Sunday, 26 March 2017

Yogya, a place i could also called home

Selain Bandung, Yogya juga termasuk salah satu kota favorit saya. Berkali-kali datang ke sini, saya merasa seperti berada di Bandung. Feels like home. Kali ini saya ingin berbagi perasaan yang sama dengan putra saya. We're off to Yogya.

Jum'at pagi kami sudah berada di bandara untuk terbang menuju Yogya. Despite untuk persiapan yang serba buru-buru karena saya juga baru kembali dari tugas luar kota, perjalanan ini sangat kami nantikan. Kejenuhan dan kelelahan otak membuat saya ingin melarikan diri sejenak dari keriuhan. I guess Yogya would be the perfect place.



Jam 9.30 kami sudah tiba di Yogya. Segera setelah dapat driver dan mobil kami menuju Upside World di dekat bandara. Tempat ini menarik, seperti melihat dunia dengan persepsi yang lain. Seperti namanya, semua yang ada di tempat ini diletakkan secara terbalik. Awalnya saya bingung gimana bikin fotonya sehingga seolah-olah kita yang jumpalitan. Tapi, asiknya tempat ini adalah setiap tamu akan didampingi pemandu yang akan membantu mengarahkan gaya sekaligus ambil foto kita. Jadinya, hasilnya bagus. Walaupun jasa mereka sudah include dalam tiket (harga tiket masuk usia 10 tahun ke atas 50K, anak2 30K), jangan pelit untuk bagi tips ya.


Dari Upside World, perut yang sudah bernyanyi keroncongan mengajak kami cari makan. Siang ini saya niat banget makan di House of Raminten di Kalibaru. Begitu masuk ke dalam kami disambut mas dan mba pelayan yang pakai jarit dan T shirt plus wangi dupa yang lumayan menyengat. Berhubung siang itu di sana cukup ramai, kami dapat tempat di dekat pintu masuk persis depan tempat sesaji. Menu yang ada di House of Raminten unik2. namanya aneh2. Saya memesan nasi gudeg komplit, monster (lemon sereh), bakwan jagung, es krim bakar buat Titan, dan nasi ayam plus es tape buat driver. Begitu terkejutnya, makan sebanyak itu hanya habis 92K ajah!!! Bayangkan kalau itu di Depok hahaha.


Abis makan tadinya kami pengen ke Taman Sari, tapi sayangnya sudah tutup. Akhirnya karena juga sudah sore kami ke Trick Eye and D' Arca Museum di XT square. Di sana isinya juga foto2. Sayangnya pengaturannya kurang asik karena ada beberapa ruang motret yang terlalu sempit dan petunjuk untuk berfoto hanya mengandalkan foto kecil di setiap lukisan 3D, jadi kudu rada mikir. Ketika suasana ramai jadi susah juga berfoto di sini. Tapi, asik juga sih karena lukisan 3D nya keren2. Mas dan mba yang jaga juga lumayan baik kalau diminta bantuin foto. Ada 2 musium lukisan 3D plus 1 musium patung lilin. Tiketnya lumayan juga, untuk terusan harganya 100K. Musium patung lilinnya model2 Madame Tussaud, tapi ya gak banyak koleksinya dan kalau pendapat saya masih kurang mirip hehe. Yang unik di situ adalah patung Spiderman pakai blangkon.




Dari XT Square kami menuju Tempo Gelato di depan Hotel Pandanaran di Prawirotaman. Gerai es krim yang mungil ini, ramai oleh anak2 muda terutama. Menu utamanya apalagi kalau bukan es krim. Saya mesan small cup (2 flavour) ice cream seharga 20K. Saya pilih yoghurt dan Raspberry. Rasanya? Segarrrr. Titan pilih cornetto vanilla dan nutela flavour. Sedapnya sedap banget deh. Puass banget harga segitu dapat es krim uenakkkkk.


