Thursday, 14 July 2016

Bandung juga punya Bird Park

Namanya Bird and Bromelia Pavilion. Lokasinya di Pramestha Resort Town, Dago Giri Bandung.
Saya menemukan tempat itu juga tanpa rencana, gara-gara janjian dengan beberapa teman tapi sampai hari H nggak ada kepastian. Akhirnya, pagi-pagi kami keluar dari hotel dengan tujuan muter-muter, siapa tahu sampai juga ke Tahura (pengen juga sampe ke Tebing Keraton).
Di persimpangan antara Taman Hutan Raya dan Maribaya, Titan tiba-tiba usul untuk melihat bird park yang katanya merupakan tempat wisata baru di Bandung. Jadilah saya berputar balik dan menuju jalan menanjak yang ampun-ampunan itu. Beberapa kali saya berhenti untuk bertanya arah. Setelah sekitar 15 menit nyetir di jalan yang super nanjak, akhirnya kami sampai juga.
Memasuki area Bird Pavilion kami disambut jalanan yang dipagari tumbuhan di kiri kanannya. Kami tiba sekitar jam 09 pagi. Para staf sedang bersiap membersihkan area. Setibanya di area parkir kami langsung masuk melalui restoran (ada 2: Day and Nite Eatery and Grocery serta Buffy Drink and Fun) dan menuju ticketing office. Harga tiketnya nggak terlalu mahal, untuk weekend 50K, untuk weekday 35K per orang. Tiket yang berbentuk gelang ini bisa ditukarkan dengan sebotol air mineral pada saat keluar area nanti.



 Memasuki area Bird Pavilion kami bertemu dengan beberapa Macaw dan seekor Kakaktua putih bernama Metta yang bertengger di atas tiang. Titan sempat berfoto dengan si Meta walau sambil meringis takut dipatuk.




Menurut salah seorang staf di sana, di Bird Pavilion terdapat sekitar 500 jenis burung. Mulai dari merpati, bebek, angsa, macaw, aneka jenis kakaktua dan betet, serta kalkun, merak, dan burung hantu.













Selain burung, di sini juga terdapat hamparan taman bromelia.

Aktivitas yang bisa dilakukan di sini selain mengamati burung, juga bisa memberi makan burung. Makanan untuk burung bisa dibeli di tempat pembelian tiket. Kami juga ikut memberi makan Merpati Raja di lapangan kecil sebelah kandang kelinci. Asik juga.






Bird and Bromelia Pavillion memang belum sebesar dan selengkap Bali Bird Park. Jenis aktivitasnya pun belum seberagam di BBP. Namun, untuk anak-anak yang suka melihat aneka jenis burung dan juga untuk mengenalkan aneka jenis burung di lingkungan yang mirip aslinya, tempat ini layak didatangi koq.






Friday, 17 June 2016

Reward dan Punishment

Ada beberapa pendapat tentang perlu atau tidaknya reward dan punishment. Ada yang bilang reward dan punishment itu cenderung membuat anak jadi 'berpamrih' mengharapkan upah untuk sesuatu yang memang sudah seharusnya dia kerjakan.
Saya juga setengah setuju dengan pendapat seperti itu, tapi hanya setengah. Saya sangat yakin untuk usia Titan, reward dan punishment itu masih perlu, karena ia masih pada taraf belajar. Tentu saja itu hanya diterapkan untuk hal-hal yang besar. Saya tidak akan memberikan dia hadiah untuk membujuk dia makan, merapikan mainan, berangkat sekolah, belajar, atau tugas lain yang sifatnya rutin. Tapi, untuk hal-hal besar yang perlu komitmen besar, saya masih terapkan reward. Bagaimana dengan punishment? Tentu saja saya terapkan juga, jikaada hal yang dia langgar pada siang hari, maka malam hari dia akan kehilangan hak menonton tv. Dan dia sangat sebal kalau nggak bisa nonton nickjr. Untuk hal yang berupa komitmen besar, punishmentnya adalah dia tidak dapat rewardnya.

Saya termasuk yang masih menerapkan ini untuk memotivasi putra saya terutama untuk hal-hal besar yang baru pertama ia lakukan atau komitmen besar yang harus ia lakukan.
Pertama kali menerapkan ini, adalah ketika Titan mau khitan. Saya menjanjikan hadiah besar setelah Titan khitan. Saat itu usianya 6 tahun. Saya tahu ketakutannya dengan jarum suntik, jadi untuk membujuknya tentu nggak mudah. Perlu cukup perjuangan untuk meyakinkan dia bahwa khitan itu wajib bagi semua anak laki-laki muslim dan bahwa akan lebih mudah dia dikhitan saat masih kecil ketimbang menunggu dia lebih besar. Untuk tambahan amunisi membujuk dia khitan, saya janjikan Lego set, nggak satu malah 3 set (saya berhasil dapat harga miring untuk ketiganya dengan budget yang sudah saya tentukan).  Akhirnya memang Lego ini ampuh menghentikan tangisnya sesaat setelah selesai khitan.

Kedua kali menerapkan ini adalah ketika saya mengajaknya belajar puasa pertama kali, tepat setelah khitan. Titan yang suka makan tentu saja keberatan disuruh puasa. Tapi setelah dijelaskan bahwa puasa itu wajib, dia paham juga. Terlebih saya hanya memintanya puasa dengan pakai break tengah hari plus uang sebesar 25 ribu per hari puasa. Uang itu akan saya belikan lego set di akhir Ramadhan. Ketika itu Titan puasa sampai jam 12 siang, kemudian break makan siang, minum, minum susu sampai jam 1 siang dan lanjut puasa sampai petang. Alhamdulillah, semuanya bisa dilakukan nyaris tanpa masalah. Satu kali saya memintanya buka puasa karena dia muntah masuk angin. Seharian dia bolak balik nanya apa hadiahnya akan berkurang. Saya bilang kamu muntah karena sakit, jadi hadiahnya tidak berkurang. Dan menjelang ramadhan berakhir saya memesan 1 set Lego sebagai hadiah yang boleh dia buka di malam takbiran (akhirnya nombok juga karena lebih mahal dari uang rewardnya hahaha). Puas rasanya melihat ekspresinya yang bangga karena mampu menunaikan puasa selama satu bulan. Alhamdulillah.

