Monday, 22 August 2016

Our first trip to Melbourne, kota yang cantik dan ramah

Disclaimer: judul ini mengandung doa agar suatu hari bisa ke sana lagi...

Pertengahan Agustus ini akhirnya terealisasi juga perjalanan ke Melbourne. Kenapa sih Melbourne? Dari sekian banyak kota di Australia saya memilih kota ini sebagai destinasi pertama ke Australia adalah karena tergoda berbagai postingan foto atau cerita mengenai Melbourne. Ibukota negara bagian Victoria ini keliatannya keren, vintage tapi juga moderen. Sibuk, tapi juga ramah. Kebetulan lagi ada sepupu yang tinggal di sana plus bersedia kami invasi (ah, terima kasih banyak Om Erwin).

Perjalanan ini juga adalah perjalanan pertama kami yang bener-bener hanya berdua Titan, masuk ke negara yang aturannya (terutama di imigrasi) buanyak banget. Here is the story...

Awalnya di bulan April mengintip promo di Garuda Indonesia. Ada beberapa destinasi yang menawarkan tiket promo: beberapa kota di Jepang dan Australia. Setelah berpikir kalau Jepang akan lumayan riweuh mengingat hanya berdua dan pasti banyak kendala bahasa dan berdiskusi dengan sepupu, akhirnya saya pilih Melbourne. Setelah janjian waktunya (akhirnya nggak jadi ke sana pas lebaran), tanpa banyak mikir langsung saja saya pesan 2 tiket PP direct flight Jkt-Melb. Waktu kami membeli tiket harganya 14 juta-an return tiket untuk berdua.

Awal Juli saya mulai mengurus visa. Setelah melengkapi dokumen, saya akhirnya memutuskan minta bantuan tour agent untuk mengurus visa (alasannya karena malas ke kedutaan). Biaya mengurus visa biayanya 1.75jt per orang. Sebenarnya mengurus sendiri juga nggak sulit katanya. Asalkan semua persayaratan udah lengkap cepat dan mudah. Saya aja yang pemalas dan ogah ribet :D.
Nah, ternyata untuk saya, mengurus visa jadi rada-rada heboh. Karena status saya yang ibu tunggal jadi harus menyertakan dokumen yang menyatakan hak asuh anak, visa Titan sempat digantung. Visa saya selesai, tapi saya diultimatum untuk meminta tandatangan dan persetujuan ayah kandungnya Titan atau menyerahkan dokumen terkait hak asuh anak. Secara keputusan pengadilan (akta cerai) tidak menyertakan hak asuh anak (yang otomatis jatuh ke saya mengingat usia anak masih belum dewasa serta saya memenuhi syarat untuk jadi ibu tunggal) saya jadi bongkar-bongkar lagi semua dokumen. Untunglah di dokumen terakhir saya meminta pengukuhan hak asuh anak jadi walau hanya satu kalimat saja tapi cukup menyatakan bahwa saya yang berhak untuk pengasuhan anak. Buru-buru saya kirim ke kedutaan dan alhamdulillah seminggu kemudian visa untuk Titan keluar.

Visa Australia ini aneh bentuknya selembaran kertas begitu, bukan ditempel di paspornya jadi semua dokumen langsung saya scan untuk keamanan. Visanya berlaku untuk 3 bulan. Hal yang sama juga saya lakukan untuk paspor. Semua paspor saya foto untuk berjaga kalau ada apa-apa.

Setelah visa muncul, barulah saya mencari perlengkapan dan menyiapkan itinerary. Untuk itinerary cukup mudah mengingat semua bisa dilakukan via internet. Informasi untuk setiap tempat yang ingin dikunjungi cukup mudah diperoleh dari website masing-masing, termasuk opening hour dan admission. Saya juga banyak mengintip blog traveller yang pernah mengunjungi Melbourne untuk memastikan nanti nggak kesulitan di sana (termasuk mengintip kondisi cuaca, rute perjalanan, info makanan halal, dan lokasi-lokasi yang menarik buat dikunjungi). Ini semua memudahkan saya untuk menghitung dan memperkirakan kebutuhan biaya selama di sana (saya membuat daftar biaya termasuk souvenir, tiket, makan, dan uang cadangan). Nah, terkait dengan uang, saya menukarnya sebelum berangkat. Tips untuk yang mau nukar uang agak besar lebih baik memesan dulu. Hampir saja terjadi kekacauan gara-gara AUD ternyata nggak ada di beberapa money changer di seputaran Depok. Akhirnya saya memesan via satu bank plat merah dan baru diambil keesokan harinya.

Agustus di Australia masih musim dingin jadi perlengkapan perang harus ditambah, apalagi niatnya mau main salju. Untuk winter jacket agak sulit mencari toko yang jual. Saya akhirnya menemukan di Cibubur Junction. Lumayan saat itu sedang sale untuk beberapa produk jaket, jadi bisa dapat jaket untuk Titan dan dapet diskon juga, Alhamdulillah.

Akhirnya semua persiapan selesai. Saya membawa 3 koper. 2 koper cukup besar buat saya dan Titan plus beberapa barang titipan, dan 1 koper kabin khusus untuk oleh-oleh (isinya makanan semua). Australia ini cukup ketat di imigrasinya terkait dengan makanan. Ada beberapa jenis makanan yang tidak boleh dibawa: telur, produk mentahan, susu, daging, ikan dan sejenisnya. Saya sendiri membawa rendang (dikemas dengan kemasan vacuum dobel dan berlabel merek rendangnya), cuankie kering (olahan ikan, dibungkus rapi dan mencantumkan komposisi bahan pembuatannya), lapis legit, bolu gulung, dan beberapa kue khas Bandung untuk oleh-oleh).

Tiba saatnya mau berangkat ke bandara. Semua koper sudah masuk mobil. Tapi,  di perjalanan ke bandara tiba-tiba ban mobil pecah. Terpaksalah saya balik menunggu tukar mobil, untungnya masih dekat rumah. Deg-degan juga mengingat itu adalah Jum'at sore yang biasanya muacet luar biasa. Alhamdulillah semua bisa diatasi dan lalu lintas ke bandara lumayan bersahabat (kami sampai bandara jam 7 malam sementara penerbangan jam 22.30 hahahahahaha).

Perjalanan ditempuh sekitar 7 jam, lumayan juga antara tidur dan tidak. Titan sih langsung merem begitu duduk di kursi pesawat dan baru bangun menjelang landing. Kami landing jam 08.00 pagi waktu Melbourne dan disambut antrian imigrasi yang lumayan panjang. Ah ya ada pemogokan pekerja imigrasi selama 24 jam sejak Jum'at. Kelihatannya kami masih kena imbasnya....
Selesai cek paspor saya masih deg2an mengingat di salah satu koper saya membawa rendang dan cuankie kering. Rendangnya sendiri dibungkus kemasan vacum dobel dari pembuatnya. Jadi, rapi dan nggak berbau sama sekali, Di kartu kedatangan saya declare semua bawaan saya (saya mencentang adanya produk yang mengandung egg, meat, and fish), tapi saya masih belum yakin bisa lolos atau tidak. Alhamdulillah ketika ditanya makanan apa yang saya bawa, ternyata saya boleh langsung keluar bandara. Yeayyyyy rendang dan cuankie amannnnn. Alhamdulillah.
Ohya, ketika antri di imigrasi petugas berkeliling ditemani seekor anjing kecil yang mengendus seluruh penumpang. Kelihatannya untuk memastikan kita nggak bawa drugs. Saya dan Titan yang takut sama anjing rada mengkeret juga, untung dia hanya lewat nggak bolak balik ngendus2 kami.

