Wednesday, 20 September 2017

Run, Baby Run!!

Road to ITB Ultra Marathon 2017
Semua gara-gara Silver Reunion. Ya, bulan Juli lalu kami merayakan genap 25 tahun kami menginjakkan kaki kami di salah satu institusi terbaik di negara ini, institut cap gajah. Silver Reunion, 25 Tahun 92 ITB. Bukan hanya sekedar bertemu dengan teman-teman lama, bertemu dengan mantan atau mantan calon yang mungkin CLBK alias Cinta Lama Belun Kelar, atau sekedar berkumpul megenang masa-masa kuliah dan berbagai kegilaan serta keseruan lain, reuni ini menyisakan keenganan untuk segera move on.

Keberhasilan panitia silver reunion dalam menyelenggarakan reuni tentu saja menjadi salah satu penyebab utama kegagalan move on tersebut. Hal lain yang juga menjadi sebab kegagalan move on adalah ketika ujug-ujug beberapa teman yang doyan lari ngajakin ikut even ITB Ultra Marathon Oktober mendatang. Jarak tempuhnya enggak kira-kira, 170 km dari Jakarta menuju Bandung. Saya sih nyengir aja, mbayangin kalau nyetir aja bisa sampe 4-5 jam, belakangan bahkan bisa molor sampe 8 jam. Nah ini, jarak segitu ditempuh sambil lari!! Mbayanginnya aja saya udah capek.

Di awal ide ini muncul, responnya masih pada biasa-biasa aja. Hanya beberapa orang saja yang bersedia mengajukan diri sebagai runner. Tapi, sang komandan runner emang persistent dan enggak mudah nyerah. Hasilnya, cukup mengejutkan! Setelah berhasil ngumpulin satu tim runner sebanyak 16 orang untuk relay masing-masing 10.7KM, tiba-tiba muncul peserta lain sehingga akhirnya 92 runner nambah jadi 2 tim! Serius, 2 tim plus 5 runner cadangan akan tergabung dalam Tim Sembilan dan Tim Dua (jadi keingetan nama pasukan pengibar bendera kala Upacara 17 Agustus gak sih? Ring al bell?).

Tapi memang semangat runner ini luar biasa. Enggak pakai waktu lama, setelah tim inti terbentuk, tim supportingnya mulai terbentuk.
Untuk support, enggak kalah hebohnya, teman-teman 92 mulai mengadakan penggalangan dana. Ini juga awalnya kecil-kecilan, tapi lama-lama jadi serius juga. Jersey ITB 92 Runner, emoney edisi Silver Reunion ITB92, sampe wristband yang desainnya khusus dibuatkan oleh salah satu teman (yang juga sukses bikin kita gagal move on abis reuni, gara-gara desain logo reuni yang keren) dibikin dan dijual ke teman-teman 92. Hasilnya, bukan hanya anak 92 yang beli. Ada juga dari angkatan lain yang ikutan beli (selain gara-gara desain yang keren, juga karena kepepet gara-gara semua gerbang tol akan mulai menerapkan GTO sih hahaha). Hasil penjualannya akan digunakan untuk mensupport team. Sementara itu, kelebihannya akan menjadi dana abadi 92 bersama dengan sisa usaha kegiatan reuni lalu.


Hingga saat ini, penggalangan dana sudah berjalan. Team runner giat berlatih untuk menghadapi medan 170 KM yang dibagi dalam 4 katagori: easy-medium-difficult-super difficult. Tim support sedang menyusun rencana untuk mendukung team runner. Saya? Saya juga ikutan lari, tapi sepertinya saya ikut lari dari kenyataan aja lah hahahaha….

92 Runner
Team Leader: Aristian Putra
Tim Sembilan: Kartika, Agung, Yaya, Andi Sabar, Dadan, Aristian, Job Supangkat, Tatit Palgunadi, Trias Adijaya, Julius Sihombing, Bambang, Fajroen Dimaz, Harmu, Irwan Meilano, Dyah.
Tim Dua: Edward Sanusi, Yulie, Wisnu, Andari, Meri Katombo, Darwin, Nurkama, Tri Handoyo, Fajar Hidayat, Imam Furoda, Erwin Rizkiano, Erika, Romy Bastian, Agung S, Elfi
Team Substitue: Job Supangkat, Nurkama, Harmu, Endah, Jeffry


Run, Baby Run!!!!!



Friday, 15 September 2017

Sejuta Rasa Kopi Indonesia

Sejak dulu saya kalau ada kesempatan untuk travelling pasti saya menjajal kuliner yang khas di wilayah itu, termasuk kopinya. Dalam banyak kesempatan, saya senang sekali menikmati minum kopi di warung kopi tradisional. Tempat menikmatinya tentu bukan di cafe yang full ac dengan penyajian yang menawan. Warung kopi ini relatif sederhana dan menyajikan kopi dengan cara yang sangat tradisional, dan tentu saja harganya sangat murah.

