Enggak sengaja malam ini menonton kembali film lama yang masih jadi favorit hingga saat ini: You've Got Mail.
Entah kenapa setiap kali menonton film ini selalu teringat masa-masa manis di awal-awal menggunakan email. Bukan hanya itu, film ini juga sempat membuat saya ingin memiliki toko buku khusus buku anak-anak dengan reading corner yang diisi story teller. Sepertinya akan menyenangkan melihat anak-anak asik membaca di pojokan itu. That was one of my dreams.
Saya ingat email adress pertama adalah dari hotmail dan untuk komunikasi langsung alias chating masih pakai MSN dan pertanyaan standar zaman itu saat kenalan di dunia maya adalah: asl please hahahaha.
Pertama saya menggunakan email adalah saat baru saja lulus kuliah. Saya ingat dulu saya mendaftar penpal dan dapat beberapa teman dari mancanegara. Salah satu yang bertahan lama adalah teman dari negeri Jiran berkebangsaan India yang berdinas sebagai pilot di Tentara Biraja.
Tapi bukan itu yang membuat saya senyum sendiri sambil menonton film ini. Adalah seseorang yang sempat dekat (akibat dijodohkan oleh pembimbing saya setelah saya patah hati). Saat dikenalkan, dia sedang menuntut ilmu di mancanegara, sehingga kami berkomunikasi via email dan sesekali telepon. Setiap hari di waktu yang kurang lebih sama, saya pasti menantikan rangkaian kata dari ujung sana. Senang rasanya saat melihat icon email baru muncul saat saya log in. YOU'VE GOT MAIL!! Entah itu cerita keseharian, kesibukan, atau sebaris puisi yang dikirimkan selalu membuat saya tersenyum. Dan tidak sabar juga saya bercerita pengalaman dan keseharian saya. Setiap minggu di waktu yang sama saya juga menantikan dering telepon. Walau hanya beberapa menit berbicara senangnya sudah pakai banget.
Sayangnya, LDR memang sama sekali enggak mudah. Ada banyak blank spaces yang sulit diisi hanya dengan rangkaian kata atau rentetan gambar di layar komputer. Terlebih dulu komunikasi enggak semobile sekarang. Perlu sesuatu yang nyata untuk bisa mengisinya. And those moments has to end.
Walau tidak berakhir happy ending, saya tidak menyesal atau kecewa. That short period of relationship is sweet and quiet memorable. Dan masih membuat saya tersenyum hingga kini. I still could actualy imagine that You've Got Mail icon. And I still smile while watching this movie and listen to all the songs singing in this movie....
Funny how I feel, more myself with you
Than anybody else that I ever knew
I hear it in your voice, see it in your face
You've become the memory that I can't erased
You could have been anyone at all
A stranger falling out of the blue
I'm so glad it was you...
Wednesday, 6 September 2017
Monday, 4 September 2017
Titan dan Cita-Citanya
Sejak dia bisa bicara mengekspresikan dirinya, cita-cita
Titan berubah-ubah, namun konsisten dengan satu hal: mesin, militer, dan sains.
Usia 3 tahun, saat pertama kali saya tanya dia ingin jadi apa, jawabannya masih
berubah antara pembalap (please deh, sayang...), atau pemadam kebakaran. Untuk bocah
penggemar seri Cars serta Thomas and Friends ini, sangat keren jika bisa
mengendalikan mobil balap di sirkuit atau berada di tengah kobaran api sambil
menyemprotkan selang air dari fire truck yang keren itu. Ini tentu saja tercermin
dari pilihan mainannya yang muter-muter antara die cast mobil-mobil berengine besar dan aneka truk, terutama truk pemadam.
Agak besar sedikit Titan mulai suka dengan sains. Rasa ingin
tahunya yang tinggi ditambah dengan senangnya dia menonton acara sains di TV
plus ketertarikannya pada aneka senjata dan perlengkapan militer membuat dia
mengalihkan cita-citanya. Kali ini kalau ditanya jawabannya adalah jadi penemu
atau tentara angkatan darat (Nah!!!!). Again, ini semua tercermin dari mainan
dan bacaan pilihannya: lego bertema militer, miniatur pesawat, plus buku-buku
bertema sains termasuk sains tentang bumi dan aneka perlengkapan militer juga film perang (saya
takjub karena salah satu film favoritnya dia adalah Pearl Harbour! Gak
bosen-bosen dia mantengin itu film dari awal hingga akhir dan bolak balik minta
diceritakan tentang PD1 dan PD2. Terpaksa emaknya nginget2 lagi pelajaran
sejarah). Hingga dia duduk di kelas 2 SD cita-citanya konsisten: mau jadi
angkatan darat yang sekaligus bisa jadi penemu senjata super canggih (ibu tepok
jidat). Well, sayang, boleh-boleh saja sepanjang kamu bisa memberikan kebaikan
bagi banyak orang instead of membahayakan. Saat itulah Titan sudah memutuskan
harus masuk SMA Tarnus dan masuk akademi militer. Serius sekali dia
mempertimbangkan masuk militer hingga pernah suatu kali dia ke toko buku dan
berdiri di depan satu rak yang memajang buku persiapan test masuk akademi
militer sambil ngotot minta dibelikan. Saya? Tentu saja antara bangga dan mau
ketawa. Bangga karena dia serius mempertimbangkan cita-citanya, mau tertawa
karena menyadari bahwa Titan masih kelas 2 SD. Still a long way to go and a lot
to do to go there.
Di kelas 3 entah bagaimana ceritanya tiba-tiba dia
memutuskan untuk jadi marinir yang bisa menjadi penemu. Beberapa waktu lalu dia
bertanya, apakah mungkin jadi marinir tapi juga jadi penemu? Saya bilang sangat
mungkin, selama kamu rajin memperkaya pengetahuan dan kemampuan kamu. Dan Titan
yang meminta dibelikan satu agenda kecil, menjadikan agendanya itu sebagai Book
of Idea, menggambarkan ide-idenya tentang perlengkapan militer yang menurutnya
canggih. Dengan penuh semangat ia ceritakan konsep yang ia gambarkan termasuk
spesifikasinya.