Setiba di luar bandara kami celingukan mencari sepupu yang jemput. Terpaksa pakai sms mengingat saya salah set paket roaming. Untuk roaming saya menggunakan 3 yang mendadak saya beli (gara2 nomor lain yang saya pakai harganya muahalll). Nah, salahnya saya adalah sebelum mengaktifkan data roaming saya lupa set manual jaringan 3 yang berpartner di Australia. Hasilnya paket diaktifkan tapi pulsa 100 ribu langsung habis dalam hitungan detik. Terpaksalah saya mengandalkan sms untuk komunikasi (dua hari terakhir baru diketahui masalahnya, setelah menghabiskan pulsa 150 ribu barulah saya bisa lancar berselancar dengan nomor Indonesia) juga koneksi wi fi.

Dari bandara menuju kota kami menggunakan shuttle (skybus). Harganya murah banget dibanding taksi (taksi Bandara-city sekitar AUD80, sementara shuttle AUD19/adult dan ternyata gratis untuk Titan. Shuttle-nya nyaman, bersih, ramah, dan ada free wi fi-nya. Perjalanan hanya sekitar 30 menit menuju city, dengan perhentian di Southern Cross Station (ternyata deket banget sama Etihad Stadium, Dockland alias Southbank).




Dari Southern Cross Sta kami berjalan kaki sekitar 3 blok menuju apartemen sepupu. Udara dingin menerpa, lumayan jadinya nggak berasa gerah menggeret 3 koper besar. Sebenarnya kami bisa pakai tramp, tapi nanggung juga. Terlebih kayaknya pengen langsung menjelajah kota, jadi jalan kaki asik-asik aja (Titan agak ngomel tapi dia senang lihat kota yang rapi).

Nggak lama kami di apt, kami langsung bergerak. Perut yang lapar memaksa kami cari brunch. Dengan rekomendasi sepupu kami makan brunch di Little Mule di Somerset Place. Tempatnya kecil, di gang pula, tapi makanannya enak banget. Kami makan bagel with smoke salmon and poach egg. rasanya sedap banget dengan kuning telur yang meleleh leleh. Harganya kalo nggak salah AUD15.  Untuk minum kami sih pakai tap water yang gratisan. Gak rela banget ngeluarin duit AUD4.5 buat sebotol air mineral (600 ml) hahahaha. Sebenarnya di sebelah si Little Mule ada cafe lain untuk brunch, tapi antriannya alamaak...padahal perut udah lapar pula.

Setelah perut kenyang kami menuju satu tempat kopi yang namanya Brother Baba Budan. Kabarnya ini tempat ngupi paling enak se-Melbourne. Berhubung tempatnya penuh banget dan saya pengen jalan-jalan akhirnya segelas kecil latte seharga AUD4.5 saya bawa saja. Sambil menyesap latte kami berjalan ke Queen Victoria Market. Queen Victoria Market ini adalah pasar tradisional yang buka 5 hari dalam seminggu. Hari Senin dan Rabu pasar ini tutup (kalau mau ke sini pastikan dulu harinya biar nggak kecele). Di Queen Victoria Market kami hanya sebentar, bertemu dengan seorang teman lama, adik kelas semasa kuliah yang sedang menemani sang istri yang lanjut sekolah di Melbourne. Senangnya hari pertama datang bisa bertemu dengan teman lama. Keep the faith, brother. Hebatnya dirimu yang menyokong istri sepenuh hati. Semoga semuanya lancar yaaa....

Dari market kami naik tramp ke Hossier Lane adalah satu gang kecil antara Russel St. dan Swanston St. Jalan ini unik karena seluruh dindingnya dihias grafiti. Keren banget, jadi salah satu spot andalan buat foto-foto. Kami juga sempat melihat salah satu street artist yang sedang "mencoret" tembok. Juga sempat melihat satu cewek yang pakai celana pendek dan tanktop doang memutar 3 hullahup sekaligus (kuat bener nahan dingin pakai tanktop doang secara kami pakai jaket super tebal hahahaha).


Dari Hossier Lane kami jalan kaki ke Federation Square. Lapangan ini ramai sekali dan katanya biasanya ada art performance (waktu kami datang ada acara seni yang diadakan komunitas India). Lapangannya ramai dan ber free wi fi, Jadi enak duduk-duduk sambil berselancar di dunia maya (saya sih sayang kalo melototin hp, enakan juga melototin orang-orang haha).

Kami juga masuk ke ACMI (Australian Centre for Moving Image) yang ternyata lagi ada pameran karya2 Martin Scorcese. Titan mah betah banget masuk sini karena ada banyak hal berkaitan sama animasi dan games (tetep aja ya kudu ada games).


Dari situ kami menjelajah ke arah Princess Bridge, salah satu landmark dan jadi tempat fotostop orang yang ke Melb. Princess Bridge ini membentang di St. Kilda Rd di atas Yarra River. Pemandangan menjelang sunset di sini luar biasa cantik. Perpaduan antara bangunan klasik dan moderen di sepanjang tepi sungai juga keren banget. Cuaca cerah nambah cantik suasana di sana. Dan seperti orang kebanyakan kami nggak lupa foto2 di situ (narsis harus tetap jalan).



Puas muter-muter di sini kami lanjut jalan kaki ke Elizabeth St. menuju Nene Korean Fried Chicken. Itu salah satu halal food di Melbourne. Entah karena dingin, entah lapar, entah kenapa kami bertiga menghabiskan 12 potong ayam (swicy: sweet and spicy, original, dan hot) plus kentang dan coleslaw. Rakus? Pastinya. Harganya untuk 8pcs plus kentang goreng sekitar AUD24 (bisa untuk berdua). Makan di sini lucu, karena nggak ada buat cuci tangan (akses toiletnya kudu minta kunci ke pekerjanya) jadi kita makan dengan tangan pakai sarung tangan plastik. Untuk makan pickles dan salad kita pakai chopstick...padahal bumbu ayam gorengnya itu finger licking banget daaah.....
Sebenarnya makan tadi udah banyak banget dan mengenyangkan. Tapi, ketika kami berjalan pulang dan melihat Sushi Hub (katanya ini enak banget) yang antriannya panjang Titan dan sepupu ikutan ngantri donggg hahahahaha dan salmon sushi dia makan sambil duduk di bangku pinggir jalan...sedapnyooo. Ohya trotoar di sini lebar2. Kalau saya bilang trotoar sama jalan sama lebarnya. Jalannya gak rame2 amet karena sarana transportasi umumnya bagus. Orang mending pakai transport umum atau jalan kaki...Andai Indonesia kayak gini, pasti nggak banyak org obesitas dan nggak macet daah.