Dari yang saya lihat ada sedikit kesamaan dari cara menyeduh kopi di warung-warung ini, hampir semuanya menggunakan saringan kain.  Bedanya ada ukuran yang kecil seperti yang saya temui di Kisaran dan Siantar. Ada juga yang menggunakan saringan berukuran besar seperti yang saya lihat di Aceh.

Dari hasil jalan-jalan itulah saya jadi tahu bahwa kopi Indonesia ini banyak banget ragamnya juga cita rasanya. Cara menyeduh dan cara menikmatinya juga beda. Pun penganan kecil teman menyeruput kopinya juga berbeda-beda.

Di Makassar saya diajak minum kopi di warung kopi yang namanya KopiZone. Di sana saya pesan kopi susu. Kopi yang disajikan adalah kopi toraja. Rasanya? Tentu saja enak banget. Cita rasa kopi toraja yang kuat dipadu dengan creamer dalam bentuk susu evaporated omela itu membuat kopi susu yang disajikan jadi enggak terlalu manis. Buat saya yang lebih suka kopi pahit, ini enak banget.

Di Pontianak saya menikmati segelas kopi hitam. Sayang saya dulu enggak tanya ini kopinya apa. Warung kopi di Pontianak berjejer di sepanjang Jl. Gajahmada. Ada banyak pilihan di sini. Kopi di Pontianak biasa dinikmati dengan sepotong pisang goreng pontianak atau seiris kue bingka.

Di Aceh, saya menikmati kopi susu yang disebut sanger di sebuah warung kopi (saya lupa namanya). Kopi yang disajikan tentu saja aceh gayo. Enaknya jangan ditanya. Yang paling saya suka dari kedai kopi di Aceh adalah atraksi pembuatan kopi tarik khas Aceh. Saya dan Titan sangat menikmati atraksi ini. Segelas sanger lengkap dengan beberapa potong timphan menjadi penutup yang nikmat di hari yang melelahkan.





Di Belitung saya menikmati kopi di Warung Kopi Kong Djie. Warung kopinya kecil dan sederhana. Saat itu saya beruntung karena datang menjelang senja dan empunya tidak sedang sibuk melayani pembeli. Sehingga kami bisa mengobrol. Menurut cerita empunya (yang adalah generasi ketiga pendiri warung kopi Kong Djie), saat saya ke sana beberapa tahun lalu, pemilik warung kopi ini menyampaikan sedang merencanakan membuka coffee shop di Jakarta dengan nama sama, namun tentunya lebih modern.
Dari hasil ngobrol-ngobrol ini saya jadi tahu bahwa susu kental manis paling pas untuk campuran membuat kopi susu bermerek omela. Saya juga jadi tahu bahwa menyeduh kopi itu enggak bisa sembarangan. Hasilnya, setelah menikmati kopi dengan sebutir telur ayam kampung setengah matang, saya juga memboyong sebungkus kopi khas Belitung yang disajikan di Warung Kopi Kong Djie.




Di Siantar ada sebuah warung kopi yang legendaris. Namanya Warung Kopi Sedap. Konon warung kopi ini sudah dijalankan secara turun temurun (katanya ini generasi ketiganya). Warung kopinya sederhana, pun cara menyeduhnya menggunakan saringan kain. Di sini, bukan hanya menjual kopi. Produk andalan lainnya selain kopi adalah roti bakar isi kaya (sarikaya). Saat saya ke sana, saya memesan secangkir kopi susu (saya minta dibuatkan terpisah supaya enggak kemanisan) dan setangkup roti bakar isi kaya. Roti bakar dibuat menggunakan panggangan arang. Ketika disajikan, sama sekali enggak ada bagian yang hangus, matang merata dengan warna kecoklatan. Ketika saya gigit, roti tebal itu terasa sangat renyah. Ketika isian sarikaya menyentuh lidah, langsung saja terasa manis dan legitnya ini kaya. Apalagi olesannya enggak pakai pelit sama sekali, melimpah. Enggak pakai ba bi bu setangkup roti bakar saya tuntaskan dengan cepat. Memang beda tipis antara lapar, doyan, dan rakus hahahaha.







Berbeda dengan yang biasa saya beli di supermarket, isian kaya ini rasanya luarrrr biasa, manis dan gurih dan lumer di mulut. Agaknya sarikaya ini dibuat sendiri, mungkin dengan resep turun temurun. Nah, untuk yang suka produk kaya dan kopinya, pengunjung bisa membeli kaya yang sudah dikemas dalam kemasan plastik dengan harga sekitar 50 ribu untuk kemasan ukuran sekitar 500 gr. Bubuk kopi sedap juga bisa dijadikan oleh-oleh. Harganya hanya 25 ribu untuk 250 gr. Saya tentu saja memboyong keduanya pulang (untuk sarikaya saya membelinya di Toko Roti Ganda yang legendaris yang lokasinya hanya berjarak beberapa meter dari Warung Kopi Sedap). 