Ah, anaknya ibu sudah besar. You know, son, apapun
cita-citamu akan ibu dukung selama itu untuk kebaikan. Dan jangan takut that
I’ll be along every step of the way. Ibu akan selalu doakan dan dukung agar
kamu bisa mencapai seluruh harapan dan cita-citamu, menjadi penemu juga militer
yang hebat, saleh, cerdas, membawa berkah bagi manusia di sekelilingmu. Jika
kelak kamu berubah pikiran dan keinginan, Ibu akan dukung selama itu untuk
kebaikan, sesuai dengan ajaran agama serta tidak bertentangan dengan negaramu. Untuk
ibu, saat kamu mulai berani berenang menyebrangi kolam dalam tanpa bantuan
pelampung dan pelatihmu itu sudah luar biasa. Saat kamu bisa mandiri dalam
banyak hal, itu sudah pencapaian yang membanggakan. Dan yakinlah bahwa kamu
akan selalu jadi kebanggaan dan kesayangannya Ibu.
Friday, 18 August 2017
Drama Air PDAM
Nyaris seumur-umur saya bukan termasuk pelanggan air PDAM alias air ledeng, kecuali di kantor (ketauan gak sih angkatan berapa kalau menyebut air PDAM dengan air ledeng?).
Ketika saya kecil dulu, sumber air di rumah adalah sumur timba. Saya senang sekali kalau disuruh nimba air di sumur. Kayaknya keren banget kalo nimba (berasa fitnes), soalnya adem dan bisa siram2an air sesukanya. Saking senangnya dengan air sumur, saya pernah kecemplung dan menggantung di ember timba sampai ibu saya panik luar biasa.
Ketika era sumur berakhir, sumber air di rumah kami diganti sumur pompa. Yang ini kurang asik dan rada berbahaya, mengingat teman sebangku saya saat SD giginya nyaris rontok terhantam gagang pompa. Saat dia memompa air, tiba-tiba gagang pompa terlepas dari tangan dan membalik ke atas menghantam dagunya sehingga merontokkan beberapa gigi dan menyebabkan beberapa jahitan. Tapi....saya paling suka mandi di bawah air pompa, siapa lagi kalau bukan ayah saya yang jadi sukarelawan mompa.
Hingga saya kuliah, air di rumah masih mengandalkan sumur pompa yang kalau kemarau sangat panjang terpaksa pakai dipancing dulu biar airnya muncul.
Saya baru merasakan air PDAM ketika merantau ke Jakarta. Sumber air di tempat kost mengunakan PDAM. Airnya mengalir suka2. Kalau tiba2 mati tanpa pemberitahuan bisa menyebabkan kepanikan masal: nggak mandi, enggak nyuci, kalau ke toilet kudu super irit pakai air sisa-sisa di ember.
Ketika akhirnya punya rumah sendiri, saya menggunakan air tanah sebagai sumber air. Alhamdulillah, pengalaman saya baik dengan air tanah, karena mendapatkan lingkungan yang punya sumber air bagus dan selalu mengalir sepanjang tahun. Masalah satu-satunya adalah kalau mesin pompa rusak. Jadi, saya memang kudu mencari kenalan tukang pompa yang bisa dipercaya. Rese juga kalau pakai ngangkut air dari rumah tetangga.
Nah, ketika saya pindah ke kota ini, rumah yang saya tinggali menggunakan air PDAM sebagai satu-satunya sumber air. Aliran airnya super malu-malu sampai harus didorong menggunakan pompa supaya masuk ke tangki penampungan. Jangan ditanya lagi aliran air di keran kamar mandi yang super imut, sehingga mandi itu menjadi ritual penyiksaan alih-alih sebagai sarana relaksasi. Bayangkan harus berlama-lama di bawah keran air dingin, yang mungkin hanya sedikit lebih hangat dibandingkan air es itu, yang mengalir super kecil supaya sabun bisa dibersihkan atau minimal enggak licin kayak belut deh. Dan sejujurnya saya jadi kuatir jika seperti yang dialami beberapa teman saat air PDAM mati, pasti jadi drama deh.
Dan drama itu pun akhirnya memang terjadi. Beberapa waktu lalu saya baru pulang dari luar kota. Dari bandara saya berencana singgah di rumah untuk naruh pakaian kotor plus makan siang di rumah. Pagi-pagi sebelum boarding udah telepon si bibi ngasih tau supaya masak buat makan siang. Setiba di hometown, saya enggak mikir ada masalah. Eh, begitu buka handphone, muncul serentetan pesan. Rupanya bibi di rumah sudah panik karena air PDAM mati. Akhirnya boro-boro makan siang (si bibi enggak bisa masak dan mandi), yang ada begitu datang terpaksa saya menelepon PDAM untuk membeli air. Sampai 20x ditelepon tidak juga ada sahutan, sehingga saya putuskan untuk datang ke lokasinya. Beruntung petugasnya ada dan ramah. Si Mba yang jaga bilang, pesawat telepon di penjualan air PDAM ****ung rusak sejak kemarin, dan baru akan diperbaiki. Waduuhh, pantasannnnnnnnn.
