Thursday, 5 March 2015

TITAN DAN TRAVELLING: INDONESIA ITU INDAH, YA

Indonesia itu indah sekali. Ya, saya sangat menyadari itu ketika mendapat kesempatan travelling ke berbagai tempat di Indonesia dalam rangka tugas. Di sela-sela tugas saya menikmati (sekaligus curi-curi) kesempatan untuk menikmati keindahan Indonesia. Karena itulah saya bertekad ingin mengunjungi kembali tempat-tempat yang sudah pernah saya kunjungi atau tempat-tempat yang sejak dulu saya ingin kunjungi. Namun, kali ini saya ingin menikmatinya bersama putra semata wayang saya, Titan.

Sejak Titan masih bayi, saya menularkan semangat cinta Indonesia saya dan kegemaran travelling saya ke Titan. Dan ternyata, kini dia menikmatinya juga. Sebelum genap berusia 40 hari, Titan saya sudah ajak keluyuran hingga Sukabumi. Tentu saja dia belum mampu menikmatinya. Tapi saya sangat berharap semangat itu dia warisi sejak dini. Ketika dia mulai menapakkan kakinya, saya mulai berani mengajak dia pergi ke tempat yang lebih jauh. Di awali dengan perjalanan ke Anyer dan Pangandaran (itu trip terjauh pertama Titan), lalu Garut, Bandung (this is our hometown), Ambarawa, Cirebon, Bromo, Batu, Surabaya, Belitong, Lampung, Banda Aceh, dan Sabang kami jelajahi bersama. Nggak cuman alamnya, tapi juga kulinernya.

Kami menikmati keindahan alam mulai dari angkasa menjelang pendaratan hingga ke bawah laut. Belum sampai ke laut dalam memang, namun untuk saya dan Titan ini sudah luar biasa. Dari awal terbang Titan takut luar biasa, sekarang dia sudah bisa menikmati indahnya pemandangan dari angkasa saat landing di daerah tujuan dan bilang: "ibu, lihat keren banget yaaa". Dari yang masih takut-takut nyemplung ke air hingga akhirnya harus dibopong paksa instruktur selam agar dia mau keluar dari air dan naik ke speedboat untuk pulang.

Sambil berjalan-jalan menikmati keindahan Indonesia (termasuk menjajal nikmatnya makanan khas setiap daerah yang kami kunjungi), tidak lupa saya menyelipkan pengetahuan budaya, sains, dan sejarah. Kini, Titan tahu yang namanya tsunami itu seperti apa dan apa dampaknya. Dia juga tahu kalau lumba-lumba itu suka melompat di air dan punya suara yang unik. Titan juga tahu kalau gajah itu adalah hewan cerdas yang bisa melakukan berbagai hal termasuk membantu manusia (dia melihat atraksi gajah di Way Kambas dan melihat peranan gajah saat membantu membereskan Tanah Rencong yang porak poranda akibat tsunami). Titan tahu kalau dunia bawah laut itu menakjubkan (dan dia sebal sekali melihat foto2 saya sewaktu snorkeling di Pulau Lengkuas dan ikut intro diving di Pulau Rubiah). Dan dia tahu kalau ayam tangkap serta durian dan kupi gayo itu rasanya luar biasa enak (untuk ini saya senang sebab berhasil membuat dia makan durian!)! Dia paham kalau gempa di bawah laut bisa menyebabkan tsunami (tentu saya belum ajarkan magnitude dan kedalaman gempa padanya). Dia tahu kalau dia area gunung berapi ada bau-bau seperti kentut itu disebabkan oleh belerang (tapi setiap kali menciumnya dia lupa lagi namanya). Satu lagi, dia tahu kalau Indonesia itu memiliki beragam bahasa (dialek paling dia suka adalah khas Belitung: nak kemane....).
Yang pasti saya semakin yakin kalau putra saya sangat cinta Indonesia seperti ibunya. Seringkali dia bersenandung lagu Yamko Rambe Yamko atau Cublek-Cublek Suwong atau Ampar-Ampar Pisang. Walaupun saya belum berhasil mengajarkan satupun lagu berbahasa Sunda, tapi saya bangga karena dia nggak cuman suka Kati Peri atau One Direction tapi dia juga suka dengan segala yang berbau Indonesia. I'm proud of you, Son. 
Next destination: Bali. Cita-cita berikutnya: InshaAllah kalau ibu ada rejeki, sebelum ke pulau lain kita jelajahi bagian lain dari Sumatera. Sumatera Utara dan Barat sepertinya menggoda. 
Naik Jukung ke Teluk Kiluan untuk mencari lumba-lumba. Sekalipun hujan dan di tengah laut, Titan tak gentar!