Hari kedua di Melbourne. Pagi-pagi setelah sarapan (Titan lagi doyan banget makan smoked salmon) kami berjalan kaki ke Melbourne Sea Life Aquarium. Lokasinya di Flinders St, nggak jauh dari Collins St. Jadi sambil menikmati udara pagi menjelang siang, kami berjalan sekitar 3 blok. Setelah membeli tiket (harganya AUD40 untuk dewasa dan AUD26 untuk anak-anak), kami masuk membawa selembar kertas semacam games interaktif untuk anak-anak, Tema aquarium saat itu Finding Dory, mungkin bertepatan dengan filmnya ya. Di kertas itu ada beberapa petunjuk dan lingkaran untuk stamp. Anak-anak diajak menemukan atau melakukan sesuatu sesuai petunjuk, misalnya menyentuh bintang laut dan memberikan stamp pada lingkaran. Alat buat stamp ada di setiap lokasi yang dituju dalam games. Sayangnya Titan keburu bosan ngisi petunjuknya dan lebih suka menikmati akuariumnya, jadi kami kurang tau nasib si kertas itu kemudian bagaimana.
Ohya, di pintu masuk, setelah periksa tiket, kami dihentikan untuk diambil foto. Rupanya di bagian akhir sebelum keluar kami bisa membeli seluruh foto+file seharga AUD45 atau hanya membeli filenya saja (download dari websitenya dia) seharga AUD25. Saya akhirnya membeli filenya saja, lebih murah hehehe.
Home made breakfast
Melbourne Aquarium ini seperti Sea World di Ancol, hanya saja di setiap akuarium selalu dilengkapi dengan papan interaktif yang berisi keterangan hewan yang ada di akuarium tersebut (nama, ditemukan di mana, status kelangkaan, makanan, dll). Ini menarik, terutama untuk anak-anak yang penasarannya tinggi.

Di bagian akhir adalah yang paling asik, Pinguin Playground. Di sini kami bisa melihat pinguin raja yang berukuran besar dan pinguin gentoo. Pinguin-pinguin ini diletakkan dalam akuarium besar yang alasnya bersalju. Lapisan salju ditambah oleh petugas secara periodik. Ada puluhan pinguin di sini. Di sebelah playground terdapat akuarium besar berisi air untuk berenang para pinguin. Ternyata burung-burung lucu ini perenang cepat, walaupun badannya besar tapi kecepatan berenangnya luar biasa.


Puas main di Melbourne Aquarium, kami menuju ke St. Kilda. Hari yang cerah menggoda kami untuk menikmati suasana pantai di St. Kilda Beach. Karena lokasinya yang cukup jauh, di zone 2, kami akhirnya membeli Myki (kartu pelanggan tramp), Kartunya saja masing-masing seharga AUD6 untuk dewasa dan AUD3 untuk anak-anak. Untuk ke St. Kilda kami mengisi top up masing-masing AUD10. Saat masuk tramp kami tap kartu di pintu masuk. Sebenarnya nggak selalu diperiksa, tapi bisa sewaktu-waktu dicek. Dan sekalipun nggak diperiksa tetap saja penumpang yang menuju daerah di luar Free Tramp Zone men-tap kartunya masing-masing. Disiplin dan tertib aturannya layak ditiru deh.

Sampai St. Kilda sasaran kami pertama adalah makan Fish and Chips. Nah, ternyata dari sekian resto yang ada di tepi pantai menyajikan Fish and Chips dengan beer battered. Waduuuuh, batal dah makan itu fish and chips yang begitu menggoda. Akhirnya kami jalan balik 1 stasiun mencari Fish and Chips yang batter-nya nggak pakai bir. Setelah berjalan lumayan jauh barulah kami nemu. Dengan semangat 45 saya mesan 1 large untuk saya dan 1 medium untuk Titan. Begitu datang kami terkejut sendiri karena porsinya jumbo sangat hahahahahah (sebenarnya bisa mesan 1 large untuk berdua). Nasiiiiibbbbbbb....(buang berapa dolar iniiiii).

Sehabis makan kami berjalan balik ke pantai melalui Luna Park. Luna Park ini taman permainan seperti Taman Ria Senayan. Sudah tua, jadi kayaknya agak2 spooky. Pantai St. Kilda biasa saja, tapi memang bersih dan nyaman. Banyak orang yang sekedar duduk-duduk menikmati udara yang cerah (tapi dingin menggigit) atau olah raga. Seandainya banyak tempat begini di Indonesia tentu saya bisa lebih langsing hahahahah (ngarep).

Dari St. Kilda kami mencari supermarket Aldi (ternyata lumayan jauh tempatnya). Aldi ini adalah supermarket Jerman yang menjual makanan. Segala jenis biskuit, cokelat, dairy products ada di sini. Saya jadi tergoda juga beli macam-macam. Apalagi lihat greek yoghurt dan almond milk organic wahhhhh kacauu ini. Sebenarnya kami ke sini mencari sejenis biskuit yang namanya Golden Vale Morning Break Strawberry Biscuit (panjang beneeer namanya). Tapi, jadinya sih sekeranjang juga belanjaannya (nemu cokelat yang namanya Titan, dibeli gara2 namanya Titan hahahaha).
Dan, malam ini cuankie yang lolos diselundupkan ini kita masak. Tadaaa, cuankie (plus fish ball) goes to Melbourne judulnya...enak disantap saat udara dingin menggigit beginih...



Catatan: cuankie ini dipesan dari seorang sahabat di Bandung. Kalau mau ikut mesen boleh kukasih nomornya (promosi) hihihi.

Hari ketiga, subuh-subuh kami sudah bangun karena harus ke Swanston St, Kami sudah book tour untuk ke Mount Buller di Green Express Tour. Menurut ramalan cuaca, hari ini cuaca di Mt. Buller cerah ceria. Pukul 06 pagi kami sudah berangkat menggunakan bis. Lumayan nyaman bisnya, tapi ada kejadian menyebalkan. Travel ini rupanya memang favorit salah satu suku bangsa, sepanjang tour pun bahasa yang digunakan bahasa suku bangsa itu. Harganya lumayan murah, tapi sebagian besar peserta agak2 arogan, sampai untuk duduk pun mereka harus di depan. Walaupun dia masuk bis belakangan, saya dan putra saya tetap nggak boleh duduk di sana. Saat pulang kami sampai harus pindah 3x sampai tour guidenya minta maaf berkali-kali.

Okay, Mount Buller, sekitar 232 KM dari Melbourne, kami langsung dibebaskan saat tiba di sana dan hanya diminta kembali pada pukul 15.20 sore nanti. Kami tiba di sana pukul 11 pagi. Masih cukup lama. Begitu keluar kami langsung ke tempat sewa toboggan. Toboggan ini seperti baki dari plastik yang ujungnya diberi tali untuk pegangan. Gunanya untuk main seluncuran. Setelah sedikit nyasar2 (padahal gedungnya depan mata masih pakai nyasar), kami berhasil minjam toboggan (ini sudah dibayar di depan di travel agent jadi kami hanya menyerahkan kartu tour kami). Titan senang sekali dan langsung saja mau ngacir ke Toboggan Park yang ada di seberang jalan.

Sampai di toboggan park nggak pake ba bi bu dia langsung bahagia main seluncuran di salju. Cuaca yang cerah ceria membuat angin nggak terlalu dingin. Saking asiknya, 2 jam dia main di sana, saya hanya dibolehin minjam 1x saja! Bocaaaah hahahahaha.



Tips: kalau mau main salju pakai winter jacket yang waterproof juga celana yang ada pelapis hangat dan waterproof juga. Untuk sarung tangan kami cukup nekad dengan sarung tangan biasa (saya malah nggak pakai). Seharusnya sarung tangan khusus untuk salju yang waterproof juga. Sepatu lebih enak pakai boots kulit biar nggak basah ke dalam kaus kaki saat gulingn-gulingan atau main lempar-lemparan salju.