Maghrib kami menuju hotel, hanya check in dan shalat maghrib. Abis itu diantar ke Alun-Alun Lor untuk menikmati bakmi jawa favorit saya, Bakmi Peleh. Saya sangat suka makan di sini karena suasananya. Lesehan depan gedung sekolah, makan bakmi (favorit saya bakmi nyemek), sambil denger trio pengamen yang kalau nyanyi lagunya serius, enggak asal-asalan. Kalau mau kita juga bisa request lagu. Koleksi lagunya lumayan banyak koq. Dari lagu jadul sampe lagu yang baru ada.
Malam itu kami tiba saat di sana belum terlalu ramai, jadi masih bisa dapat tempat duduk. Namun, tetep aja kami menunggu sekitar setengah jam sampai pesanan kami tiba. Dan suasana yang enak membuat saya menyikat 2 porsi bakmi!!!! (lupakan diet).

Setelah kenyang makan, kami kembali ke hotel naik bentor (bukan hanya Medan yang pakai betor ternyata) di tengah rinai hujan. Berdua Titan tertawa-tawa sepanjang jalan merasakan percikan hujan ke wajah kami. Ah, sungguh penutup hari yang seru!

Pagi berikutnya dengan sedikit usaha, Titan dibangunkan. Pagi ini kami akan menuju Borobudur. Rencananya kami berangkat jam 7 pagi. Walau agak terlambat akibat ada pergantian driver, perjalanan menuju Magelang lancar nyaris tanpa kendala. Kami tiba di Borobudur jam 08.30. Kami langsung menuju candi agar tidak terlalu panas.  Sepanjang jalan dari gerbang masuk, Titan tanya banyak hal tentang candi. Saya jelaskan seingat dan yang setahu saya. Semangat, sampai dia lihat bahwa Borobudur itu menjulang tinggi. Mulai mengkeret melihat deretan anak tangga. Akhirnya, dengan janji cerita di setiap level pelataran candi, dia semangat naik ke atas hingga mencapai puncak stupa. Akhirnya sih dia senang banget berhasil naik ke atas, dan takjub ketika tahu bahwa Borobudur dibangun dengan tangan manusia tanpa akat berat seperti alat bangunan masa kini. Dia takjub ketika tahu bahwa setiap pahatan menggambarkan satu cerita tertentu. Dia bilang yang bangun candi ini hebat, dan Allah luar biasa hebat karena menciptakan manusia yang bisa buat candi.



Dari Borobudur kami menuju Blabak. Niatnya mau makan kupat tahu Blabak yang terkenal itu. Sayangnya, dari sekian banyak penjual yang ada di Blabak tujuan kami makan di Dompleng gagal total karena tutup. Akhirnya driver menyarankan di Pak Man. 2 porsi kupat tahu dihidangkan untuk saya dan Titan. Suapan pertama yang luar biasa!! Dengan cepat seporsi itu pindah ke dalam perut. Bahkan Titan yang baru pertama kali makan kupat tahu magelang bilang ini enak sekali.
Pak Man, adalah keluarga penjual kupat tahu magelang yang salah satu saudaranya membuka kupat tahu Pelopor. Itu katanya yang tertua di Magelang. Rasa bumbu yang segar dan pas ditambah dengan tahu goreng yang crunchy di luar tapi lembut di dalam plus kol goreng yang nikmat membuat sendok demi sendok masuk perut dengan sukses. Sempat mengobrol dengan Pak Man dan istrinya. Dua orang tua yang ramah dan tekun menjalankan usaha yang sebelumnya dijalankan di Mertoyudan. Kami beruntung datang saat belum tiba waktu makan siang, jadi sempat mengobrol dengan Pak Man. Semoga usahanya selalu lancar dan berkah ya, Pak.




Dari Blabak kami lanjutkan perjalanan menuju Pakem. Rencananya ingin ikut tour Merapi yang pakai jeep. Kami mendapatkan jeep dari Granata Tour. Wilis hijau buatan tahun 1940 yang udah protolan. Titan sempat seram melihat jeep yang gak ada pengamannya. Tapi, dengan perjalanan dia malah menikmati sangat. Kami dibawa menyusuri Kali Opak, Desa Pethung yang sudah ditinggalkan seluruh penghuninya, melihat sisa-sisa amuk Merapi, hingga naik ke Kaliadem. Jalan yang dilalui adalah jalan batu yang penuh dengan guncangan dahsyat. Yang saya bayangkan adalah wilayah yang dulu penuh dengan penduduk kini hanya berupa lahan kosong berumput. Sisa-sisa letusan Merapi menghasilkan pasir sehingga banyak ditambang.