 Museum kereta di Ambarawa
Balohan Hill-Sabang

My Travelmate always, Balohan Hill-Sabang

Tanjung Pandan, before landing

Bersiap menuju Pulau Rubiah-Pantai Iboih, Sabang

Banda Aceh from above, just before landing

Menjelang Kawah Bromo

Bromo, Pananjakan. Just as the sun rise

Selalu bahagia menanti penerbangan

Leles-Garut

Meski pada awalnya takut, akhirnya dia berani juga tunggang gajah di Way Kambas, Lampung

Kampung Sumber Alam, Cipanas, Garut

Kawah Putih, Ciwidey

Membajak kursi nahkoda kapal cepat. Sesaat setelah berlabuh di Banda Aceh dari Sabang

Danau Kaolin, Belitong

Museum Angkut-Jatimpark-Batu, Malang

Biarpun nggak ikut diving yang penting gaya dulu. Pantai Iboih, Sabang.

Sok ikutan snorkeling. Somewhere menuju Pulau Lengkuas, Belitong.

Titan di Kiluan

Di depan Museum Lampung


Dari atas Mercu Suar di Pulau Lengkuas, Belitong. Mercu Suar setinggi 65m (18 lantai) ini dibangun sekitar tahun 1800

Bersiap naik perahu menuju Pulau Burung Mandi di Belitong

Menikmati mie aceh Rajali dan segelas teh tarik

Museum Tsunami, Banda Aceh

Perkenalan pertama dengan laut: Pangandaran Beach

Di atas kapal cepat menuju titik terbarat Indonesia, Sabang.

Masak, yuuuuk. Rumoh Aceh

Bahagianya nyemplung di perairan Pulau Rubiah, Sabang.

Ini pemandangan di bawah air yang buat dia nggak mau beranjak naik dari air. Pulau Rubiah, Sabang

Merhatiin Pak Ami, instruktur diving menyiapkan perlengkapan, ScubaWeh, Pantai Iboih

Melihat pemandangan kota Banda Aceh dari PLTD Apung

Mainan air laut, baru mau dipaksa naik setelah hujan turun dengan lebatnya (Titan: 2yo)

Akhirnya dia berani kasih saweran buat gajah favoritnya di Way Kambas, Si Joni

Pangandaran Beach (2yo)

Sesaat setelah mendarat di Tanjung Pandan, Belitong

Finally we made it. Titik nol Indonesia. Inilah titik yang menjadi salah satu judul lagu nasional Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke.......(doa kami adalah agar suatu saat kami bisa melihat tugu kembarannya di Merauke sana)....