Tahun ini tahun kedua Titan puasa. Saya memintanya puasa sehari penuh. Tadinya dia keberatan mengingat napsu makannya yang sedang luar biasa. Akhirnya kami berbicara mengenai puasa, kenapa harus puasa, dan apa manfaat puasa. Alhamdulillah dia paham. Saya sampaikan saya akan memberinya hadiah jalan-jalan (dia senang sekali waktu tahu ke mana destinasinya) dan uang saku jalan-jalan. Uang saku tersebut diberikan jika: raportnya bagus, puasanya bagus, hafal 10 surat di juz 30 untuk jatah kelas 2, dan menuntaskan Ummi 2 selama liburan. Untuk keempat hal itu, jika salah satu gugur maka akan berkurang 25%. Uang saku tersebut boleh dia belikan apa saja (lagi-lagi dia mengincar Lego). Untuk raport, saya nggak minta dia mendapat nilai sempurna untuk semua pelajaran, tapi saya minta lakukan usaha terbaik, belajar teliti, dan mengerjakan tugas dengan tenang. Yang saya sampaikan adalah, jika kamu persiapkan dengan baik hasilnya akan baik. Untuk puasa saya nggak minta dia puasa sebulan penuh. Namun, dia harus belajar untuk melakukan semampunya. Ada satu hari, Titan  minta minum setelah Jum'atan dan berjanji hanya minum satu gelas kemudian lanjut puasa, saya kabulkan dan dia tepati janjinya.
Alhamdulillah, sekarang sudah menjelang pertengahan Ramadhan. Dua tantangan bisa dijalankan, raportnya bagus. Menurut gurunya saat mengerjakan ulangan Titan melakukan dengan tenang dan teliti sehingga hasilnya baik. Alhamdulillah, I'm so proud of you, son. Puasa bisa dia jalankan tanpa banyak rewel. Sekali-sekali bilang haus atau lapar sih paling saya godain. Masih 2 lagi yang sedang dikejar. Ada banyak perdebatan tentang apakah harus baca juz amma sekarang atau nanti aja atau tawar-tawaran boleh nggak hari ini baca ummi saja.

Saya sangat paham kalau dalam mendidik dan membesarkan anak tidak ada pakem yang benar atau salah. Cara mendidik setiap keluarga tentu saja berbeda dengan keluarga lain. Untuk saya, inilah yang saya lakukan. Apakah hasilnya baik atau tidak, juga saya belum tahu karena kami berdua masih sama-sama menjalaninya. Saya hanya yakin, apapun yang kita ajarkan itulah yang akan ia lakukan. Yang pasti saya sampaikan, ketika sudah lebih besar tidak ada lagi reward seperti ini, karena shalat dan puasa itu wajib, karena belajar dan baca Qur'an itu juga wajib. Mungkin saya harus mencari tantangan lain untuknya jika dia menginginkan sesuatu.





Friday, 22 April 2016

I am proud of beeing who I am

Seorang teman berpendapat kalau wanita sekarang banyak yang berkarya di luar sehingga anak-anak jadi terlantar. Plus tambahan komen: seharusnya sebagai wanita beragama menyadari fitrah bahwa wanita lebih baik berada di rumah di sisi anak-anaknya dan mengabdi pada suami.
Jujur ketika membaca komentar itu rasanya sedih banget. Rasanya saya menjadi ibu yang durhaka dan tidak peduli pada anak. Rasanya saya nggak layak mendapat sebutan Ibu.

Sepagian itu hati saya mulai bertanya-tanya, apakah salah kalau saya bekerja dan mencari nafkah karena memang saya satu-satunya penanggung jawab di keluarga kecil kami? Apakah itu berarti melenceng dari ajaran agama? Apakah jika karena satu dan lain hal menjadi ibu tunggal lantas hanya boleh menangisi diri, menyesali keadaan, dan menunggu keadaan berubah ? Apakah lantas anak yang dibesarkan oleh ibu yang bekerja itu pasti akan tidak sehebat anak yang dibesarkan oleh ibu yang memang memiliki pilihan untuk jadi fulltime mom? Apakah berusaha untuk memenuhi kebutuhan keluarga itu salah, walaupun dengan usaha tersebut bisa memberikan jaminan pendidikan, kesehatan, dan (mungkin) masa depan?

Jika saya memiliki pilihan serta kemampuan untuk berkarya dari rumah dan tetap bisa memenuhi kebutuhan kami dengan baik, tentu akan saya ambil pilihan itu. Ketika akhirnya saya harus langkahkan kaki lebih jauh, berusaha membangun masa depan yang lebih baik tentu saya sangat sadar dengan risiko dan konsekuensi yang harus saya terima: kehilangan banyak momen spesial dengan putra saya terutama di awal-awal usianya. Tentunya ada banyak saat yang membuat saya harus menguatkan hati: ketika saya harus berada jauh dari rumah sementara anak saya tiba-tiba sakit, ketika saya harus menitipkan putra saya di rumah seorang kerabat sementara saya harus tugas ke luar kota. Bukan hal yang mudah bagi saya untuk melakukan itu semua. Yang membuat saya kuat adalah karena saya hanya berpikiran bahwa tujuan saya melangkahkan kaki adalah untuk memastikan putra saya mendapatkan jaminan pendidikan dan kesehatan yang lebih baik, bukan melakukan pekerjaan yang memalukan. Saya berusaha menebus setengah waktu yang dihabiskan di luar dengan tetap membimbingnya saat belajar, atau di waktu libur saya, dan saya berusaha untuk ada di saat-saat pentingnya.

Lelah? Tentu saja sangat lelah. Tapi saya yakin bahwa apa yang saya lakukan halal dan baik. Saya yakin Allah akan lihat itu. Bagi saya, sebuah pelukan dan ucapan I love you Ibu di setiap malam sebelum kami berdua terlelap sudah bisa menjadi pengobat lelah. Ucapan terima kasih dari mulut mungilnya saat ia mendapatkan sesuatu cukup membuat hari saya jadi lebih baik. Melihat Titan tumbuh sehat, cerdas, saleh, dan penyayang sudah menjadi bayaran yang tak terhingga untuk saya. Dan untuk semua itu saya nggak mau perdulikan lagi komentar teman saya itu. Saat ini saya bangga menjadi diri saya sendiri. Dan saya, somehow, yakin putra saya pun bangga dengan saya sebagai ibunya.