Satu lagi warung kopi yang legendaris di Siantar adalah Warung Kopi Koh Tong. Sayangnya, karena waktu yang terbatas, saya tidak sempat mampir ke sana. Namun, saat berada di Bandara Kualanamu saya menemukan salah satu gerainya. Saya mampir ke sana dan memang kopinya enak juga. Sama, saya memesan kopi susu. Namun, saya akhirnya memutuskan untuk tidak menambahkan susu, sehingga bisa  mencicipi kopi hitamnya. Rasanya lebih ringan dari kopi sedap, namun enggak kalah nikmat.

Satu tempat lagi yang punya warung kopi yang khas yang sempat saya kunjungi adalah Warung Kopi Sumber Baru di Kisaran. Saya sama sekali enggak punya referensi tentang warung kopi di Kisaran, yang dilihat sewaktu mampir adalah karena lokasinya yang mudah dilihat dan cukup ramai serta bersih. 
Di sini saya juga memesan kopi susu dan (lagi-lagi) roti bakar isi kaya (saya jatuh cinta dengan rasa kaya yang dibuat di sini). Rasa kopinya berbeda dengan dengan kopi di Siantar, lebih ringan. Kata empunya menggunakan seduhan kopi di warung ini menggunakan biji kopi sidikalang. Rasa kaya-nya lebih ringan dari yang saya nikmati di Siantar, namun tetap saja enggak kalah enak. Jadi, kalau saya buat urutan, ini nomor 2 deh (sampai saya tulis ini, saya belum sempat mencicipi kaya yang saya beli di Toko Roti Ganda di Siantar, urutannya bisa berubah).




 Menikmati aroma harumnya kopi yang baru diseduh dan menyesap rasanya di sebuah warung kopi selalu menyenangkan, juga mengingatkan saya kepada seorang pencinta kopi. Menyenangkan, terlebih ketika mendapat teman ngopi yang juga menyenangkan. Yes, coffee and friends are the perfect blend. Mengingatkan kepada seorang pencinta kopi? Ah itu juga benar. Coffee is pretty much the same as you, makes me smile ....

Wednesday, 6 September 2017

You've Got Mail

Enggak sengaja malam ini menonton kembali film lama yang masih jadi favorit hingga saat ini: You've Got Mail.
Entah kenapa setiap kali menonton film ini selalu teringat masa-masa manis di awal-awal menggunakan email. Bukan hanya itu, film ini juga sempat membuat saya ingin memiliki toko buku khusus buku anak-anak dengan reading corner yang diisi story teller. Sepertinya akan menyenangkan melihat anak-anak asik membaca di pojokan itu. That was one of my dreams.

Saya ingat email adress pertama adalah dari hotmail dan untuk komunikasi langsung alias chating masih pakai MSN dan pertanyaan standar zaman itu saat kenalan di dunia maya adalah: asl please hahahaha.
Pertama saya menggunakan email adalah saat baru saja lulus kuliah. Saya ingat dulu saya mendaftar penpal dan dapat beberapa teman dari mancanegara. Salah satu yang bertahan lama adalah teman dari negeri Jiran berkebangsaan India yang berdinas sebagai pilot di Tentara Biraja.

Tapi bukan itu yang membuat saya senyum sendiri sambil menonton film ini. Adalah seseorang yang sempat dekat (akibat dijodohkan oleh pembimbing saya setelah saya patah hati). Saat dikenalkan, dia sedang menuntut ilmu di mancanegara, sehingga kami berkomunikasi via email dan sesekali telepon. Setiap hari di waktu yang kurang lebih sama, saya pasti menantikan rangkaian kata dari ujung sana. Senang rasanya saat melihat icon email baru muncul saat saya log in. YOU'VE GOT MAIL!! Entah itu cerita keseharian, kesibukan, atau sebaris puisi yang dikirimkan selalu membuat saya tersenyum. Dan tidak sabar juga saya bercerita pengalaman dan keseharian saya. Setiap minggu di waktu yang sama saya juga menantikan dering telepon. Walau hanya beberapa menit berbicara senangnya sudah pakai banget.
Sayangnya, LDR memang sama sekali enggak mudah. Ada banyak blank spaces yang sulit diisi hanya dengan rangkaian kata atau rentetan gambar di layar komputer. Terlebih dulu komunikasi enggak semobile sekarang. Perlu sesuatu yang nyata untuk bisa mengisinya. And those moments has to end.

Walau tidak berakhir happy ending, saya tidak menyesal atau kecewa. That short period of relationship is sweet and quiet memorable. Dan masih membuat saya tersenyum hingga kini. I still could actualy imagine that You've Got Mail icon. And I still smile while watching this movie and listen to all the songs singing in this movie....

