyetir ke sini.

15 menit perjalanan kami tiba di parkir Wana Wisata Batu Kuda. Masih sepi dan masih gelap. Baru juga jam 6 pagi hahaha. Di atas ada beberapa kemah, suasana hening dan dingin.


Setelah beli tiket (10k/orang, dibeliin Inu hahaha), kami mulai naik ke arah gardu pandang. Di bawah kami melewati hutan pinus. Jalannya menanjak terus. Lumayan juga ini otot paha rasanya terbakar. Abis nanjak-nanjak kemarin, pagi ini jaraknya enggak terlalu jauh, paling antara 1-1,5K dari  tempat parkir tapi terjalnya ampun.

Kami sempat berhenti di beberapa titik, sembari meredakan detak jantung dan napas yang tersenggal. Makin ke atas terlihat pemandangan di bawah makin cantik. Makin semangat buat nyampe ke gardu pandang di atas sana.










Dengan terseok seok akhirnya kami sampe juga, lumayan 30 menitan lah jalan ke atas.  Dan sampe atas memang pemandangannya absolutely breath taking. Negeri di atas awan. Kabut bergelayut manja di atas hamparan bukit dan gunung yang mengelilingi Bandung. Angin bertiup, dingin. Hening dan damai. Sementara matahari masih malu-malu menampakkan dirinya (padahal sudah terbit).


Sembari menunggu kabut terangkat kami sarapan. Inu all out membawa bekal: pizza, zuppa sup, kopi. Semua masih hangat dan mengepul ngepul.




Agak lama kami di atas, enggak puas rasanya memandang keindahan dari kejauhan. Melihat kabut terangkat dari arah Kamojang, melihat Papandayan, melihat timur kota Bandung dari kejauhan. Indah luar biasa.












Pukul 8 kami turun ke arah hutan pinus. Di sana kami bongkar peralatan. Lengkap, tenda, terpal, sampe hammock ada. Makanannya dari ikan asin, sambal, bawang goreng, ikan tongkol, sampai lalap ada. Liwet tinggal dipesan dari si ibu warung.










Sambil ngobrol cerita segala macam (eniwei, kami baru kumpul dan jalan2 begini setelah 34 tahun berlalu. Dulu kami berteman masih anak-anak piyik sekarang sudah beranak pinak. Lucunya enggak ada canggung-canggungnya, just like an old friend should be. Sementara si Titan sudah bahagia mengakuisisi hammock seharian.



Menjelang jam 11 liwet datang. Pas sudah lapar langsung kami sikat. Nikmatnya makan liwet panas dengan ikan asin. Abis makan masih lanjut ngobrol-ngobrol (pakai acara pindah tempat karena puanasnya sudah menyengat). Jelang jam 12 siang baru kami turun kembali ke parkiran dan langsung ke lokasi parkir mobil.

Thanks, guys. Ini menyenangkan sekali. Its been fun, kalau kata Titan mah.

 

Wana Wisata Batu Kuda ini berada di kawasan Ujung Berung. Akses masuknya berada di Desa Cibiru Wetan tepatnya di Jalan Sadang (sekitar 200m dari Tugu Batas Kota). Dari sana kendaraan roda empat masih bisa lewat hingga ke parkiran Wana Wisata Batu Kuda. Di sana pengunjung bisa kemping atau sekedar berjalan-jalan. Fasilitas kemping ada toilet yang cukup bersih tapi gelap banget (entah enggak ada lampunya entah karena itu siang jadi enggak dinyalain tapi di dalamnya gelap gulita jadinya). Untuk makan bisa bawa kompor gas portabel dan perlengakapan masak portabel atau pesan nasi liwet di warung di lokasi parkir. Untuk mendaki sampai puncak dibutuhkan waktu sekitar 2,5 jam-4 jam tergantung kecepatan dan kekuatan hahaha.