Tengah hari kami mulai kelaparan tapi masih mau naik lift sight seeing. Dan lagi-lagi setelah nyasar saat kembalikan tobbogan, kami naik shuttle untuk menuju ke bagian lain dari Mount Buller menuju Northern Express. Tiket sudah kami pegang dan kami boleh naik sepuasnya. Awalnya Titan takut sekali naik Sight Seeing Lift, tapi setelah naik dia malah keasikan. Walaupun di atas dinginnya nggak karuan (liftnya terbuka) kami tetap saja tertawa-tawa memecah suasana pegunungan yang sunyi. Pemandangannya memang ciamik. Ini sudah akhir musim dingin, salju mulai meleleh menampakkan gerumbulan hijau di balik tumpukan putih. Cantik!


Puas naik sight seeing lift kami balik ke main area untuk cari makan. Setelah tengok kiri kanan akhirnya kami makan di Pat's Italian Kitchen. Dan ini adalah makan siang termahal kami. Berdua kami makan spagheti bolognaise, spinach and roasted pumpkin salad plus pumpkin soup, plus segelas latte dan hot chocolate semuanya AUD86!!! (mengingat kurs saat itu mending nggak usah dipikirin dah), mari kita makan sajahhhh.

Sambil nunggu saat kumpul, kami main-main dekat area ski. Asik juga, kapan lagi lihat salju hahaha.
Sampai akhirnya waktu pulang tiba. Puas rasanya, dan sepanjang perjalanan pulang kami tertidur.
Begitu tiba di Melbourne, niat pertama adalah makan. Udara dingin dan lelah membuat perut rasanya teriak. Langsung kami nyebrang ke Mekong, resto Pho yang terkenal di Melbourne. Kami dengan rakusnya mesan pho semangkuk besar dengan beef slices, 2 lemon honey panas, 1 vegetarian spring roll dengan hoisin sauce, dan 1 tofu goreng seharga AUD60. Kenyang bener.
Mekong ini berada di Swanston St. tempatnya kecil tapi ramai. Kami sempat nunggu kursi kosong sebelum masuk ke sana. Hidangan utamanya adalah Pho, noodle soup khas vietnam dari kaldu sapi dilengkapi basil, tauge, dan mint. Sedapnya disantap panas dan pedas apalagi kalau sliced beefnya masih pinki. Uenakkkkk....


Puas makan pho, kami masih jalan ke San Churros masih di Swanston St. untuk menikmati Churros dan hot chocolate terenak (katanya) se Melbourne, bersama sepupu. Saya dipesankan secangkir Azteca, cokelat panas kental berasa pedas (harganya sekitar AUD5.9. Rasanya enakkkk, thick and spicy hot chocolate. Kami juga dipesankan churros dengan dipping cokelat dan salted caramel. Ah, rasanya sedap banget. Abis dari situ perut rasanya mau meledak kekenyangan hahaha.


Hari keempat, pagi ini kami kembali ke Queen Victoria Market. Rencananya mau sarapan di situ. Dari Elizabeth St kami naik tramp sampai ke market. Kami masuk dari area Fish and meat. Titan langsung protes disambut bau ikan segar. Sementara mata saya jelalatan liat aneka ikan segar. Haduuuh coba yang beginian ada di sanaaa (Depok maksudnya)...Selamat Pagi! terdengar sapaan dari orang Indonesia yang berjualan ikan di sana. Senangnya disambut ramah.

Dari area Fish and Meat kami melalui area Deli, di sini dijual aneka kue dan makanan siap santap termasuk kopi. Aroma dan bentuk aneka makanan menggugah selera. Ke luar dari area Deli kami masuk ke area buah dan sayur. Lihat sayur dan buah segar dipajang perut jadi tambah lapar. Semua segar dan menggoda, apalagi area organiknya.
Kami masih berjalan menuju area umum, di sana tempat aneka souvenir dan ada juga yang jual pakaian atau perlengkapan rumah tangga. Saya menuju tempat souvenir mau beli kaos. Alhamdulillah, bertemu dengan Mba Yani, seorang lulusan S2 UGM yang menemani suaminya menempuh pendidikan S3. Untuk mengisi waktu dan menambah penghasilan Mba Yani menjaga toko souvenir yang jual T-shirt. Alhamdulillah udah dapat harga miring, Titan disuguhi bolen buatannya sendiri. Terima kasih banyak, Mba. Semoga studi suaminya lancar dan bisa segera kembali ke tanah air.

Selesai belanja, Titan sudah teriak-teriak lapar. Kami kembali ke area Deli dan dia memilih 2 potong Pizza Cheese, sementara saya makan sepotong apple pie dan secangkir kecil kopi pahit. Kami makan di selasar market yang dinginnya ampun-ampunan hingga akhirnya Titan menyerah dan makan sambil berdiri di area dalam.

Dari Market kami bergegas naik tramp ke Flinders St. Niatnya mau ke Melbourne Museum, Ternyata setelah tanya kiri kanan kami salah jalan. Dan akhirnya kami disarankan untuk bertanya pada team yang berompi merah (saya lupa sebutannya) yang ternyata memang bertugas membantu turis yang nyasar seperti kami. Setiap personal dari petugas ini (kayaknya sih warga yang sudah pensiun, soalnya pada sepuh2) tapi masih aktif membantu kotanya dibekali pulpen dan setumpuk peta. Saya mendapat penjelasan rute yang harus saya ambil plus peta tramp plus informasi lain yang saya perlukan (ternyata harus isi Myki dan bisa dilakukan di 7 eleven). Kami jalan kaki lagi ke 7 eleven mengisi top up kedua Myki kami lalu bergegas untuk naik tramp di Bourke St.

Dan akhirnya kami tiba di Melbourne Museum. Kebetulan saat ini sedang ada Jurrasic Wold Exhibition. Titan mah seneng banget. Sehabis beli tiket kami langsung ke area exhibisi dulu. Keren juga, settingnya dibuat sama seperti film Jurrasic World dengan layar besar seperti control room. Dinosaurusnya juga berukuran besar banget, dengan tata lampu dan tata suara yang lumayan bagus. Si dinosaurusnya bukan hanya bisa gerakan kepala tapi bisa bergerak beberapa langkah. Ketika tiba di area T-Rex Titan sempat ngumpet di belakang punggung gara-gara T-Rex mendekat sambil meraung memperlihatkan giginya yang gede-gede dan tajam sambil  mengguncang mobil yang diletakkan di area pameran (kayak filmnya deh). Kata Titan favoritnya dia adalah ankylosaurus, dinosaurus yang punggungnya berduri-duri tapi bukan stegosaurus.






Setelah dari pameran dinosaurus kami masuk ke area museum. Area museumnya dibagi per katagori, ada yang tentang earth, natur, forest, dan mind and body. Di area Earth disediakan teater 3D yang menceritakan terjadinya bumi sampai pembentukkan lempeng dan peristiwa gempa serta letusan gunung berapi. Teaternya berbentuk lingkaran dengan layar melengkung, mengikuti bentuk dinding. Kami menonton mengenakan kacamata 3D sambil duduk di karpet. Keren luar biasa. Dengan senang hati saya jelaskan apapun yang terjadi di layar ke Titan. Dia senang sekali karena dapat ilmu baru. Di sana juga banyak dipamerkan fosil dan aneka mineral. Dia amaze banget liat bongkahan berlian serta aneka batuan dan mineral warna warni. Barulah dia tahu asalnya batu akik itu dari mana hahahahaha.