Thursday, 8 January 2015

Just another trip (part 1) #latepost

Lebaran kali ini kami sudah membuat rencana getaway. Tadinya. Tapi, gara-gara masalah paspor-nya Titan yang belum ada, akhirnya lepas sudah tiket dengan tanggal yang sudah dibidik.
Akhirnya terburu-buru mendaftar buat paspor. Untungnya dengan adanya sistem online lumayan membantu. Gak perlu pakai antri, walau tetap harus datang 3x karena Imigrasi Depok belum bisa sehari jadi spt Jaksel, akhirnya Titan punya paspor juga.
Begitu dapat nomor paspor langsung saja buru-buru booking tiket. Hasilnya, dapet agak mahal dengan jam berangkat dan pulang yang nggak enak banget! Kerennya, begitu dapat nomor paspor, ternyata untuk booking tiket, nomor paspor hanya diperlukan untuk penumpang dewasanya saja. Alamaaak, coba waktu dapat tanggal yang pas langsung book kan sudah lumayan dapet tiket harga murah. Tapi, sudahlah, show must go on. Tiket PP untuk tiga orang booking sudah: Tiger Air Bandung-Sing (Bandung pula dapetnya karena dari JKT harganya udah amit2) confirmed. Setelah itu my travelmate menyusul dengan book hotel di Singapore.
Beberapa hari setelah booking tiket, tiba-tiba ada pengumuman kalau Tiger Air Indonesia bangkrut! Astaga...langsung panik kami coba nelpon call center. Nggak berhasil. Akhirnya kirim email ke CS Tiger Air minta konfirmasi plus refund (harap2 cemas karena ternyata masih bisa dapet tiket dari maskapai lain dengan jadual yang jauh lebih enak). Ehhh, ternyata untuk tiket kami nggak masalah karena bukan dikeluarkan oleh Tiger-Mandala, tapi dari Tiger Air yang di Singapore. Antara lega dan kecewa karena niat mau ganti tiket jadi batal hihihi...
Saat yang dinanti datang juga. Permohonan cuti sudah oke, Subuh-subuh sopir sudah datang. Kami bersiap untuk ke Bandung. Setelah rombongan lengkap kami meluncur masuk tol yang lancar jaya. Suasana liburan sudah mulai terasa mengingat minggu ini adalah minggu terakhir kerja sebelum lebaran. Anak sekolah sudah mulai libur.
Setibanya di Bandung masih ada urusan kerja. Begitu kelar kami menuju BTC untuk makan siang (saya sih masih puasa), sekalian cari tukang cukur buat Titan. Rambutnya sudah gondrong. Akhirnya nemu juga itu tukang cukur anak-anak, meskipun pake antri tapi akhirnya Titan berangkat dengan potongan rambut baru.
Sebelum berangkat, cukur duluuuuuu
Jam 14 tepat kami tiba di Bandara. Inilah kali pertama menginjakkan kaki di Bandara Husein Sastranegara. Bentuknya? Astaga seperti terminal di kota kecil. Sangat semrawut #seharusnyabandungpunyabandarayanglebihrepresentatifdeh. Masuk terus bingung mau ke mana, gak jelas. Padahal bandaranya hanya sekuprik.
Kami belum bisa check in. Untuk penerbangan kami, check in baru buka jam 15.00. Alamaaak satu jam kami nangkring di depan counter check in. Mana banyak rombongan mau tour pula. Rame gak karuan. Sepanjang menunggu, Titan yang njleprok di depan conter malah digodain sama embak2 petugas check in dan pemandu tur (halahhh, anakku masih kecil mbaaaa).
Antrian untuk pemeriksaan imigrasi

Siap-siap antri

Lama-lama menggelosor..Pegel ya, Nak?

Akhirnya jam 15 kami kelar check in, dan begitu masuk ruang tunggu langsung disambut ruang tunggu yang penuhhhhh oleh rombongan TKW yang mau berangkat ke Timteng. Ruamenya gak karuan. Sempat mengobrol dengan salah satu TKI  yang masih muda dan berasal dari Bima..Ah, sakit hati, cerai muda, tidak mendapat kesempatan sekolah, dan kemiskinan tetap menjadi alasan mereka mengadu nasib di negeri orang. Goodluck ya para mbak...semoga dapat majikan yang berperikemanusiaan di sana....