Saya kemudian menanyakan ketentuan pembelian air. Warga bisa membeli langsung di sana, hanya saja sayangnya PDAM ini hanya melayani pembelian besar, minimal 3.500 liter seharga 157.500 rupiah. Secara saya enggak punya tangki dengan ukuran sebesar itu, saya menyerah. Seharusnya sih bisa berbagi dengan tetangga sebelah sebelah. tapi ternyata para tetangga ini punya sumber air tanah yang walaupun kecil seimprit tapi enggak pusing saat air PDAM mati. Si embak yang baik memberikan satu nama penyedia air bersih swasta yang bisa melayani eceran, paling tidak saya bisa membeli 1 kubik air. Harganya 170 ribu saja untuk 1.1100 liter. Buset deh. berhubung panik terpaksa saya beli dan saya masih harus menambah lagi 10.000 untuk sewa selang agar aliran air dari tangki bisa mencapai toren di belakang. Setelah bersepakat akhirnya drama air terselesaikan dan rumah kami kembali punya air bersih. Saya pun bisa kembali ke kantor dengan tenang dengan perut lapar menggelora minta diisi.
Drama air bersih ini menyebalkan. Demi kemaslahatan seluruh penghuni rumah, bulan ini saya TERPAKSA membayar air 2x lipat dari biasanya. PDAM tidak berfungsi, PDAM juga yang dibayar (beli airnya di PDAM juga). Lucu juga ya... (wajah meringis). Kalau bgini sering-sering mah berat di ongkos nih....Belum lagi deg degan takut tiba2 mati lagi (enggak pakai pemberitahuan pula), sementara air ini kan keperluan utama. Ini mah judulnya saya harus modal toren tambahan supaya tidak terlalu masalah dengan air bersih. Luar biasa memang drama air ini mengalahkan drama korea!!!!
Untuk info: di kota ini ada 2 penyedia air bersih (untuk area pusat kota dan arah utara), yaitu yang resmi dari pemerintah dan dari swasta. Kalau kepepet (misalnya karena pesawat telepon di kantor PDAM unit pelayanan pembelian air rusak), bisa langsung datang ke Surapati, ramah koq pelayanannya.
Ketika saya kecil dulu, sumber air di rumah adalah sumur timba. Saya senang sekali kalau disuruh nimba air di sumur. Kayaknya keren banget kalo nimba (berasa fitnes), soalnya adem dan bisa siram2an air sesukanya. Saking senangnya dengan air sumur, saya pernah kecemplung dan menggantung di ember timba sampai ibu saya panik luar biasa.
Ketika era sumur berakhir, sumber air di rumah kami diganti sumur pompa. Yang ini kurang asik dan rada berbahaya, mengingat teman sebangku saya saat SD giginya nyaris rontok terhantam gagang pompa. Saat dia memompa air, tiba-tiba gagang pompa terlepas dari tangan dan membalik ke atas menghantam dagunya sehingga merontokkan beberapa gigi dan menyebabkan beberapa jahitan. Tapi....saya paling suka mandi di bawah air pompa, siapa lagi kalau bukan ayah saya yang jadi sukarelawan mompa.
Hingga saya kuliah, air di rumah masih mengandalkan sumur pompa yang kalau kemarau sangat panjang terpaksa pakai dipancing dulu biar airnya muncul.
Saya baru merasakan air PDAM ketika merantau ke Jakarta. Sumber air di tempat kost mengunakan PDAM. Airnya mengalir suka2. Kalau tiba2 mati tanpa pemberitahuan bisa menyebabkan kepanikan masal: nggak mandi, enggak nyuci, kalau ke toilet kudu super irit pakai air sisa-sisa di ember.
Ketika akhirnya punya rumah sendiri, saya menggunakan air tanah sebagai sumber air. Alhamdulillah, pengalaman saya baik dengan air tanah, karena mendapatkan lingkungan yang punya sumber air bagus dan selalu mengalir sepanjang tahun. Masalah satu-satunya adalah kalau mesin pompa rusak. Jadi, saya memang kudu mencari kenalan tukang pompa yang bisa dipercaya. Rese juga kalau pakai ngangkut air dari rumah tetangga.
Nah, ketika saya pindah ke kota ini, rumah yang saya tinggali menggunakan air PDAM sebagai satu-satunya sumber air. Aliran airnya super malu-malu sampai harus didorong menggunakan pompa supaya masuk ke tangki penampungan. Jangan ditanya lagi aliran air di keran kamar mandi yang super imut, sehingga mandi itu menjadi ritual penyiksaan alih-alih sebagai sarana relaksasi. Bayangkan harus berlama-lama di bawah keran air dingin, yang mungkin hanya sedikit lebih hangat dibandingkan air es itu, yang mengalir super kecil supaya sabun bisa dibersihkan atau minimal enggak licin kayak belut deh. Dan sejujurnya saya jadi kuatir jika seperti yang dialami beberapa teman saat air PDAM mati, pasti jadi drama deh.
Dan drama itu pun akhirnya memang terjadi. Beberapa waktu lalu saya baru pulang dari luar kota. Dari bandara saya berencana singgah di rumah untuk naruh pakaian kotor plus makan siang di rumah. Pagi-pagi sebelum boarding udah telepon si bibi ngasih tau supaya masak buat makan siang. Setiba di hometown, saya enggak mikir ada masalah. Eh, begitu buka handphone, muncul serentetan pesan. Rupanya bibi di rumah sudah panik karena air PDAM mati. Akhirnya boro-boro makan siang (si bibi enggak bisa masak dan mandi), yang ada begitu datang terpaksa saya menelepon PDAM untuk membeli air. Sampai 20x ditelepon tidak juga ada sahutan, sehingga saya putuskan untuk datang ke lokasinya. Beruntung petugasnya ada dan ramah. Si Mba yang jaga bilang, pesawat telepon di penjualan air PDAM ****ung rusak sejak kemarin, dan baru akan diperbaiki. Waduuhh, pantasannnnnnnnn.