Funny how I feel, more myself with you
Than anybody else that I ever knew
I hear it in your voice, see it in your face
You've become the memory that I can't erased

You could have been anyone at all
A stranger falling out of the blue
I'm so glad it was you...

Monday, 4 September 2017

Titan dan Cita-Citanya



Sejak dia bisa bicara mengekspresikan dirinya, cita-cita Titan berubah-ubah, namun konsisten dengan satu hal: mesin, militer, dan sains. Usia 3 tahun, saat pertama kali saya tanya dia ingin jadi apa, jawabannya masih berubah antara pembalap (please deh, sayang...), atau pemadam kebakaran. Untuk bocah penggemar seri Cars serta Thomas and Friends ini, sangat keren jika bisa mengendalikan mobil balap di sirkuit atau berada di tengah kobaran api sambil menyemprotkan selang air dari fire truck yang keren itu. Ini tentu saja tercermin dari pilihan mainannya yang muter-muter antara die cast mobil-mobil berengine besar dan aneka truk, terutama truk pemadam.

Agak besar sedikit Titan mulai suka dengan sains. Rasa ingin tahunya yang tinggi ditambah dengan senangnya dia menonton acara sains di TV plus ketertarikannya pada aneka senjata dan perlengkapan militer membuat dia mengalihkan cita-citanya. Kali ini kalau ditanya jawabannya adalah jadi penemu atau tentara angkatan darat (Nah!!!!). Again, ini semua tercermin dari mainan dan bacaan pilihannya: lego bertema militer, miniatur pesawat, plus buku-buku bertema sains termasuk sains tentang bumi dan aneka perlengkapan militer juga film perang (saya takjub karena salah satu film favoritnya dia adalah Pearl Harbour! Gak bosen-bosen dia mantengin itu film dari awal hingga akhir dan bolak balik minta diceritakan tentang PD1 dan PD2. Terpaksa emaknya nginget2 lagi pelajaran sejarah). Hingga dia duduk di kelas 2 SD cita-citanya konsisten: mau jadi angkatan darat yang sekaligus bisa jadi penemu senjata super canggih (ibu tepok jidat). Well, sayang, boleh-boleh saja sepanjang kamu bisa memberikan kebaikan bagi banyak orang instead of membahayakan. Saat itulah Titan sudah memutuskan harus masuk SMA Tarnus dan masuk akademi militer. Serius sekali dia mempertimbangkan masuk militer hingga pernah suatu kali dia ke toko buku dan berdiri di depan satu rak yang memajang buku persiapan test masuk akademi militer sambil ngotot minta dibelikan. Saya? Tentu saja antara bangga dan mau ketawa. Bangga karena dia serius mempertimbangkan cita-citanya, mau tertawa karena menyadari bahwa Titan masih kelas 2 SD. Still a long way to go and a lot to do to go there. 

Di kelas 3 entah bagaimana ceritanya tiba-tiba dia memutuskan untuk jadi marinir yang bisa menjadi penemu. Beberapa waktu lalu dia bertanya, apakah mungkin jadi marinir tapi juga jadi penemu? Saya bilang sangat mungkin, selama kamu rajin memperkaya pengetahuan dan kemampuan kamu. Dan Titan yang meminta dibelikan satu agenda kecil, menjadikan agendanya itu sebagai Book of Idea, menggambarkan ide-idenya tentang perlengkapan militer yang menurutnya canggih. Dengan penuh semangat ia ceritakan konsep yang ia gambarkan termasuk spesifikasinya.





Ah, anaknya ibu sudah besar. You know, son, apapun cita-citamu akan ibu dukung selama itu untuk kebaikan. Dan jangan takut that I’ll be along every step of the way. Ibu akan selalu doakan dan dukung agar kamu bisa mencapai seluruh harapan dan cita-citamu, menjadi penemu juga militer yang hebat, saleh, cerdas, membawa berkah bagi manusia di sekelilingmu. Jika kelak kamu berubah pikiran dan keinginan, Ibu akan dukung selama itu untuk kebaikan, sesuai dengan ajaran agama serta tidak bertentangan dengan negaramu. Untuk ibu, saat kamu mulai berani berenang menyebrangi kolam dalam tanpa bantuan pelampung dan pelatihmu itu sudah luar biasa. Saat kamu bisa mandiri dalam banyak hal, itu sudah pencapaian yang membanggakan. Dan yakinlah bahwa kamu akan selalu jadi kebanggaan dan kesayangannya Ibu.

Friday, 18 August 2017

Drama Air PDAM

Nyaris seumur-umur saya bukan termasuk pelanggan air PDAM alias air ledeng, kecuali di kantor (ketauan gak sih angkatan berapa kalau menyebut air PDAM dengan air ledeng?).
Ketika saya kecil dulu, sumber air di rumah adalah sumur timba. Saya senang sekali kalau disuruh nimba air di sumur. Kayaknya keren banget kalo nimba (berasa fitnes), soalnya adem dan bisa siram2an air sesukanya. Saking senangnya dengan air sumur, saya pernah kecemplung dan menggantung di ember timba sampai ibu saya panik luar biasa.