Galery dilengkapi papan sentuh sehingga pengunjung tinggal sentuh gambarnya untuk dapat informasi mengenai hewan tertentu (habitat, makanan, dan status kelangkaannya)




Di area mind and body banyak peraga-peraga yang menunjukkan fungsi dan cara kerja aneka bagian tubuh. Ada bagian yang dia suka di area pencernaan. Ada satu tombol yang ketika ditekan maka akan diperagakan urutan pencernaan dan diakhiri dengan bunyi orang pup. Sampai ketawa-ketawa dia bolak balik ke situ.

Puas di Melbourne Museum, kami naik tramp trus jalan kaki di sepanjang Elizabeth St mencari Nene Korean Fried Chicken yang kita makan 2 malam lalu. Titan sejak kemarin pengen sekali makan ini (lagi), jadi terpaksa deh nyari tanpa GPS. Agak lupa tempatnya sehingga harus berjalan kaki sampai ujung jalan (setengah jam kali kami jalan kaki) dan akhirnya ketemu. Alhamdulillah kenyang makan 8 potong berdua (Titan 5 saya 3 hihi). Abis makan dengan kaki yang berasa patah kami pulang ke apt.



Hari kelima. Hari ini hari terakhir kami di Melbourne. Pagi ini agak terlambat setengah berlari nyeret Titan yang berlambat-lambat, kami balik ke Swanston St, ke travel agent yang kemarin. Kami sudah booking tour ke Sovereign Hill and Balarat Wild Life Park. Hari ini kami tour full Chinese speaking. Sampai akhirnya saya putuskan minta brief sendiri plus map yang berbahasa Inggris untuk jalan sendiri saja nanti di lokasi. Toh ikut dia juga nggak ngerti apa2.
3 jam perjalanan kami tempuh sampai di Balarat Wildlife Park. di sini acaranya hanya lihat kanguru dan koala. Meskipun agak gerimis tapi udaranya gak sedingin biasanya. Judulnya hari ini salah kostum deh pakai jaket tebal-tebal ternyata panas banget. Senangnya adalah Titan yang tadinya nggak mau dekat-dekat kanguru malah berani pegang dan feeding, bahkan mau ngejar-ngejar kanguru kecil yang pemalu.


This is one of our favourite picture

Abis feeding kangoro sama foto dengan koala kami jalan sebentar terus diantar ke Sovereign Hill. Tempat ini adalah bekas pertambangan emas di era Victoria. Di sini masih ada bangunan-bangunan tua yang dulu digunakan sebagai bank, kantor pos, tempat pemurnian emas, dan bahkan ada tempat pembuatan ladam kuda. Sambil menunggu tour ke underground mining, kami sempat keliling naik kereta kuda (bayar AUD5.5 untuk adult dan free untuk child). Kudanya besar-besar banget.



Ini hasil penimbangan berat badan Titan di timbangan emas. Kalau dia emas harganya segitu itu. Tapi, karena dia Titan tentu buat ibunya jauuuuuuh lebih berharga dibanding emas segede apapun dong 

 Memasuki area underground mining kami naik semacam kereta untuk turun. kemudian kami berjalan di dalam tambang yang gelap dan berdebu. Di dalam tambang ada pemutaran film. Karena saya ikut tour yang chinese speaking, maka film yang diputar pun tentang 2 bersaudara dari China yang datang ke Victoria untuk mengadu nasib mencari emas saat era gold rush. Mereka mendapatkan emasnya, namun tambang tiba-tiba runtuh. Satu dari dua bersaudara tersebut meninggal tertimbun reruntuhan, sementara satu lagi selamat dan menikah dengan wanita lokal.~The end.
Di kereta untuk turun ke tambang bawah tanah. Badan kereta dibuat dari kayu dan seluruhnya dilapisa rangka baja dan dirutup kawat baja juga. Jadi benar-benar tertutup.

Abis tour kami makan siang di Charlie Napier Hotel (namanya itu tapi itu tempat makan koq). Hidangan yang disajikan southern dishes. Saya sendiri memesan lemongrass tea dan colonial pot pie, lamb stew yang disajikan dengan pie crust plus vegetables dan mashed potato dengan brown sauce. Titan mesan vanila milkshake (gelasnya besar sekali dan yummy) plus spagheti with meatballs. Rasanya sedap dan kenyang.


Sehabis makan niatnya mau berfoto ala Victoria gitu tapi ternyata harus booking dulu, sementara kami di sana hanya sekitar 1 jam lagi. Akhirnya Titan ngajak ke sungai untuk ikutan nyoba gold panning (mencari emas di sungai). Senang sekali dia coba gold panning sampai satu-satu batu dia angkat: ini emas bukan, Bu?

Kami juga masuk ke gold museum. Di sana dipajang berbagai benda dan foto terkait sejarah penambangan emas di Victoria, khususnya di Sovereign Hill. Di museum juga dipajang segala nuget emas dari berbagai tempat. Dari museum kami kembali ke bis untuk pulang ke Melbourne.

Sampai di Melbourne kami mampir ke Target. Saya janji ke Titan untuk belikan dia Lego. Dan seperti biasa kalau sudah lihat tumpukan lego dia panik sendiri. Semuanya mau dibeli. Akhirnya setelah bolak balik mikir jadi deh 4 set lego dia beli. Alamaaaak...
Abis shalat maghrib, kami bersama sepupu jalan ke Crown Casino and Entertaiment Complex. Bukan mau main roulette tapi mau makan hihi. Di sini katanya banyak orang Indonesia yang main judi. Kami sih mampir di food court  untuk makan. Titan sempat beli vanilla ice cream yang rasanya vanilla banget, yummm. Dari ini lanjut jalan-jalan ke sepanjang Southbank dan Doclands. Keren memang kota ini di waktu malam atau siang. Cantik.


Malam terakhir di Melbourne saya ditraktir donut terenak di Aussie: Doughnut Time. Menurut rekomendasi yang terenak adalah yang berisi nuttela. Harganya AUD7!!! Mungkin ini juga donat termahal sedunia dah. Ukurannya besar, jadi ragu apa iya habis dimakan sendiri.




Sampai apartemen saya langsung packing. Ampun dah ternyata tetap harus bawa 3 koper biar nggak pada mucung itu koper. Beres packing saya menikmati donat yang nutella nya sampai berleleran. Ya ampun ini nutela sebotol kayaknya masuk sini semua deh. Yummmm....(dan si donat besar pun berakhir masuk perut, habis!!!)

Pagi-pagi selesai mandi dan packing pakaian terakhir, kami bersiap pulang. Diantar sepupu sampai ke Southern Cross Station tempat SkyBus mangkal. Dari Bourke St. kami pakai tramp sampai stasiun, ah liburan berakhir sudah. Kami berpisah dengan Om Erwin yang baik yang sudah menampung kami selama 5 hari yang menyenangkan ini. Hatur nuhun pisan, Om.

Kami tiba di Tullamarine Melbourne International Airport kepagian, tapi jadinya santai banget. Duduk-duduk sambil menunggu counter check in dibuka, tinggal drop bagasi aja. Banyak ketemu sama orang Indonesia yang mau pada pulang jadi sambil ngobrol-ngobrol. Setelah check in Titan sarapan di McD, abis itu jalan-jalan di dalam. Airportnya besar dan bersih, Menyenangkan buat dijelajahi, walaupun kayaknya masih kalah dari Changi. Menjelang mau masuk gate eh nemu noodle resto yang halal. Halahh jadi belok ke sana dan menikmati semangkuk Malaysian Noodle with beef (yang ngabisin akhirnya Titan hihi).