Depok, 21 April 2016

Selamat Hari Kartini

Friday, 8 April 2016

Belajar Wirausaha

Sudah beberapa hari ini Titan membujuk saya untuk membuatkan makanan yang bisa ia bawa dan jual di kelasnya. Awalnya saya ragu, pertama karena kurang paham apakah ini dibolehkan dilakukan di kelas. Kedua, Titan ini tergolong sering gak pede dalam beberapa hal. Jadi, saya bayangkan dia pasti enggan kalau harus menawarkan dagangan pada teman-temannya. Namun dia gigih sekali membujuk saya. Akhirnya saya tanya mau jualan apa. Setelah berpikir dan bolak balik berubah pikiran dia memutuskan mau jualan macaroni panggang. Dia bilang buatan ibu enak, pasti teman-teman suka. Berikutnya saya tanya, kamu mau jual berapa? Dia berpikir dan mulai nego harga sampai akhirnya ketemu harga yang pas, 2000 rupiah (saya sih nyengir mengingat masak iya harga macaroni panggang hanya 2000 rupiah hahahaha). Pertanyaan berikutnya berapa banyak yang mau dibawa? Dia bilang coba 10 cup.

Akhirnya malam-malam sepulang kerja saya siapkan, sekalian buat cemilannya dia. Saya juga sempat tanya sama wali kelasnya mengenai kebijakan sekolah tentang hal ini. Ternyata, apa yang disampaikan kepala sekolah saat saya interview waktu memilih sekolah adalah benar. Sekolah ini mendorong anak-anak untuk belajar wirausaha sejak dini. Jadi, kegiatan seperti ini sangat didorong selama tidak menganggu kegiatan belajar dan barang atau makanan yang dijual tidak membawa dampak buruk untuk anak-anak. Baiklah, ayo nak belajar berwirausaha...

Pagi-pagi saya panggang agar dia bawa ke sekolah dalam kondisi hangat. Deg-degan seharian saya menunggu ceritanya saat pulang sekolah. Dan sore ketika dia pulang (dia pulang diantarkan jemputannya ke kantor setiap sore), tadaa dia bilang macaroninya habis, teman-teman suka dan besok minta dibuatkan lagi. Wahhh, senangnya. Dia cerita awalnya katanya susah mau jualan. Akhirnya Titan bilang aja di kelas: Titan bawa macaroni panggang, harganya 2000. Ada yang tadinya nggak mau eh ternyata malah jadi mau..begitu ceritanya.

Yang buat saya lebih senang adalah ketika Titan menyampaikan analisis hasil jualan hari ini, bahwa kelihatannya temannya tidak suka saus tomat, jadi coba besok kalau jualan lagi ibu bawakan saus cabe...Ternyata dia belajar mengalisis...

Saya teringat pengalaman saya sendiri. Sejak kecil, ibu saya mengajarkan saya untuk mandiri. Selain karena memang keluarga kami bukan keluarga berada juga supaya saya terbiasa berusaha untuk apapun yang saya inginkan. Ketika sekolah dulu saya sering membawa makanan buatan ibu saya untuk ditawarkan kepada teman-teman. Mulai dari molen, keripik singkong balado, sampai pastel dan keripik bawang. Sore hari terkadang juga saya menjajakan kue ke tetangga. Dengan cara itu saya mendapatkan uang jajan tambahan. Kebiasaan itu terbawa hingga saya kuliah. Saya kuliah sambil nyambi jadi guru privat, juga terkadang membantu teman yang membutuhkan jasa penerjemah bahan makalah, atau bikin kue buat dijual ke teman-teman kuliah. Malah pernah saya membantu menuliskan jurnal praktikum kakak angkatan yang beda jurusan dengan upah cokelat banyak-banyak hahahahaha...

Sekarang saya mulai menularkan ini kepada putra saya. Doa saya, untuk putra saya yang hari ini berhasil menjual spagheti di sekolah sampai akhirnya dia membeli spagheti buat dia sendiri di kantin, adalah agar kelak bisa menjadi pengusaha yang sukses dan berkah serta bisa memberikan kebaikan bagi orang di sekelilingnya. Amiin..

I'm so proud of you, son.

Monday, 8 February 2016

The Power of Kepepet

Bayangkan dalam situasi serba sulit, kekuatan apa yang membuat kita bisa melakukan apapun tanpa takut dan ragu? Pasti jawabannya karena kepaksa alias kepepet.

The power of kepepet ini memang luar biasa, bisa membuat yang tadinya nggak mungkin dan nggak bisa, jadi bisa. Saya mengalami sendiri banyak momen ini. Saya termasuk salah satu manusia penakut tingkat dewa. Sampai saya kuliah saya masih sangat penakut. Jangankan harus di rumah sendirian, pergi ke dapur malam-malam saya harus menggeret orang lain untuk mengantar atau kalaupun terpaksa pergi sendiri, saya akan berlari secepat kaki saya bisa. Kalau pengen pipis tengah malam saya harus diantar ke kamar mandi. Biasanya oleh adik atau oleh almarhum mamah. Padahal kamar mandi itu terletak persis di seberang kamar tidur. Norak sangat kan...

Nah, sewaktu ospek ada kegiatan jurit malam. Mau nggak mau, suka nggak suka, takut nggak takut saya harus berjalan sendirian tengah malam, entah di mana, nggak tau ada apa, dari pos ke pos. Takut? Kalau boleh memilih, saat itu saya akan memilih berlari pulang. Tapi, tentu saja itu nggak bisa saya lakukan mengingat saya sendiri nggak ngerti ke mana para senior ini membawa kami. Ketika mulai dilepas jalan sendiri, jantung saya seperti berada di tenggorokan, siap melompat ke luar saking takutnya. Namun, akhirnya, the power of kepepet menang. Tidak ada pilihan, saya harus menyelesaikan ini. Saya berjalan dari pos ke pos dan akhirnya sampai di pos terakhir, tanpa kurang apapun, nggak ketemu apapun yang menyebabkan saya takut (padahal di kepala saya sudah berseliweran bayangan ketemu makhluk-makhluk seram)!! Sejak saat itu sifat penakut saya sedikit berkurang (sedikit saja).

Ketika mengerjakan tesis, kekuatan terbesar yang mendorong saya menyelesaikan tesis dengan cepat adalah the power of kepepet. Saat mengajukan proposal penelitian saya baru tahu kalau saya mengandung. Proposal, penelitian, analisis, sampai rampung semua saya kebut balapan dengan perut saya yang semakin gendut. Target saya adalah lulus S2 dulu sebelum jadi ibu. Wara-wiri, begadang, sampe dosen pembimbing saya takjub karena saya ngejar-ngejar beliau di manapun. Dan alhamdulillah, revisi berhasil saya selesaikan sebelum usia kandungan saya 7 bulan. Saya sidang dan lulus dengan nilai memuaskan, saya mendapat gelar master dengan gelar CL (boleh sombong sedikit), dan saya menjadi ibu beberapa bulan kemudian.