Langit semakin mendung, dan rinai gerimis memaksa kami buru-buru kembali ke base camp. Tepat di base camp hujan menderas, menghantarkan kami turun ke arah Kaliurang. Cita-cita minum kopi di Klinik Kopi gagal gara2 tempatnya belum buka. Akhirnya kami turun melewati Ringroad dan ngupi di Nox Coffee Boutique di sebelah Natasha Skin Care. Tempatnya juga kopinya enak banget. Secangkir Tropical Coffee (turunan Americano dikasih jahe dan cinnamon) itu cocok dinikmati kala hujan.

Dari coffeeshop kami lanjut mencari gudeg. Cita-cita saya adalah makan gudeg pawon, tapi ternyata tempatnya baru buka jam 10 malem. Rasanya agak berlebihan makan gudeg jam 10 malem itu. Akhirnya melipir ke Wijilan dan makan di Gudeg Hj. Ahmad instead of the famous Yu Djum. Seporsi gudeg lengkap dengan ayam suwir dan telur nggak pakai lama langsung masuk perut. Ya ampuuun, ini rasanya 2 hari di Yogya isinya makan...makan...dan makan!

Menjelang maghrib kami diantar ke hotel. Yogya diguyur hujan lebat. Rencana jalan ke Malioboro terpaksa ditunda menanti hujan mereda. Jam 7an kami jalan ke Malioboro. Tempatnya masih seramai dulu, tapi atmosfernya udah gak sama. Gak lama kami di sana kami balik ke hotel pakai becak karena gerimis kembali mendera. Di depan hotel saya melipir ke satu kedai kopi. Sambil menunggu pesanan tiba saya mengobrol dengan pengelola tempat itu yang lagi asik melukis gunungan di salah satu pintu. Lumayan lama kami bicara tentang wayang dan filosofi gunungan yang dia buat.
Di tengah rinai hujan, duduk di atas bekas peti kemas saya menikmati kopi tarik yang dibuat dari Temanggung Wine. Kagetnya saya pada tegukan pertama terasa sekali aroma fermentasi, a bit winey. Rupanya benar dugaan saya, sang pemilik kedai yang ternyata duduk di luar menjelaskan bahwa Temanggung Wine ini adalah signature product kedai kopinya. Sambil gelap-gelapan karena Earth Hour, kami ngobrol banyak seputar kopi. Hasilnya, balik ke hotel saya memboyong Toraja yang diseduh dengan Cold Brew (saya membayangkan menikmatinya dingin-dingin saat hari panas. Pasti sedap sekali. Saya juga memboyong Golden Jayawijaya yang baru saja digiling, wangi cokelat kopi meruap dari bungkusnya. Hmmm...ini bisa jadi oleh-oleh yang menyenangkan untuk seorang yang suka kopi, harusnya.

Ini hari terakhir di Yogya. Hujan turun deras sejak semalam. Mendera menerpa jendela kamar kami menimbulkan suara riuh yang membuat mata enggan terlelap. Rencana hari ini kami akan ke Prambanan sebelum menuju Solo.
Sebelum ke Prambanan, saya minta diantar ke Pathok dulu, ingin lihat pembuatan bakpia. Jadi, diantarlah saya ke Pathok ke Bakpia 25 melihat pembuatan bakpia. Ah, melihat senyum ramah juga mendengar sapaan hangat pada pekerja pembuat bakpia membuat pagi yang hujan ini terasa hangat.
Hujan masih menderas saat kami lanjutkan perjalanan menuju Prambanan. Menjelang Prambanan hujan agak mereda, hingga saya putuskan tetap ke Prambanan di tengah rinai gerimis. Nggak nyaman sih, becek dan repot.
Entah kenapa tiba-tiba iseng untuk membuat foto dengan baju tradisional Jawa dan berpose depan Prambanan. Nggak pakai pikir panjang kami langsung ambil tiket foto pakai kostum tradisional dan tadaaa....walau pagi gerimis kami tetap tersenyum manis dengan kebaya kutu baru. Lihat gaya Titan megang keris ala megang light saber itu bikin saya ngakak pagi-pagi. Hanya sebentar kami di Prambanan karena hujan ternyata makin deras. Kami segera kembali ke area parkir sambil ambil foto di pintu keluar. Ah, Yogya semakin jauh di belakang kami.