Saya kemudian menanyakan ketentuan pembelian air. Warga bisa membeli langsung di sana, hanya saja sayangnya PDAM ini hanya melayani pembelian besar, minimal 3.500 liter seharga 157.500 rupiah. Secara saya enggak punya tangki dengan ukuran sebesar itu, saya menyerah. Seharusnya sih bisa berbagi dengan tetangga sebelah sebelah. tapi ternyata para tetangga ini punya sumber air tanah yang walaupun kecil seimprit tapi enggak pusing saat air PDAM mati. Si embak yang baik memberikan satu nama penyedia air bersih swasta yang bisa melayani eceran, paling tidak saya bisa membeli 1 kubik air. Harganya 170 ribu saja untuk 1.1100 liter. Buset deh. berhubung panik terpaksa saya beli dan saya masih harus menambah lagi 10.000 untuk sewa selang agar aliran air dari tangki bisa mencapai toren di belakang. Setelah bersepakat akhirnya drama air terselesaikan dan rumah kami kembali punya air bersih. Saya pun bisa kembali ke kantor dengan tenang dengan perut lapar menggelora minta diisi.
Drama air bersih ini menyebalkan. Demi kemaslahatan seluruh penghuni rumah, bulan ini saya TERPAKSA membayar air 2x lipat dari biasanya. PDAM tidak berfungsi, PDAM juga yang dibayar (beli airnya di PDAM juga). Lucu juga ya... (wajah meringis). Kalau bgini sering-sering mah berat di ongkos nih....Belum lagi deg degan takut tiba2 mati lagi (enggak pakai pemberitahuan pula), sementara air ini kan keperluan utama. Ini mah judulnya saya harus modal toren tambahan supaya tidak terlalu masalah dengan air bersih. Luar biasa memang drama air ini mengalahkan drama korea!!!!
Untuk info: di kota ini ada 2 penyedia air bersih (untuk area pusat kota dan arah utara), yaitu yang resmi dari pemerintah dan dari swasta. Kalau kepepet (misalnya karena pesawat telepon di kantor PDAM unit pelayanan pembelian air rusak), bisa langsung datang ke Surapati, ramah koq pelayanannya.
Wednesday, 9 August 2017
Seketika ku merindu....
Beberapa waktu yang lalu tiba-tiba Titan tanya tentang percakapan saya dengan beberapa sahabat saat kami berjalan-jalan bareng. Rupanya dia nguping obrolan kami tentang teman-teman dan pengalaman saat kuliah dulu. Setengah memaksa dia minta saya bercerita siapa sih yang dimaksud, apa sih ceritanya Ibu. Dia bilang untuk kenang-kenangan. Saya mau tertawa campur jengkel karena dia maksa. Saya bilang buat apaan nanya yang begitu. Mending tanya yang lain aja...dan dia sempat ngambek. Dia bilang ibu payah nggak mau cerita nih...
Gara-gara pertanyaan itu saya jadi keingat-ingat lagi masa-masa kuliah dulu. Masa ketika hal yang paling sulit adalah menyelesaikan persamaan dengan integral lipat tiga. Bahkan, begadang bikin peta stratigrafi geologi fisik aja masih lumayan mudah mengingat ada mas asisten yang baik hati yang ada maunya, yang selalu rajin kasih bocoran peta (walhasil yang bahagia adalah teman-teman saya, sementara saya masih sombong banget mau bikin sendiri aja hahaha).
Saya ingat awal-awal kuliah di institut yang banyak cowoknya itu sebenarnya bukan pilihan utama saya. Sejak kecil saya sudah jatuh cinta pada laut, jadi ketika cita-cita saya sebagai polwan (serius, dulu saya gagah dan mantap kalau ditanya nanti mau jadi apa. Jawaban saya hanya satu dan konsisten: Polwan!) kandas gara-gara saya harus pakai kacamata sejak kelas 2 SMP, mendadak saya bercita-cita jadi ahli kelautan. Saya bayangkan keren banget kalau saya bisa menjelajahi laut di manapun. Ketika menjelang akhir SMA saya ditanya mau kuliah di mana, gagah sekali saya jawab Teknik kelautan di ITS. Langsung saja almarhum om saya protes keras, ngapain kamu ke sana? Di ITB juga ada! Duarrr...saya? Yang kalo belajar malesnya enggak ada dua? Yang kupernya minta ampun, disuruh daftar ke sana? Bayangin aja enggak pernah. Tapi, walau demikian dengan segala keterbatasan saya masuk juga di situ. Dan tentu saja jumpalitan lah saya, terutama di masa awal-awal kuliah. Terkaget-kaget saya bertemu cacing-cacing integral itu. Tahun kedua saya sempat menyesali pilihan saya dan pengen pindah jurusan atau pindah kuliah aja. Saya sukanya sama biologi atau kimia, kenapa saya malah ketemu sama fisika melulu? Begitu selalu yang ada di kepala saya.
Masa kuliah yang dijalani lumayan panjang (saya baru lulus 5.5 tahun gara2 nunda-nunda tugas akhir) ternyata adalah masa paling menyenangkan dalam periode masa sekolah saya. Kesenangan itu dimulai di hari pertama penataran P4. Bukan P4-nya yang bikin saya seneng, tapi seseorang yang selalu duduk di sebelah saya selama masa penataran bahkan sampai awal-awal masa kuliah. Lebay? Pastinya, judulnya juga suka hahaha.
Jadi, walaupun sempat pengen pindah, saya mulai suka dengan apa yang saya pelajari (tapi saya tetap gak suka ngurusin integral), terutama ketika mulai kuliah jurusan. Alhasil, tahun demi tahun walaupun pas-pasan bisa juga koq selesai.
Di kampus inilah, saya yang sangat kuper (bahkan saking kupernya, saya pernah tanya teman saya harus naik angkot yang mana untuk pulang. Keterlaluan sekali, bukan?) berubah jadi manusia yang suka keluyuran. Enggak ke mana-mana, enggak juga ke tempat yang aneh. Sebagian besar hidup saya dihabiskan di kampus, kalau enggak ada kuliah saya nangkring di unit atau di himpunan atau ngeluyur berenang atau sekedar muter-muter ke Lembang (minum susu doang padahal). Di antara kesintingan itu, saya nyambi jadi asisten praktikum plus jadi guru les privat, plus nyambi tukang terjemahin bahan paper teman-teman, atau nulisin jurnal kakak kelas yang males nyatet. Imbalannya, dari uang sampai cokelat seabrek-abrek! Lumayan juga, selama kuliah saya jarang sekali minta uang jajan sama orang tua.