Ketika era sumur berakhir, sumber air di rumah kami diganti sumur pompa. Yang ini kurang asik dan rada berbahaya, mengingat teman sebangku saya saat SD giginya nyaris rontok terhantam gagang pompa. Saat dia memompa air, tiba-tiba gagang pompa terlepas dari tangan dan membalik ke atas  menghantam dagunya sehingga merontokkan beberapa gigi dan menyebabkan beberapa jahitan. Tapi....saya paling suka mandi di bawah air pompa, siapa lagi kalau bukan ayah saya yang jadi sukarelawan mompa.
Hingga saya kuliah, air di rumah masih mengandalkan sumur pompa yang kalau kemarau sangat panjang terpaksa pakai dipancing dulu biar airnya muncul.

Saya baru merasakan air PDAM ketika merantau ke Jakarta. Sumber air di tempat kost mengunakan PDAM. Airnya mengalir suka2. Kalau tiba2 mati tanpa pemberitahuan bisa menyebabkan kepanikan masal: nggak mandi, enggak nyuci, kalau ke toilet kudu super irit pakai air sisa-sisa di ember.

Ketika akhirnya punya rumah sendiri, saya menggunakan air tanah sebagai sumber air. Alhamdulillah, pengalaman saya baik dengan air tanah, karena mendapatkan lingkungan yang punya sumber air bagus dan selalu mengalir sepanjang tahun. Masalah satu-satunya adalah kalau mesin pompa rusak. Jadi, saya memang kudu mencari kenalan tukang pompa yang bisa dipercaya. Rese juga kalau pakai ngangkut air dari rumah tetangga.

Nah, ketika saya pindah ke kota ini, rumah yang saya tinggali menggunakan air PDAM sebagai satu-satunya sumber air. Aliran airnya super malu-malu sampai harus didorong menggunakan pompa supaya masuk ke tangki penampungan. Jangan ditanya lagi aliran air di keran kamar mandi yang super imut, sehingga mandi itu menjadi ritual penyiksaan alih-alih sebagai sarana relaksasi. Bayangkan harus berlama-lama di bawah keran air dingin, yang mungkin hanya sedikit lebih hangat dibandingkan air es itu, yang mengalir super kecil supaya sabun bisa dibersihkan atau minimal enggak licin kayak belut deh. Dan sejujurnya saya jadi kuatir jika seperti yang dialami beberapa teman saat air PDAM mati, pasti jadi drama deh.

Dan drama itu pun akhirnya memang terjadi. Beberapa waktu lalu saya baru pulang dari luar kota. Dari bandara saya berencana singgah di rumah untuk naruh pakaian kotor plus makan siang di rumah. Pagi-pagi sebelum boarding udah telepon si bibi ngasih tau supaya masak buat makan siang. Setiba di hometown, saya enggak mikir ada masalah. Eh, begitu buka handphone, muncul serentetan pesan. Rupanya bibi di rumah sudah panik karena air PDAM mati. Akhirnya boro-boro makan siang (si bibi enggak bisa masak dan mandi), yang ada begitu datang terpaksa saya menelepon PDAM untuk membeli air. Sampai 20x ditelepon tidak juga ada sahutan, sehingga saya putuskan untuk datang ke lokasinya. Beruntung petugasnya ada dan ramah. Si Mba yang jaga bilang, pesawat telepon di penjualan air PDAM ****ung rusak sejak kemarin, dan baru akan diperbaiki. Waduuhh, pantasannnnnnnnn.

Saya kemudian menanyakan ketentuan pembelian air. Warga bisa membeli langsung di sana, hanya saja sayangnya PDAM ini hanya melayani pembelian besar, minimal 3.500 liter seharga 157.500 rupiah. Secara saya enggak punya tangki dengan ukuran sebesar itu, saya menyerah. Seharusnya sih bisa berbagi dengan tetangga sebelah sebelah. tapi ternyata para tetangga ini punya sumber air tanah yang walaupun kecil seimprit tapi enggak pusing saat air PDAM mati. Si embak yang baik memberikan satu nama penyedia air bersih swasta yang bisa melayani eceran, paling tidak saya bisa membeli 1 kubik air. Harganya 170 ribu saja untuk 1.1100 liter. Buset deh. berhubung panik terpaksa saya beli dan saya masih harus menambah lagi 10.000 untuk sewa selang agar aliran air dari tangki bisa mencapai toren di belakang. Setelah bersepakat akhirnya drama air terselesaikan dan rumah kami kembali punya air bersih. Saya pun bisa kembali ke kantor dengan tenang dengan perut lapar menggelora minta diisi.