Sore ini kami sudah tiba di Solo. I miss the atmosphere already, hampir sama rasanya seperti kalau baru kembali dari Bandung. We'll come there again someday.




Wednesday, 22 March 2017

Life is a series of choices

Life isn't series of coincident event. Hidup itu bukan rangkaian kebetulan. Hidup itu, mengutip ucapan seseorang ketika mengobrol beberapa waktu lalu, adalah hasil dari serangkaian pilihan. Pilihan-pilihan yang membentuk diri kita sehingga seperti sekarang ini. Yes, we make some bad choices, and some good ones. Tapi, saya juga yakin sebenarnya yang disebut bad choices itu, untuk saat pilihan itu ada, mungkin itu yang terbaik.

Terlepas dari itu semua, kembali ke premis awal, hidup adalah rangkaian pilihan. Ketika dihadapkan pada dua atau beberapa pilihan, terkadang cara terbaik adalah mengikuti kata hati. Tapi, itu jika logika sudah tidak lagi menemukan kemungkinan masalah yang akan timbul dari pilihan itu, alias risiko minimum. Tentu saja semua pilihan punya risiko masing-masing. Besar dan kecil risiko tersebut tergantung dari cara kita menyikapinya. Ya, bisa jadi besar jika kita mengganggap semua hal baru sebagai beban. Bisa jadi biasa saja jika kita menganggap masalah atau kesulitan adalah hal biasa dalam hidup. Take courage, for courage is not the absent of fear, but the triumph over it.

Saat ini saya sedang menghadapi dua pilihan. Jika saya ambil pilihan pertama, maka risiko terbesar saya adalah hidup saya berjalan as usual, tidak ada perubahan berarti, dan mungkin menjauhkan saya dari beberapa harapan saya. Jika saya ambil pilihan kedua, maka saya akan menghadapi banyak hal baru yang bisa membuat warna hidup saya lebih banyak. Tentu risiko di balik itu juga besar, karena itu akan mengubah seluruh alur hidup saya. Namun, entah mengapa kata hati saya malah berkata ya. Entah mengapa seolah-olah banyak hal yang tiba-tiba jatuh di tempat yang tepat, mengarahkan saya untuk ambil pilihan kedua yang disodorkan tanpa terduga sama sekali. Seperti kepingan puzzle, semua menempati posisi yang pas.

Saya tahu, butuh keberanian besar untuk mengambil langkah ini. Dan somehow, entah kenapa juga di pagi kamis yang gerimis ini saya bisa tersenyum manis mendengarkan isi lagu lama yang tiba-tiba bolak balik di kepala saya...


Heart, don't fail me now!
Courage, don't desert me!
Don't turn back now that we're here
People always say, life is full of choices
No one ever mention fear!

Or how the world can seem so vast
On the journey to the past

Somewhere down this road
I know someone's waiting
Years of dreams just can't be wrong!
Arms will open wide
I'll be safe and wanted
Finally home where I belong

Well, starting now. I'm learning fast
On this journey to the past

Home, love, family there was once a time I must had have them too
Home, love, family..
I will never be complete until I find you...



Hanya tinggal 1 keping terakhir yang harus saya pastikan masuk di posisi yang tepat. Jika kepingan itu kemudian tidak membuat puzzle hidup saya terasa tepat, maka saya tahu akan pilih yang mana. Heart, don't fail me now!