Akhirnya jam 17 kami dipanggil boarding. Alhamdulillah. Pengalaman pertama naik Tiger Air. Enak juga pesawatnya besar, ruang antar kursi juga lebar. Crew pesawatnya lumayan ramah dan sigap, tapi bau pesawatnya agak aneh. Penerbangan ke Sg berjalan lancar, walau ada beberapa kali yang bumpy sampe Titan agak takut.

Pukul 19 kami landing di Changi. Titan terkagum-kagum lihat bandara yang segini gede (jangan bandingkan dengan Bandung ya...). Langsung saja dia mau ngabur sana ngabur sini pengen liat segala macam. Urusan imigrasi dan bagasi sangat lancar (bandara sangat sepi, entah karena bukan high season atau karena udah agak malam).

Dari bandara menuju hotel kami memutuskan untuk pakai taksi mengingat sudah agak malam dan kasian Titan. Kami menginap di area Bugis. Sepanjang jalan Titan masih kagum-kagum lihat kota yang rapi dan nggak macet...

Tiba di hotel yang kamarnya kecil mungil, kami keluar lagi cari makan. Saat itu sudah larut, jadi sudah banyak yang tutup. Akhirnya kami memutuskan makan di sebuah resto kecil yang menyediakan makanan chinesse dan Thai. Salad mangganya alamaaakkkkk segarrrrr.

Pagi kami bangun dengan kepala sedikit pusing. Kurang tidur karena AC kamar yang luar biasa dingin dan somehow susah sekali diubah set temperaturnya. Tapi, walau begitu rencana harus tetap berjalan. Dan ternyata sesuai perkiraan hari ini mulai juga gak puasa (jadual sudah disesuaikan hahahaha). Jam 8 pagi kami sudah menyusuri jalan. Tujuannya Albert Centre tapi pake nyasar jadi kami berjalan berlawanan arah dengan tujuan. Sejam kami baru sampe di tujuan yang seharusnya hanya 10 menit saja jalan kaki dari hotel.
Tapi, akhirnya fishball noodle kesampaian juga, dan Titan berhasil dapat bubur phitan. Segelas besar susu kedelai menutup sarapan pagi itu. Sedaaap. Skarang siap jalan-jalan.

Tujuan pertama: Bugis Junction. Alamaaak salah tempat. Langsung deh beli oleh-oleh. Dari keripik sayuran sampe kitkat rasa greentea sampe tas kain buat oleh2 anak2 kantor. Hahahahaha buanyakkkk seperti mau buka toko di Depok aja. Dari Bugis Junction kami balik ke hotel, hanya melempar belanjaan saja. Abis itu kami lanjut ke Mustafa Centre. Kali ini kami menggunakan MRT.
Awalnya Titan takut sekali pakai MRT. Tapi, lihat suasana di stasiun yang bersih dan menyenangkan akhirnya dia seneng juga. Malah dia bilang pakai MRT asik, cepat, dan enak. Dia malah senang karena boleh masuk pemeriksaan tiket sendiri (abis itu tiket diambil lagi takut ilang).
Sampe di Mustafa Centre langsung pusing, liat segitu banyak barang. Tadinya mau cari sepatu tapi ternyata harganya gak jauh beda dengan di sini. Jadi males ah. Tas juga begitu. Akhirnya ke counter obat dan beli Balsem Tiger dan Minyak Kwan Loong yang terkenal itu, buat nyokap hihihi. Dan akhirnya 2 botol green tea Elizabeth Arden masuk tas belanja...

Dari Mustafa Centre, kami terpaksa balik hotel lagi karena belanjaan yang banyak. Sebelumnya kami makan siang dulu di mal seberang Mustafa Centre. Kelaparan sudah. Titan sudah mulai kelelahan karena jalan lumayan jauh dan panas yang luar biasa menyengat. Tapi,. begitu jalan lagi lupa sudah lelahnya.

Dari hotel kami kembali ke stasiun MRT, untuk ke arah Marina. Tujuan sore itu ke Marina, Titan ingin lihat patung singa yang ada air mancurnya a.k.a Merlion. Sampai sana masih lumayan terang dan belum terlalu ramai. Kami masih bisa foto agak tenang. Abis itu datanglah rombongan berbaju kuning satu bis. Ruameeee!!!