The power of kepepet terbesar adalah yang saya alami saat ini. Ketika saya menikah dulu, tak ada satupun yang menyiapkan saya untuk kemudian menjalani hidup sebagai ibu tunggal. Berperan ganda sebagai ibu dan ayah sekalian bagi putra saya, mengurus masalah finansial, membesarkan dan mendidik putra saya sementara saya sendiri bekerja penuh waktu, serta menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga yang bertanggung jawab dengan kondisi rumah jauh dari sanak saudara ,sama sekali nggak pernah terpikir akan saya lakukan.
Namun, pada saat ambil keputusan untuk menjadi ibu tunggal, the power of kepepet menggambil alih. Entah bagaimana caranya, saya hingga saat ini bisa menjalankan semuanya. Mulai dari mengurus rumah, membesarkan putra saya, mencari nafkah, memperbaiki keran patah, nembok lubang tikus, sampai memasak. Menjadi sopir AKAP menyetir ke daerah yang kalau bisa saya hindari, sekarang saya lakukan.

Semua yang sudah saya lakukan masih jauh dari sempurna, bahkan dari baik sekalipun. Namun, hingga saat ini kami bertahan dengan baik. Ada banyak ups and downs, ada banyak tangis dan emosi, namun juga ada banyak tawa bahagia. Tentu saja saya tidak mengesampingkan kuasa Allah SWT yang menjadikan saya seperti ini. Alhamdulillah, Allah memberikan the power of kepepet yang luar biasa. Membuat saya bisa berpikir jernih dalam banyak hal. Membuat saya bisa kreatif dalam menghadapi berbagai situasi, membuat kami bisa bertahan dalam kondisi seperti ini. Namun, tentu saja saya berharap suatu hari nanti kami akan hidup sebagaimana keluarga normal lainnya. The power of kepepet itu tentu masih akan dibutuhkan, namun dalam bentuk yang lain. Wallahualam bisawab....

Wednesday, 3 February 2016

Sepotong surga di ujung Barat Indonesia #latepost

Setahun yang lalu kami berkesempatan mengunjungi ujung terbarat Indonesia. Awalnya, seperti biasa browsing cari tempat liburan. Kebetulan Garuda menawarkan promo ke beberapa tujuan. Setelah pilih-pilih akhirnya saya pilih Banda Aceh untuk destinasi liburan kali ini. Karena memesan dari jauh hari, lumayan juga selisih harga per tiketnya. Jadilah kami bisa terbang dengan harga lumayan miring.

Sebenarnya sudah lama saya ingin sekali ke Banda Aceh, namun sayangnya memang belum ada kesempatan. Jadi, kali ini rasanya saya seperti mendapatkan durian runtuh, terlebih saya bisa mengunjunginya bersama putra tersayang dan sahabat baik saya semasa kuliah S2 dulu.
Satu bulan sebelum berangkat kami berbagi tugas. Teman saya memesankan hotel dan mengurus sewa kendaraan. Saya mengecek itinerary selama perjalanan (biasanya tugas saya adalah urusan tiket pp), itinerary kami bicarakan bersama termasuk dengan driver di sana supaya perjalanan kami efektif. Kami sampaikan apa yang mau kami lihat dan apa yang mereka usulkan, baru kami pilih dan bersepakat. Kami merencanakan untuk menjelajah Banda Aceh dan Sabang. Rencananya akan mencoba intro diving di Iboih.

Menjelang hari H mulai sibuk packing. Karena akan pindah ke Sabang menggunakan kapal cepat saya membawa travel bag cadangan untuk pakaian dan barang yang akan dibawa ke Sabang. Koper besar jika memungkinkan rencananya akan saya titip di di Banda Aceh (membayangkan ngangkat koper besar di pelabuhan kayaknya agak2 ribet, terlebih bawa Titan). Semua keperluan dihitung dan dicatat supaya nggak kelebihan atau kekurangan pakaian. Biasanya kalau pergi-pergi 1-4 hari saya hanya membawa 1 koper saja untuk kami berdua. Karena akan ke pantai tidak lupa saya selipkan sunblock dan topi untuk Titan. Kami juga membekali diri dengan browsing seputar lokasi yang menarik plus kuliner khas Banda Aceh yang harus dicicipi.

Hari H pun tiba, kami berdua senang sekali membayangkan petualangan yang akan kami temukan di Banda Aceh dan Sabang. Untuk Titan supaya gak bosan di pesawat saya bawakan buku bacaan. Dia boleh memilih 2 buku bacaan yang tidak terlalu berat untuk dibaca di perjalanan. Eh, di Bandara dia malah merengek minta Lego. Akhirnya sepanjang Jakarta-Banda Aceh dia asik merakit lego sambil nonton Doraemon (sampai hari ini Titan masih suka bolak balik nonton Doraemon stand by me).














Tiba di Banda Aceh kami dijemput oleh mas driver yang ternyata ganteng bernama mas Boy, serius (kami sempat cekikikan berdua dan langsung book supaya drivernya nggak diganti sampai kami kembali dari Sabang dan diantar ke Bandara). Untungnya dia setuju (dan kami ikut melapor ke kantornya supaya dibolehkan sama bosnya hehe). Mas Boy ini baik sekali, dia banyak membantu kami selama perjalanan. Belakangan baru tahu kalau dia dulunya sempat menjadi pemain bola, bahkan sempat mengikuti Pelatnas. Sayangnya, saat dia cedera semua tidak menyanggupi membayar biaya pengobatannya dan akhirnya kembali ke Banda Aceh dan bekerja sebagai driver freelance di travel agent. Bakat yang tersia-sia.... Yang pasti dia takjub karena katanya berani-beraninya perempuan berdua sama anak kecil jauh-jauh dari Jakarta ke Banda Aceh hihi.
Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh tidak terlalu besar. Dari luar terlihat biasa, namun memiliki ciri khas terdapat kubah seperti masjid. Suasana islami memang terasa sekali di kota ini. Sepanjang jalan kami jarang sekali  melihat wanita yang tidak mengenakan kerudung.