Kalau sudah terlalu penat, kesenangan saya adalah ngendon di kamar nyokap sambil curhat, ngejugruk depan komputer maen games sampe jam 2 pagi, atau bersepeda keluyuran sampe gempor, atau jalan kaki hiking ke tempat adem.
Libur kuliah adalah saat paling enggak asik. Sebagian besar teman-teman mudik. Biasanya yang tersisa di Bandung suka mendadak bikin acara. Bisa saja tiba-tiba kami putuskan pergi ke Yogya atau Pangandaran dengan modal seadanya (saya pernah ke Yogya hanya membawa uang 50 ribu saja) rame-rame naik mobil pinjaman dari salah satu orang tua teman saya. Sumpel-sumpelan satu mobil diisi 10 orang nggak masalah. Nginep di emperan mushala ya nggak masalah juga, jalan-jalan dari rumah bude yang satu ke bude yang lain (budenya teman tentunya, bukan budenya saya) buat minta makan enggak masalah juga. Tapi, semuanya dijalani dengan senang hati. Mungkin, itulah suasana yang cocok dengan lagunya Koes Plus "..hati senang walaupun tak punya uang...".
Kuliah selesai, masuklah ke dunia nyata. Ketika saya lulus bertepatan dengan masa resesi. Cari kerja luar biasa susah, Beruntung saya diajak untuk melanjutkan tugas akhir saya jadi penelitian, sehingga saya enggak jadi pengangguran 100% plus ada uang jajan sendiri. Tambahan lagi saya dapat order menuliskan 5 jurnal tentang perikanan dan kelautan. Untuk ukuran saat itu, bayaran yang saya terima lumayan. Apalagi tak lama setelah itu saya mendapatkan pekerjaan. Walau jauh dari apa yang saya pelajari saya jalani dulu. Maka ketika ada kesempatan sebagai editor, saya coba, dan ternyata saya bertahan hingga saat ini.
Kesempatan kuliah lagi datang di tahun 2006, setelah berbagai tes di beberapa PT untuk melanjutkan S2 (termasuk salah satu di LN) saya ikuti (dan lolos), akhirnya saya ambil di UPH, kecemplung di dunia pendidikan, bukan di laut, membuat saya yakin untuk memperdalam kompetensi saya. Walau tidak semenyenangkan waktu kuliah S1, saya jalani masa kuliah S2 dengan bahagia dan tentu saja saya lulus pakai embel-embel: dengan pujian!
Pertanyaan Titan, mengingatkan saya akan keinginan untuk sekolah lagi. Mengambil bidang yang akan memperkaya kompetensi saya. Tentu saya bayangkan kalau sekarang kuliah lagi, tidak akan semenyenangkan masa kuliah S1 dulu. Akan ada banyak beban yang harus saya sandang, termasuk protes Titan, kalau ibu kuliah lagi siapa yang nemenin Titan belajar? Tapi, saya juga yakin pasti akan ada solusinya...yang pasti saat ini perasaan saya seketika merindu..merindu masa-masa menyenangkan saat kuliah dulu....
Gara-gara pertanyaan itu saya jadi keingat-ingat lagi masa-masa kuliah dulu. Masa ketika hal yang paling sulit adalah menyelesaikan persamaan dengan integral lipat tiga. Bahkan, begadang bikin peta stratigrafi geologi fisik aja masih lumayan mudah mengingat ada mas asisten yang baik hati yang ada maunya, yang selalu rajin kasih bocoran peta (walhasil yang bahagia adalah teman-teman saya, sementara saya masih sombong banget mau bikin sendiri aja hahaha).
Saya ingat awal-awal kuliah di institut yang banyak cowoknya itu sebenarnya bukan pilihan utama saya. Sejak kecil saya sudah jatuh cinta pada laut, jadi ketika cita-cita saya sebagai polwan (serius, dulu saya gagah dan mantap kalau ditanya nanti mau jadi apa. Jawaban saya hanya satu dan konsisten: Polwan!) kandas gara-gara saya harus pakai kacamata sejak kelas 2 SMP, mendadak saya bercita-cita jadi ahli kelautan. Saya bayangkan keren banget kalau saya bisa menjelajahi laut di manapun. Ketika menjelang akhir SMA saya ditanya mau kuliah di mana, gagah sekali saya jawab Teknik kelautan di ITS. Langsung saja almarhum om saya protes keras, ngapain kamu ke sana? Di ITB juga ada! Duarrr...saya? Yang kalo belajar malesnya enggak ada dua? Yang kupernya minta ampun, disuruh daftar ke sana? Bayangin aja enggak pernah. Tapi, walau demikian dengan segala keterbatasan saya masuk juga di situ. Dan tentu saja jumpalitan lah saya, terutama di masa awal-awal kuliah. Terkaget-kaget saya bertemu cacing-cacing integral itu. Tahun kedua saya sempat menyesali pilihan saya dan pengen pindah jurusan atau pindah kuliah aja. Saya sukanya sama biologi atau kimia, kenapa saya malah ketemu sama fisika melulu? Begitu selalu yang ada di kepala saya.
Masa kuliah yang dijalani lumayan panjang (saya baru lulus 5.5 tahun gara2 nunda-nunda tugas akhir) ternyata adalah masa paling menyenangkan dalam periode masa sekolah saya. Kesenangan itu dimulai di hari pertama penataran P4. Bukan P4-nya yang bikin saya seneng, tapi seseorang yang selalu duduk di sebelah saya selama masa penataran bahkan sampai awal-awal masa kuliah. Lebay? Pastinya, judulnya juga suka hahaha.