Drama air bersih ini menyebalkan. Demi kemaslahatan seluruh penghuni rumah, bulan ini saya TERPAKSA membayar air 2x lipat dari biasanya. PDAM tidak berfungsi, PDAM juga yang dibayar (beli airnya di PDAM juga). Lucu juga ya... (wajah meringis). Kalau bgini sering-sering mah berat di ongkos nih....Belum lagi deg degan takut tiba2 mati lagi (enggak pakai pemberitahuan pula), sementara air ini kan keperluan utama. Ini mah judulnya saya harus modal toren tambahan supaya tidak terlalu masalah dengan air bersih. Luar biasa memang drama air ini mengalahkan drama korea!!!!

Untuk info: di kota ini ada 2 penyedia air bersih (untuk area pusat kota dan arah utara), yaitu yang resmi dari pemerintah dan dari swasta. Kalau kepepet (misalnya karena pesawat telepon di kantor PDAM unit pelayanan pembelian air rusak), bisa langsung datang ke Surapati, ramah koq pelayanannya.



Wednesday, 9 August 2017

Seketika ku merindu....

Beberapa waktu yang lalu tiba-tiba Titan tanya tentang percakapan saya dengan beberapa sahabat saat kami berjalan-jalan bareng. Rupanya dia nguping obrolan kami tentang teman-teman dan pengalaman saat kuliah dulu. Setengah memaksa dia minta saya bercerita siapa sih yang dimaksud, apa sih ceritanya Ibu. Dia bilang untuk kenang-kenangan. Saya mau tertawa campur jengkel karena dia maksa. Saya bilang buat apaan nanya yang begitu. Mending tanya yang lain aja...dan dia sempat ngambek. Dia bilang ibu payah nggak mau cerita nih...

Gara-gara pertanyaan itu saya jadi keingat-ingat lagi masa-masa kuliah dulu. Masa ketika hal yang paling sulit adalah menyelesaikan persamaan dengan integral lipat tiga. Bahkan, begadang bikin peta stratigrafi geologi fisik aja masih lumayan mudah mengingat ada mas asisten yang baik hati yang ada maunya, yang selalu rajin kasih bocoran peta (walhasil yang bahagia adalah teman-teman saya, sementara saya masih sombong banget mau bikin sendiri aja hahaha).

Saya ingat awal-awal kuliah di institut yang banyak cowoknya itu sebenarnya bukan pilihan utama saya. Sejak kecil saya sudah jatuh cinta pada laut, jadi ketika cita-cita saya sebagai polwan (serius, dulu saya gagah dan mantap kalau ditanya nanti mau jadi apa. Jawaban saya hanya satu dan konsisten: Polwan!) kandas gara-gara saya harus pakai kacamata sejak kelas 2 SMP, mendadak saya bercita-cita jadi ahli kelautan. Saya bayangkan keren banget kalau saya bisa menjelajahi laut di manapun. Ketika menjelang akhir SMA saya ditanya mau kuliah di mana, gagah sekali saya jawab Teknik kelautan di ITS. Langsung saja almarhum om saya protes keras, ngapain kamu ke sana? Di ITB juga ada! Duarrr...saya? Yang kalo belajar malesnya enggak ada dua? Yang kupernya minta ampun, disuruh daftar ke sana? Bayangin aja enggak pernah. Tapi, walau demikian dengan segala keterbatasan saya masuk juga di situ. Dan tentu saja jumpalitan lah saya, terutama di masa awal-awal kuliah. Terkaget-kaget saya bertemu cacing-cacing integral itu. Tahun kedua saya sempat menyesali pilihan saya dan pengen pindah jurusan atau pindah kuliah aja. Saya sukanya sama biologi atau kimia, kenapa saya malah ketemu sama fisika melulu? Begitu selalu yang ada di kepala saya.

Masa kuliah yang dijalani lumayan panjang (saya baru lulus 5.5 tahun gara2 nunda-nunda tugas akhir) ternyata adalah masa paling menyenangkan dalam periode masa sekolah saya. Kesenangan itu dimulai di hari pertama penataran P4. Bukan P4-nya yang bikin saya seneng, tapi seseorang yang selalu duduk di sebelah saya selama masa penataran bahkan sampai awal-awal masa kuliah. Lebay? Pastinya, judulnya juga suka hahaha.
Jadi, walaupun sempat pengen pindah, saya mulai suka dengan apa yang saya pelajari (tapi saya tetap gak suka ngurusin integral), terutama ketika mulai kuliah jurusan. Alhasil, tahun demi tahun walaupun pas-pasan bisa juga koq selesai.