Dari Bandara kami langsung menuju ke Museum Tsunami (untungnya di pesawat kami makan sehingga bisa langsung jalan-jalan). Di bangunan (yang ternyata saya baru tahu belakangan kalau bangunan ini dirancang oleh Ridwan Kamil, Walikota Bandung) ini kami menyaksikan dokumentasi peristiwa tsunami 2004 silam. Masuk ke Museum Tsunami tidak dipungut bayaran (seingat saya, agak lupa). Begitu masuk kami melewati jalan melingkar membentuk ulir yang mengelilingi menara bagian tengah. Begitu masuk suasana yang remang-remang ditambah suara dan tetesan gemericik air dan lantunan suara pembacaan ayat Al-Qur'an membuat bulu kuduk kami sedikit meremang. Terbayang lagi peristiwa tsunami lalu. Ah, semoga seluruh korbannya mendapatkan ketenangan di alam kubur. Begitu tiba di ujung jalan berulir kami memasuki ruangan pameran foto tsunami. Berbagai foto terkait dengan lokasi, korban, dan segala tentang tsunami ada di sana. Dari ruangan foto kami pindah ke ruangan lain melihat film dokumentasi mengenai rekaman peristiwa tsunami dan evakuasi korban. Di ruangan yang berbentuk teater mini ini kembali hati kami terasa ngeri melihat dahsyatnya kekuasaan Allah. Titan baru pertama kali melihat dokumentasi tsunami. Dia baru paham kalau gelombang laut bisa sebegitu dahsyat. Film dokumentasi berlangsung sekitar 15 menit kemudian kami menuju bagian tengah bangunan yang berbentuk menara. Bagian menara ini gelap dan seperti cerobong asap yang mengecil ke atas. Tepat di puncak bagian tengah pucuk menara terdapat tulisan ALLAH dalam tulisan Arab. Di sekeliling dinding bagian dalam menara bertuliskan nama-nama korban tsunami.


Sebenarnya masih ada bagian museum yang lain yang berisi lukisan dan beberapa koleksi lain. Sayangnya karena kami masuk menjelang sore, museum sudah menjelang tutup. Akhirnya kami ke bagian luar museum dan melihat rongsokan kendaraan yang rusak akibat tsunami.

Dari museum kami menuju PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) APUNG. Disebut PLTD Apung sebenarnya adalah kapal yang menjadi salah satu sumber listrik bagi penduduk di sekitar pantai utara Aceh. Kapal ini ditambatkan di Desa Punge di wilayah Ulee Lhe. Saat tsunami, kapal ini terseret hingga 5 km ke kota Banda Aceh. Korban jiwa yang jatuh di wilayah ini mencapai ribuan orang. Bahkan ada yang satu desa tersapu bersih.

di atas PLTD Apung
Bersama mas driver
Monumen korbam tsunami di PLTD Apung














Dari PLTD Apung tadinya kami mau menuju pasar tradisional di Aceh, namun karena sudah terlalu sore dan perut sudah lapar, akhirnya kami menuju Warung Rajali untuk mencicipi mie aceh. Ada beberapa tempat yang terkenal dengan mie acehnya, salah satunya adalah Mie Aceh Rajali ini. Kami memesan mie aceh kepiting, sementara Titan memesan mie aceh tanpa kepiting. Rasanya? luar biasa sedap. Sepiring hampir kami tandaskan. Sayang karena perut sudah gak muat (porsinya jumbo sekali, terlebih masih ditambah nyamil martabak telur), akhirnya kami menyerah. Setelah makan saya memesan es ketimun khas Aceh (dan ini jadi minuman kesukaan saya selama di sana). Isinya ketimun serut ditambah sedikit sirup pemanis dan es. Rasanya segar (dan menetralkan kolesterol yang baru saya santap hahahaha).



Setelah makan kami menuju Masjid Baiturahman. Masjid ini terletak di dekat Museum Tsunami. Masjid yang menjadi saksi bisu tsunami ini berdiri kokoh dan menjadi tempat yang tidak tersentuh tsunami. Bagian seberang jalan masjid yang dibatasi oleh pagar besi pendek luluh lantak diterjang tsunami. Saat menuju masjid, driver kami bercerita, saat peristiwa itu dia masih SMA. Hari minggu pagi itu dia dan teman-temannya baru saja mengikuti lomba marathon dan sedang beristirahat. Ketika tsunami menerjang semuanya pontang panting menyelamatkan diri. Banyak di antara mereka melarikan diri ke arah masjid.
Suasana sore itu cukup ramai. Halaman masjid yang luas menjadi tempat bermain bagi anak-anak dan keluarga-keluarga muda sambil menunggu waktu shalat. Sayang memang saya sedang tidak shalat, jadi hanya bisa menikmati suasana di pelataran masjid. Masuk ke masjid ini wajib mengenakan pakaian muslimah yang tertutup. Jadi, memang akhirnya sahabat saya tidak bisa masuk ke halaman masjid.

Menjelang maghrib kami sempat melipir ke pusat batu mulia di Banda Aceh, Karena gak paham, akhirnya hanya melihat-lihat saja dan menyesal kenapa giok aceh itu gak dibeli haha. Malam hampir tiba, kami menuju pusat oleh-oleh. Saya lebih suka membeli oleh-oleh di awal perjalanan supaya nggak pusing lagi mikirin oleh-oleh plus kalau masih kurang bisa nyari lagi tanpa terburu-buru. Oleh-oleh khas Aceh adalah abon ikan dan ikan kayu. Ikan kayu ini sejenis ikan kering yang kalau mau dimasak harus direndam air beberapa jam sebelumnya. Biasanya dimasak gulai.

Menjelang malam kami akan kembali menuju hotel. Di perjalanan kami menemukan banyak penjual durian. Dan akhirnya kami mampir menikmati durian pulut (durian dinikmati dengan ketan pulut, ketan yang dibakar seperti lemper tapi tanpa isi) dan segelas sanger (kopi susu ala Aceh). Ah, enak sekali rasanya, walau Titan mengerenyit sebal mencium bau durian. Besok pagi sekali kami akan ke pelabuhan di Ulee Lhee. Untuk besok pagi kami memesan timphan dari mas Boy untuk kami nikmati di perjalanan ke Sabang, makanan khas aceh yang dibuat dari tepung, pisang, dan santan (kayaknya kalau orang Bandung bilang ciu, hanya saja bentuknya kecil-kecil dan lebih empuk).

Pagi-pagi kami sudah bersiap menunggu jemputan menunggu pelabuhan. Pukul 7 pagi di Banda Aceh masih gelap. Jalanan masih sangat sepi. Perjalanan ke pelabuhan sangat lancar. Di pelabuhan juga nggak terlalu ramai, banyak pelancong asing yang juga hendak ke Sabang. Kami memilih naik kapal cepat dan tempat duduk di dalam kabin (kuatir panas dan angin). Perjalanan ditempuh selama 1.5 jam. Tak terasa kami tiba di Pelabuhan Sabang. Dan saya akhirnya menitipkan koper besar saya di driver, karena nanti dia juga yang akan jemput di pelabuhan dan antar kami ke bandara.