Jadi, walaupun sempat pengen pindah, saya mulai suka dengan apa yang saya pelajari (tapi saya tetap gak suka ngurusin integral), terutama ketika mulai kuliah jurusan. Alhasil, tahun demi tahun walaupun pas-pasan bisa juga koq selesai.
Di kampus inilah, saya yang sangat kuper (bahkan saking kupernya, saya pernah tanya teman saya harus naik angkot yang mana untuk pulang. Keterlaluan sekali, bukan?) berubah jadi manusia yang suka keluyuran. Enggak ke mana-mana, enggak juga ke tempat yang aneh. Sebagian besar hidup saya dihabiskan di kampus, kalau enggak ada kuliah saya nangkring di unit atau di himpunan atau ngeluyur berenang atau sekedar muter-muter ke Lembang (minum susu doang padahal). Di antara kesintingan itu, saya nyambi jadi asisten praktikum plus jadi guru les privat, plus nyambi tukang terjemahin bahan paper teman-teman, atau nulisin jurnal kakak kelas yang males nyatet. Imbalannya, dari uang sampai cokelat seabrek-abrek! Lumayan juga, selama kuliah saya jarang sekali minta uang jajan sama orang tua.
Kalau sudah terlalu penat, kesenangan saya adalah ngendon di kamar nyokap sambil curhat, ngejugruk depan komputer maen games sampe jam 2 pagi, atau bersepeda keluyuran sampe gempor, atau jalan kaki hiking ke tempat adem.
Libur kuliah adalah saat paling enggak asik. Sebagian besar teman-teman mudik. Biasanya yang tersisa di Bandung suka mendadak bikin acara. Bisa saja tiba-tiba kami putuskan pergi ke Yogya atau Pangandaran dengan modal seadanya (saya pernah ke Yogya hanya membawa uang 50 ribu saja) rame-rame naik mobil pinjaman dari salah satu orang tua teman saya. Sumpel-sumpelan satu mobil diisi 10 orang nggak masalah. Nginep di emperan mushala ya nggak masalah juga, jalan-jalan dari rumah bude yang satu ke bude yang lain (budenya teman tentunya, bukan budenya saya) buat minta makan enggak masalah juga. Tapi, semuanya dijalani dengan senang hati. Mungkin, itulah suasana yang cocok dengan lagunya Koes Plus "..hati senang walaupun tak punya uang...".
Kuliah selesai, masuklah ke dunia nyata. Ketika saya lulus bertepatan dengan masa resesi. Cari kerja luar biasa susah, Beruntung saya diajak untuk melanjutkan tugas akhir saya jadi penelitian, sehingga saya enggak jadi pengangguran 100% plus ada uang jajan sendiri. Tambahan lagi saya dapat order menuliskan 5 jurnal tentang perikanan dan kelautan. Untuk ukuran saat itu, bayaran yang saya terima lumayan. Apalagi tak lama setelah itu saya mendapatkan pekerjaan. Walau jauh dari apa yang saya pelajari saya jalani dulu. Maka ketika ada kesempatan sebagai editor, saya coba, dan ternyata saya bertahan hingga saat ini.
Kesempatan kuliah lagi datang di tahun 2006, setelah berbagai tes di beberapa PT untuk melanjutkan S2 (termasuk salah satu di LN) saya ikuti (dan lolos), akhirnya saya ambil di UPH, kecemplung di dunia pendidikan, bukan di laut, membuat saya yakin untuk memperdalam kompetensi saya. Walau tidak semenyenangkan waktu kuliah S1, saya jalani masa kuliah S2 dengan bahagia dan tentu saja saya lulus pakai embel-embel: dengan pujian!
Pertanyaan Titan, mengingatkan saya akan keinginan untuk sekolah lagi. Mengambil bidang yang akan memperkaya kompetensi saya. Tentu saya bayangkan kalau sekarang kuliah lagi, tidak akan semenyenangkan masa kuliah S1 dulu. Akan ada banyak beban yang harus saya sandang, termasuk protes Titan, kalau ibu kuliah lagi siapa yang nemenin Titan belajar? Tapi, saya juga yakin pasti akan ada solusinya...yang pasti saat ini perasaan saya seketika merindu..merindu masa-masa menyenangkan saat kuliah dulu....
Monday, 19 June 2017
Mencari Sekolah buat Titan (part II)
Enggak pernah kepikiran sama sekali harus kembali mencari sekolah untuk Titan dalam waktu dua tahun.
Beberapa bulan lalu tiba-tiba diminta untuk pindah tugas. Pindah tugas ke hometown sebenarnya, jadi tentunya akan menyenangkan. Namun, begitu tawaran itu datang langsung berkelebatan di kepala berbagai hal yang harus dibereskan. Salah satunya, sekolah Titan. Ya, pindah tugas ini kemungkinannya adalah for good (dan saya memang niatkan begitu), toh memang sebelumnya sudah berpikir kelak saat SMP atau SMA Titan di kota ini saja, mengingat pilihan sekolahnya lebih banyak dan bagus.
Hal pertama yang saya lakukan saat mendapat tawaran itu adalah survey ke teman-teman lama. Untungnya langsung dapat sederetan rekomendasi sekolah-sekolah Islam terpadu. Saya memang mencari sekolah yang setara dengan sekolahnya Titan saat ini, supaya adaptasinya enggak terlalu berat dan kegiatan pembelajarannya juga enggak terlalu jomplang. Usai dapat rekomendasi segera saya browsing untuk melihat secara lebih detail (pertimbangan saya adalah kurikulum, muatan agama, fasilitas sekolah, jarak, dan tentu saja biaya). Sebagian besar sekolah yang direkomendasikan berada di wilayah Timur. Lumayan jauh dari kantor. Saya mencoba telpon ke sekolah-sekolah tersebut. Dan betapa pusingnya saya ketika 4 dari 5 sekolah yang ditelpon menyatakan tidak ada kuota untuk siswa pindahan kelas 3. Sementara sekolah yang masih ada kuota belum ada jadual untuk test.