Monday, 2 January 2017

Jalan-Jalan ke Tebing Keraton

Saat libur tahun baru lalu, saya akhirnya berkesempatan juga pergi ke Tebing Keraton. Sebelumnya saya benar-benar penasaran dengan tempat ini gara-gara lihat banyak fotonya di sosmed.
Jam 7.30 kami berangkat dari Jalan Riau, menuju Dago Pakar. Awalnya sih lancar-lancar saja. Jalanan masih sepi, agaknya masih banyak yang terlelap setelah berpesta tahun baru semalam. Sampai di area terminal Dago jalanan mulai ramai oleh pesepeda. Jalanan yang kecil, menanjak curam, ditambah dengan banyaknya pesepeda membuat saya benar-benar kerepotan nyetirnya. Sempat kepikiran takut mundur hahaha.

Di pintu masuk Dago Pakar saya tanya-tanya kepada petugas. Kata petugasnya, untuk menuju Tebing Keraton masih harus menempuh jarak sekitar 10 km, dengan kondisi jalan yang semakin kecil, dan semakin curam. Di area Tebing Keraton tidak ada lokasi parkir, jadi parkir di tepi jalan (di Warung Bandrek namanya). Saya jadi mikir, untuk menuju ke pintu masuk Dago Pakar saja setiap berpapasan dengan mobil lain harus melipir-melipir.

Akhirnya setelah menimbang beberapa hal (termasuk kemungkinan membawa krucil untuk hiking sejauh itu), saya putuskan pakai ojek saja. Namun, alangkah terkejutnya saya, ketika si tukang ojek menawari ojek PP seharga 100.000 per ojek (mau pingsan!). Harga itu termasuk diantar ke Gua Belanda dan Gua Jepang. Setelah kaget mereda, saya coba tawar menawar hingga disetujui harga 70 ribu per ojek (saya minta 3 ojek) PP. Sementara tiket masuk Tahura 10 ribu per orang plus 12 ribu untuk parkir mobil. Baiklah, ini mah judulnya mahal di ojek.

Tapi, jujur saja saya nggak nyesel juga naik ojek, jalan ke sana memang nanjak curam dan tidak terlalu bagus, masih ada bagian jalan yang tanah berbatu. Sepanjang perjalanan ada ratusan pesepeda yang mengayuh dengan penuh semangat. Bau kopling mobil menyeruak di antara wangi pepohonan. Untung nggak nyetir ke sini, pikir saya saat melihat beberapa kendaraan sempat mati mesin di tanjakan.
Sekitar 15 menit pakai ojek akhirnya sampai juga ke pintu masuk Tebing Keraton. Kata Titan rasanya naik ojek tadi sakit (maaf) pantat dan mabuk darat. Ini adalah perjalanan pakai motor paling jauh dan paling seram buat dia. Kami turun dari ojek, dan menuju Tebing Keraton, tukang ojeknya menunggu kami selesai jalan-jalan. No wonder mahal biaya ojeknya, soalnya hitung-hitungan selama menunggu kami, mereka nggak ambil penumpang lain.

Walaupun masih pagi, namun di lokasi sudah ramai sekali. Banyak mobil pengunjung yang parkir di dekat pintu masuk. Sehingga jalan yang memang sudah sempit bertambah sempit.
Dari pintu masuk kami berjalan sekitar 500 m dan memang ketika tiba di sana pemandangannya Subhanallah, luar biasa. Cuaca yang cerah membuat pemandangan makin indah. Pengunjung memang banyak, tapi enggak berdesakan dan mau bergantian untuk berfoto.








Di sana kami tidak terlalu lama, selain sudah panas, rasanya juga kasihan sama si tukang ojek yang harus menunggu kami. Puas foto-foto, kami kembali ke tempat ojek. Sebelumnya kami sempat mampir melihat pemandangan dari menara pandang. Dari jauh terlihat Gunung Tangkuban Perahu dan Burangrang yang megah mengundang. Ah, rasanya belum terlalu lama saya dan teman-teman naik ke sana. Teringat nazar seorang sahabat yang ingin berfoto pakai toga di puncak Burangrang sehingga alhasil begitu wisuda, saya digeret naik di tengah hujan lebat semalaman tanpa persiapan sama sekali saat kena flu berat. Dan kami pun berhasil mengabadikan fotonya bertoga di puncak Burangrang!