Dari Merlion kami menyusuri jalanan ke arah Marina Bay Sands. Singapore ini hebat, kota kecil tapi semua sudut kotanya ditata rapi dan bisa dijadikan paling enggak untuk sight seeing. Satu hal yang menyenangkan adalah teratur, rapi, dan bersih. Sayangnya biaya hidup di sini mahalnya minta ampun. Kata Titan: Titan suka deh ke sini, bersih, Gimana kalo kita pindah ke sini aja, Bu? Alamaaakkkkkkkkk, mana ibu sanggup...

Senja mulai temaram, tadinya kami mau masuk Garden by the Bay tapi sudah terlalu gelap. Titan sudah merengek capek sampe minta gendong. Lapar dan lelah membuat kami memutuskan cari makan di Marina Bay Sands supaya sekalian dekat dengan stasiun MRT. Akhirnya seporsi bento salmon nyaris habis Titan makan. Kami harus segera pulang. Esok pagi perjalanan kami lanjutkan menuju Johor. Legoland...





Mencari sekolah buat Titan

Tahun depan, Titan akan masuk SD. Rasanya nggak berasa bayi kecil yang 6 taun lalu kutimang-timang sudah beranjak besar. Perjuangan hunting sekolah pun dimulai.
Pencarian diawali dengan searching memanfaatkan embah google plus bertanya kiri kanan termasuk membaca postingan blog-blog para orang tua yang juga mencari SD di seputaran Depok.
Lumayan panjang perjalanan sampai menemukan 2 nama sekolah: SIT Al Haraki dan Sekolah Alam Semut-Semut.

Membaca review mengenai kedua sekolah ini, akhirnya awal bulan Oktober mulai survey. TPas datang ke Semut2 saya jatuh cinta dengan sekolahnya. Suasananya menyenangkan. Saya yakin Titan pasti akan langsung suka. Tapi, ya ampun, ternyata waiting listnya sudah panjang. Titan dapat waiting list nomor 37. Rasanya agak berat.

Dari sana saya langsung menuju SIT Al Haraki. Sekolahnya bagus, dan dari informasi yang saya dapat dari seorang teman suasana belajarnya cukup menyenangkan. Alhamdulillah siang itu saya bisa bertemu dengan kepala sekolahnya, jadi bisa bicara banyak tentang kegiatan pembelajaran di sana termasuk nilai-nilai yang diajarkan ke anak-anak. Saya juga suka dengan visi misi sekolah ini. Tapi, lagi-lagi kuota yang masih available terbatas dan pembukaan pendaftaran baru akan mulai sebulan lagi.

Mulai lah kepala pusing mencari alternatif pengganti. Sampai seminggu kemudian, ketika antar Titan latihan tae kwon do, salah seorang ibu temennya Titan cerita kalau anaknya di SDIT Bina Kheir dan anaknya nyaman di sana. Sekolah ini berafiliasi dengan SDIT Lazuardi, jadi more or less kegiatan dan visi misinya hampir sama. Setelah tanya-tanya macem-macem siang itu juga saya ke sana. Langsung sama Titan. Sekolahnya kecil, tapi suasananya cukup menyenangkan.Titan yang saat itu ikut langsung suka (gara-gara ada mainan sejenis outbond di depan sekolah hihi). Alhamdulillah masih dibuka pendaftaran. Langsung deh beli formulir.

Seminggu kemudian, saya ditelp oleh SDBK, Titan dipanggil observasi dan wawancara. Ini adalah wawancara dan observasi pertama untuk Titan. Alhamdulillah berjalan lancar dan seminggu kemudian, ditelp lagi, Titan diterima, alhamdulillah (dan emaknya harus segera bayar booking fee....). Alternatif sekolah buat Titan udah beres. Sambil harap-harap cemas menunggu 2 sekolah lain.