Di pesawat Titan malah keasikan nonton, nggak tidur sama sekali. Sempet ada insiden mimisan. Untunglah mas pramugara dan mbak pramugarinya baik-baik. Kami dibantu dari dikasih handuk diisi es batu untuk kompres sampai dikasih teh manis panas dan berkotak kotak tisu buat nyumpal hidung. Bahkan Titan dapat extra meal, gara-gara dia bilang lapar sama pramugaranya hahaha. Terima kasih banyak Mba pramugari dan mas parmugara Garuda yang baik-baik dan ramah.

Dan officially holiday is over. Bye Melbourne, hope we'll see you again....

Wednesday, 27 July 2016

Mengutip kalimat Titan:"Naik Kelas itu Merepotkan!!"

Naik kelas itu merepotkan!!
Hahahaha kalimat itu terlontar ketika Titan saya ajak ke toko buku membeli perlengkapan sekolahnya.
Titan naik level 2 dengan nilai yang Alhamdulillah, melebihi rata-rata kelasnya yang juga tinggi. Sebenarnya untuk saya sendiri, nilai itu bukan hal terpenting. Hal terpenting yang selalu sampaikan ke Titan adalah berbuatlah yang terbaik, sebaik yang kamu bisa. Because I know that you are smart and creative. Kalau kamu sudah lakukan yang terbaik, hasil baik insha Allah diperoleh.

Sebenarnya kenapa sih repot (kalau kata Titan)? Menurut dia merepotkan sangat karena harus mencari sampul plastik siap pakai dan sampul plastik gulungan, krayon dengan katagori yang sudah ditentukan (merek dan isinya), alat tulis jenis  tertentu serta printilan lainnya. Tapi, sebenarnya, repotnya adalah karena Titan selalu punya pilihan sendiri (dia lebih suka pakai pensil warna ketimbang krayon, suka penggaris yang logam ketimbang yang plastik, dll...). Kenapa sih harus sama? Supaya nggak iri2an dan nggak jadi ajang pamer. Yang penting kan fungsional.

Titan sekolah di SDIT yang sudah memiliki sistem yang terorganisir. Setiap awal tahun ajaran baru, seluruh orang tua akan mendapat edaran mengenai apa saja yang harus disiapkan, list buku paket (boleh dibeli di sekolah atau di toko buku), ATK (krayon isi sekian, pensil, penghapus, penggaris 30cm, dll), buku tulis (dibeli di sekolah) yang sudah dilabel nama dan ditempel potongan kertas origami dengan warna sesuai mata pelajaran di bagian punggung buku), sampai sandal jepit (warnanya sama untuk masing-masing level, jadi di masjid saat shalat akan ada 5 warna sandal jepit  untuk 5 level, level 1 shalat di kelas masing-masing), juga pakaian ganti lengkap sampai pakaian dalam.

Merepotkan? Tentu saja buat orang tua seperti saya yang selain single juga harus bekerja purna waktu. Tetapi, alhamdulillah, ini salah satu yang saya suka di sekolah ini adalah komunikasi antarorang tua siswa yang intens, Begitu tahu kelas anaknya yang mana (setiap kenaikan kelas, siswa akan diacak lagi sehingga temannya selalu berubah), beberapa bunda langsung berinisiatif membentuk grup WA kelas (biasanya volunteer menjadi kordinator kelas) dan memasukkan nomor2 bunda-bunda yang anaknya ada di kelas tersebut. Seluruh pengumuman, kegiatan, tugas, pembagian jatah tugas menyediakan makanan sehat setiap minggu untuk anak-anak kelas, serta apapun yang terjadi di sekolah termasuk kalau ada anak yang sakit, ketinggalan bekal, atau belum dijemput, akan dipublish di sini. Begitu cepat informasi tersampaikan, sehingga sesama orang tua bisa saling bantu dan saling pantau. Tentu saja tidak ketinggalan foto kejadian di sekolah selama kegiatan belajar belum mulai juga diposting di grup (biasanya kalau ada yang lucu-lucu ketika pagi2 anak-anak baru datang). Pun, ketika kami kesulitan mencari sandal jepit warna kuning (kami dapatnya sandal oranye yang seharusnya untuk level lain), ada bunda yang menawarkan untuk mencarikan karena kebetulan tahu tempat yang bisa menyediakannya

Lebih seru lagi, WAG level 1 yang lalu (mantan kelasnya Titan) nggak mau dibubarkan. Jadi, walau sudah terpencar-pencar di kelas lain, tetap saja informasi di grup ini lebih cepat. Juga saling membantunya tetap seru. Hari ini saya angkat 2 jempol saya buat bunda yang dulu jadi korlas kami yang menawarkan bantuan untuk satu bunda lain yang kebetulan sedang tugas di luar kota sehingga sama sekali belum menyiapkan buku tulis (belum disampul dan diberi label nama dan warna). Bantuan ini sederhana, tapi luar biasa. Bukan hanya itu, di hari pertama masuk sekolah, bunda korlas ini membantu anak-anak mencari kelasnya plus menginformasikan pembagian kelas teresebut via WAG untuk kami ibu2 yang nggak bisa hadir di sekolah. Keren, kan...
Di sekolah ini anak-anak mencari kelas juga wali kelas dan asisten wali kelas sendiri berdasarkan petunjuk (seperti permainan) dari para guru. Titan bilang seru banget pas cari kelas, walau bingung tapi asik katanya.

Komunikasi yang aktif ini bukan hanya dengan orang tua, tapi juga dengan para guru. Sehingga orang tua akan cepat tahu jika ada peristiwa apapun di sekolah. Dengan adanya korlas, kordinator level, wali kelas dan asisten walas kerepotan para ibu seperti saya ini sebenarnya banyak berkurang, selama rajin berkomunikasi maka kerepotan-kerepotan begini akan banyak berkurang.
Jadi, Tan, ini gak repot. Yang lebih repot adalah jika nggak naik kelas :) :) :)....


Thursday, 14 July 2016

Bandung juga punya Bird Park

Namanya Bird and Bromelia Pavilion. Lokasinya di Pramestha Resort Town, Dago Giri Bandung.
Saya menemukan tempat itu juga tanpa rencana, gara-gara janjian dengan beberapa teman tapi sampai hari H nggak ada kepastian. Akhirnya, pagi-pagi kami keluar dari hotel dengan tujuan muter-muter, siapa tahu sampai juga ke Tahura (pengen juga sampe ke Tebing Keraton).
Di persimpangan antara Taman Hutan Raya dan Maribaya, Titan tiba-tiba usul untuk melihat bird park yang katanya merupakan tempat wisata baru di Bandung. Jadilah saya berputar balik dan menuju jalan menanjak yang ampun-ampunan itu. Beberapa kali saya berhenti untuk bertanya arah. Setelah sekitar 15 menit nyetir di jalan yang super nanjak, akhirnya kami sampai juga.
Memasuki area Bird Pavilion kami disambut jalanan yang dipagari tumbuhan di kiri kanannya. Kami tiba sekitar jam 09 pagi. Para staf sedang bersiap membersihkan area. Setibanya di area parkir kami langsung masuk melalui restoran (ada 2: Day and Nite Eatery and Grocery serta Buffy Drink and Fun) dan menuju ticketing office. Harga tiketnya nggak terlalu mahal, untuk weekend 50K, untuk weekday 35K per orang. Tiket yang berbentuk gelang ini bisa ditukarkan dengan sebotol air mineral pada saat keluar area nanti.



 Memasuki area Bird Pavilion kami bertemu dengan beberapa Macaw dan seekor Kakaktua putih bernama Metta yang bertengger di atas tiang. Titan sempat berfoto dengan si Meta walau sambil meringis takut dipatuk.