Di Sabang kami dijemput driver lain (yang direkomendasi oleh kantor tempat kami sewa kendaraan). Dari pelabuhan kami menuju Balohan Hill yang tepat berada di atas pelabuhan. Dari puncak bukit, pantai dan pelabuhan terlihat sangat jelas dan indah pastinya. Puas berfoto di Balohan Hill, kami menuju Pantai Gua Jepang. Dari tepi jalan posisinya menjorok ke dalam. Perjalanan ke sini agak menanjak dan lumayan bikin ngosngosan mengingat puanasnya tak terkira. Sudah tengah hari. Namun, begitu tiba di pantainya, suara debur ombak dan pemandangan pantai cukup mengobati rasa lelah kami.




Setelah Pantai Gua Jepang kami menuju Pantai Tiga Sumur. Pantai ini cantik dengan tiga sumur yang katanya peninggalan penjajahan ada di tepi pantainya, namun mengingat letaknya yang jauh di bawah jalan dan jalanannya curam akhirnya kami hanya melihat dari atas saja. Hari yang sudah sangat siang ditambah cuaca terik akhirnya kami memutuskan untuk mencari makan sebelum menuju ke Tugu Titik Nol. Makan siang kami di sebuah warung makan rumahan yang bersih dan makananya enak serta luar biasa murah. Untuk meredam haus dan panas lagi-lagi saya memesan es timun serut yang segar itu.

Perjalanan berlanjut ke Tugu Nol Kilometer di tepian Sabang. Akhirnya kami sampai juga di kilometer 0 Indonesia. Sayangnya Titan tertidur dan hanya bangun sebentar untuk berfoto. Niat untuk mendapatkan piagam tanda sudah pernah ke sini juga batal karena printernya gak bisa digunakan dan file piagamnya tidak bisa saya copy.. ya sudahlah...

Dari Titik 0, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Iboih. Karena kepanasan, kepala saya agak pening, sehingga hampir saja niat untuk ikut intro diving dibatalkan. Namun, membayangkan keindahan bawah laut akhirnya saya nekad nyemplung.
Kami menyewa peralatan selam plus diantar diver di ScubaWeh. Naik boat kami ke perairan yang lebih dalam. Titan ikut menunggu di boat bersama salah satu awak Scuba Weh. Sebelum menyelam, kami mendapatkan briefing dan sedikit latihan langsung di dalam air. Mulai dari perairan dangkal sampai tahu-tahu kami ada di kedalaman 5 meter. Suasana bawah laut yang indah membuat saya takjub. Walau masih suka lupa tarik napas melalui hidung sampai keselek dan masker yang bocor karena terkena ujung penutup kepala, namun tak sebanding rasanya melihat indahnya pemandangan di bawah air. Cahaya matahari yang masih benderang mampu menembus hingga 8 meter saking beningnya. Ikan warna warni berbagai jenis berenang hilir mudik di depan mata saya. Seperti main dalam film Finding Nemo!! Saking asiknya melihat pemandangan, tahu-tahu mata saya kemasukan air laut yang luar biasa asin, dan hidung saya juga kemasukan air. Rasanya gelegepan saya memberi tanda ke instruktur minta naik ke atas. Perlahan saya dibawa naik dan tadaaaaa..udara permukaan pantai. Akhirnya saya tidak melanjutkan penyelaman, karena sudah cukup lama dan kasihan Titan yang menunggu. Selama saya nyemplung Titan didaratkan di pulau terdekat bersama seorang peserta introdive yang menyerah nggak jadi nyemplung. Sewaktu saya mendarat Titan asik main di pantai dan makan. Akhirnya kami nyemplung kembali ke air dan diapun keasikan main air. Titan menolak naik ke boat hingga dibopong paksa, sambil tertawa-tawa kami kembali ke Iboih.



Rupanya cukup lama kami di dalam air, ternyata walau masih terang benderang sudah lewat jam 6 sore! Buru-buru kami naik, berganti pakaian, menyimpan tas di penginapan dan langsung makan. Kami menginap di Fina Bungalows di Iboih dan beruntung mendapatkan kamar dengan jendela kaca superbesar yang langsung menghadap pantai, amboiiiiii senangnya....

Makan malam itu kami menikmati ikan bakar yang masih segar bersama dengan instruktur selam yang tadi membimbing kami. Nah, habis makan, gara-gara kelamaan pakai baju basah hasilnya saya muntah-muntah. Sia-sialah sudah apa yang saya nikmati saat makan malam tadi hahahaha.

Pagi-pagi kami sudah bersiap kembali ke Banda Aceh, Kami dijemput jam 7 pagi, dan luar biasa, jam 7 pagi di Sabang masih gelap luar biasa. Semburat mentari pagi yang baru terbit memerah di ufuk timur. Karena masih pagi dan jalanan juga lancar, kami masih sempat mutar-mutar. Saya baru perhatikan ternyata beberapa nama jalan dituliskan dalam bahasa Arab. Kami juga sempat ke arah balai kota Sabang dan melihat pantai Sabang dari atas ketinggian kota. Luar biasa, Indonesia ini indah bener. Akhirnya kami tiba di pelabuhan dan segera bersiap untuk melintasi lautan kembali ke Banda Aceh. Saat perjalanan pulang, Titan malah minta naik ke geladak dan menikmati angin serta percikan air laut. Saat berlabuh, sahabat saya ajak Titan masuk ke ruang kemudi dan dengan seizin nahkoda, Titan merasakan duduk di kursi kemudi. Wah, senangnya dia.
Pelabuhan Sabang

Sepotong langit pagi dari beranda kamar kami di Iboih
Menikmati angin dan percik ombak menuju ke Banda Aceh

Nahkoda cilik






Di Banda Aceh kami melanjutkan keliling bersama mas driver (masih bersama mas Boy), kami mengunjungi Rumah Tjut Nyak Dhien. Ternyata rumah ini adalah rumah replika yang dibangun ulang oleh pemerintah daerah karena rumah aslinya habis dibakar Belanda. Di sana kami melihat replika ruangan-ruangan dan barang-barang yang digunakan Tjut Nyak Dhien semasa hidup. Di bagian belakang rumah terdapat sumur yang dikelilingi tembok tinggi. Untuk menimbanya, harus dari dalam rumah. Tembok tinggi tersebut untuk melindungi air sumur agar tidak diracun pihak musuh.