Kembali ke Tebing Keraton, kami diantar ke Gua Belanda. Karena ingin jalan-jalan dan juga kasihan sama tukang ojek, kami putuskan untuk lanjutkan perjalanan dengan jalan kaki saja. Tukang ojek kami bayar sesuai kesepakatan awal dan kami bubarkan. Enaknya adalah hari masih pagi, sehingga udara terasa segar. Jalan-jalan di antara pepohonan terasa menyenangkan, bahkan Titan pun senang padahal ternyata muter-muter lihat Gue Belanda, Gua Jepang, sampai akhirnya kembali ke lokasi parkir. Tak terasa kami berjalan lebih dari 6 km!

Sebenarnya tempat ini menarik, pemandangan yang indah plus adem. Biaya ke sini (kalau nggak pakai ojek), relatif murah. Saya membayangkan ada trek khusus buat pejalan kaki sehingga tidak terganggu asap kendaraan dan debu jalan pasti akan sangat asik. Bisa jadi lokasi wisata edukatif mengenalkan aneka jenis pepohonan dan beberapa peninggalan sejarah ke anak-anak.


Thursday, 17 November 2016

Random Feeling #2


I know that he was right, gravity is not responsible for falling in love....
Blame it on something else..rain..moon...or ....

Tuesday, 15 November 2016

It's start with a coffee

Ah, kopi. Mencium wanginya yang meruap saat diseduh itu rasanya memang menyenangkan, terlebih ketika disajikan mengepulkan uap wangi yang khas. Saya suka kopi hitam, kopi susu, cappucino, panas, dingin, expresso, kopi dengan gula, apalagi tanpa gula. Love everything about coffee.

Saya suka kopi sejak usia masih muda (eh sekarang juga masih muda deng). Saat SMA saya mulai tergila-gila kopi. Saat anak gadis seusia saya saat itu lebih suka minum soda saya lebih suka kopi. Ketika kuliah, saat golongan wanita adalah kaum minoritas di jurusan dan kampus, saya juga jadi golongan minoritas saat ngumpul dan milih minuman. Saya satu-satunya cewe yang minum kopi hitam kental.

Kopi untuk saya bukan sekedar minuman berkafein yang bikin mata melek saat begadang mengerjakan tugas praktikum jaman kuliah atau kala nyetir jauh. Pun bukan minuman yang melepaskan dahaga (kalau haus ya air putih lah). Kopi untuk saya adalah mood booster, friendship booster, dan sahabat yang baik dalam banyak situasi.

Ketika saya merasa hari berjalan dengan cara yang salah, salah satu yang bisa membuat mood saya kembali naik adalah kopi.
Ketika saya merasa sulit memulai percakapan atau mingling di tengah keramaian, kopi adalah pencair suasana yang memudahkan saya memulai percakapan.
Ketika saya merasa buntu dengan ide, kopi bisa menjadi salah satu inspirasi saya.

Satu lagi yang membuat saya tambah menyukai kopi adalah karena belakangan ini selalu membuat saya tersenyum saat mengingat seorang. Seorang yang punya kesukaan yang sama dengan kopi.
Seperti siang ini, secangkir kopi hitam tanpa gula yang meruap wangi saat diseduh mengingatkan saya kenapa saya tambah suka kopi, membuat saya tersenyum kembali di tengah tumpukan pekerjaan. Like they always said: it's all start with a coffee.....

Wednesday, 28 September 2016

Saya kerja karena cinta

Beberapa teman pernah menanyakan ini: Kenapa sih kamu kerja sampai segitunya? Kenapa sih elo nggak milih kerja di rumah aja supaya anak elo ada yang jaga? Lebih menyebalkan lagi kalau ada yang komen: perempuan itu baiknya di rumah aja.
Hmm...tadinya sih saya agak nyolot juga kalau sering-sering ditanya atau dikomentarin begitu. Terlebih sekarang saat saya lebih banyak hanya berdua saja dengan putra kesayangan.