Di kampus inilah, saya yang sangat kuper (bahkan saking kupernya, saya pernah tanya teman saya harus naik angkot yang mana untuk pulang. Keterlaluan sekali, bukan?) berubah jadi manusia yang suka keluyuran. Enggak ke mana-mana, enggak juga ke tempat yang aneh. Sebagian besar hidup saya dihabiskan di kampus, kalau enggak ada kuliah saya nangkring di unit atau di himpunan atau ngeluyur berenang atau sekedar muter-muter ke Lembang (minum susu doang padahal). Di antara kesintingan itu, saya nyambi jadi asisten praktikum plus jadi guru les privat, plus nyambi tukang terjemahin bahan paper teman-teman, atau nulisin jurnal kakak kelas yang males nyatet. Imbalannya, dari uang sampai cokelat seabrek-abrek! Lumayan juga, selama kuliah saya jarang sekali minta uang jajan sama orang tua.
Kalau sudah terlalu penat, kesenangan saya adalah ngendon di kamar nyokap sambil curhat, ngejugruk depan komputer maen games sampe jam 2 pagi, atau bersepeda keluyuran sampe gempor, atau jalan kaki hiking ke tempat adem.

Libur kuliah adalah saat paling enggak asik. Sebagian besar teman-teman mudik. Biasanya yang tersisa di Bandung suka mendadak bikin acara. Bisa saja tiba-tiba kami putuskan pergi ke Yogya atau Pangandaran dengan modal seadanya (saya pernah ke Yogya hanya membawa uang 50 ribu saja) rame-rame naik mobil pinjaman dari salah satu orang tua teman saya. Sumpel-sumpelan satu mobil diisi 10 orang nggak masalah. Nginep di emperan mushala ya nggak masalah juga, jalan-jalan dari rumah bude yang satu ke bude yang lain (budenya teman tentunya, bukan budenya saya) buat minta makan enggak masalah juga. Tapi, semuanya dijalani dengan senang hati. Mungkin, itulah suasana yang cocok dengan lagunya Koes Plus "..hati senang walaupun tak punya uang...".

Kuliah selesai, masuklah ke dunia nyata. Ketika saya lulus bertepatan dengan masa resesi. Cari kerja luar biasa susah, Beruntung saya diajak untuk melanjutkan tugas akhir saya jadi penelitian, sehingga saya enggak jadi pengangguran 100% plus ada uang jajan sendiri. Tambahan lagi saya dapat order menuliskan 5 jurnal tentang perikanan dan kelautan. Untuk ukuran saat itu, bayaran yang saya terima lumayan. Apalagi tak lama setelah itu saya mendapatkan pekerjaan. Walau jauh dari apa yang saya pelajari saya jalani dulu. Maka ketika ada kesempatan sebagai editor, saya coba, dan ternyata saya bertahan hingga saat ini.

Kesempatan kuliah lagi datang di tahun 2006, setelah berbagai tes di beberapa PT untuk melanjutkan S2 (termasuk salah satu di LN) saya ikuti (dan lolos), akhirnya saya ambil di UPH, kecemplung di dunia pendidikan, bukan di laut, membuat saya yakin untuk memperdalam kompetensi saya. Walau tidak semenyenangkan waktu kuliah S1, saya jalani masa kuliah S2 dengan bahagia dan tentu saja saya lulus pakai embel-embel: dengan pujian!

Pertanyaan Titan, mengingatkan saya akan keinginan untuk sekolah lagi. Mengambil bidang yang akan memperkaya kompetensi saya. Tentu saya bayangkan kalau sekarang kuliah lagi, tidak akan semenyenangkan masa kuliah S1 dulu. Akan ada banyak beban yang harus saya sandang, termasuk protes Titan, kalau ibu kuliah lagi siapa yang nemenin Titan belajar? Tapi, saya juga yakin pasti akan ada solusinya...yang pasti saat ini perasaan saya seketika merindu..merindu masa-masa menyenangkan saat kuliah dulu....


Monday, 19 June 2017

Mencari Sekolah buat Titan (part II)

Enggak pernah kepikiran sama sekali harus kembali mencari sekolah untuk Titan dalam waktu dua tahun.
Beberapa bulan lalu tiba-tiba diminta untuk pindah tugas. Pindah tugas ke hometown sebenarnya, jadi tentunya akan menyenangkan. Namun, begitu tawaran itu datang langsung berkelebatan di kepala berbagai hal yang harus dibereskan. Salah satunya, sekolah Titan. Ya, pindah tugas ini kemungkinannya adalah for good (dan saya memang niatkan begitu), toh memang sebelumnya sudah berpikir kelak saat SMP atau SMA Titan di kota ini saja, mengingat pilihan sekolahnya lebih banyak dan bagus.