Dari Rumah Tjut Nyak Dhien kami mengunjungi Rumoh Aceh, ini adalah museum yang menyimpan berbagai benda dan artefak budaya Aceh. Titan senang sekali di Rumoh Aceh karena banyak sekali benda-benda yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Kami juga melihat monumen kapal yang terseret tsunami hingga mendarat di atap rumah penduduk di Kampung Lampulo. Hingga saat ini, lokasi mendaratnya kapal tersebut (biasa disebut Kapal Nabi Nuh) menjadi salah satu lokasi yang banyak dikunjungi wisatawan. Di bagian bawah terdapat spanduk berisi nama-nama korban tsunami. Di kampung Lampulo sekitar 1.000 warganya menjadi korban tsunami.


Puas berputar-putar kami menuju rumah makan yang menyediakan ayam tangkap. Di sini, selain menikmati ayam tangkap, lagi-lagi saya memesan minuman kesukaan saya, es timun serut.
Ayam tangkap ini adalah ayam goreng yang dimasak bersama potongan daun pandan dan daun jeruk purut. Ketika disajikan dalam piring potongan ayam kampung ditutupi hijau-hijau daun pandan dan daun jeruk yang digoreng bersama ayamnya. Rasanya enak, seperti ayam goreng biasa, namun memiliki bau yang khas. Titan menikmati sekali makan ayam tangkapnya. Dia bilang ini enak sekali.

Sehabis menikmati ayam tangkap, kami menuju warung kopi yang menyajikan kopi khas Aceh. Senangnya saya melihat aksi barista (peramu kopi aceh) menyajikan minuman kopinya. Seperti melihat pembuat kopi tarik tapi menggunakan wadah yang lebih besar. Saya baru tahu, barista memindah-mindahkan dan menyaring kopi supaya selain menghilangkan ampasnya juga menghilangkan asamnya. Kopi aceh yang termasuk jenis kopi arabica memiliki citarasa asam. Nah, supaya citarasa asam itu hilang maka sebelum disajikan dipindah-pindahkan seperti yang dilakukan oleh barista kopi aceh. Saya dan Titan sangat menikmati pertunjukkan barista sebelum menikmati segelas sanger (kopi susu) dan jajanan kecil (ketemu tymphan lagi).

Tak terasa waktu kembali sudah tiba. Akhirnya liburanpun berakhir sudah meninggalkan kenangan manis yang masih terpatri hingga kini. Suatu saat kami akan kembali ke Sabang dan menikmati kedalaman air di Iboih, tentunya saat itu saya harus sudah punya diving license (target selanjutnya...).




Sunday, 3 January 2016

Perjalanan Mengisi Baterai Jiwa

Alhamdulillah,  Akhirnya rencana Umrah akhir tahun lalu bisa direalisasikan. Rasanya semuanya begitu mudah dari persiapan sampai pembiayaan. Walaupun begitu, sebelum berangkat rasanya dag dig dug. Berbagai perasaan campur aduk. Takut ini dan itu.

Tanggal 23 Desember dini hari saya dan Titan mulai bersiap untuk ke Bandara Soeta. Sampai di Bandara, belum bertemu seluruh rombongan. Dari travel yang kami ikuti, sebagian besar jemaah berangkat dari Semarang, sehingga hanya kami bertiga (saya, Titan, dan satu bapak yang bersama kami berangkat dari Jakarta). Kami akan bertemu rombongan semarang di KLIA.

Perjalanan ke KLIA berlangsung lancar. Titan tenang dan excited, sementara saya sendiri masih saja dag dig dug. Banyak sekali yang saya kuatirkan dan pikirkan.
Ternyata kami landing lebih cepat dari jadual sementara rombongan Semarang mendarat terlambat. Akhirnya kami menunggu rombongan dulu, dan baru bertemu di gate keberangkatan. Rombongan kami ada 13, 14 dengan tour leader. Anggota rombongan semuanya sudah sepuh. Kami adalah anggota termuda. Dari KLIA kami melanjutkan penerbangan ke Jeddah. Alhamdulillah, untuk perjalanan menuju Jeddah kami mendapatkan kelas bisnis. Paling tidak lamanya perjalanan tidak akan terlalu terasa mengingat kami bisa duduk dan istirahat lebih nyaman. Titan begitu bahagia karena bisa tidur tanpa ketekuk tekuk.

Yang bahagia menikmati penerbangan ke Jeddah

9 jam perjalanan kami tempuh, sampai di Jeddah pukul 21.30 waktu Arab Saudi, dan ujian pertamapun dimulai. Pelayanan imigrasi di Jeddah luar biasa menuntut kesabaran tingkat dewa. Untuk mendapat cap paspor dan cek sidik jari, saya dan Titan harus menunggu selama 3 jam (padahal antrian sampai ke kami hanya sekitar 15 orang). Hampir tengah malam baru kami lepas dari imigrasi. Lepas dari imigrasi kami langsung berganti pakaian Ihram karena akan langsung umrah. Setelah Shalat Sunah Ihram kami menuju Mekkah. Perjalanan Jedah-Mekkah selama 1 jam kami lalui setengah tidur sambil menggumamkan doa..

Antrian menunggu proses imigrasi
Pukul 1 pagi kami tiba di Mekkah. Suasana ramai sekali, rasanya bukan seperti tengah malam. Ratusan mungkin ribuan jamaah masih memadati sekitar Masjidil Haram. Ah, rasanya luar biasa bisa berada di sini. Setelah bersiap memperbarui Wudu kami menuju Masjid. Jalan kaki dari hotel ke Masjid nggak sampai 10 menit. Di dalam masjid suasana begitu ramai, dan suasana Masjid begitu mendamaikan. Hingga kami tiba di Mataf (area Tawaf). Begitu memandang Ka'bah untuk pertama kalinya ada perasaan yang nggak bisa diceritakan dengan kata. Tenggorokan rasanya tersekat. We made it to Baitullah. betapa besar rasa syukur yang ingin saya katakan, namun rasanya bibir tak mampu ucapkan apapun.