Awal Desember, ternyata Titan dipanggil Semut-Semut. Akhirnya, Titan juga menjalani observasi dan wawancara di Semut-Semut. Tapi, jujur saya kecewa karena: pertama, waktu observasi dan wawancara di hari kerja. Jujur saja itu membuat saya pontang panting. Terlebih jadual wawancara dan observasi di hari yang berbeda. Demi anak, saya jalani saja. Observasi sepertinya lumayan lancar. Kedua, waktu wawancara. Alangkah sedih, kesal, dan kecewa saya karena yang lebih banyak ditanyakan adalah "status" saya, bukan visi, harapan, atau alasan saya memasukkan Titan ke sekolah ini. Wawancara ini membuat saya benar-benar seperti diadili. Sedih, kalau ternyata penilaiannya agak aneh: anak yang berasal dari keluarga broken home akan susah dididik. Sepertinya koq ya penilaian yang buru-buru dan tidak adil.
Sejak wawancara itu saya sudah agak berubah pendirian, Sekalipun Titan cukup ngotot kalau diterima tiga-tiganya dia pilih sekolah ini.

Selang seminggu, Titan  menjalani observasi dan wawancara di Al Haraki. Saya agak cemas mengingat bentuk observasinya kayaknya ribet dan pesertanya banyak banget. Sekalipun peserta dibagi dalam 2 hari tetap saja ramai sekali. Tapi, Alhamdulillah sepertinya Titan nggak tidak mendapat kesulitan berarti. Tinggal menunggu hasilnya akhir bulan.

Saat pengumuman datang hampir berdekatan: semua diterima. Harus diskusi sepertinya. Saya bicara banyak dengan Titan mengenai wawancara dan semuanya. Sampai akhirnya kami sepakat, Titan memilih sekolah lain. Alhamdulillah, Titan paham alasannya dan alangkah luar biasanya ketika sehabis itu dia membuat resolusi sendiri: akan belajar dengan rajin dan mengurangi main games. Alhamdulillah, siapa yang bilang anak dari keluarga yang tidak utuh tidak bisa jadi hebat?
Setelah yakin dengan pilihan, saya segera mengurus administrasi, semua harus dibayar dimuka (dan hilang sudah uang booking fee.....). Tapi, inshaa Allah kami yakin kami sudah memilih yang terbaik untuk Titan. Mudah-mudahan semuanya berjalan baik dan Titan menikmati pembelajaran di sekolahnya kelak. Selamat jadi siswa SD anakku. Ibu akan selalu mendoakan dan mengusahakan yang terbaik untukmu.

Wednesday, 17 September 2014

say no to bulying

Pagi tadi Titan cerita kalau di sekolahnya dia ada  teman yang suka nonjok dan dorong teman lain. Deg..rasanya kaget sekali. Dia bilang dia pernah didorong sampai nangis. Saya bilang Titan untuk melawan, dia bilang takut. Temannya ini badannya besar katanya. Sambil nyetir saya jadi mikir.
Selama ini saya ajarkan Titan supaya tidak jadi anak yang kasar, tidak boleh main pukul sembarangan. Tapi dalam kondisi begini sepertinya malah jadi dilema.
Akhirnya saya bilang, kalau kamu didorong atau dipukul kamu boleh balas. Tapi bukan berarti kamu balas-balasan. Kamu harus bela diri sendiri dan harus berani. Jangan takut kalau badannya besar, besar bukan berarti kuat. Ibu yakin Titan bisa koq. Saya juga tegaskan kalau dia TIDAK boleh memukul atau kasar sama ade kecil yang ada di sekolah dan daycare, karena mereka belum mengerti. Kalau mereka pukul-pukul kamu menjauh saja. Lebih baik kalau melapor sama guru atau bundanya di sekolah. Kata Titan kepala sekolahnya sudah bilang kalau ada yang pukul-pukul akan dipanggil ke ruang kepala sekolah.
Ah, satu PR lagi buatku, mengajarkan Titan menghadapi bulying di sekolah.
Pagi ini sudah kumulai. Sambil meluk dia di mobil di parkiran depan sekolah, saya bilang Titan harus berani bilang tidak pada teman yang kasar. Berani bilang TIDAK pada siapapun yang menyentuh badan kamu apalagi sampai meminta kamu buka baju.
Harus berani lapor sama kakak atau bunda di sekolah dan sama ibu. Kalau ada yang jahat kamu lari sambil minta tolong.
Aduh, semakin ngeri. Tahun depan dia masuk SD, begitu banyak kekuatiran. Jadi kepikiran memasukkan dia latihan bela diri. Minimal supaya dia lebih PD. Ya Allah, lindungi selalu putraku...