Hal pertama yang saya lakukan saat mendapat tawaran itu adalah survey ke teman-teman lama. Untungnya langsung dapat sederetan rekomendasi sekolah-sekolah Islam terpadu. Saya memang mencari sekolah yang setara dengan sekolahnya Titan saat ini, supaya adaptasinya enggak terlalu berat dan kegiatan pembelajarannya juga enggak terlalu jomplang. Usai dapat rekomendasi segera saya browsing untuk melihat secara lebih detail (pertimbangan saya adalah kurikulum, muatan agama, fasilitas sekolah, jarak, dan tentu saja biaya). Sebagian besar sekolah yang direkomendasikan berada di wilayah Timur. Lumayan jauh dari kantor. Saya mencoba telpon ke sekolah-sekolah tersebut. Dan betapa pusingnya saya ketika 4 dari 5 sekolah yang ditelpon menyatakan tidak ada kuota untuk siswa pindahan kelas 3. Sementara sekolah yang masih ada kuota belum ada jadual untuk test.

Akhirnya saya googling lagi, kali ini pindah ke arah utara. Alhamdulillah dapat satu yang sepertinya mirip dengan sekolah Titan sekarang. Langsung saja saya hubungi dan dua minggu kemudian saya mendapatkan jadual untuk test akademik, psikotest dan wawancara.
Di hari yang sudah ditentukan kami meluncur menuju lokasi test. Untungnya lalulintas cukup bersahabat sehingga kami bisa tiba tepat waktu dan bahkan Titan dibolehkan sarapan dulu sebelum test. Hari ini dia harus menjalani psikotest di salah satu biro psikotest. Selama 2 jam Titan test, saya bisa nunggu sambil ngupi2 dan sarapan. Selesai test Titan saya antarkan ke rumah seorang teman lama sementara saya menyelesaikan urusan kantor.
Keesokan harinya Titan masih harus tes akademik. Dia diminta mengerjakan soal-soal UTS siswa di sekolah tersebut. Nyaris 3 jam dia menyelesaikan soal yang diberikan sementara saya juga diwawancara oleh pihak sekolah. Saat itu saya baru tahu kalau kuota yang tersedia hanya 1 sementara yang mendaftar ada 3 siswa, waduuhhh...

Tapi memang Allah mahaBaik. Sepuluh hari kemudian hasil testnya muncul dan Titan diterima. Sementara itu ternyata kantor direncanakan pindah ke arah utara sehingga jarak dengan sekolah jadi enggak jauh. Alhamdulillah. Titan senang sekali diterima di situ, rupanya dia suka dengan sekolahnya. Kata Titan gurunya ramah, lingkungan sekolahnya juga asik katanya. Setelah dapat kepastian diterima saya segera mengurus surat pindah. Congrats ya sayangnya Ibu. You've made it. You've done a great job. Dan panggilan test yang akhirnya muncul dari sekolah yang satunya lagi akhirnya saya tolak, karena selain sudah diterima, lokasinya juga jauh dari kantor dan (pastinya rumah). Ah, rejeki buat anak pindahan lain yang mendaftar ke sana.

Mengurus surat pindah sekolah ternyata enggak terlalu lama, hanya saja harus bolak balik gara-gara pejabat yang harus tandatangan enggak ada di tempat, plus di dinas kota saya dilayani oleh trainee yang minta ampun deh kayak enggak diajari tata krama sama sekali.
Pertama saya ke sekolah lama minta surat keterangan pindah sekolah sembari melampirkan surat keterangan diterima di sekolah baru. Dari sekolah saya ke UPT Kecamatan tempat sekolah lama berada. Ke sini saya terpaksa bolak balik karena pejabat yang harus tandatangan sedang ke luar kantor. Tapi, keesokan harinya surat sudah bisa diambil dan GRATIS.
Dari UPT Kecamatan saya ke Dinas Kota (karena kami akan pindah kota namun masih di provinsi yang sama). Di Dinas Kota sebenarnya mudah (dan juga gratis), namun saya sempat jengkel gara-gara dilayani oleh anak magang yang tatakramanya harus diajari lagi. Kalau mereka masih bingung saya paham, namanya juga anak PKL. Tapi, yang saya sebal adalah ketika dia menyodorkan form yang harus saya isi dan tandatangan tanpa ba bi bu melewati kepala dan langsung disodorkan depan hidung saya. Kedua, dia memberikan buku tamu dengan data yang salah tapi saya harus tandatangan (dia bilang enggak apa2 salah juga). Loh, ini anak bener2 deh, apa sekolahnya tidak memberikan pembekalan mengenai sikap juga SOP di tempat magang ya? Kalau mereka jadi pejabat kayak mana kelakuannya kalau modelnya begini. Aduh, Dik..belajar sopan lagi ya, supaya kelak jadi pejabat yang santun.
Setelah sedikit kesebalan di dinas pendidikan kota akhirnya itu surat pindah selesai juga. Alhamdulillah, sudah resmi kamu pindah sekolah, Nak. Semoga berkah ya. Tinggal menunggu UKK dan SK ibu turun, kita akan segera pindah ke tempat baru. Bismillahirahmannirrahiim....