Menurut salah seorang staf di sana, di Bird Pavilion terdapat sekitar 500 jenis burung. Mulai dari merpati, bebek, angsa, macaw, aneka jenis kakaktua dan betet, serta kalkun, merak, dan burung hantu.













Selain burung, di sini juga terdapat hamparan taman bromelia.

Aktivitas yang bisa dilakukan di sini selain mengamati burung, juga bisa memberi makan burung. Makanan untuk burung bisa dibeli di tempat pembelian tiket. Kami juga ikut memberi makan Merpati Raja di lapangan kecil sebelah kandang kelinci. Asik juga.






Bird and Bromelia Pavillion memang belum sebesar dan selengkap Bali Bird Park. Jenis aktivitasnya pun belum seberagam di BBP. Namun, untuk anak-anak yang suka melihat aneka jenis burung dan juga untuk mengenalkan aneka jenis burung di lingkungan yang mirip aslinya, tempat ini layak didatangi koq.






Friday, 17 June 2016

Reward dan Punishment

Ada beberapa pendapat tentang perlu atau tidaknya reward dan punishment. Ada yang bilang reward dan punishment itu cenderung membuat anak jadi 'berpamrih' mengharapkan upah untuk sesuatu yang memang sudah seharusnya dia kerjakan.
Saya juga setengah setuju dengan pendapat seperti itu, tapi hanya setengah. Saya sangat yakin untuk usia Titan, reward dan punishment itu masih perlu, karena ia masih pada taraf belajar. Tentu saja itu hanya diterapkan untuk hal-hal yang besar. Saya tidak akan memberikan dia hadiah untuk membujuk dia makan, merapikan mainan, berangkat sekolah, belajar, atau tugas lain yang sifatnya rutin. Tapi, untuk hal-hal besar yang perlu komitmen besar, saya masih terapkan reward. Bagaimana dengan punishment? Tentu saja saya terapkan juga, jikaada hal yang dia langgar pada siang hari, maka malam hari dia akan kehilangan hak menonton tv. Dan dia sangat sebal kalau nggak bisa nonton nickjr. Untuk hal yang berupa komitmen besar, punishmentnya adalah dia tidak dapat rewardnya.

Saya termasuk yang masih menerapkan ini untuk memotivasi putra saya terutama untuk hal-hal besar yang baru pertama ia lakukan atau komitmen besar yang harus ia lakukan.
Pertama kali menerapkan ini, adalah ketika Titan mau khitan. Saya menjanjikan hadiah besar setelah Titan khitan. Saat itu usianya 6 tahun. Saya tahu ketakutannya dengan jarum suntik, jadi untuk membujuknya tentu nggak mudah. Perlu cukup perjuangan untuk meyakinkan dia bahwa khitan itu wajib bagi semua anak laki-laki muslim dan bahwa akan lebih mudah dia dikhitan saat masih kecil ketimbang menunggu dia lebih besar. Untuk tambahan amunisi membujuk dia khitan, saya janjikan Lego set, nggak satu malah 3 set (saya berhasil dapat harga miring untuk ketiganya dengan budget yang sudah saya tentukan).  Akhirnya memang Lego ini ampuh menghentikan tangisnya sesaat setelah selesai khitan.

Kedua kali menerapkan ini adalah ketika saya mengajaknya belajar puasa pertama kali, tepat setelah khitan. Titan yang suka makan tentu saja keberatan disuruh puasa. Tapi setelah dijelaskan bahwa puasa itu wajib, dia paham juga. Terlebih saya hanya memintanya puasa dengan pakai break tengah hari plus uang sebesar 25 ribu per hari puasa. Uang itu akan saya belikan lego set di akhir Ramadhan. Ketika itu Titan puasa sampai jam 12 siang, kemudian break makan siang, minum, minum susu sampai jam 1 siang dan lanjut puasa sampai petang. Alhamdulillah, semuanya bisa dilakukan nyaris tanpa masalah. Satu kali saya memintanya buka puasa karena dia muntah masuk angin. Seharian dia bolak balik nanya apa hadiahnya akan berkurang. Saya bilang kamu muntah karena sakit, jadi hadiahnya tidak berkurang. Dan menjelang ramadhan berakhir saya memesan 1 set Lego sebagai hadiah yang boleh dia buka di malam takbiran (akhirnya nombok juga karena lebih mahal dari uang rewardnya hahaha). Puas rasanya melihat ekspresinya yang bangga karena mampu menunaikan puasa selama satu bulan. Alhamdulillah.

Tahun ini tahun kedua Titan puasa. Saya memintanya puasa sehari penuh. Tadinya dia keberatan mengingat napsu makannya yang sedang luar biasa. Akhirnya kami berbicara mengenai puasa, kenapa harus puasa, dan apa manfaat puasa. Alhamdulillah dia paham. Saya sampaikan saya akan memberinya hadiah jalan-jalan (dia senang sekali waktu tahu ke mana destinasinya) dan uang saku jalan-jalan. Uang saku tersebut diberikan jika: raportnya bagus, puasanya bagus, hafal 10 surat di juz 30 untuk jatah kelas 2, dan menuntaskan Ummi 2 selama liburan. Untuk keempat hal itu, jika salah satu gugur maka akan berkurang 25%. Uang saku tersebut boleh dia belikan apa saja (lagi-lagi dia mengincar Lego). Untuk raport, saya nggak minta dia mendapat nilai sempurna untuk semua pelajaran, tapi saya minta lakukan usaha terbaik, belajar teliti, dan mengerjakan tugas dengan tenang. Yang saya sampaikan adalah, jika kamu persiapkan dengan baik hasilnya akan baik. Untuk puasa saya nggak minta dia puasa sebulan penuh. Namun, dia harus belajar untuk melakukan semampunya. Ada satu hari, Titan  minta minum setelah Jum'atan dan berjanji hanya minum satu gelas kemudian lanjut puasa, saya kabulkan dan dia tepati janjinya.
Alhamdulillah, sekarang sudah menjelang pertengahan Ramadhan. Dua tantangan bisa dijalankan, raportnya bagus. Menurut gurunya saat mengerjakan ulangan Titan melakukan dengan tenang dan teliti sehingga hasilnya baik. Alhamdulillah, I'm so proud of you, son. Puasa bisa dia jalankan tanpa banyak rewel. Sekali-sekali bilang haus atau lapar sih paling saya godain. Masih 2 lagi yang sedang dikejar. Ada banyak perdebatan tentang apakah harus baca juz amma sekarang atau nanti aja atau tawar-tawaran boleh nggak hari ini baca ummi saja.

Saya sangat paham kalau dalam mendidik dan membesarkan anak tidak ada pakem yang benar atau salah. Cara mendidik setiap keluarga tentu saja berbeda dengan keluarga lain. Untuk saya, inilah yang saya lakukan. Apakah hasilnya baik atau tidak, juga saya belum tahu karena kami berdua masih sama-sama menjalaninya. Saya hanya yakin, apapun yang kita ajarkan itulah yang akan ia lakukan. Yang pasti saya sampaikan, ketika sudah lebih besar tidak ada lagi reward seperti ini, karena shalat dan puasa itu wajib, karena belajar dan baca Qur'an itu juga wajib. Mungkin saya harus mencari tantangan lain untuknya jika dia menginginkan sesuatu.