Thursday, 4 September 2014

sedikit curhat sore ini

Memang jadi ibu yang bekerja itu sulit. Terutama bagi ibu tunggal yang jauh dari sanak keluarga dan harus bekerja. Tantangan untuk bisa tetap bekerja namun tetap bisa mengurus anak itu sama sekali nggak mudah. Beberapa kali saya mengalami disepelekan teman sesama ibu yang mengganggap kalau hidup saya enak-enak aja. Well, just walk in to my shoes and you'll know what i mean.

Belakangan ini berita mengenai child abuse begitu marak, bahkan bukan hanya terjadi di rumah tapi sudah merambah sampai daycare dan sekolah. Setelah saya kehilangan pengasuh Titan yang setia menemani hingga harus resign karena melahirkan, saya tidak pernah lagi mendapat pengasuh yang cocok. Sampai akhirnya saya nekad memasukkan Titan ke daycare. Awalnya penuh rasa kuatir, tapi alhamdulillah Titan berada di daycare yang "ramah anak". Bahkan hingga saat ini, salah satu bunda dari daycare pertama Titan sudah seperti ibu kedua baginya (biasanya jadi tempat menginapTitan saat saya harus tugas ke luar kota).

Kembali ke child abuse di daycare dan sekolah jujur saja membuat saya merinding. Sampai saya pernah menyampaikan kekuatiran saya kepada kepala sekolah sekaligus kepala daycare yang menjadi tempat Titan menghabiskan siang hingga hari ini. Saya mempercayakan putra saya di sana untuk belajar, bermain, dan merasa aman. Kepala sekolah menjamin, saya yang setiap hari mengantar dan menjemput Titan tahu dan kenal siapa saja yang ada di sana. Tapi, bahkan hingga hari ini saya masih tetap merasa kuatir dengan keselamatan putra saya di sana. Setiap kali memandikan Titan saya sekalian mengecek apakah ada luka atau hal yang tidak biasa. Saya juga masih terus mengingatkan dia pentingnya menjaga diri dan tidak membiarkan siapapun menyentuh bagian pribadinya kecuali orang tertentu. Saya membiasakan dia untuk sampaikan apa saja yang ia rasa: sakit, kesal, senang, sedih supaya dia tahu bahwa dia bisa mengandalkan saya dalam kondisi apapun.

Tetap, rasa kuatir masih belum bisa beranjak dari hati dan pikiran saya. Ada banyak pikiran "andai...andai.." di kepala saya. Tapi akhirnya, saya kembalikan pada Allah untuk menjaga saya dan putra saya. Saya rasa ini adalah juga bagian dari perkembangan dan pertumbuhan jiwa saya dan putra saya. Kalau semuanya selalu berjalan sesuai keinginan mungkin kami tidak belum bisa mencapai tahap ini sekarang. Saya yakin Allah akam memberikan yang terbaik buat kami berdua, despite of everything..

Tuesday, 2 September 2014

ngajarin Titan baca itu sesuatu...