Akhirnya saya googling lagi, kali ini pindah ke arah utara. Alhamdulillah dapat satu yang sepertinya mirip dengan sekolah Titan sekarang. Langsung saja saya hubungi dan dua minggu kemudian saya mendapatkan jadual untuk test akademik, psikotest dan wawancara.
Di hari yang sudah ditentukan kami meluncur menuju lokasi test. Untungnya lalulintas cukup bersahabat sehingga kami bisa tiba tepat waktu dan bahkan Titan dibolehkan sarapan dulu sebelum test. Hari ini dia harus menjalani psikotest di salah satu biro psikotest. Selama 2 jam Titan test, saya bisa nunggu sambil ngupi2 dan sarapan. Selesai test Titan saya antarkan ke rumah seorang teman lama sementara saya menyelesaikan urusan kantor.
Keesokan harinya Titan masih harus tes akademik. Dia diminta mengerjakan soal-soal UTS siswa di sekolah tersebut. Nyaris 3 jam dia menyelesaikan soal yang diberikan sementara saya juga diwawancara oleh pihak sekolah. Saat itu saya baru tahu kalau kuota yang tersedia hanya 1 sementara yang mendaftar ada 3 siswa, waduuhhh...
Tapi memang Allah mahaBaik. Sepuluh hari kemudian hasil testnya muncul dan Titan diterima. Sementara itu ternyata kantor direncanakan pindah ke arah utara sehingga jarak dengan sekolah jadi enggak jauh. Alhamdulillah. Titan senang sekali diterima di situ, rupanya dia suka dengan sekolahnya. Kata Titan gurunya ramah, lingkungan sekolahnya juga asik katanya. Setelah dapat kepastian diterima saya segera mengurus surat pindah. Congrats ya sayangnya Ibu. You've made it. You've done a great job. Dan panggilan test yang akhirnya muncul dari sekolah yang satunya lagi akhirnya saya tolak, karena selain sudah diterima, lokasinya juga jauh dari kantor dan (pastinya rumah). Ah, rejeki buat anak pindahan lain yang mendaftar ke sana.
Mengurus surat pindah sekolah ternyata enggak terlalu lama, hanya saja harus bolak balik gara-gara pejabat yang harus tandatangan enggak ada di tempat, plus di dinas kota saya dilayani oleh trainee yang minta ampun deh kayak enggak diajari tata krama sama sekali.
Pertama saya ke sekolah lama minta surat keterangan pindah sekolah sembari melampirkan surat keterangan diterima di sekolah baru. Dari sekolah saya ke UPT Kecamatan tempat sekolah lama berada. Ke sini saya terpaksa bolak balik karena pejabat yang harus tandatangan sedang ke luar kantor. Tapi, keesokan harinya surat sudah bisa diambil dan GRATIS.
Dari UPT Kecamatan saya ke Dinas Kota (karena kami akan pindah kota namun masih di provinsi yang sama). Di Dinas Kota sebenarnya mudah (dan juga gratis), namun saya sempat jengkel gara-gara dilayani oleh anak magang yang tatakramanya harus diajari lagi. Kalau mereka masih bingung saya paham, namanya juga anak PKL. Tapi, yang saya sebal adalah ketika dia menyodorkan form yang harus saya isi dan tandatangan tanpa ba bi bu melewati kepala dan langsung disodorkan depan hidung saya. Kedua, dia memberikan buku tamu dengan data yang salah tapi saya harus tandatangan (dia bilang enggak apa2 salah juga). Loh, ini anak bener2 deh, apa sekolahnya tidak memberikan pembekalan mengenai sikap juga SOP di tempat magang ya? Kalau mereka jadi pejabat kayak mana kelakuannya kalau modelnya begini. Aduh, Dik..belajar sopan lagi ya, supaya kelak jadi pejabat yang santun.
Setelah sedikit kesebalan di dinas pendidikan kota akhirnya itu surat pindah selesai juga. Alhamdulillah, sudah resmi kamu pindah sekolah, Nak. Semoga berkah ya. Tinggal menunggu UKK dan SK ibu turun, kita akan segera pindah ke tempat baru. Bismillahirahmannirrahiim....
Beberapa bulan lalu tiba-tiba diminta untuk pindah tugas. Pindah tugas ke hometown sebenarnya, jadi tentunya akan menyenangkan. Namun, begitu tawaran itu datang langsung berkelebatan di kepala berbagai hal yang harus dibereskan. Salah satunya, sekolah Titan. Ya, pindah tugas ini kemungkinannya adalah for good (dan saya memang niatkan begitu), toh memang sebelumnya sudah berpikir kelak saat SMP atau SMA Titan di kota ini saja, mengingat pilihan sekolahnya lebih banyak dan bagus.
Hal pertama yang saya lakukan saat mendapat tawaran itu adalah survey ke teman-teman lama. Untungnya langsung dapat sederetan rekomendasi sekolah-sekolah Islam terpadu. Saya memang mencari sekolah yang setara dengan sekolahnya Titan saat ini, supaya adaptasinya enggak terlalu berat dan kegiatan pembelajarannya juga enggak terlalu jomplang. Usai dapat rekomendasi segera saya browsing untuk melihat secara lebih detail (pertimbangan saya adalah kurikulum, muatan agama, fasilitas sekolah, jarak, dan tentu saja biaya). Sebagian besar sekolah yang direkomendasikan berada di wilayah Timur. Lumayan jauh dari kantor. Saya mencoba telpon ke sekolah-sekolah tersebut. Dan betapa pusingnya saya ketika 4 dari 5 sekolah yang ditelpon menyatakan tidak ada kuota untuk siswa pindahan kelas 3. Sementara sekolah yang masih ada kuota belum ada jadual untuk test.