Friday, 22 April 2016

I am proud of beeing who I am

Seorang teman berpendapat kalau wanita sekarang banyak yang berkarya di luar sehingga anak-anak jadi terlantar. Plus tambahan komen: seharusnya sebagai wanita beragama menyadari fitrah bahwa wanita lebih baik berada di rumah di sisi anak-anaknya dan mengabdi pada suami.
Jujur ketika membaca komentar itu rasanya sedih banget. Rasanya saya menjadi ibu yang durhaka dan tidak peduli pada anak. Rasanya saya nggak layak mendapat sebutan Ibu.

Sepagian itu hati saya mulai bertanya-tanya, apakah salah kalau saya bekerja dan mencari nafkah karena memang saya satu-satunya penanggung jawab di keluarga kecil kami? Apakah itu berarti melenceng dari ajaran agama? Apakah jika karena satu dan lain hal menjadi ibu tunggal lantas hanya boleh menangisi diri, menyesali keadaan, dan menunggu keadaan berubah ? Apakah lantas anak yang dibesarkan oleh ibu yang bekerja itu pasti akan tidak sehebat anak yang dibesarkan oleh ibu yang memang memiliki pilihan untuk jadi fulltime mom? Apakah berusaha untuk memenuhi kebutuhan keluarga itu salah, walaupun dengan usaha tersebut bisa memberikan jaminan pendidikan, kesehatan, dan (mungkin) masa depan?

Jika saya memiliki pilihan serta kemampuan untuk berkarya dari rumah dan tetap bisa memenuhi kebutuhan kami dengan baik, tentu akan saya ambil pilihan itu. Ketika akhirnya saya harus langkahkan kaki lebih jauh, berusaha membangun masa depan yang lebih baik tentu saya sangat sadar dengan risiko dan konsekuensi yang harus saya terima: kehilangan banyak momen spesial dengan putra saya terutama di awal-awal usianya. Tentunya ada banyak saat yang membuat saya harus menguatkan hati: ketika saya harus berada jauh dari rumah sementara anak saya tiba-tiba sakit, ketika saya harus menitipkan putra saya di rumah seorang kerabat sementara saya harus tugas ke luar kota. Bukan hal yang mudah bagi saya untuk melakukan itu semua. Yang membuat saya kuat adalah karena saya hanya berpikiran bahwa tujuan saya melangkahkan kaki adalah untuk memastikan putra saya mendapatkan jaminan pendidikan dan kesehatan yang lebih baik, bukan melakukan pekerjaan yang memalukan. Saya berusaha menebus setengah waktu yang dihabiskan di luar dengan tetap membimbingnya saat belajar, atau di waktu libur saya, dan saya berusaha untuk ada di saat-saat pentingnya.

Lelah? Tentu saja sangat lelah. Tapi saya yakin bahwa apa yang saya lakukan halal dan baik. Saya yakin Allah akan lihat itu. Bagi saya, sebuah pelukan dan ucapan I love you Ibu di setiap malam sebelum kami berdua terlelap sudah bisa menjadi pengobat lelah. Ucapan terima kasih dari mulut mungilnya saat ia mendapatkan sesuatu cukup membuat hari saya jadi lebih baik. Melihat Titan tumbuh sehat, cerdas, saleh, dan penyayang sudah menjadi bayaran yang tak terhingga untuk saya. Dan untuk semua itu saya nggak mau perdulikan lagi komentar teman saya itu. Saat ini saya bangga menjadi diri saya sendiri. Dan saya, somehow, yakin putra saya pun bangga dengan saya sebagai ibunya.

Depok, 21 April 2016

Selamat Hari Kartini

Friday, 8 April 2016

Belajar Wirausaha

Sudah beberapa hari ini Titan membujuk saya untuk membuatkan makanan yang bisa ia bawa dan jual di kelasnya. Awalnya saya ragu, pertama karena kurang paham apakah ini dibolehkan dilakukan di kelas. Kedua, Titan ini tergolong sering gak pede dalam beberapa hal. Jadi, saya bayangkan dia pasti enggan kalau harus menawarkan dagangan pada teman-temannya. Namun dia gigih sekali membujuk saya. Akhirnya saya tanya mau jualan apa. Setelah berpikir dan bolak balik berubah pikiran dia memutuskan mau jualan macaroni panggang. Dia bilang buatan ibu enak, pasti teman-teman suka. Berikutnya saya tanya, kamu mau jual berapa? Dia berpikir dan mulai nego harga sampai akhirnya ketemu harga yang pas, 2000 rupiah (saya sih nyengir mengingat masak iya harga macaroni panggang hanya 2000 rupiah hahahaha). Pertanyaan berikutnya berapa banyak yang mau dibawa? Dia bilang coba 10 cup.

Akhirnya malam-malam sepulang kerja saya siapkan, sekalian buat cemilannya dia. Saya juga sempat tanya sama wali kelasnya mengenai kebijakan sekolah tentang hal ini. Ternyata, apa yang disampaikan kepala sekolah saat saya interview waktu memilih sekolah adalah benar. Sekolah ini mendorong anak-anak untuk belajar wirausaha sejak dini. Jadi, kegiatan seperti ini sangat didorong selama tidak menganggu kegiatan belajar dan barang atau makanan yang dijual tidak membawa dampak buruk untuk anak-anak. Baiklah, ayo nak belajar berwirausaha...

Pagi-pagi saya panggang agar dia bawa ke sekolah dalam kondisi hangat. Deg-degan seharian saya menunggu ceritanya saat pulang sekolah. Dan sore ketika dia pulang (dia pulang diantarkan jemputannya ke kantor setiap sore), tadaa dia bilang macaroninya habis, teman-teman suka dan besok minta dibuatkan lagi. Wahhh, senangnya. Dia cerita awalnya katanya susah mau jualan. Akhirnya Titan bilang aja di kelas: Titan bawa macaroni panggang, harganya 2000. Ada yang tadinya nggak mau eh ternyata malah jadi mau..begitu ceritanya.

Yang buat saya lebih senang adalah ketika Titan menyampaikan analisis hasil jualan hari ini, bahwa kelihatannya temannya tidak suka saus tomat, jadi coba besok kalau jualan lagi ibu bawakan saus cabe...Ternyata dia belajar mengalisis...

Saya teringat pengalaman saya sendiri. Sejak kecil, ibu saya mengajarkan saya untuk mandiri. Selain karena memang keluarga kami bukan keluarga berada juga supaya saya terbiasa berusaha untuk apapun yang saya inginkan. Ketika sekolah dulu saya sering membawa makanan buatan ibu saya untuk ditawarkan kepada teman-teman. Mulai dari molen, keripik singkong balado, sampai pastel dan keripik bawang. Sore hari terkadang juga saya menjajakan kue ke tetangga. Dengan cara itu saya mendapatkan uang jajan tambahan. Kebiasaan itu terbawa hingga saya kuliah. Saya kuliah sambil nyambi jadi guru privat, juga terkadang membantu teman yang membutuhkan jasa penerjemah bahan makalah, atau bikin kue buat dijual ke teman-teman kuliah. Malah pernah saya membantu menuliskan jurnal praktikum kakak angkatan yang beda jurusan dengan upah cokelat banyak-banyak hahahahaha...

Sekarang saya mulai menularkan ini kepada putra saya. Doa saya, untuk putra saya yang hari ini berhasil menjual spagheti di sekolah sampai akhirnya dia membeli spagheti buat dia sendiri di kantin, adalah agar kelak bisa menjadi pengusaha yang sukses dan berkah serta bisa memberikan kebaikan bagi orang di sekelilingnya. Amiin..

I'm so proud of you, son.