Mengajari Titan membaca itu sesuatu banget.
Kalau dulu anak belajar baca gangguannya mungkin nggak semengerikan sekarang. Tapi, zaman sudah berubah, tantangannya makin mengerikan.
Titan, produk zaman canggih yang sudah kenal aneka gadget, harus belajar membaca.
Awalnya adalah gara-gara dia harus bersiap untuk test masuk SD. Tadinya saya bersantai karena ingin membiarkan dia puas bermain. Tapi, ternyata setelah googling sana sini dan ngobrol sana sini dengan beberapa orang tua, masuk SD harus pake test. Alamaaak....kan harusnya di SD anak baru mulai belajar beneran. Itupun kalau kelas 1 harusnya masih main-main.
Nah, akhirnya mulailah "maksa" Titan buat baca.
Pertama, mengajar kata menggunakan kartu huruf, dadu huruf, sampai membuat kartu huruf sendiri supaya bisa mengenalkan membaca dengan kata yang dia suka.
Hasilnya? Masih kurang.
Kemudian saya membeli buku yang katanya mengajarkan anak membaca cepat. Hasilnya, saya sendiri bingung dengan pemilihan kata yang acak dan sulit. Ini yang nulis kayaknya nggak pernah make buku ini buat ngajarin anaknya sendiri. Bayangan anak yang belajar baca dengan kata yang banyak menggunakan konsonan dobel -ng, -ny dan kata yang lebih dari 3 suku kata plus rumit itu bikin Titan pasang wajah memelas.

Akhirnya, metode nekad coba-coba digunakan. Pakai tablet. Titan suka gadget. Jadi, belajarnya gak pakai buku. Awalnya saya hanya mengetik huruf-huruf secara acak untuk mengingatkan dia akan bentuk huruf (masih suka kebalik-kebalik soalnya). Lama-lama masuk ke kata dan akhirnya kalimat sederhana 3-4 kata. Susunan kata yang mudah dibaca dan bermakna. Saya akhirnya tahu, kalau anak lebih mudah membaca kata yang dimulai dengan konsonan diikuti vokal, bukan sebaliknya. Jadi, itu dulu yang saya coba. Alhamdulillah hasilnya lumayan. Setiap malam, targetnya 10 kalimat.

Semalam sudah mulai dicoba membaca kalimat dengan kata yang lebih rumit, kata yang dimulai dengan huruf vokal. Agak sulit, tapi gak boleh nyerah. Bukan hanya Titan yang nggak boleh nyerah, emaknya juga. Walaupun terkadang dia berurai air mata karena antara harus belajar dan pengen nonton...

Tuesday, 26 August 2014

sebuah pengingat

Sungguh, usia itu rahasia Ilahi. Tak ada seorangpun dari kita yang tahu kapan akan dipanggilNya.
Beberapa hari yang lalu seorang yang sudah kuanggap ayah meninggal. Berita ini cukup mengejutkan mengingat pertemuan terakhir yang rasanya menyenangkan.
Ah, betapa rasa kehilangan itu kemudian juga mengingatkanku pada rasa kehilangan belasan tahun lalu ketika aku kehilangan ayahku. Sekalipun saat itu kami sedang berseteru, tapi tetap saja kehilangan itu membuatku limbung.
Rasa kehilangan itu juga yang kemudian seperti sebuah lecutan, pengingat untuk mempersiapkan diri dan orang terdekat saat tiba saat dipanggil menghadapNya. Satu yang masih membuatku takut: putraku. Semoga Allah masih memberikan waktu untukku menyiapkan diri dan putraku...
Rasa kehilangan itu yang membuatku lebih bersyukur atas segala berkah, kemudahan, dan kebahagiaan yang sudah kuperoleh hingga saat ini.
Rasa kehilangan itu yang kemudian semakin menguatkan tekadku untuk menjadi lebih baik. Membuat perubahan yang semoga akan menjadi awal yang jauh lebih baik.
Bismillah, kumulai langkah baruku menjadi manusia yang lebih baik. Semoga Allah meridhai setiap langkah, helaan napas, untaian kata, pemikiran, dan untaian doaku....