Akhirnya saya googling lagi, kali ini pindah ke arah utara. Alhamdulillah dapat satu yang sepertinya mirip dengan sekolah Titan sekarang. Langsung saja saya hubungi dan dua minggu kemudian saya mendapatkan jadual untuk test akademik, psikotest dan wawancara.
Di hari yang sudah ditentukan kami meluncur menuju lokasi test. Untungnya lalulintas cukup bersahabat sehingga kami bisa tiba tepat waktu dan bahkan Titan dibolehkan sarapan dulu sebelum test. Hari ini dia harus menjalani psikotest di salah satu biro psikotest. Selama 2 jam Titan test, saya bisa nunggu sambil ngupi2 dan sarapan. Selesai test Titan saya antarkan ke rumah seorang teman lama sementara saya menyelesaikan urusan kantor.
Keesokan harinya Titan masih harus tes akademik. Dia diminta mengerjakan soal-soal UTS siswa di sekolah tersebut. Nyaris 3 jam dia menyelesaikan soal yang diberikan sementara saya juga diwawancara oleh pihak sekolah. Saat itu saya baru tahu kalau kuota yang tersedia hanya 1 sementara yang mendaftar ada 3 siswa, waduuhhh...
Tapi memang Allah mahaBaik. Sepuluh hari kemudian hasil testnya muncul dan Titan diterima. Sementara itu ternyata kantor direncanakan pindah ke arah utara sehingga jarak dengan sekolah jadi enggak jauh. Alhamdulillah. Titan senang sekali diterima di situ, rupanya dia suka dengan sekolahnya. Kata Titan gurunya ramah, lingkungan sekolahnya juga asik katanya. Setelah dapat kepastian diterima saya segera mengurus surat pindah. Congrats ya sayangnya Ibu. You've made it. You've done a great job. Dan panggilan test yang akhirnya muncul dari sekolah yang satunya lagi akhirnya saya tolak, karena selain sudah diterima, lokasinya juga jauh dari kantor dan (pastinya rumah). Ah, rejeki buat anak pindahan lain yang mendaftar ke sana.
Mengurus surat pindah sekolah ternyata enggak terlalu lama, hanya saja harus bolak balik gara-gara pejabat yang harus tandatangan enggak ada di tempat, plus di dinas kota saya dilayani oleh trainee yang minta ampun deh kayak enggak diajari tata krama sama sekali.
Pertama saya ke sekolah lama minta surat keterangan pindah sekolah sembari melampirkan surat keterangan diterima di sekolah baru. Dari sekolah saya ke UPT Kecamatan tempat sekolah lama berada. Ke sini saya terpaksa bolak balik karena pejabat yang harus tandatangan sedang ke luar kantor. Tapi, keesokan harinya surat sudah bisa diambil dan GRATIS.
Dari UPT Kecamatan saya ke Dinas Kota (karena kami akan pindah kota namun masih di provinsi yang sama). Di Dinas Kota sebenarnya mudah (dan juga gratis), namun saya sempat jengkel gara-gara dilayani oleh anak magang yang tatakramanya harus diajari lagi. Kalau mereka masih bingung saya paham, namanya juga anak PKL. Tapi, yang saya sebal adalah ketika dia menyodorkan form yang harus saya isi dan tandatangan tanpa ba bi bu melewati kepala dan langsung disodorkan depan hidung saya. Kedua, dia memberikan buku tamu dengan data yang salah tapi saya harus tandatangan (dia bilang enggak apa2 salah juga). Loh, ini anak bener2 deh, apa sekolahnya tidak memberikan pembekalan mengenai sikap juga SOP di tempat magang ya? Kalau mereka jadi pejabat kayak mana kelakuannya kalau modelnya begini. Aduh, Dik..belajar sopan lagi ya, supaya kelak jadi pejabat yang santun.
Setelah sedikit kesebalan di dinas pendidikan kota akhirnya itu surat pindah selesai juga. Alhamdulillah, sudah resmi kamu pindah sekolah, Nak. Semoga berkah ya. Tinggal menunggu UKK dan SK ibu turun, kita akan segera pindah ke tempat baru. Bismillahirahmannirrahiim....
Tuesday, 13 June 2017
Hujan di Bulan Juni
Ah, seharusnya bulan Juni ini hujan enggak lagi menyapa. Tapi, begitu sabarnya hujan di bulan Juni ini membasuh kemarau, menguarkan wangi tanah yang tertimpa hujan, membasuh rindu yang belum bisa terucapkan.Tak ada yang lebih tabah
dari hujan di bulan Juni
dirahasiakannya titik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan di bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan di bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Hujan Bulan Juni
Sapardi Djoko Damono
photo courtesy of shutterstock
Sunday, 28 May 2017
Missing you, Mom....
Siang tadi, saat makan siang tiba-tiba ada rasa sakit yang menyeruak. Melihat di sekeliling beberapa anak dengan ibunya makan siang bersama. Ada yang duduk berangkulan, ceria. Ada yang asik bercanda sambil makan.
Melihat adegan begitu rasanya seperti tersayat. Kehilangan itu begitu terasa saat sekarang, terlebih ketika aku sedang menghadapi perubahan besar. Ada rasa rindu rebahan di sebelah mamah sambil bercerita. Cerita apa saja, terkadang bahkan cerita enggak mutu yang enggak ada kaitannya sama sekali dengan yang sedang kurasa. Hanya dengan begitupun bisa membuat hatiku lega.
Ah, betapa aku rindu bercerita padamu. Betapa aku rindu melihat senyummu. Betapa aku rindu dengan seluruh untaian doamu untukku, Mah.
Subscribe to:
Posts (Atom)