Ada banyak alasan yang membuat saya bekerja. Alasan pertama tentu karena kebutuhan hidup. Saya bekerja untuk mendapatkan penghasilan, pastinya. Bagaimanapun saya punya mimpi yang hanya bisa dipenuhi kalau saya punya uang.  Terlebih status saya sekarang yang membuat saya memegang tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga. Biaya sekolah anak sama keinginan jalan-jalan nggak bisa nunggu menang undian SDSB, kan?

Alasan kedua, tentu saya perlu aktualisasi diri. Saya bekerja untuk mengekspresikan diri saya, mengasah dan menambah kemampuan dan kompetensi saya. Senangnya adalah karena apa yang saya kerjakan merupakan apa yang saya suka. Apalagi ketika pekerjaan yang saya lakukan mendapatkan apresiasi yang baik dari orang lain atau atasan (menyenangkan juga kalau selain pujian dapat bonus hahahaha). Untuk saya, ini seperti belajar yang dibayar. Puas rasanya kalau apa yang saya kerjakan bisa membantu atau memudahkan orang lain.

Alasan ketiga, dan ini yang paling penting setelah putra saya lahir: saya kerja karena cinta. Betul, kecintaan saya yang luar biasa pada putera saya mendorong saya melakukan apapun yang saya mampu untuk memastikan kehidupannya kelak akan jauh lebih baik dibandingkan dengan ibunya. Melalui kerja adalah salah satu cara menunjukkan kecintaan saya terhadap putra saya.


Untuk saya, kerja adalah cinta. Kerja dengan hati dan dengan hati-hati, adalah kerja sepenuh cinta. Kecintaan saya terhadap apa yang saya kerjakan mendorong saya untuk melakukan sebaik dan semampu yang saya bisa. Kecintaan saya terhadap diri saya sendiri dan kehidupan mendorong saya untuk bekerja dengan sepenuh hati, membuktikan bahwa saya memang layak ada di sini.

Bukan berarti saya mengesampingkan hal lain dalam hidup ini. Saya bukan penggila kerja, saya tetap melakukan banyak hal yang dilakukan oleh orang lain. Di penghujung hari, kecintaan saya tetap pada pemuda kecil nan ganteng yang senang mengganggu ibunya.


Saya selalu yakin bahwa, seperti kata Kahlil Gibran, kerja adalah cinta yang mengejewantah. Kerja dengan cinta (bukan cintanya kang Ridwan Kamil, itu mah beda lagi) adalah salah satu bukti kecintaan kita terhadap kehidupan dan Sang Pemberi Hidup.
I just love what I do and I do what I love. Komen nyinyir dari orang lain? Nggak usah didengerin, toh mereka belum tentu ada saat saya sulit.

Kerja adalah cinta yang mengejewantah.
Dan jika kau tiada sanggup bekerja dengan cinta, hanya dengan enggan, maka lebih baiklah jika engkau meninggalkannya.
Lalu mengambil tempat di depan gapura kuil, meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan sukacita.
Sebab bila engkau memasak roti dengan rasa tertekan, maka pahitlah jadiya dan setengah mengenyangkan.
Bilamana engkau menggerutu ketika memeras anggur, gerutu itu meracuni air anggur.

Dan walaupun engkau bernyanyi dengan suara bidadari, namun hatimu tiada menyukainya.
Maka tertutuplah telinga manusia dari segala bunyi-bunyian siang dan suara malam hari...

Sang Nabi~Kahlil Gibran

Friday, 16 September 2016

Random feeling


Just an ordinary friday night
Sitting here in my darken room
Thinking about my life
Thinking about my journey
Feeling suddenly incomplete
Feeling suddenly empty
Wondering what is it like to be complete
Wondering what is it like to be loved

***
Oh simple things, where have you gone?
I'm getting old and i need something to rely on
So tell me when, you're gonna let me in?
I'm getting tired and i need somewhere to begin

And if you have a minute why don't we go?
Talk about it somewhere only we know?
This could be the end of everything
So why don't we go
Somewhere only we know?
Somewhere only we know?
***