Dini hari kami memulai Tawaf, putaran demi putaran, dilanjutkan dengan Sai antara Safa dan Marwah. Ah, betapa kecilnya kami dibandingkan dengan kuasaMu, ya Rabb. Betapa lemah kami di antara ribuan manusia yang bersama mengelilingi Ka'bah seperti Bumi dan Tata Surya yang bergerak dengan teratur sesuai aturanMu melafalkan doa dan pujian untukMu, ya Rabb. Betapa saya membayangkan Siti Hajar yang berlari antara Safa dan Marwah untuk mencarikan air bagi Ismail. Ketika umrah diakhiri dengan Tahalul, dilanjutkan dengan shalat di depan Ka'bah ada rasa bahagia yang begitu membuncah. Terimalah ibadah kami ya Rabb. Dan pertama kalinya dalam hidup saya shalat benar-benar di muka Ka'bah. Alhamdulillah....
Titan saat Sa'i

Bertahalul
Sesaat setelah Umrah


Subuh itu kami tetap di Masjid menunggu waktu Subuh tiba. Titan yang kelelahan tertidur lelap di pangkuan saya. Saat pertama kali mendengarkan azan subuh berkumandang di Masjidil Haram, aduh rasanya damai sekali. Kuping dan hati saya seperti dimanjakan dengan alunan lagu paling indah sedunia. Ya Allah perkenankan kami menikmati ini lagi dan lagi dan lagi...

Di dalam Masjidil Haram tersedia air zamzam untuk seluruh jamaah. Air zamzam ditempatkan dalam galon-galon di seantero masjid, sehingga siapapun yang merasa haus bisa melepas dahaga. Bahkan banyak jamaah yang membawa botol atau galon kecil yang diisi zamzam untuk dibawa entah ke rumah atau ke hotel. Ah, luar biasa rasanya menikmati segarnya zamzam di sini.
Air zamzam tersedia dalam versi dingin dan biasa di seantero Masjidil Haram untuk seluruh Jamaah

Selesai shalat Subuh kami kembali ke hotel untuk sarapan dan istirahat. Hingga menjelang Zuhur kami stay di hotel. Selama 2 hari berikutnya kami lebih banyak menghabiskan waktu di hotel dan Masjid. Indahnya....rasanya hidup nggak diburu-buru, tenang.
Waktu kami di Mekkah bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW dan hari Jum'at. Sehingga Masjid penuh luar biasa, hingga untuk shalat Jumat kami terpaksa shalat di pelataran Masjid. Sekalipun panasnya menyengat luar biasa, namun perasaan hati tetap nggak bisa ditukar dengan apapun.


Menunggu Jumatan di pelataran Masjidil Haram

Salah satu harapan saya ketika umrah adalah mendapat kesempatan berdoa di Multazam. Kesempatan itu kami peroleh pukul 3 pagi. Saya bersama Titan dan tour leader ke Masjid jam 3 pagi. Saat itu lebih lengang dibandingkan dengan siang atau malam hari. Alhamdulillah kami berhasil shalat di Multazam bahkan mencium Hajar Aswad. Ada rasa yang nggak bisa dilukiskan. Kalau kata Titan: pas tangan Titan megang Ka'bah itu rasanya tenang sekali....Ah, kamu mengungkapkannya dengan baik, anakku. Alhamdulillah.

Sabtu pagi kami mengikuti Mekkah City Tour, kami ke Jabal Rahmah, Jabal Nur dan Ji'ranah mengambil Miqat kedua. Seusai Zuhur kami kembali melaksanakan Umrah kedua. Alhamdulillah kesampaian juga mengumrahkan Mamah (sementara Titan bertekad mengumrahkan kakeknya). Sayang memang nggak kesampaian ajak Mamah umrah karena beliau keburu meninggal.

Semoga kelak kamu bisa menghafal dan mengamalkan Qur'an sebagaimana para Imam di Masjidil Haram ya, nak...
Jabal Rahmah
Jabal Nur


Selepas umrah kedua, Titan bersenang-senang mengejar-ngejar burung merpati yang ada di perjalanan antara masjid dan hotel. Masih dengan pakaian ihramnya yang sudah acak-acakan dia bahagia sekali berlarian di antara merpati.

Bahagia mengejar ngejar merpati


Minggu pagi kami memutuskan ambil tambahan tour mengunjungi Museum Ka'bah dan peternakan unta di Hudaibiah. Ternyata banyak sekali hal menarik di Museum Ka'bah. Lengkap sudah, bukan hanya jiwa yang diisi tapi juga tambahan pengetahuan. Kami juga sempat melewati masjid yang jadi tempat Perjanjian Hudaibiah antara kaum muslimin dengan kaum kafir Quraisy. Di peternakan unta kami sempat mencicipi susu unta yang rasanya asin seperti santan. Menurut beberapa artikel yang saya baca, susu unta ini nomor dua terbaik setelah asi. Kandungan asam amino dan proteinnya paling tinggi dibandingkan susu kambing apalagi susu sapi. Kolesterolnya pun paling rendah.

Museum Arsitektur Masjid

Peternakan Unta


Hari Senin pagi kami Tawaf Wada menjelang keberangkatan kami ke Madinah. Rasanya begitu berat hati meninggalkan Masjidil Haram, yang walaupun penuh berdesakan tapi selalu memberikan perasaan damai. Perkenankan kami kembali kemari suatu hari nanti ya Rabb...

Perjalanan ke Madinah kami tempuh dengan bis. Selama 6 jam di jalan lurus yang diapit bukit dan gurun. Tak terbayangkan ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, menempuh perjalanan selama 8 hari untuk menyebarkan Islam dan menghindari kaum Kafir Quraisy di Makkah.

Menjelang maghrib kami tiba di Madinah. Kami menuju Masjid Nabawi walaupun sudah terlambat untuk shalat berjamaah. Masjid Nabawi lebih modern dibandingkan dengan Masjidil Haram. Pintu masuk jamaah wanita sudah dibedakan dengan jamaah pria sehingga tidak kuatir diusir askar seperti di Makkah.


Kegiatan yang dilakukan selama di Madinah hampir sama dengan saat di Mekkah, Alhamdulillah kami bisa shalat dan memanjatkan doa di Rawdah. Hingga tiba saatnya kami kembali ke tanah air. Betapa besar perasaan syukur kami bisa mengunjungi Baitullah. Untuk kami perjalanan ini bukan hanya perjalanan biasa, tapi sebuah perjalanan untuk mengisi kosong jiwa kami. Perjalanan yang kami harapkan akan menjadikan kami manusia yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Perjalanan ini kami harapkan bukan menjadi perjalanan yang terakhir dan satu-satunya ke Baitullah. Doa kami adalah agar kami dapat kembali lagi menjadi tamu Allah di Baitullah. Perkenankanlah doa kami, ya Rabb.

On the flight back home